Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerhana di Kamar 304
Satu minggu telah berlalu sejak operasi itu, namun bagi Kara, waktu seolah berhenti di detik perbannya dibuka. Dunia yang biasanya ia petakan dengan logika dan angka, kini berubah menjadi kanvas hitam yang tak berujung. Namun, yang lebih menyakitkan dari kebutaannya adalah kesunyian yang ditinggalkan Aira.
Ponselnya mati. Pesannya tidak terkirim. Dan Aira tidak pernah lagi muncul di ambang pintu.
Di dalam kamar perawatan, suasana terasa mencekam. Kara duduk di tepi ranjang, matanya yang kosong menatap lurus ke depan, sementara tangannya menggenggam ponsel yang tak kunjung bergetar. Ayah dan kakeknya duduk di sofa sudut ruangan, sementara Ibunya sedang merapikan buah-buahan dengan gerakan yang gelisah.
"Ibu tahu di mana dia, kan?" suara Kara memecah keheningan. Dingin dan menuntut.
Ibu Kara berhenti mengupas apel. "Siapa yang kamu maksud, Yasa? Dokter bilang kamu harus fokus pada pemulihan sarafmu, bukan memikirkan hal lain."
"Jangan panggil aku Yasa kalau Ibu hanya ingin mengatur hidupku!" Kara meninggikan suaranya, membuat ayahnya tersentak. "Aku tanya, di mana Aira? Kenapa dia tidak datang? Apa yang Ibu katakan padanya pagi itu?"
Ibu Kara meletakkan pisau buahnya dengan denting yang keras. "Ibu melakukannya demi kebaikanmu! Lihat kondisimu sekarang, Yasa! Kamu buta! Kamu kehilangan masa depanmu karena terobsesi melindungi gadis pembawa sial itu. Apa kamu belum sadar juga? Sejak dia ada, hidupmu hancur!"
"Dia bukan pembawa sial!" bentak Kara. Ia mencoba berdiri, namun karena keseimbangannya belum pulih, ia hampir jatuh jika tidak segera berpegangan pada tiang infus. "Kebutaan ini adalah penyakit medis, Bu! Sarafku yang bermasalah, bukan karena matanya!"
"Medis?" Ibu Kara tertawa getir, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dokter saja bingung kenapa operasinya lancar tapi penglihatanmu tidak kembali. Kamu masih mau pakai logika? Anak itu punya aura gelap, Yasa. Dia 'Punggelan'. Dia sudah mematahkan hidup orang tuanya, dan sekarang dia mematahkanmu. Ibu tidak akan membiarkan dia mendekatimu lagi. Ibu sudah menyuruhnya pergi, dan syukurlah dia cukup tahu diri untuk menghilang!"
Kara tertegun. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. "Ibu... mengusirnya?"
"Iya! Dan dia setuju karena dia sadar dia itu racun!"
"Cukup!" Kakek Kara berdiri, suaranya yang berat menenangkan ketegangan sejenak. "Hentikan perdebatan ini di depan anak yang sedang sakit."
Namun Kara tidak bisa tenang. Napasnya memburu. "Ayah... Kakek... kalian dengar itu? Ibu mengusir satu-satunya alasanku untuk tetap kuat. Kalian pikir aku butuh mata ini untuk melihat dunia yang penuh dengan kebencian seperti ini?"
Ayah Kara akhirnya angkat bicara, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Yasa, Ibu kamu hanya cemas. Kita semua ingin kamu sembuh. Gadis itu... dia terlalu banyak membawa masalah."
"Masalah?" Kara tertawa pahit, air mata jatuh dari matanya yang tak lagi bisa melihat. "Dia adalah samudera tempat aku belajar tenang. Kalian hanya melihat kegelapannya, tapi aku melihat cahayanya. Sekarang, dengan Ibu mengusirnya, Ibu benar-benar membuatku buta. Bukan hanya mata ini, tapi hatiku juga."
Kara meraba-raba nakas, mencari gelas air namun justru menyenggolnya hingga pecah di lantai. Suara pecahan kaca itu terdengar seperti hatinya yang hancur.
"Keluar," bisik Kara parau.
"Yasa, dengar Ibu—"
"KELUAR!" teriak Kara dengan sisa tenaganya.
Setelah pintu tertutup dan hanya menyisakan Kakek di dalam ruangan, Kara luruh ke lantai, mengabaikan risiko tangannya terkena pecahan kaca. Ia meraba lantai yang dingin, mencari-cari sesuatu yang tak ada.
"Eyang..." isak Kara. "Dia sendirian. Di mana dia sekarang? Aku tidak bisa melihatnya, Eyang... aku benar-benar tidak bisa mencarinya."
Kakek Kara mendekat, memeluk cucunya yang hancur itu. "Sabar, Le. Matahari memang harus melewati malam yang paling gelap untuk bisa menghargai fajar. Jika dia adalah takdirmu, sejauh apa pun samudera membawanya pergi, dia akan kembali ke dermagamu."
Namun bagi Kara, dermaga itu kini terasa sangat jauh. Sang Matahari yang biasanya disiplin dan tegar, kini mulai goyah. Ia tidak lagi peduli pada jam makannya, tidak peduli pada jadwal terapinya. Pikirannya hanya satu: Di mana Samuderanya bersembunyi?
**
Setelah teriakan Kara mereda dan orang tuanya keluar dengan perasaan campur aduk, suasana kamar menjadi sangat sunyi. Hanya ada hembusan AC dan sisa isak tangis Kara yang tersengal. Kakeknya masih setia duduk di sampingnya, membiarkan cucunya itu tenang sejenak.
"Le," panggil Kakek lembut. "Eyang sudah minta suster bersihkan pecahan gelasnya. Kamu duduk di kursi saja, ya?"
Kara menurut dengan lemas. Ia dipapah kakeknya menuju kursi rotan di dekat jendela. Meskipun matanya tertutup kegelapan, ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari sore menyentuh kulitnya.
"Eyang," suara Kara kini jauh lebih tenang, namun terdengar kosong. "Apa logikaku selama ini salah? Apa aku terlalu sombong karena mengira bisa mengalahkan mitos itu dengan rumus dan fakta medis?"
Kakeknya terkekeh pelan, sebuah tawa yang hangat. "Logika itu nggak salah, Kara. Yang salah itu kalau kita pikir logika adalah satu-satunya penguasa di dunia ini. Kamu itu seperti orang yang mau mengukur kedalaman laut pakai penggaris sekolah. Jelas nggak akan sanggup."
Kara tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Sekarang penggarisnya patah, Eyang. Dan aku bahkan nggak tahu seberapa dalam aku sudah tenggelam."
"Kamu tahu," lanjut Kakek sambil menepuk-nepuk tangan Kara. "Eyang dulu pernah bilang, matahari itu nggak akan tenggelam. Tapi matahari itu butuh waktu untuk 'istirahat' di balik cakrawala. Mungkin sekarang ini adalah waktu maghribmu. Gelap, memang. Tapi bukan berarti matahari itu hilang. Dia cuma lagi memberi ruang buat bintang-bintang untuk terlihat."
Kara terdiam, meresapi kata-kata kakeknya. "Bintangnya itu Aira, Eyang?"
"Bisa jadi. Atau mungkin bintangnya adalah kesabaranmu. Atau imanmu." Kakek menarik napas panjang. "Aira itu anak yang baik. Eyang bisa lihat dari caranya menatapmu. Dia nggak pergi karena benci, Kara. Dia pergi karena dia merasa itu satu-satunya cara buat menyelamatkanmu. Dia itu samudera yang lagi surut, supaya daratannya nggak kebanjiran."
Kara meraba dadanya. "Tapi tanpa dia, aku nggak tahu arah, Eyang. Aku biasanya punya jadwal, punya rencana satu sampai sepuluh tahun ke depan. Sekarang? Aku bahkan nggak tahu besok pagi aku harus melangkah ke mana supaya nggak nabrak tembok."
"Nah, di situlah letak seninya," Kakek berdiri, hendak mengambilkan air minum yang baru. "Selama ini kamu mengatur hidupmu sendiri. Sekarang, coba biarkan Gusti Allah yang atur. Kamu cukup jadi asisten-Nya saja. Jalani saja hari ini, satu langkah demi satu langkah. Nanti kalau kakimu sudah kuat, Eyang bantu cari 'samudera'-mu itu."
Kara mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak operasi, ia mau meminum air putihnya sampai habis. Ia mulai menyadari, jika ia ingin menemukan Aira, ia tidak bisa terus-terusan terpuruk dalam kegelapan ini. Ia harus belajar menjadi "Matahari" yang tetap bersinar meski cahayanya tidak lagi bisa dilihat oleh matanya sendiri.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰