NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:890.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sore di Surabaya mulai beranjak redup ketika mobil hitam yang dikendarai Raditya—atau Rio, nama samaran yang kini ia kenakan—memasuki halaman besar rumah keluarga Adytama. Matahari yang nyaris tenggelam menciptakan bayangan panjang di lantai garasi yang mengilap. Udara sore yang panas perlahan berubah lembut, seolah ikut menyambut kepulangannya setelah seharian mengikuti Bianca berbelanja.

Begitu mesin mobil dimatikan, Bianca langsung membuka pintu dengan gaya khasnya—cepat, percaya diri, dan sedikit dramatis. Rambut panjangnya tergerai, parfum mewahnya menyebar ke udara.

“Rio, buka bagasinya. Terus bawa semuanya ke kamar aku,” ucap Bianca tanpa menoleh, nada suaranya seperti sudah bawaan sejak kecil: memerintah.

Raditya hanya mengangguk. “Baik, Non Bianca.”

Ia turun dan membuka bagasi mobil yang penuh sesak oleh kantong belanjaan dari berbagai brand mewah. Ada kotak sepatu, tas makeup, parfum, dan berpuluh-puluh barang yang tadi disambar Bianca tanpa berpikir panjang. Pemandangan itu membuat Rio menarik napas panjang, menahan rasa lelah yang mulai menggerogoti bahunya.

Bianca berjalan masuk ke rumah dengan langkah ringan, seperti tidak sedang membawa apa pun, sementara Rio memanggul belanjaan yang hampir menutupi pandangannya. Ia mengikuti Bianca memasuki rumah yang didominasi interior modern minimalis—lantai marmer putih, lampu gantung kristal panjang, dan dinding dipenuhi lukisan abstrak yang mahal.

Begitu melangkah masuk, Bianca langsung disambut oleh Mama Reva—seorang wanita cantik di usia empat puluhan, rambutnya di-blow rapi, bibir merah terawat, gaya bicara elegan namun tajam. Ia sedang duduk di ruang keluarga sambil mengoleskan hand cream.

“Bianca? Astaga... Kamu belanja apa saja sampai segitu banyaknya?” Mama Reva berdiri, matanya melebar melihat belanjaan yang dibawa Rio sampai hampir tumpah.

Bianca tersenyum bangga. “Ini untuk menunjang penampilan aku, Ma. Sebentar lagi aku bakal jadi bagian dari keluarga Mahardika. Masa iya aku tampil biasa aja? Nanti keluarga kita yang malu.”

Alis Mama Reva langsung terangkat senang. “Iya, benar sekali. Visual itu modal awal untuk masuk ke keluarga sebesar itu. Mama bangga kamu ngerti itu.”

Bianca tersenyum semakin lebar. “Ya jangan ragu dong, Ma. Aku ini calon istri pewaris Mahardika Group.”

Mereka tertawa kecil bersama.

Rio berdiri sedikit di belakang, diam, wajahnya datar. Namun percakapan itu menggores sesuatu dalam dirinya—tidak marah, tapi semacam… ketidaksukaan yang sulit dijelaskan. Cara Bianca dan ibunya membicarakan perjodohan itu seperti sedang membicarakan proyek bisnis, bukan hubungan manusia.

“Rio, cepat bawa ke atas!” perintah Bianca sambil menaiki tangga ke lantai dua.

“Baik, Non.” Rio mengikuti, mengangkat tas-tas belanja itu sambil menjaga ekspresinya tetap profesional.

Di lantai dua, Bianca membuka pintu kamarnya—ruang besar berwarna putih pastel, dipenuhi koleksi tas branded dan rak sepatu seperti butik mini. Bianca masuk sambil mengecek notifikasi di ponselnya.

“Letakkan di sofa, eh… nggak di situ, Rio! Di meja rias. Aku mau foto nanti.” katanya ketus.

Rio memindahkan semua dengan sabar.

Pemikirannya melayang sebentar. Keluarga ini… begitu berbeda dari Kirana.

Sosok Kirana yang ia jumpai tadi pagi—lembut, sederhana, namun karismatik—seperti kontras total dengan adiknya.

Setelah menata belanjaan hingga rapi, Rio pamit turun. Bianca hanya melambaikan tangan tanpa melihat.

**

Keluar dari pintu samping, Rio berjalan melewati lorong menuju halaman belakang. Udara di sana lebih sejuk. Rumah Adytama ternyata memiliki area khusus tempat tinggal para karyawan rumah tangga: bangunan kecil berjajar, bersih dan terawat.

Di dekat dapur khusus pelayan, Bi Tuti—wanita paruh baya yang ramah—melihat kedatangannya dan langsung melambai.

“Mas Rio! Sini dulu! Baru pulang ya? Pasti capek banget!” katanya dengan senyum hangat.

Rio mengangguk. “Lumayan capek, Bu.”

“Duh, pasti tadi belanja sama Non Bianca ya?” tanya Bi Tuti sambil menepuk-nepuk kursi di sampingnya.

Rio tak bisa menahan tawa kecil. “Iya, Bu. Belanjaannya banyak sekali.”

Pak Karman, suami Bi Tuti yang bekerja sebagai satpam, ikut tertawa dari ujung meja sambil menyeruput teh manis.

“Loh mas, belum apa-apa sudah kaget? Itu mah baru sehari! Non Bianca tu belanja bisa tiap hari. Kadang dua kali!”

Rio terdiam sejenak. “Tiap… hari, Pak?”

“Iyaaa!” Bi Tuti terkekeh. “Ya gitu lah anaknya Nyonya Reva. Waktu kecil juga udah dimanjain. Suka apa-apa harus yang paling bagus.”

Rio menarik kursi dan duduk. Baru duduk saja, tubuhnya terasa seperti jatuh ke sofa setelah menempuh perjalanan jauh. Leher dan bahunya terasa pegal, namun aroma masakan dari dapur membuat perutnya bergemuruh.

“Kamu makan dulu, Mas Rio.” Kata Bi Tuti sambil menyendokkan nasi ke piringnya. “Tadi Bibi masak telur balado, tahu balado, sama sayur bening. Makan biar segar.”

Rio tersenyum tulus. “Makasih banyak, Bi.”

Bi Tuti bangkit. “Kamu mau kopi? Bibi bikinin ya.”

“Tentu, Bi. Wah, terima kasih.”

Bi Tuti langsung membuat kopi tubruk, aroma khasnya menguar ke seluruh ruangan. Rio mengaduk kopinya sambil menyendok telur balado. Rasanya pedas gurih, membuat tubuhnya terasa lebih ringan.

Pak Karman bertanya, “Gimana hari pertama? Pusing, ta?”

“Ada capeknya, Pak. Tapi masih bisa saya jalanin.”

“Lama-lama terbiasa, Mas,” kata Pak Karman. “Yang penting sabar. Oh iya… satu lagi saran dari saya.”

Rio menoleh. “Apa, Pak?”

Pak Karman mencondongkan tubuh, suaranya merendah seperti membagikan rahasia negara.

“Hati-hati sama anak-anak gadis di rumah ini.”

Rio mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Pak Karman melirik sebentar ke arah rumah besar, lalu kembali berbisik.

“Non Bianca kalau sudah suka sesuatu… atau seseorang… dia ngotot. Dan kalo dia nggak suka? Bisa bahaya. Makanya jaga jarak aja. Kerja yang bener, tapi jangan terlalu dekat.”

Rio membeku sejenak. Ucapan itu terasa seperti peringatan samar—sangat samar, namun cukup membuat tengkuknya merinding.

Bi Tuti kembali dengan kopi hangat. “Nih Mas Rio, minum dulu. Habis itu mandi, terus istirahat. Kayaknya kamu capek banget.”

Rio mengangguk. “Terima kasih banyak, Bi.”

Saat ia meminum kopi, aroma robusta yang sederhana namun hangat itu seakan memeluk jiwa lelahnya. Namun sebelum kopi itu habis, langkah kaki terdengar dari arah lorong samping—langkah yang pelan dan teratur.

Rio menoleh dan untuk sepersekian detik… napasnya hampir berhenti.

Gadis itu berdiri di ujung lorong dengan pakaian kerja yang masih menempel di tubuhnya: blouse putih, celana kain hitam, rambut dikuncir rendah. Wajahnya terlihat lelah namun tetap memancarkan aura tenang yang sama seperti pertama kali ia lihat.

Dia baru pulang dari kafe tempatnya bekerja, mata Kirana langsung bertemu mata Rio dan dunia Rio tiba-tiba terasa bergerak lebih lambat.

Kirana mengangguk sopan padanya… tapi Rio merasa ada sedikit kebingungan di mata gadis itu. Mungkin Kirana heran kenapa supir baru mereka sedang makan bersama pelayan rumah.

Kirana lalu berkata lembut pada Bi Tuti, “Bi… Mama ada di rumah?”

“Di ruang keluarga, Nduk. Barusan ngobrol sama Non Bianca.”

Kirana mengangguk. “Baik.”

Lalu matanya kembali ke Rio.

“Kamu supir baru itu ya… Rio?”

Suara itu. Lembut. Hangat. Berbeda dunia dari Bianca dan Mamanya.

Rio bangkit spontan, hampir menjatuhkan kursinya. “I-iya, Mbak Kirana.”

Kirana tersenyum tipis. “Selamat datang di rumah Adytama. Semoga kamu betah.”

Dan hanya begitu saja—hanya satu kalimat kecil—tapi cukup membuat jantung Raditya berdebar tidak karuan.

Saat Kirana berjalan pergi, aroma samar sabun dan parfumnya tertinggal di udara. Rio menatap punggung Kirana sampai gadis itu menghilang di tikungan, lalu duduk kembali.

Bi Tuti menepuk bahunya. “Itu Mbak Kirana. Orangnya baik, Mas. Nggak sombong kayak adiknya.”

Pak Karman mengangguk. “Iya. Mbak Kirana itu satu-satunya matahari di rumah ini.”

Rio tersenyum kecil. “Saya bisa lihat itu, Pak.”

Namun hatinya berkata lain. Dia tidak sekadar melihat. Dia merasa sesuatu tentang Kirana… entah apa… menariknya seakan magnet. Bukan karena kecantikannya. Bukan karena statusnya.

Tapi karena bagaimana Kirana berdiri di rumah yang penuh kemewahan itu — tetap membumi, tetap lembut, tetap manusia.

Dan Rio tahu… Penyamarannya mungkin akan jauh lebih rumit daripada yang ia perkirakan karena penyamaran paling berbahaya bukan di depan keluarga Adytama. Tapi di depan Kirana Adytama, Gadis yang bisa saja, tanpa sadar… mulai membongkar pertahanan seorang Raditya Mahardika.

***

1
Ellya Muchdiana
pasti shock tuh si biang kaladi dan mama Reva, kalo Kinara yg dipilih Raditya sang pangeran Mahardika
siska nirmala
ceritanya keren banget thor
terasa masuk ke dalam novelnya
konflik yang berbeda dan terselesaikan dengan rinci
semangat terus kk othor
siska nirmala
sukaaaa banget ceritanya
cerita ter the best yang aku baca di NT ❤️❤️❤️
Lilik Juhariah
laki laki ayah suami kl sudah kena godaan setan yg namanya perempuan , ahirnya jadi Iblis , kok benci banget sama haris
Lucia
Mo magang kaya mo ngangkang ajah🤦‍♀️ jadi Penggoda CEO
Lucia
Pph Haris knp sih sm anak kandung jg gk ada Rasa empati ato perhatian pada anak sendiri???
🤦‍♀️
Lucia
Knp pphnya Karina tidak bisa membedakan mn yang benar dn slah sih. Kepala Keluarga koq gk bisa ambil sikap mana yg harus dibela dn mana yg hatus ditegur kalo salah🤦‍♀️
Lilik Juhariah
mobilnya dingin , yang panas itu hatinya
Lucia
AUra CEO ditonjolkan oleh Raditya dgn kekuasaannya untuk melindungi Karina dg protektif krn rasa kuatir dn ada rasa Cintk
Lilik Juhariah
kereeeen ikut tegang
Lucia
Sama" py power & aura pemimpin.
Akankah mereka Berjodoh🤔
Rintangan" akan menantinya ut bisa Bersatu jd pasangan Halal🤭
Ellya Muchdiana
aneh, masa nyetir mobil panas dan kegerahan apalagi mobilnya mercedes benz, mobil mahal yg luxury, kecuali si biang kaladi bawa mobil angkot atau truk
Umi Syafaah
udah baca sampe bab ini,aku suka jalan cerita nya Thor,,bagus banget,😍
Lucia
Nh tegas dong!!!
Anak manja Belagu banget!!
Pngen gue toyor 👊 thor
Lucia
Sakit apa? Kn habis makan malam ya?
Aq kira td ada pelecehan saat pulang malam🤔
pikiranku sampevk mn"thor🤦‍♀️
Lucia
Bedalah Rio.
Mereka beda ibu koq
Lucia
Siapa yg menolak wamita cantik, smart, py segudang prestasi dn perusahaan. Nikah ini mah kekayaan makin bertambah lah🤭
Lah nikah ma bianglala yg ada perusahaan makin bangkrut pborosan tak ada guna🤣
Lucia
Ku jadi Penasaran Kemarian ibu & kakek Karina why??? Something wrong dehhh🤔
Lucia
Ye iyalah otg kalo smart & otak berisi biasanya gk sombong seperti Padi semakin Berisi akan Merunduk.
Beda nih ma si onoh Biangkerok Bianglala emag ada otak🤦‍♀️
Belanja tiap hari emang mo buka super market tuh bianglala!!!!
Lucia
Visual Raditya koq kelihatan muda diusia 33. Kurang kesan Misterius dn garang thor.
Kalo Karina oklah.
Bianca masih terlalu soft.
Kurang judes dn matreak glamor thor🤭
Maaf masuk aja thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!