Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Kopi Saset
"Ma-maaf, Kek. Bunga lili ini sepertinya sangat... menyengat," ucap Yumna sambil mengusap hidungnya dengan tisu kain dengan gerakan seanggun mungkin yang bisa ia lakukan.
William menatap Yumna lama, lalu tiba-tiba ia tertawa lebar. "Hahaha! Setidaknya kamu manusia, bukan robot buatan Evander. Istri pertama kakek dulu juga bersin tepat di wajah kakek saat kakek melamarnya. Itu tandanya kamu jujur."
Evander menghela napas lega. Ia tidak menyangka bersin Yumna justru menjadi poin tambahan.
"Besok adalah hari besar," ucap William sambil berdiri. "Evander, jaga dia baik-baik. Jika dia menangis karena ulahmu atau ulah Cindy, kakek sendiri yang akan mencabut jabatanmu."
Evander berdiri dan membungkuk. "Saya mengerti, Kek."
Setelah William pergi meninggalkan ruangan dengan pengawalnya, Yumna langsung merosot di kursinya. Seluruh tulangnya terasa seperti sudah dilepas.
"Huuu... Pak Bos... capek banget! Interogasinya lebih parah dari wawancara kerja!" keluh Yumna sambil langsung mengambil sepotong roti besar dan memakannya dengan lahap, lupakan gaya ratu.
Evander menatap Yumna dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya. "Kamu melakukannya dengan baik, Yumna. Kakek jarang menyukai orang dalam pertemuan pertama."
"Beneran? Berarti saya dapet bonus ya?" tanya Yumna dengan mulut penuh roti.
Evander hanya menggelengkan kepala, tapi ada senyum tipis yang sangat samar di bibirnya. "Istirahatlah. Besok pagi jam empat penata rias sudah akan ada di kamarmu. Dan ingat... besok adalah panggung utamamu. Pastikan kamu tidak pingsan saat melihat Desta jantungan."
"Tenang aja, Pak Bos. Aku sudah siapin mental buat jadi bintang film paling hits besok!" sahut Yumna semangat.
---
Pukul 03.30 pagi. Harusnya, ini adalah jam-jam krusial di mana seorang calon pengantin wanita bangun dengan anggun, menghirup aroma chamomile tea, dan bermeditasi demi ketenangan jiwa. Namun, di Presidential Suite, kenyataannya jauh dari kata estetis.
Tolelolet... Tolelolet... Tolelolet!
Suara klakson bus antar-kota yang melengking dari ponsel Yumna membelah kesunyian kamar yang sejuk itu. Yumna yang sedang bermimpi memenangkan lomba makan kerupuk tingkat internasional, tersentak kaget. Ia berguling ke samping, namun lupa kalau ia tidak sedang di kasur tipis kosannya. Ia berada di kasur king size yang sangat tinggi.
Gubrak!
"Aduh! Pantatku... astaga, ini lantai apa aspal? Keras banget!" ringis Yumna sambil mengelus pinggulnya. Ia terduduk di lantai dengan rambut yang sudah mirip sarang burung emprit yang terkena badai bandung.
Dengan mata yang masih lengket sebelah, Yumna meraba-raba nakas dan mematikan alarm laknatnya. Ia bangkit dan berjalan sempoyongan menuju cermin besar di kamar mandi. Begitu melihat pantulannya, ia berteriak kecil.
"Huaaa! Kenapa mukaku kayak bakpao dikukus kelamaan?!"
Rupanya, efek makan roti dan camilan banyak semalam bersama Evander membuat wajahnya sedikit sembap. Panik, Yumna teringat tips dari internet: Kompres wajah dengan air es atau benda dingin.
Ia berlari menuju kulkas kecil di sudut kamar. Tak ada es batu. Yang ada hanya beberapa botol minuman soda dan... satu kaleng kopi dingin. Tanpa pikir panjang, Yumna mengambil kaleng kopi dingin itu dan menempelkannya ke pipi kanan dan kirinya secara bergantian.
"Dingin... dingin... aduh, tapi kok pipiku jadi bau kopi saset?" gumamnya sambil terus menepuk-nepuk wajahnya.
Belum selesai dengan urusan pipi sembap, Yumna teringat pesan ibunya: Kalau mau nikah, kulit harus lembap. Ia melihat sebuah bungkusan masker wajah yang diberikan Clarissa kemarin. Di bungkusnya tertulis bahasa Prancis yang tidak ia mengerti. Yumna pikir, semakin lama dipakai, semakin bagus.
Ia memakai masker lembaran itu, lalu memutuskan untuk tiduran sebentar di sofa sambil menunggu penata rias datang. Tanpa sadar, ia malah ketiduran lagi.
Sepuluh menit kemudian...
Tok! Tok! Tok!
"Ibu Yumna? Saya MUA dari tim Tuan Evander. Bisa kami masuk?"
Yumna tersentak bangun. Karena panik, ia menarik masker wajahnya dengan kasar. "Aduh! Kok seret banget?!" Ternyata karena AC yang sangat dingin, masker itu mengering dan menempel kuat di wajahnya. Yumna berlari ke pintu, lupa bahwa wajahnya masih putih pucat penuh sisa-sisa masker yang mengerak.
Begitu pintu dibuka, sang penata rias dan dua asistennya mundur satu langkah.
"A-astaghfirullah... Ibu Yumna?" tanya sang MUA dengan suara bergetar.
"Eh, iya... ini saya. Kenapa Mbak? Saya kelihatan cantik banget ya pagi ini?" tanya Yumna dengan PD-nya, padahal sisa masker di wajahnya membuat dia terlihat seperti hantu yang gagal audisi film horor.
Tepat saat itu, Evander lewat di depan kamarnya. Pria itu sudah rapi dengan jubah mandi sutranya. Ia berhenti dan menatap Yumna. Evander terdiam selama lima detik penuh, matanya menyipit tajam.
"Yumna," panggil Evander dingin.
"Eh, Mas Sayang! Udah bangun? Gimana? Aku sudah siap dirias nih," sahut Yumna ceria.
Evander menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Pergi ke kamar mandi. Cuci wajahmu sampai bersih. Kamu terlihat seperti korban ledakan pabrik bedak. Jika kakek melihatmu seperti ini, dia akan mengira saya menikahi penghuni rumah sakit jiwa."
Yumna langsung meraba wajahnya. Benar saja, tekstur maskernya sudah mengeras seperti semen kering. "Eh? Hehe... ini namanya teknik 'Pre-Wedding Deep Cleansing' Mas! Tren baru di era ini!"
"Cepat!" perintah Evander.
Yumna langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi. Di dalam, ia sibuk membasuh wajahnya sambil mengomel, "Dasar kulkas! Nggak tahu seni kecantikan banget sih. Padahal ini kan demi dia juga, biar nggak malu punya istri yang pipinya mirip bakpao."
Setelah wajahnya bersih, Yumna kembali keluar. Kali ini dengan wajah yang sudah segar dan kemerahan karena digosok terlalu kuat. Sang MUA segera memulai aksinya. Yumna didudukkan di depan cermin besar.
"Mbak, tolong ya... buat mata saya jadi kayak mata kucing yang tajam. Terus bibirnya jangan pakai warna yang pucat, saya mau warna yang kalau saya senyum, mantan saya langsung kena mental," pinta Yumna pada sang MUA.
"Siap, Ibu. Kita buat tampilan 'The Elegant Revenge Queen' ya," jawab sang MUA sambil tersenyum penuh arti.
Selama dirias, kekonyolan Yumna belum berakhir. Saat bagian bulu mata palsu dipasang, Yumna bersin berkali-kali karena alergi debu bedak yang beterbangan.
"Hatchiii! Aduh Mbak, sori... bulu matanya jadi miring ke dahi nggak?"
"Enggak, Ibu... tenang saja. Tarik napas, Ibu..."
Di sela-sela riasan, Yumna malah lapar. "Mbak, ada sosis atau nugget nggak? Saya nggak bisa fokus kalau perut saya konser musik keroncong."
Clarissa yang masuk ke kamar membawa segelas jus jeruk hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ibu Yumna, mohon tahan sebentar. Setelah ini Anda akan memakai kebaya pengantin. Kalau perut Ibu buncit karena makan nugget, kebayanya bisa sesak."
Yumna merengut. "Nasib... nikah sama CEO bukannya kenyang malah disuruh diet subuh-subuh."
Namun, seiring berjalannya waktu, transformasi itu mulai terlihat. Rambut Yumna disanggul modern dengan hiasan melati yang harumnya semerbak. Kebaya putih gading dengan payet mutiara yang sangat mewah mulai melekat di tubuhnya.
Saat Yumna melihat pantulannya terakhir kali di cermin setelah selesai dirias, ia terdiam. Ia tidak lagi melihat Yumna si staf marketing yang kucel. Di cermin itu berdiri seorang wanita yang sangat anggun, berkelas, dan memancarkan aura kekuasaan yang tenang.
"Wah... ini beneran saya, Mbak?" tanya Yumna tak percaya.
"Iya, Ibu. Anda sangat cantik," puji sang MUA tulus.
Yumna tersenyum miring. Ia mengambil ponselnya, menatap tanggal hari itu. "Desta, Cindy... siapkan jantung kalian. Karena sebentar lagi, 'barang bekas' ini akan berubah jadi 'berlian' yang nggak akan sanggup kalian beli."
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk lagi. Suara bariton Evander terdengar dari luar. "Waktunya berangkat ke aula akad. Jangan membuat saya menunggu."
Yumna berdiri, memperbaiki letak kain kebayanya, dan melangkah dengan dagu terangkat. Game on, Kulkas Dua Pintu!