Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2 Luka di balik kemudi
Pagi di Jakarta tidak pernah ramah, apalagi bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan ketenangan pinggiran Berlin yang teratur.
Sekar mencengkeram kemudi mobil SUV peraknya dengan buku-buku jari yang memutih.
Ini adalah hari pertamanya bekerja di Rumah Sakit Wijaya—institusi medis kebanggaan keluarga yang kini harus ia pimpin di departemen bedah.
Ada beban berat yang menghimpit pundaknya, bukan hanya soal reputasi medis, tapi soal bagaimana ia harus bersikap profesional di bawah bayang-bayang Rahman yang menjabat sebagai CEO di yayasan yang menaungi rumah sakit tersebut.
Pikiran Sekar melayang pada kejadian semalam di pesta pertunangan. Tatapan Rahman, sentuhan posesif Viona, dan bisik-bisik tamu undangan masih terngiang jelas.
"Fokus, Sekar. Fokus," gumamnya pada diri sendiri.
Namun, fokus itu hancur dalam sekejap. Di sebuah persimpangan yang agak lengang menuju area rumah sakit, seorang pria tua dengan sepeda butut tiba-tiba meluncur dari balik tikungan tanpa peringatan.
"Astaga!"
Sekar menginjak rem sekuat tenaga, namun jaraknya terlalu dekat. Dalam refleks insting seorang dokter yang ingin menyelamatkan nyawa, ia membanting setir ke arah kiri.
Suara decitan ban yang beradu dengan aspal memekakkan telinga, disusul dentuman keras saat moncong mobilnya menghantam barisan balok kayu penyangga proyek drainase di pinggir jalan.
BRAK!
Kantong udara tidak mengembang, tapi hentakan itu cukup kuat untuk membuat dahi Sekar terbentur kemudi. Pandangannya mengabur sejenak. Aroma asap dan debu kayu memenuhi kabin mobil.
Dengan napas tersengal, Sekar segera membuka pintu, mengabaikan rasa perih di keningnya. Ia harus memeriksa bapak-bapak tadi.
Di luar, pria tua itu jatuh tersungkur, sepedanya ringsek, namun syukurlah ia tampak masih bernapas.
"Bapak? Bapak tidak apa-apa?" Sekar berlutut di samping pria itu, jemarinya secara otomatis mencari denyut nadi di leher sang korban. Analisis medisnya bekerja lebih cepat dari rasa takutnya.
Di saat bersamaan, sebuah sedan hitam mewah berhenti mendadak di belakang mobil Sekar. Pintu belakang terbuka, dan sosok yang paling tidak ingin ditemui Sekar pagi ini muncul dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Sekar!"
Rahman melangkah lebar, mengabaikan aspal yang berdebu. Di belakangnya, Viona menyusul dengan wajah cemas yang tampak dibuat-buat, sambil memegangi ujung gaun mahalnya agar tidak kotor.
"Ada apa ini? Apa kamu tidak bisa menyetir dengan benar?" Suara Rahman meninggi, namun ada nada kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik otoritasnya.
"Jangan sekarang, Mas. Bantu aku angkat bapak ini ke mobilmu," potong Sekar tanpa menoleh. Suaranya dingin dan profesional. "Dia syok, ada kemungkinan fraktur di pergelangan tangan kiri. Kita harus membawanya ke rumah sakit segera."
Rahman tertegun melihat dahi Sekar yang mulai mengeluarkan darah segar, namun ia tidak membantah. Dengan sigap, Rahman membantu memindahkan pria tua itu ke kursi depan sedan mewahnya.
"Mas, bagaimana dengan jadwal kita ke butik?" Viona memotong, suaranya terdengar manja namun tajam. "Fitting gaun pengantin itu tidak bisa ditunda, desainer itu hanya punya waktu pagi ini."
Sekar berdiri, menyeka darah di dahinya dengan punggung tangan. Ia menatap Viona datar. "Orang ini bisa mati kalau tidak segera ditangani, Viona. Gaunmu bisa menunggu."
Viona meradang, tapi Rahman mengangkat tangan, memberi tanda agar ia diam. "Kita antar Viona dulu ke butiknya, itu searah. Setelah itu kita ke rumah sakit. Masuk ke mobil, Sekar. Biar supirku yang mengurus mobilmu yang ringsek itu."
——————
Suasana di dalam sedan mewah itu lebih dingin dari ruang pendingin mayat. Viona duduk di depan samping supir, sementara Rahman dan Sekar duduk di kursi belakang dengan bapak tua yang pingsan di antara mereka.
"Kamu selalu ceroboh, Sekar," Rahman membuka suara setelah beberapa menit keheningan yang menyesakkan. "Di Jerman apa mereka tidak mengajarimu cara melihat rambu jalan?"
Sekar menyandarkan kepalanya ke jendela, memejamkan mata. "Di Jerman, orang tidak menyeberang sembarangan, Mas. Dan di Jerman, aku tidak punya gangguan pikiran yang tidak perlu."
"Maksudmu aku mengganggumu?" tanya Rahman dengan nada sarkas.
"Kalau merasa, syukurlah," jawab Sekar pendek.
Viona melirik dari spion tengah, matanya berkilat tidak suka. "Mungkin Sekar terlalu bersemangat kembali ke Jakarta sampai lupa cara menginjak rem. Lagipula, Sekar, bukankah dokter seharusnya lebih tenang? Lihat keningmu itu, mengerikan sekali. Bagaimana kamu mau membedah orang kalau penampilanmu seperti korban perang?"
"Luka luar bisa disembuhkan dengan jahitan, Viona," Sekar menyahut dengan nada yang sangat tenang namun menusuk. "Luka di dalam... itu yang biasanya membuat orang bertingkah aneh. Seperti sangat tidak sabar ingin memakai gaun pengantin sampai mengabaikan nyawa manusia."
Wajah Viona memerah. "Mas, lihat dia!"
"Cukup," bentak Rahman. "Viona, kita sudah sampai."
Mobil berhenti di depan sebuah butik eksklusif di kawasan Menteng. Viona keluar dengan hentakan kaki yang kasar, namun sebelumnya ia sempat membungkuk ke jendela belakang. "Cepat sembuh, 'Adik' Sekar. Jangan sampai tanganmu gemetar di meja operasi nanti."
Setelah Viona pergi, mobil kembali melaju. Kini hanya ada Sopir, Rahman, Sekar, dan bapak tua yang mulai mengerang pelan.
"Kamu tidak perlu sekasar itu dengan dia," kata Rahman tanpa menatap Sekar.
Sekar terkekeh, suara tawa yang kering dan tanpa kebahagiaan. "Kasar? Aku hanya menyatakan fakta medis. Atau mungkin telingamu sudah terlalu terbiasa mendengar pujian sampai fakta terasa seperti makian?"
Rahman menoleh, menatap lekat luka di dahi Sekar. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan kain berwarna biru gelap, lalu meraih dagu Sekar dengan paksa agar wanita itu menghadapnya.
"Lepaskan, Mas. Aku bisa sendiri," Sekar mencoba memberontak.
"Diam," perintah Rahman dengan nada yang tidak menerima bantahan. Ia menekan sapu tangan itu ke luka Sekar. "Kamu dokter, tapi bodoh soal merawat diri sendiri. Darah ini mengotori kursi mobilku."
Sekar terdiam. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma cedarwood dan kopi pahit dari tubuh Rahman. Aroma yang selama sepuluh tahun ini ia rindukan sekaligus ia benci.
"Kenapa kamu harus pulang, Sekar?" bisik Rahman tiba-tiba. Nadanya tidak lagi sarkas, tapi penuh dengan keputusasaan yang tertahan.
Sekar menatap mata hitam Rahman yang dalam. "Untuk melihatmu menikah, bukankah itu yang kalian inginkan? Menjadikanku pajangan keluarga yang sukses agar dunia tidak bertanya-tanya kenapa aku diasingkan ke Berlin?"
Rahman menarik tangannya kembali, wajahnya kembali mengeras. "Jangan merasa jadi martir. Kamu dikirim ke sana untuk masa depanmu. Dan sekarang kamu kembali hanya untuk mengacaukan pikiranku?"
"Aku kembali untuk bekerja, Rahman. Jangan terlalu percaya diri. Kamu bukan lagi pusat duniaku," bohong Sekar. Kata-kata itu terasa seperti duri di lidahnya sendiri.
"Baguslah," sahut Rahman ketus. "Karena sebentar lagi aku akan punya istri. Dan sebagai CEO, aku tidak akan segan memecatmu kalau insiden 'tabrak kayu' ini terulang lagi dan merusak citra rumah sakit."
Sekar tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan tantangan. "Coba saja. Kita lihat siapa yang lebih dulu hancur, karier bedahku... atau topeng sempurnamu itu."
Mobil akhirnya memasuki lobi rumah sakit. Tim medis dengan brankar sudah bersiap di depan pintu. Sekar segera keluar, mengabaikan pusing di kepalanya. Ia kembali menjadi dr. Sekar yang tak tersentuh.
Saat brankar bapak tua itu didorong masuk ke ruang IGD, Sekar berhenti sejenak dan menoleh ke arah Rahman yang masih duduk di dalam mobil.
"Sapu tanganmu akan aku kembalikan setelah aku cuci bersih dari darahku, Mas. Sama seperti hidupku... aku akan memastikan tidak ada lagi jejakmu di sana."
Rahman hanya diam, menatap punggung Sekar yang menjauh dengan langkah tegak. Ia meremas pinggiran jok mobil, sementara di tangannya yang lain, ia merasakan sisa kehangatan dari kulit wajah Sekar.
Di dalam laci mobilnya, tersimpan sebuah amplop cokelat yang sama dengan yang dibawa orang asing di pesta semalam. Sebuah kabar lama yang jika dibuka, akan membuat kecelakaan pagi ini terasa seperti keberuntungan kecil dibandingkan kehancuran yang akan datang.