Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beneran terjadi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ku lalui tanpa terasa, detik-detik perpisahan kami dan Lista semakin nyata, Lista lusa akan pergi tinggal dirumah ku beberapa hari, ia dan Ijonk telah mencapai mufakat bahwasanya mereka hanya mengadakan pernikahan saja dikampung, setelah itu kembali lagi ke Jakarta. Aku senang mendengarnya, disitu aku berjanji akan pulang menemani Lista dan Ijonk mengucap Janji, sampai satu telepon di siang hari membuat aku tercengang binggo.
Panggilan telepon dari bang Dean, sudah lama kami tidak komunikasi dia malah nelepon di jam makan siang begini, awalnya aku tidak menggubris. Fokus ku masih pada surat pemindahan kerja ku di kantor cabang, amat ribet tapi lumayan untuk pengalaman baru.
"Ada apa?" Aku baru angkat setelah sampai di meja ku. "Lihat, aku dimana?" Disana ku lihat Mama dan Papa. Benar-benar diluar dugaan darimana bang Dean tau alamat rumah orang tua ku. Ahh sial teriakku kecil, bisa-bisanya dia sudah masuk ke dalam rumah ku.
Tapi mataku tertuju pada Papa, papa sedang sakit tapi tidak berani menelepon ku. Terlihat Mama membuatkan segelas teh untuk bang Dean, mereka menampilkan kecanggungan itu kepada ku. "Ngapain kesana!" Nada ku membentak masih marah akan cara mereka memperlakukan ku.
Mama Papa diam tanpa penjelasan, aku juga bingung jadinya cerita ke bang Dean. Tapi kalau misalnya ada niat bang Dean serius kepada ku, harus kah latar belakang ku dijelaskan? Aku malu.
"Katanya kalau aku mau sama dirimu, aku datang kerumah. Ini aku di undang Tulang kerumah, hayo..." Aku paham bang Dean belum tau seluk beluk hubungan ku dengan Papa dan Mama, aku juga bingung mereka tidak ada komunikasi dengan ku soal ini.
Mereka tidak bicara, aku juga tidak lah. Untuk apa, mau bicara juga kalau misalnya masalah ini belum tuntas bingung aku jadinya. "Enggak ada lah, aku cuman singgah aja. Kebetulan rumah mu juga bisa di jangkau dari kampung Abang, jadi apa salahnya singgah. Tulang pun lagi sakit ini, udah dua Minggu terbaring. Datang aku baru bangun bisa duduk disini." Kata bang Dean menjelaskan kronologi sebelum nya.
Wajah ku hanya datar saja, aku malu sebenarnya ke bang Dean. Makanya telepon ku akhiri sebelum air mataku mencair, soalnya aku sudah mau nangis lihat kondisi Papa cuman amarah ku masih besar.
POV: Dean
Aku punya jadwal pulang ke kampung selama 15 hari lamanya, selain menjenguk inang
(ibuku) ada kegiatan menambah lahan sawit hasil beberapa tahun kerja, aku anak pertama dari 2 bersaudara. Adikku perempuan sudah menikah, dia tinggal dikampung bersama inang.
Ayahku sudah meninggal lama sebelum aku lahir, inang bekerja keras membesarkan kami selama ini. Apa salahnya kalau aku berbakti, rencananya inang akan ada perawatan dirumah sakit besar Jakarta khusus Jantung, tapi terus mengalami penolakan untuk berobat ke Jakarta alasannya sayang uang, apa hal segala macam.
Sampai control ke sekian kalinya aku ikut mengantar kan inang ke rumah sakit. Bareng adikku dan satu anak perempuan nya kami pergi menggunakan mobil ipar ku, disana aku melihat Mama Miwa berobat hal yang sama, begitu juga penyakitnya.
"Tulang, Nantulang." Jabat tangan ku menuturkan bahasa Batak ke orang tua
Miwa, mereka mengenali ku dari kasus
Miwa sebelum nya, bahkan Papa nya
Miwa mengenang ku dengan sebutan
jaksa, anehnya ya.
"Kamu tinggal di Medan juga?" Aku menjelaskan kampung ku dimana, dan kepada Inang ku jelaskan mereka siapa,
entah memang ini rencana Tuhan terhadap hubungan ku dan Miwa.
Mereka saling mengobrol sampai mengundang kami kerumah, tapi sayangnya tidak bisa disatu hari yang sama aku menyusun waktu untuk bermain ke rumah Miwa, sayangnya aku tidak melihat kesehatan di mata kedua orang tua Miwa, padahal yang sakit nya kelihatan itu Mama nya Miwa punya riwayat jantung sedangkan tulang mungkin kecapekan batinku awalnya.
Ternyata menurut info dari Papa nya Miwa, bahwa ia sedang sedih karena hubungan mereka dengan Miwa tidak baik-baik saja,
apa aku salah hari datangnya. Aku jadi maju mundur dengan cerita dari Papa nya Miwa.
Singkatnya begini, Miwa itu anak adik perempuannya, ayah Miwa meninggal karena kecelakaan. Kakak laki-lakinya Miwa yang ada pada masa itu ikut meninggal karena kecelakaan motor itu lumayan parah adanya, terus mukjizat Tuhan baik kepada ibunya Miwa. Miwa harusnya menjadi terang bagi ibunya malah mulut tetangga mengatakan Miwa anak haram karena di ketahui kalau ayah nya sudah lama meninggal. Sejak saat itu ibunya Miwa mulai bekerja sendiri, Mama nya kasihan melihat Miwa selalu di tinggal, dia minta Miwa berhubung anak terakhir nya sudah dewasa, Miwa diberikan dan diganti identitas nya supaya tidak mendatangkan malu nanti nya.
Ini penting di cerita kan kepada ku kata Papa nya Miwa, berhubung kami orang Batak supaya tidak terjadi perkawinan satu marga. Miwa aslinya Boru Sirait, Boru Toba cuman jadi di ambil alih oleh tulang nya kian ya sudahlah batinku. Aku tidak menyangka kisah kekasihku itu seperti ini dalamnya.
Aku semakin mencintai nya ketika kebenaran itu ada di depan mataku, Papa nya minta supaya aku merahasiakan ini dari keluarga ku.
"Janji aku tulang, enggak ku bikin main-main Boru tulang itu."
Senyum Papa nya penuh percaya diri, aku semakin berani untuk masuk ke keluarga ini.
Abang-abang nya Miwa juga datang setelah beberapa jam aku berkunjung, mereka merasa bersalah dengan Miwa tapi takut untuk minta maaf. Mereka tau kesalahan nya tapi takut Miwa belum memaafkan, karena menurut mereka Miwa bila membenci akan semakin dalam.
"Ya kami minta tolong Lae, jagalah Miwa baik-baik sebab kami abang-abang nya ini
sudah merasa gagal jaga dia, gitupun kalau misalnya Lae yang bermasalah gak segan kami duel Lae." hahaha begitulah pria Batak akrab menyapa iparnya.
Kepulangan ku ini tidak sia-sia, orang tua Miwa memberikan lampu hijau untuk hubungan kami, selanjutnya hubungan ini hanya Miwa yang bisa bersuara.
Kembali dengan cerita ku Miwa hosianna Saragih, aku enggak nyangka bahwa tekad bang Dean semakin gila memiliki ku, apakah bang Dean jodoh ku? Aku belum mengenal dia dengan baik Tuhan, lagi-lagi aku berserah Tuhan, kalau memang bang Dean adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan di usia ku sekarang semakin mengasihi lah kami Tuhan. Tapi kalau memang bang Dean hanya menjadi kan ku pelampiasan, usir lah cinta itu dihatiku..
Pesan bang Dean singkat namun bermakna banget.
Bang Dean:[Miwa, seburuk nya aku terimalah aku sebaiknya di kamu ya.]
Akhirnya ini kah yang ku cari selama ini? Perjuangan ke Jakarta dulu kah untuk mendapatkan orang Siantar ini. Haruskah pemain lama tersingkir dulu baru dia datang.
Lucunya membayangkan bagaimana bisa aku berjodoh dengan bang Dean sementara Josua sudah lama memperjuangkan ku,
tidak sampai pada titik ini.
Aku menelepon bang Dean, ingin ku perjelas sedikit pertanyaan yang menggantung dihati, tentang gadis itu apakah masih punya tempat dihati bang Dean atau kah aku datang sebagai Miwa atau sebagai wanita mirip Irma.
Gak etnis kalau dibahas sekarang, lebih baik nanti malam aja pasti bang Dean juga sudah sampai dirumahnya, jadi bisa ngobrol bareng keluarga bang Dean juga.
Lanjut mengetik dokumen dan melaksanakan meeting paripurna tugas-tugas baru ku nanti, nantinya aku akan lumayan jauh dari rumah ke kantor baru, sebenarnya lebih dekat dengan rumah bang Dean kemarin. Bentar lagi juga itu menjadi hak milik kok.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰