"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VONIS ELISE DAN LAMARAN LUCIAN
Ruang sidang langsung di penuhi bisikan dan komentar tidak percaya. Banyak yang menggelengkan kepala.
"Tertib! Tertib!" Lord Justice Edmund mengetuk palunya dengan keras beberapa kali. "Jaksa, silakan presentasikan bukti-bukti yang ada."
Jaksa kerajaan, seorang wanita tegas bernama Lady Prosecutor Helena dengan tatapan yang tajam seperti elang, berdiri dan mulai presentasinya dengan sangat rapi.
"Yang Mulia Hakim, kami memiliki bukti yang sangat kuat dan tidak terbantahkan. Pertama, kesaksian dari Marcus Marlowe yang telah mengaku memberikan racun langsung pada terdakwa."
Marcus dipanggil ke kursi saksi. Pria itu terlihat hancur dan penuh penyesalan yang mendalam, bahunya membungkuk seperti menanggung beban yang sangat berat.
"Apakah benar Anda memberikan racun pada Elise Marlowe?" tanya Lady Helena dengan nada yang tidak memberi ruang untuk pengelakan.
"Ya," jawab Marcus dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Saya memberikannya karena dia keponakan saya. Tapi saya sangat menyesal sekarang. Saya sudah memperingatkannya untuk tidak menggunakannya, tapi dia tetap bersikeras."
"Dan apakah Anda tahu untuk apa racun itu akan digunakan olehnya?"
"Dia mengatakan untuk meracuni Lady Catharina von Elsworth. Saya berusaha menghentikannya, tapi dia tidak mendengarkan."
Ruang sidang kembali riuh dengan suara-suara tidak percaya dan terkejut. Elise terlihat sangat marah, wajahnya memerah.
"Paman! Kenapa Paman mengkhianatiku seperti ini?!"
"Karena apa yang kamu lakukan itu sangat salah, Elise! Sangat salah!" teriak Marcus dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Aku sudah mengajarimu untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini, bukan untuk menjadi pembunuh!"
"Ketertiban!" Lord Justice Edmund mengetuk palunya lagi dengan lebih keras.
Lady Helena melanjutkan dengan menampilkan bukti-bukti lain satu per satu dengan sangat sistematis. Hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya racun yang sama di botol anggur dan di teh. Kesaksian dari pelayan salon yang dengan jelas melihat Elise menyelinap ke ruang penyimpanan. Rekaman khusus dari percakapan saat Elise mengaku semua perbuatannya di kapel tua.
Tidak ada celah. Setiap bukti mengarah pada kesalahan Elise dengan sangat jelas.
Lalu tiba giliran Catharina dipanggil sebagai saksi.
Catharina berjalan ke kursi saksi dengan tenang meski ia bisa merasakan ratusan pasang mata mengikuti setiap langkahnya. Ia duduk dan meletakkan tangannya dengan rapi di pangkuannya.
"Lady Catharina, bisakah Anda menceritakan kepada pengadilan apa yang Anda alami pada malam saat Anda diracuni?" tanya Lady Helena.
Catharina menceritakan dengan detail yang jelas tapi tidak berlebihan. Bagaimana ia dan Lucian minum anggur untuk merayakan kesuksesan pembukaan salon, bagaimana tiba-tiba mereka merasa sangat tidak enak badan, bagaimana dunia berputar dan gelap menutup kesadaran mereka, dan bagaimana mereka hampir tidak tertolong kalau Martha tidak kembali tepat waktu.
"Dan apakah Anda yakin bahwa Elise Marlowe yang melakukan ini?"
"Ya, saya sangat yakin. Bahkan sebelum investigasi formal dimulai, saya sudah menduga dialah pelakunya karena dia memiliki motif yang sangat kuat dan jelas."
"Motif apa yang Anda maksud?"
"Obsesi yang tidak sehat pada Duke Raphael. Dia merasa bahwa dengan saya dan Marquess Lucian tidak ada lagi, jalannya akan terbuka lebar untuk mendekati Duke."
Elise berdiri dengan gerakan yang sangat tiba-tiba, kursinya jatuh ke belakang dengan bunyi keras. "Itu bukan obsesi! Itu cinta yang tulus!"
"Terdakwa, duduk!" perintah Lord Justice Edmund dengan suara yang menggelegar.
Tapi Elise tidak mendengarkan. Ia menatap Catharina dengan mata yang penuh dengan segala macam emosi yang sudah ia pendam terlalu lama.
"Kamu yang membuat semuanya jadi hancur, Catharina! Kalau saja kamu tidak pernah ada, Duke Raphael pasti akan melihatku! Dia pasti akan mencintaiku! Tapi kamu merusak segalanya dengan keangkuhanmu!"
"Elise, aku tidak pernah merusak apa pun," jawab Catharina dengan suara yang sangat tenang, sangat terkendali. "Duke Raphael tidak pernah mencintaimu sejak awal. Itu bukan salahku. Itu adalah kenyataan."
"BOHONG! Dia pasti akan mencintaiku kalau bukan karena keberadaanmu!"
"Cukup!" Lord Justice Edmund berdiri, wajahnya sangat merah karena marah. "Terdakwa, kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri, aku akan memerintahkan para penjaga untuk membungkammu secara paksa!"
Elise akhirnya duduk kembali setelah dua penjaga mendekatinya, tapi tubuhnya masih gemetar karena kemarahan yang tidak bisa ia padamkan.
Persidangan berlanjut hingga sore menjelang malam. Semua saksi sudah memberikan kesaksian, semua bukti sudah ditampilkan dengan sangat jelas di hadapan semua orang.
Lord Justice Edmund mundur untuk bermusyawarah dengan para hakim lainnya. Setelah hampir satu setengah jam yang terasa seperti berabad-abad bagi Elise, mereka kembali dengan keputusan yang sudah final.
"Setelah mendengar dengan seksama semua bukti dan kesaksian yang ada, pengadilan ini memutuskan bahwa Elise Marlowe terbukti BERSALAH atas semua tuduhan yang diajukan kepadanya."
Ruang sidang meledak dengan berbagai reaksi. Ada yang lega, ada yang berbisik-bisik dengan tetangga mereka, dan tentu saja banyak yang mengangguk setuju.
"Terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun tanpa kemungkinan pembebasan lebih awal atas tuduhan percobaan pembunuhan. Selain itu, Marcus Marlowe sebagai pihak yang membantu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara."
Elise terlihat seperti dunianya runtuh seketika. Tubuhnya limbung, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar untuk beberapa detik.
"TIDAK! INI TIDAK ADIL SAMA SEKALI! AKU TIDAK BISA TERIMA INI!" teriaknya akhirnya dengan suara yang memecah-mecah sambil meronta saat para penjaga mulai mendekatinya.
"CATHARINA VON ELSWORTH! SUATU HARI NANTI KAU AKAN MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN SEKARANG! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUATMU MENYESAL!"
Catharina hanya menatap Elise dengan tatapan yang sangat tenang. Tidak ada kemarahan di sana, tidak ada kepuasan atas kemenangan. Hanya sesuatu yang lebih mirip kasihan.
"Aku berharap di penjara nanti, kamu bisa menemukan kedamaian yang kamu butuhkan, Elise. Dan belajar bahwa cinta yang sejati tidak pernah tentang memiliki atau menghancurkan orang lain."
Elise masih berteriak-teriak dengan segala macam ancaman dan kutukan saat para penjaga menyeretnya keluar dari ruang sidang. Sampai suaranya perlahan melemah dan menghilang di kejauhan.
Setelah persidangan selesai dan orang-orang mulai beranjak, Catharina dikelilingi oleh banyak bangsawan yang ingin memberikan ucapan selamat dan dukungan mereka.
"Lady Catharina, kamu benar-benar luar biasa hari ini!"
"Akhirnya keadilan ditegakkan dengan benar!"
"Wanita seperti Elise memang pantas mendapat hukuman seperti itu!"
Tak lama kemudian, Lucian mendekati Catharina dan menggenggam tangannya dengan lembut namun erat.
"Akhirnya selesai," bisiknya pelan di dekat telinga Catharina.
"Ya. Akhirnya selesai," jawab Catharina sambil bersandar sedikit ke bahunya, merasakan kelegaan yang sangat besar.
Duke Raphael mendekat dengan wajah yang terlihat lega tapi juga ada kesedihan yang tersimpan di sana.
"Catharina, terima kasih. Terima kasih karena tidak menyerah. Kalau bukan karena kamu, Elise mungkin akan terus menyakiti orang lain tanpa henti."
"Sama-sama, Raphael. Dan aku berharap setelah ini, kamu bisa lebih berhati-hati dalam menilai orang-orang di sekitarmu."
Raphael tersenyum tipis, senyum yang sangat berbeda dari yang biasa ia tunjukkan di masa lalu. "Aku akan jauh lebih berhati-hati. Itu yang aku janjikan."
***
Malam itu, Catharina dan Lucian makan malam bersama di sebuah restoran mewah yang menghadap langsung ke danau yang tenang. Suasananya sangat romantis dengan cahaya lilin yang berkedip lembut dan musik yang dimainkan dengan sangat halus di latar belakang.
"Kamu luar biasa hari ini," puji Lucian sambil mengangkat gelas anggurnya untuk bersulang.
"Aku hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan."
"Tidak, kamu lebih dari itu. Kamu berani, kamu cerdas, dan kamu sangat kuat bahkan di saat-saat yang paling sulit. Aku sangat bangga padamu, Catharina."
Catharina tersenyum dengan tulus. "Dan aku sangat beruntung memilikimu di sisiku, Lucian."
Lucian meletakkan gelasnya dan mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam tangan Catharina dengan kedua tangannya.
"Catharina, aku tahu ini mungkin terasa terlalu cepat bagi sebagian orang. Tapi setelah hampir kehilanganmu beberapa waktu lalu, aku menyadari sesuatu yang sangat penting. Hidup ini terlalu singkat dan terlalu berharga untuk terus menunda kebahagiaan yang sudah ada di depan mata."
Jantung Catharina mulai berdetak lebih cepat.
"Lucian..."
Lucian berdiri dari kursinya dan, di hadapan semua orang yang ada di restoran itu, berlutut di depan Catharina. Semua percakapan di ruangan itu langsung berhenti. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
Dari sakunya, Lucian mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru biru tua. Saat dibuka, di dalamnya bersinar sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Bukan yang terlalu besar atau mencolok, tapi elegan dan abadi dalam desainnya.
"Catharina von Elsworth," suara Lucian terdengar jelas meski tidak keras, "maukah kamu menikah denganku?"
Ruangan restoran seketika menjadi sangat sunyi. Bahkan musik di latar belakang seperti berhenti. Semua orang menahan napas menunggu jawaban Catharina.
Catharina menatap Lucian dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pria ini yang selalu ada untuknya tanpa pernah meminta imbalan. Pria yang memperlakukannya sebagai mitra yang setara, bukan sebagai bawahan atau hiasan. Pria yang mencintainya dengan cara yang sehat, tulus, dan penuh penghormatan.
Bagaimana bisa dia menolak pria yang seperti ini?
"Ya," jawabnya, akhirnya dengan suara yang bergetar karena emosi yang memenuhi dadanya. "Ya, aku mau menikah denganmu, Lucian."
Tepuk tangan yang sangat meriah langsung meledak di seluruh restoran. Beberapa wanita terlihat menyeka air mata mereka, ikut terharu dengan keromantisan mereka. Lucian berdiri dengan senyum terlebar yang pernah Catharina lihat di wajahnya, memeluknya dengan sangat erat, lalu menciumnya dengan lembut namun penuh makna di depan semua orang.
Ini adalah momen yang sempurna.
Momen di mana Catharina benar-benar menyadari bahwa hidupnya sudah berubah total dari yang pernah ia bayangkan.
Dari Sania yang berakhir dengan cara yang tidak masuk akal karena tersedak biji salak, menjadi Catharina von Elsworth yang akan segera menikah dengan pria yang benar-benar ia cintai dan yang mencintainya dengan cara yang benar.
Dan ini baru permulaan dari segala kebahagiaan yang akan datang di masa depan.
"Aku berjanji akan membahagiakan mu, Catharina, aku berjanji. "
******
BERSAMBUNG