Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kertas Dan Bayangan
Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat berdiri seperti menara gading yang menyimpan jutaan rahasia. Bagi Kala, tempat ini terasa seperti labirin yang dirancang khusus untuk menyesatkan orang-orang yang kehilangan arah. Ia melangkah melewati sensor keamanan, tangannya masih menggenggam erat payung kuning yang ia temukan di loker stasiun.
Berdasarkan rekaman suara di MP3 player itu, ada satu petunjuk yang terus berulang: suara latar berupa gesekan kertas dan dentang lonceng kecil. Kala yakin, jika ia ingin menemukan siapa Arumi dan kenapa ia begitu penting, ia harus kembali ke titik nol—rak nomor 402, tempat yang pernah ia tulis di catatannya sebagai lokasi pertemuan pertama mereka.
Udara di dalam perpustakaan terasa berat oleh bau debu kertas tua dan pembersih lantai. Sunyi yang ada di sini bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menuntut. Kala berjalan menyusuri barisan rak tinggi yang seolah-olah hendak menjepitnya.
Ia sampai di lantai empat. Rak 402: Arsip Sejarah Lokal dan Metafisika.
Kala menelusuri deretan punggung buku dengan jarinya. Tangannya tiba-tiba berhenti di sebuah celah kosong antara dua buku tebal. Di sana, terselip sebuah kartu peminjaman buku yang sudah menguning. Nama peminjamnya: Arumi Sekar.
"Sudah kuduga kamu akan kembali ke sini."
Kala berbalik dengan cepat. Di ujung lorong rak, berdiri Vera. Namun, ada yang salah dengan penampilannya. Vera yang ia temui di Bab 3 tampak tangguh dan rapi, tapi Vera yang sekarang terlihat... memudar. Kulitnya terkadang bergetar seperti gangguan sinyal pada televisi tua (glitch).
"Vera? Kamu masih hidup?" tanya Kala dengan nada tidak percaya.
"Secara teknis, tidak," jawab Vera, suaranya terdengar seperti dua frekuensi radio yang bertabrakan. "Aku hanyalah 'salinan cadangan' yang tersimpan di dalam jaringan gedung ini. Saat markas kita hancur, kesadaranku pecah ke dalam berbagai infrastruktur digital di kota ini. Aku adalah hantu di dalam mesin, Kala."
Vera melangkah maju, tapi kakinya tidak menyentuh lantai dengan sempurna. "Kamu seharusnya tidak mencari tahu, Kala. Kamu sudah memilih untuk lupa. Kenapa kamu tidak menikmati saja kekosongan itu?"
"Karena kekosongan ini berisik, Vera! Setiap kali aku tidur, aku mendengar suara tawa yang tidak punya wajah. Aku merasa seperti pencuri di dalam hidupku sendiri," balas Kala tajam. "Katakan padaku, apa yang ada di rak 402 ini sebenarnya?"
Vera menghela napas, sebuah gerakan yang sia-sia bagi entitas digital. "Ambil buku di belakang kartu peminjaman itu. Judulnya Anomali Mekanika Waktu: Teori Detik yang Hilang."
Kala menarik buku itu. Saat ia membukanya, buku itu ternyata sudah dilubangi di bagian tengahnya. Di dalamnya terdapat sebuah microchip dan sebuah foto kecil.
Foto itu menunjukkan Kala muda dan Arumi muda sedang berdiri di depan sebuah jam menara besar. Mereka tampak bahagia. Namun, di belakang mereka, langit Jakarta tidak berwarna biru, melainkan berwarna ungu gelap dengan retakan-retakan cahaya yang mengerikan.
"Itu adalah garis waktu yang asli," bisik Vera. "Dunia yang hancur karena kita gagal. Arumi bukan manusia biasa, Kala. Dia adalah 'kunci' yang diciptakan oleh Dewan Realitas untuk mengatur ulang dunia jika terjadi kesalahan. Tapi kamu jatuh cinta padanya. Kamu mencuri 'kunci' itu dan menyembunyikannya di dalam tubuh seorang gadis manusia sepuluh tahun lalu."
Kala terperanjat. "Jadi... Arumi yang sekarang adalah ciptaanku?"
"Lebih tepatnya, dia adalah sandera cintamu. Dan sekarang, para Pemulih tidak lagi mengejar Arumi untuk membunuhnya. Mereka mengejarmu karena kamu adalah satu-satunya orang yang tahu di mana 'Inti Waktu' disembunyikan."
Tiba-tiba, lampu-lampu di perpustakaan berkedip. Suara langkah kaki yang berat dan sinkron terdengar dari arah tangga darurat. Tuk. Tuk. Tuk.
Tiga sosok berjubah perak muncul di ujung lorong. Wajah cermin mereka memantulkan rak-rak buku yang kini mulai tampak melengkung secara tidak wajar.
"Serahkan kuncinya, Kala Danuarta," suara mereka menggema, membuat kaca-kaca jendela perpustakaan bergetar hingga retak.
Vera menatap Kala dengan cemas. "Lari ke bagian arsip koran di lantai bawah! Di sana ada pintu keluar darurat yang tidak terdeteksi oleh radar mereka. Aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan meretas sistem alarm!"
Kala tidak menunggu dua kali. Ia berlari sekuat tenaga, melewati rak-rak buku yang mulai berjatuhan. Di belakangnya, ia mendengar suara Vera yang berteriak memerintah sistem keamanan gedung untuk mengunci pintu-pintu otomatis.
Saat ia mencapai lantai dasar, ia melihat sebuah bus berhenti di depan gedung. Di dalam bus itu, melalui kaca jendela yang basah, ia melihat seorang gadis. Arumi.
Dia menatap ke arah perpustakaan dengan wajah bingung, seolah-olah dia juga merasakan ada sesuatu yang memanggilnya dari dalam gedung itu.
Kala berhenti di depan pintu kaca. Ia ingin berlari ke arahnya, ingin memanggil namanya, tapi peringatan dari dirinya sendiri di masa lalu bergema di kepalanya: Jangan mencoba mengingat dia. Realitas akan menolakmu.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepala Kala. Penglihatannya memburuk, hidungnya mulai mengeluarkan darah. Dunia di sekitarnya mulai bergoyang seolah terjadi gempa bumi hebat.
"Sial..." umpat Kala sambil memegangi kepalanya.
Ia harus memilih: mengejar Arumi sekarang dan mengambil risiko menghancurkan realitas yang sudah stabil, atau tetap bersembunyi dan membiarkan Arumi hidup dalam ketidaktahuan.
Namun, para Pemulih sudah hampir mencapainya. Tidak ada waktu untuk berpikir.
Kala memecahkan kaca pintu darurat dengan bahunya dan berlari menuju bus yang mulai bergerak. Ia tidak peduli lagi pada peringatan itu. Jika dia harus hilang dari sejarah, maka dia akan hilang sambil menggenggam tangan orang yang ia cintai.