Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Bagas Dengan Dita
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh, Bagas beserta beberapa tetangga meninggalkan perkarangan rumah Bagas untuk menuju kediaman Dita.
Perjalanan menuju rumah Dita memakan waktu 45 menit. Setibanya dirumah Dita, rombongan Bagas disambut ramah dengan tuan rumah berserta keluarganya.
Bagas turun dari mobil dengan membawa bunga mawar merah disusul dengan Dara yang membawa kota cincin serta satu set perhiasan. Lalu di ikuti oleh beberapa tetangga yang juga membawa hantaran.
"Assalamualaikum ayah ibu" salam Bagas sebari menyalami tangan calon mertuanya.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Dita. Bagas lalu masuk kedalam rumah menyalami semua yang berada didalam dan di ikuti oleh rombongannya.
Dara juga menyalami semua yang ada di dalam rumah Dita dengan senyum yang tak pernah pudar. Rombongan Bagas dipersilahkan duduk. Setelah lima menit kemudian Dita baru keluar kamar lalu menyalami tamu yang berada disana.
Bagas lantas mengalihkan pandangannya kepada kedua orang tua Dita yang duduk berhadapan dengannya.
"Ayah ibu, kedatangan saya malam hari ini bukan hanya sekedar silaturahmi biasa. Langsung saja kedatangan saya beserta keluarga ingin melamar Dek Dita menjadi istri kedua saya" ucap Bagas dengan bahasa formal yang terlihat tegas dan mantap.
Para keluarga besar Dita kaget mendengar penuturan calon suami Dita mereka baru mengetahui fakta ternyata Dita akan dijadikan istri kedua.
"Ternyata pelakor si dita. Kayak gak ada laki laki lain aja" bisik bisik sepupu Dita.
"Gue penasaran yang mana istri pertamanya. Gila Dita ternyata gatel juga suka rebut suami orang" bisik tetangga samping rumah Dita.
Dita yang mendengar bisik bisik para sepupunya wajahnya langsung memerah menahan malu. Ayah Dita yang tak mau anaknya dikatakan cewek gak bener langsung membalas ucapan Farhan.
"Nak,, apa kamu sudah benar benar siap? Seperti yang kamu tahu menikah itu bukan sekedar perasaan, tetapi juga tentang tanggung jawab. Sebelumnya saya ingin meluruskan agar tidak ada omongan miring orang orang tentang Dita. Disini memang Dita akan dijadikan istri kedua namun itu atas permintaan istri pertamanya. Karena istri pertama Bagas tidak bisa memberi keturunan untuk Bagas. Jadi saya ingin bertanya sama nak Bagas apakah kamu sudah mampu bertanggung jawab atas kedua istri mu nanti?, apakah kamu bisa berlaku adil kepada kedua istrimu?" Ucap ayah Bagas dengan nada tegas sambil menatap Bagas yang sedikit tajam.
"aku nyuruh suami nikah lagi?, yang ada dia selingkuh di belakang ku" batin Dara gemas
"Insyaallah saya akan berlaku adil kepada kedua istri saya. Ini tidak ada keterpaksaan istri pertama saya, Dara yang berada di samping kanan saya sangat legowo. Dia juga yang meminta saya untuk menikahi Dek Dita karena dia merasa memiliki kekurangan yang tak bisa dia penuhi" ucap Bagas sambil menghadap Dara. Dara yang ditatap pun tersenyum kepada Bagas. Senyum yang sangat tulus bukan senyum karena terpaksa.
Para keluarga Dita dan tetangga Bagas sungguh takjub dengan Dara. Tidak ada air mata, tidak ada keributan disaat mengantarkan suaminya melamar calon madunya. Sedangkan disisi lain Bu Diah hanya bisa menggenggam tangan Dita untuk menguatkan Dita.
"Gue kalau jadi istri pertamanya mending cerai aja sih, dari pada di madu" bisik sepupu Dita.
"Hiya,, gue kalau jadi istri pertamanya udah gue bikin rusuh ini acara lamaran" sahut sepupu Dita yang lain.
"lagian zaman sekarang banyak loh yang menganut childfree atau kalau memang mereka mau anak kan bisa mengadopsi dari panti asuhan" sahut sepupu Dita.
"Baik, saya sebagai ayah Dita hanya bisa manut kepada anak saya. Untuk diterima atau tidak bisa kamu tanya sendiri kepada Dita, bagaimana kak, apakah kamu menerima lamaran nya? " Tanya ayah Dita yang menghentikan grasak grusuk para keluarga.
Dita yang ditanya hanya mengangguk kan kepalanya. Membuat Bagas bernafas lega. Setelah itu akan diadakan sesi tukar cincin.
"Tunggu,, saya ingin yang memasangkan cincin istri pertama Bagas. Tujuan saya meminta istri pertama Bagas yang memasangkan cincin agar keluarga dan tetangga saya lebih yakin kalau yang meminta Dita menjadi istri kedua Bagas adalah istri pertama nya dan tidak ada istilah anak saya merebut suami orang. Agar nama Dita tidak jelek disini" ucap ayah Dita yang menghentikan sejenak acara tukar cincin.
"Hais, pak,, emang anak bapak itu pembinor. Tapi saya ikhlas kok pak" batin Dara.
"Dar, kalau gak kuat gak usah" bisik bu Diah dengan kasihan. Kalau Bu Diah jadi Dara pasti dia sudah ngereog, menghancurkan acara lamaran suaminya. Lah ini yang di lihat Bu Diah, Dara tampak fine fine saja, bahkan dia tampak menikmati acara lamaran suaminya.
"Tenang aja Bu Diah itu sih gampang cuman masangin cincin mah" jawab Dara dengan senyum yang merekah kepada Bu Diah.
"Kamu jangan buat anak saya malu Dar, udah buruan maju pasangin cincin ke jari manis Dita, jangan pura pura gak denger kamu" ucap mertua Dara sambil mencubit tangan dara karena gereget Dara tidak maju maju malah asik berbisik bisik dengan Bu Diah.
"Iya iya Bu, sabar atu,, ini mau maju loh masangin cincin, gak usah pakai cubit cubit segala" ucap Dara yang menanggapi ucapan mertuanya.
Dara pun maju dengan senyum yang tidak pernah luntur sambil membawa kota cincin dan perhiasan satu set. Dara memasang cincin ke jari manis Dita.
"Kalau nangis nangis aja, gak ada yang larang loh, gak usah sok kuat, dan satu lagi nafkah dari mas Bagas yang megang aku, jadi kalau mau beli apa apa harus izin sama aku dulu, dan ingat mas Bagas akan tidur dengan aku terus tidak ada pembagian hari mas Bagas tidur sama kamu" bisik Dita yang hendak menghancurkan mental Dara
"Tenang aja, aku bukan sok kuat, emang aku iklas kamu nikah sama mas Bagas, semoga kamu sanggup menghadapi sifat mas Bagas sama Ibu, hehe" bisik Dara yang membalas ucapan Dita.
Dara juga tidak lupa memasangkan kalung berlian ke leher Dita serta gelang ke tangan Dita. Setelah selesai Dara kembali ke tempat duduknya.
"Gila istri pertama nya spek bidadari gitu, udah kalem baik lagi, zaman sekarang cewek yang ngizinin suaminya nikah lagi karena merasa memiliki kekurangan hal sangat langka. Kayak gitu kalau gue jadi Bagas gue pertahanin istri pertama gue masalah anak kan bisa adopsi lagian sekarang udah banyak yang free child" ucap sepupu laki laki Dita yang sudah tau kelakuan Dita dibelakang orang tuanya.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar. Saat hendak pulang Dara dipanggil oleh orang tua Dita dan terpaksa Dara menghampirinya.
"Ada apa buk pak?" Tanya Dara yang sudah berhadapan dengan orang tua Dita.
"Begini nak, ibu harap ketika Dita sudah menjadi istrinya Bagas, kamu jangan jahatin dia, anggap saja Dita adik kamu" ucap ibu Dita.
"Satu lagi, saat ini Dita lagi hamil anaknya Bagas jadi ketika kamu sudah satu rumah dengan Dita. Ditanya jangan kamu suruh beberes rumah kamu aja yang beberes rumah dan masak. Kamu kan tau sendiri orang hamil gak boleh capek capek. Kamu kan belum pernah ngerasain jadi ibu hamil makanya ibu ingetin itu" ucap Ibu Dita dengan nada halus namun bagi Dita sebuah sindiran.
"Hiyak,, emang gue pembantu suruh beberes rumah. Gak mertua gak orang tua nya pembinor sama saja" batin Dara yang dongkol
"Ibu tenang saja, saya janji gak bakal nyakitin Dita. Bagaimana pun juga Dita istri mas Bagas dan sedang mengandung anaknya mas Bagas meskipun saya juga gak sepenuhnya yakin kalau itu anaknya mas Bagas" balas Dara dengan senyum mengejek.