Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
"DOOORRR"
"ASTAGHFIRULLAH" Anggun berbalik, ia pun menatap kesal orang yang mengejutkannya.
"Kamu marah?" tanya Kenan, Anggun memilih tak peduli. Ia melanjutkan pekerjaannya, yang sedang melap meja. Sebentar lagi waktunya pulang, ia harus pergi ke toko kue. Hendak membeli beberapa suguhan, untuk tahlilan nanti setelah maghrib.
"Oya yang" Anggun langsung berhenti melap meja, ia menoleh ke belakang dan menatap tajam Kenan.
"Kenapa?" tanya Kenan polos
"Tolong jaga itu mulut, ga usah ayang ayangan. Ishh... geli banget" ucap Anggun, ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Kenan memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal karena di tegur.
'Orang pengen mesraan juga, susah banget ma cewek tomboy ini. Tapi cinta, gimana dong... huft' Kenan menghela nafas
"Sweety" Anggun memutar malas bola matanya, nampaknya pria di dekatnya akan susah di dilarang.
Anggun telah selesai, ia lanjut ke arah belakang. Kenan mengikutinya di belakang, dengan terus memanggil yang ia suka. Tanpa di sadari, banyak orang yang memperhatikan keduanya. Alih-alih merasa iri, mereka justru merasa gemas melihat pasangan tersebut. Termasuk dengan rekan Anggun di kafe tersebut, mereka paham bila Kenan tengah mengejar Anggun.
"Gemes banget liat mereka, hihi" ucap pegawai 1
"Yang satu konyol, yang satu jutek." pegawai 2
"Yang satu ganteng, yang satu cantik" pegawai 3
"Beruntung banget jadi Anggun, berita yang gue denger. Tuan muda Kenan, sudah lama menunggu Anggun. Katanya mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, sungguh pria yang setia." ucap pegawai 1, seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada
"Benarkah? Romantis banget, kapan ya cowok yang mau nungguin gue kek gitu?" ucap pegawai 2, seraya menghela nafas
"Hihi... kalo jodoh ga akan kemana, dah lah kerja kerja." mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka
Buat apa membenci Anggun, toh Anggun tidak lalai dengan pekerjaannya. Tak ada yang berubah dari Anggun, dia memang irit bicara sejak awal masuk. Tetapi selalu membantu rekan lainnya, bila memang membutuhkan bantuannya. Tenaga Anggun cukup besar, sehingga membuat teman-temannya merasa terbantu dengan adanya Anggun.
.
.
"Ayang, sweety, cinta, humairah, bidadari, bawang putih, bawang bombay.." Anggun yang mendengar panggilan Kenan, akhirnya tertawa dan berbalik.
'Kenapa harus ada bawangnya coba'
"Apa sih bang? Ga cape apa, dari tadi ngoceh mulu. Jangan panggil yang manis-manis kaya gitu deh, panggil aja Anggun. Bisa kan?" Kenan menggelengkan kepalanya
"Ga bisa... kita udah jadian, masa manggilnya masih nama. Ga romantis banget.." jawab Kenan cemberut, Anggun merasa gemas melihatnya
"Romantisan nya kalo udah sah, sekarang kita masih dalam tahap penjaja...
"Jadi kamu setuju ya nikah sama aku, oya... nanti keluarga aku ke rumah. Niatnya mau ngelayat, tapi cuma kedok kayanya. Mereka ingin ketemu ma kamu, jadi aku sengaja jemput kamu." potong Kenan tersenyum, membuat Anggun tak bisa berkata-kata. Otaknya mendadak beku dan kosong...
"Tunggu, maksudnya keluarga abang mau ke rumah. Mau ngelayat.... doang kan?" Kenan terdiam, lalu mengangkat kedua bahunya
"Mungkin" jawab santai
"ABAAAANG" panggil Anggun penuh penekanan, namun di jawab santai oleh Kenan
"Apa sayang?" Anggun menghembuskan nafas panjang
"Abang serius ihhh" ucap Anggun, ia mengambil tas di lokernya
"Serius, malah udah nyampe tingkat Slank." jawab Kenan, Anggun menatap Kenan dengan menyipitkan kedua matanya. Kenan menunjukkan deretan gigi, lalu menarik tangan Anggun dan menggenggamnya.
Anggun hanya bisa pasrah, ia mengikuti Kenan dari belakang. Meski pikirannya, penuh dengan pertanyaan dan keraguan. Lagi-lagi itu menjadi pemandangan romantis, namun tak ada yang bersuara.
"Bang..." panggil Anggun, setelah mereka di dekat mobil Kenan
"Kenapa?" tanya Kenan, seraya membuka kan pintu mobil untuk Anggun.
"Apa abang yakin, sama Anggun?" Kenan mengangguk
"Banget, ayang ga yakin sama abang?" Anggun terdiam, ia menggelengkan kepalanya
"Ga tau, kita... udah kaya langit dan bumi." jawab Anggun, Kenan mendorong pelan Anggun, agar masuk ke dalam mobil. Lalu ia berjalan, ke arah pintu kemudi.
BRAK
Pintu mobil tertutup, Kenan menyalakan mesin mobil. Sebelum ia menjalankan mobilnya, ia memasang sabuk pengaman dan Anggun mengikutinya.
"Memang apa yang jadi perbandingan kamu?" tanya Kenan serius
"Status... Abang anak orang kaya, sedangkan Anggun...
"Abang ga liat ke arah sana, yang abang liat adalah Anggun. Di mata abang, kita setara. Bahkan bukan dimata abang aja, Allah juga melihat kita setara kalo kamu bandingin lewat status duniawi. Yang membedakan tinggi rendahnya manusia, adalah iman dan taqwa kita. Dan itu, hanya Allah yang bisa menilai." sambung Kenan, ia menjalankan mobil. Anggun menatap Kenan lama, lalu ia tersenyum.
"Mau kemana kita?" tanya Kenan
"Ke toko kue dulu bang, Anggun mau beli beberapa kue buat tahlilan nanti." Kenan mengangguk, ia mengarahkan ke toko kue milik mama Ajeng.
"Kok ke sini bang, di sini mahal-mahal." ucap Anggun melihat nama toko kue nya
"Biar abang yang bayarin, ayo." balas Kenan
"Ihhh abang, belum apa-apa udah bayarin aja. Ga baik itu, ntar di kira Anggun manfaatin abang." tolak Anggun
"Loh.. kan abang yang mau beliin, bukan kamu yang minta. Ayo turun..." mau ga mau, Anggun pun menurut
Saat mereka hendak masuk, bertepatan dengan seseorang keluar dari toko.
BRUGH
"M-maaf bu, maaf" ucap Anggun, ia menegakkan kepalanya. Untuk melihat siapa yang ia tabrak...
DEG
Ada perasaan aneh pada Anggun, saat ia melihat wajah wanita yang ia tabrak. Perasaan familiar, perasaan akrab dan ada rasa rindu.
"Sayang, kamu ga papa kan?" tanya Kenan, menyadarkan Anggun
"Hah? Ehh.. i iya, ga papa bang. Mungkin ibunya ada yang sakit, ibu ga papa kan?" ternyata bukan Anggun, yang memiliki perasaan aneh. Wanita yang di tabrak nya pun, sama-sama memiliki perasaan yang... entahlah.
"Mommy... sudah beli kuenya?" tanya seseorang dari belakang Anggun, Anggun pun menoleh ke belakang. Perempuan itu terkejut melihat Anggun, namun ia segera mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Ah.. s-sudah sayang, maafkan ibu ya nak. Tadi ibu ga lihat jalan, kamu ga papa kan?" Anggun kembali menatap wanita itu, ia menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok bu, saya juga minta maaf. Kalo gitu, kami permisi" Anggun sedikit menundukkan kepala dan berjalan masuk ke dalam toko, meski sesekali melihat ke belakang. Dan itu tak luput, dari perhatian Kenan.
"Kamu kenapa yang?" tanya Kenan
"Hmm? Nggak apa-apa bang, aku cuma ngerasa familiar aja sama beliau. Rasanya kaya a...
"TUNGGU, JANGAN NAIK MOBIL ITU" teriak seseorang, berlari melewati Anggun dan Kenan.
"Cahaya.." panggil Kenan, tak lama menyusul Zayd. Saat Kenan hendak menahan Zayd, tiba-tiba...
DUAARRR
Terjadi ledakan di depan sana, bukan hanya satu mobil. Tetapi mengenai mobil Kenan, juga beberapa mobil yang dekat dengan ledakan tersebut. Beruntung, Cahaya masih sempat menarik kedua orang itu. Dua orang, yang baru saja papasan dengan Anggun dan Kenan. Meski tubuh ketiganya, sempat terpental karena tekanan dari ledakan tersebut.
Zayd, Kenan dan Anggun sempat terdiam, karena terkejut. Tak lama, mereka langsung menyusul Cahaya.
"CAHAYA" panggil Kenan dan Zayd berteriak, ada rasa tak nyaman di hati Anggun. Saat Kenan menyebut nama perempuan lain, cemburu kah?
...****************...
Hayo loh... Pada double nih hari ini, uhuyyy
Minta do'a nya, supaya sehat terus yaaaa.
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak