“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di dalam pesawat, suasana terasa tenang.
Deru mesin mengalun konstan, para penumpang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang tertidur, ada yang membaca, ada pula yang sekadar memejamkan mata.
Hanan duduk di samping jendela. Sejak naik pesawat hingga hampir dua puluh menit mengudara, ia lebih banyak diam. Pandangannya tertuju keluar, namun pikirannya melayang entah ke mana.
Anisa melirik anak sulungnya itu beberapa kali, lalu tersenyum tipis.
“Hanan,” panggilnya pelan. “Bagaimana Kayla? Dia cantik ya?”
Hanan tersentak. Wajahnya langsung menoleh, sedikit kaget.
“Astaghfirullah, Umi,” tegurnya cepat. “Kenapa bicara begitu?”
Anisa terkekeh kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Nggak apa-apa. Umi cuma kagum aja sama dia.”
Hanan menghela napas panjang. Ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela.
“Dia baik,” lanjut Anisa, nadanya lembut. “Anaknya juga sopan.”
Hanan terdiam beberapa detik, lalu tanpa sadar celetuk, “Tapi bajunya selalu kekurangan bahan, Umi.”
Begitu kalimat itu keluar, ia sendiri langsung mengernyit. Seolah baru sadar apa yang barusan ia ucapkan. Sementara itu, senyum di wajah Anisa justru semakin merekah.
“Manusia itu berproses, Nak,” ucap Anisa bijak. “Buktinya tadi kamu lihat sendiri, bajunya sudah mulai nambah bahannya.”
Hanan mendesah pelan. “Umi… kenapa sih malah jadi bahas yang nggak penting?”
Anisa menatap putranya dengan sorot mata penuh arti. “Bagi Umi, itu penting.”
Hanan kembali diam. Jantungnya berdegup pelan, tidak nyaman—bukan karena pembicaraan itu, tapi karena ia menyadari satu hal yang tak bisa ia sangkal lagi.
Ia memperhatikan.
Ia peduli.
Dan itu… membuatnya resah.
Pesawat terus melaju membelah langit. Sementara di dalam dada Hanan, ada kegelisahan baru yang pelan-pelan tumbuh sesuatu yang tak pernah ia rencanakan, dan tak pernah ia minta.
“Oh iya,” suara Anisa terdengar ringan, namun sorot matanya penuh selidik. “Gimana ta’aruf kamu?”
Hanan yang sejak tadi bersandar di kursi langsung menarik napas panjang. Tangannya terlipat di dada, matanya terpejam sesaat seolah sedang menata kesabaran.
“Hanan sudah menolaknya, Umi,” jawabnya akhirnya.
“Malam itu?” tanya umi Anisa, “Malam saat kamu bertemu Kayla?”
Hanan membuka mata dan langsung menatap ibunya. “Umi,” katanya tegas namun tetap sopan, “kenapa harus membahas nama itu terus sih?”
Alih-alih berhenti, Anisa justru semakin tak kuasa menahan tawanya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya naik turun menahan tawa agar tidak terlalu mencolok di dalam kabin pesawat.
Hanan menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Entah sejak kapan, ibunya menjadi sangat jahil. Dan entah sejak kapan pula, satu nama itu mampu membuatnya seterlihat ini.
Anisa melirik Hanan dari sudut mata.
‘MasyaAllah… sejak kapan anakku bisa semalu ini hanya dengan membahas gadis?’ Dalam hatinya, ia tersenyum haru.
**
Malam itu, Kayla merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa membosankan. Lampu temaram tak mampu mengusir rasa suntuk yang menggerogoti dadanya sejak ia pulang dari kampung.
Sepuluh hari. Sepuluh hari penuh ia hidup di bawah pengawasan eyangnya yang super ketat, tanpa suara mesin, tanpa bau bensin, tanpa adrenalin.
Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan grup chat yang selalu jadi pelarian—
GAS (Genk Anak Somplak).
Kayla langsung mengetik.
Kayla: posisi!
Tak butuh waktu lama, balasan masuk satu per satu.
Adelia: Lagi di rumah Ditha, gue
Zayn: dikamar.
Zayn: Lo udah balik Kay?
Sudut bibir Kayla terangkat. Ia mengetik cepat.
Kayla: udah, 10 menit lagi, kumpul tempat biasa.
Setelah mengirim pesan itu, Kayla langsung bangkit. Gerakannya cekatan, seperti seseorang yang sudah hafal rutinitas malamnya.
Ia membuka lemari, memilih celana panjang hitam yang pas membungkus kaki jenjangnya, lalu kaos tipis ketat berwarna abu gelap. Rambutnya ombre ungu yang jadi ciri khas, ia gerai begitu saja, membingkai wajah tajam dengan sorot mata berani.
Di depan cermin, Kayla menatap bayangannya sendiri. Ada sesuatu yang berkilat di matanya. Bukan sekadar kenakalan melainkan candu akan kecepatan.
‘Nih gue cantik begini, bisa bisanya dia gak mau ngelihat. Ckcck rugi banget gak sih?’’ gumam Kayla terkekeh sendiri.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mobilnya meraung di halaman. Kayla menginjak gas dalam-dalam, melaju membelah malam tanpa ragu. Jalanan sepi jadi saksi bagaimana mobilnya melesat liar, seolah batas kecepatan hanyalah angka yang tak berarti.
Tujuannya satu. Arena balap liar.
Lampu-lampu motor dan mobil berjajar, musik berdentum dari speaker entah milik siapa, asap rokok bercampur bau bensin memenuhi udara. Sorak sorai terdengar di mana-mana. Dunia yang selalu Kayla rindukan.
Begitu mobilnya berhenti, Ditha langsung menghampiri dengan wajah sebal.
“Anjirr, ke mana aja lo ngilang lama banget!” serunya.
Kayla turun dari mobil sambil mendecih. “Dipingit gue sama eyang!” keluhnya dramatis.
Adelia dan Zayn yang baru datang ikut tertawa. “Hahahaha, kasihan amat hidup lo, Kay.”
Kayla memutar mata. “Lo enak, bebas. Gue? Sepuluh hari di kampung, sumpah kayak tahanan rumah.”
Ia lalu menoleh ke Zayn. “Oh ya, Zayn. Cariin Bang Ronald dong. Gue mau main malem ini!”
Zayn mendengus. “Anjirr, baru dateng langsung main lo!”
“Bosen banget gue sumpah,” Kayla menghela napas kasar. “Sepuluh hari gue di kampung. Gue gak bisa ke mana-mana. Sekalinya keluar, malah gue kena rampok, nyasar pula!’’
‘’Lo nyasar kemana?”’ tanya Adel dan Ditha bersamaan.
‘’Nyasar pokoknya, udah buruan Zayn!’’
“Oke, oke,” sahut Zayn sambil mengangkat tangan menyerah. “Gue cari.”
Zayn berjalan menjauh, menyusuri kerumunan. Sementara itu, beberapa pasang mata mulai melirik Kayla. Bukan hal baru. Nama Kayla sudah cukup dikenal di arena ini.
Perempuan dengan rambut ungu, nyali setara pembalap profesional, dan rekor kemenangan yang bikin banyak cowok panas dingin.
Tak lama kemudian, Ronald muncul bersama Zayn. Pria bertubuh kekar itu menyeringai saat melihat Kayla.
“Balik juga akhirnya, Ratu Malam,” godanya.
Kayla tersenyum miring. “Masih ada slot?”
Ronald menepuk papan daftar peserta. “Selalu ada kalau buat lo.”
Sorakan langsung menggema saat nama Kayla diumumkan. Ia melangkah menuju mobilnya, memasang helm, jantungnya berdetak cepat bukan karena gugup, tapi karena rindu.
Mesin dinyalakan. Lampu start menyala.
Detik-detik terasa melambat.
Saat lampu hijau menyala, Kayla menginjak gas tanpa ampun.
Mobilnya melesat, meninggalkan suara jeritan mesin dan sorak penonton. Angin menerpa rambutnya, jalanan gelap seakan menyatu dengan tubuhnya. Di momen itu, Kayla tahu satu hal,
Tempatnya memang bukan di rumah, bukan di kampung.
Melainkan di sini.
‘Ini baru namanya hidup!’’
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj