Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Surga Tersembunyi di Timur: Bulan Madu Khatulistiwa dan Tenggara di Pulau Togean
Setelah menikmati keindahan bawah laut Pulau Bunaken, kapal cepat membawa Khatulistiwa dan Tenggara menuju destinasi selanjutnya dalam bulan madu mereka—Kepulauan Togean, surga tersembunyi yang terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.
Laut yang semakin jernih dan hamparan hutan tropis yang hijau menyambut mereka saat kapal semakin dekat ke dermaga kecil di Pulau Batudaka, salah satu pulau utama di kawasan Togean.
Mereka menginap di sebuah penginapan sederhana namun nyaman yang dikelola oleh keluarga lokal, dengan kamar yang menghadap langsung ke danau laut yang tenang. Dinding rumah terbuat dari kayu lokal yang diolah dengan cara tradisional, sementara atapnya menggunakan daun ijuk yang memberikan kesegaran alami.
“Suasana di sini benar-benar berbeda dari Bunaken,” ujar Khatulistiwa sambil menghirup udara segar yang bercampur aroma laut dan hutan. “Lebih tenang, seperti kita berada di dunia tersendiri.”
Di hari pertama mereka tiba, seorang pemuda lokal bernama Amir menjemput mereka untuk menjelajahi Danau Matano yang terkenal dengan airnya yang jernih dan kedalaman luar biasa. Perjalanan menggunakan perahu kayu tradisional memakan waktu sekitar satu jam melalui jalur sungai yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan tumbuhan liar yang rimbun.
Di sepanjang jalan, mereka melihat berbagai jenis burung endemik, termasuk elang Sulawesi yang terbang tinggi di atas kanopi hutan.
“Salah satu legenda lokal mengatakan bahwa danau ini adalah rumah bagi roh alam yang menjaga kesuburan pulau ini,” jelas Amir dengan suara lembut sambil mengayuh perahu.
“Masyarakat di sini sangat menjaga keseimbangan dengan alam, mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan dan selalu memberikan balasan kepada alam melalui upacara tradisional.” Tenggara mengangguk dengan minat besar, mencatat setiap kata Amir dalam buku catatan kecil yang selalu ia bawa untuk mengumpulkan cerita sejarah dan budaya.
Setelah sampai di tepi Danau Matano, mereka memutuskan untuk berenang dan menikmati kesegaran air yang sejuk. Di pantai berpasir putih yang terpencil, mereka duduk bersandar pada bebatuan besar yang sudah dipoles halus oleh alam.
“Kita harus menyertakan cerita tentang pulau ini dalam usaha kita,” ujar Tenggara sambil melihat pemandangan danau yang memukau. “Bagaimana masyarakat lokal hidup dalam harmoni dengan alam selama berabad-abad—ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua.”
Hari berikutnya, mereka pergi menjelajahi Pulau Una Una, salah satu pulau paling terkenal di Kepulauan Togean yang dikenal dengan terumbu karangnya yang masih alami dan populasi penyu hijau yang banyak. Mereka menyelam di lokasi yang dikenal sebagai “Penyu Point”, di mana mereka bisa melihat puluhan penyu sedang berenang santai atau bertelur di pantai terpencil. Khatulistiwa menangkap momen ketika seekor penyu kecil sedang makan rumput laut di dekat terumbu karang, wajahnya penuh dengan kagum terhadap keindahan alam yang masih terjaga dengan baik.
Pada sore hari, mereka mengunjungi desa kecil di Pulau Wakai, di mana masyarakat lokal sedang mengadakan acara budaya untuk menyambut musim panen rumput laut. Khatulistiwa dan Tenggara diundang untuk bergabung dalam acara tersebut—mereka belajar cara memanen rumput laut dengan cara tradisional, serta bagaimana mengolahnya menjadi berbagai produk yang bisa dijual.
“Rumput laut adalah sumber mata pencaharian utama bagi banyak keluarga di sini,” ujar seorang ibu rumah tangga bernama Siti saat mengajari Khatulistiwa cara mengikat rumput laut yang sudah dipanen. “Kita menjualnya ke berbagai daerah di Sulawesi, bahkan keluar negeri.”
Malam itu, mereka makan malam bersama keluarga penginapan dan beberapa penduduk lokal di halaman rumah. Hidangan utama adalah ikan bakar segar yang ditangkap hari itu, disajikan bersama dengan sayuran lokal dan nasi hangat. Sambil menikmati makanan lezat, mereka mendengarkan cerita rakyat tentang asal-usul Kepulauan Togean yang diceritakan oleh seorang lelaki tua bernama Pak Hasan, yang dikenal sebagai pencerita cerita rakyat terbaik di desa tersebut.
“Cerita ini telah dituturkan dari satu generasi ke generasi,” ujar Pak Hasan dengan suara yang dalam dan penuh makna. “Mereka mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan kita dengan alam dan sesama manusia.” Khatulistiwa dan Tenggara duduk dengan penuh perhatian, mencatat setiap detail cerita yang akan mereka bagikan nanti di usaha “Nusantara Bersejarah”.
Saat malam semakin larut dan bintang-bintang mulai bersinar terang di atas langit, mereka berjalan menyusuri pantai yang sunyi. Kaki mereka menyentuh pasir hangat, sementara ombak kecil menyapu pantai dengan suara yang menenangkan.
“Bulan madu kita di sini benar-benar memberikan banyak inspirasi,” ujar Khatulistiwa dengan lembut, tangan mereka saling bertaut. “Kita bisa membuat program kerjasama dengan masyarakat di sini untuk menjual produk rumput laut mereka di usaha kita, sekaligus memperkenalkan cerita dan budaya mereka kepada lebih banyak orang.”
Tenggara mencium peluknya dengan lembut. “Itu ide yang luar biasa. Kita tidak hanya akan membantu meningkatkan ekonomi lokal, tapi juga menjaga agar budaya dan tradisi mereka tetap hidup dan dikenal oleh banyak orang.”
Di kepulauan Togean yang damai dan penuh pesona, bulan madu Khatulistiwa dan Tenggara semakin memperkuat komitmen mereka untuk membangun kehidupan bersama yang tidak hanya penuh cinta, tapi juga memiliki makna bagi banyak orang.