Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: AROMA DISINFEKTAN.
Setelah isak tangis Valerie mereda, ia melepaskan pelukannya dan menatap Revan dengan sorot mata yang berbeda. Tidak ada lagi keraguan, hanya ada tekad yang menyala. Valerie menyadari bahwa jika ia terus bersikap rapuh, ia hanya akan menjadi beban bagi Revan yang sudah berkorban terlalu banyak.
"Mas," panggil Valerie dengan suara yang kini lebih stabil. "Ajari aku. Ajari aku bagaimana cara membalas mereka tanpa harus mengotori tanganmu lebih dalam lagi."
Revan sedikit terkejut melihat perubahan kilat di mata istrinya. "Apa maksudmu, Erie?"
"Adrian dan Arsen menganggapku bodoh, kan? Mereka pikir aku anak gagal yang mudah disetir. Kalau begitu, mari kita berikan apa yang mereka inginkan," ucap Valerie. "Aku akan tetap menjadi 'Valerie yang membencimu' di depan mereka. Aku akan memancing Arsen agar dia merasa berhasil memengaruhiku. Dengan begitu, kita bisa tahu apa langkah mereka selanjutnya."
Revan terdiam sejenak, menimbang risiko besar yang akan dihadapi Valerie. "Itu berbahaya, Erie. Bermain api dengan orang seperti Arsen bisa membakarmu."
"Aku tidak takut terbakar selama kau yang memegang airnya, Mas," jawab Valerie tegas.
Apartemen – Pukul 01.00 WIB
Malam itu, bukannya tidur, mereka justru duduk berhadapan di ruang kerja. Revan mulai melatih Valerie. Ia memberikan instruksi tentang cara menjaga ekspresi wajah, bagaimana cara memberikan jawaban yang ambigu, dan bagaimana cara menyembunyikan emosi di balik nada suara.
"Jika Arsen bertanya tentang hubungan kita di rumah, katakan bahwa aku memperlakukanmu seperti tahanan. Jangan berlebihan, buat seolah-olah kau sangat tertekan," instruksi Revan sambil menatap Valerie dalam-dalam.
"Dan jika dia menyentuh tanganku atau mencoba bersikap manis?" tanya Valerie.
Rahang Revan mengeras sesaat, namun ia menarik napas panjang. "Tahan dirimu. Anggap dia hanya objek untuk mendapatkan informasi. Tapi ingat, jika dia berani melampaui batas, berikan kode pada jam tangan yang diberikan Bimo padamu. Aku akan datang dalam hitungan detik."
Valerie mengangguk. Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan menyusun skenario. Revan mengajarkan Valerie cara membaca gerak-gerik manipulatif Adrian. Valerie menyerap semuanya seperti spons, ia bukan anak bodoh, selama ini ia hanya tidak punya alasan untuk menjadi cerdas. Sekarang, alasannya adalah Revan.
Kampus – Keesokan Harinya
Suasana kampus berjalan seperti biasa. Tidak ada mahasiswa yang tahu bahwa dosen hukum yang paling disegani, Revanza Malik, dan mahasiswi seni yang dianggap "bermasalah", Valerie, sebenarnya adalah pasangan suami-istri yang tinggal satu atap. Bagi publik, mereka hanyalah dosen dan mahasiswi yang kebetulan berada di bawah naungan yayasan yang sama.
Sesuai rencana semalam, Valerie harus memainkan perannya dengan sangat hati-hati. Ia berjalan di koridor fakultas dengan langkah gontai dan wajah yang sengaja dibuat kuyu, seolah-olah ia baru saja melalui malam yang berat, yang memang benar, namun karena alasan yang berbeda.
Arsenio sudah menunggu di dekat taman gedung Seni. Begitu melihat Valerie, ia segera membuang rokoknya dan menghampiri gadis itu.
"Valerie? Kau tampak kacau sekali hari ini," bisik Arsen, suaranya pelan agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Apa si kaku Revan itu membuat ulah lagi di apartemen?"
Valerie sengaja sedikit tersentak, menunjukkan ketakutan yang dibuat-buat. Ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum menjawab dengan suara bergetar. "Dia... dia benar-benar gila, Sen. Sepertinya ucapanmu sebelumnya memang benar, Sejak Kakek memberikan pengawasan penuh padanya, dia memperlakukanku seperti tahanan. Dia terus menekan mental serta fisikku dengan tugas-tugas hukum yang tidak masuk akal hanya untuk membuktikan pada Kakek bahwa aku anak yang tidak berguna."
Arsen menyeringai tipis, merasa di atas angin. "Valerie, kau pasti tau Dia ingin menghancurkan kepercayaan dirimu saat ini, itulah caranya agar kau tetap di bawah kendalinya. Tenang saja, Adrian sudah mengatur sesuatu."
Arsen kemudian menarik Valerie sedikit menjauh dari kerumunan, menuju area yang lebih sepi di belakang studio patung. "Adrian ingin menemuimu sore ini di klinik pribadinya. Dia punya dokumen yang bisa membuat pengaruh Revan atas dirimu dicabut secara hukum. Kau mau bebas dari dia, kan?"
Valerie menunduk, menyembunyikan kilat kemenangan di matanya. "Aku mau, Sen. Aku ingin hidupku kembali."
"Bagus. Aku akan menjemputmu jam empat sore," ucap Arsen sambil mengusap lengan Valerie, sebuah sentuhan yang membuat Valerie merasa mual, namun ia tetap diam sesuai instruksi Revan.
Di saat yang sama, dari balkon lantai tiga gedung hukum, Revan berdiri mematung. Matanya tajam memperhatikan interaksi Arsen dan Valerie melalui kacamata hitamnya. Di telinganya terpasang earpiece kecil yang terhubung langsung dengan mikrofon yang disembunyikan Valerie di balik kerah kemejanya.
"Mas, Dia punya dokumen untuk mencabut pengaruhmu. Dia ingin aku ke kliniknya sore ini," suara Valerie terdengar jernih melalui alat penyadap itu.
Revan menekan tombol di perangkat kecil dalam sakunya. "Jangan menolak. Ikuti permainannya, Erie. Aku akan berada di belakangmu."
Revan mematikan koneksi, rahangnya mengeras. Ia tahu klinik pribadi Adrian bukanlah sekadar tempat medis biasa. Itu adalah wilayah kekuasaan Adrian di mana segala sesuatu bisa direkayasa, mulai dari catatan medis hingga kondisi kejiwaan seseorang.
Tiba-tiba, seorang mahasiswa bimbingan menghampiri Revan. "Pak Revan? Maaf mengganggu, ada surat dari Dekan untuk Anda."
Revan menerima amplop itu dan membukanya. Matanya menyipit saat membaca isinya.
Isi Surat:
"Saudara Revanza, ada laporan masuk mengenai ketidaksesuaian administrasi terkait hak perwalian Valerie Adiwijaya yang Anda pegang. Mohon segera ke ruang rapat senat pukul empat sore ini."
Revan meremas surat itu hingga hancur di tangannya. Senyum dingin tersungging di bibirnya.
"Bagus sekali, Adrian," desis Revan. "Kau mencoba menjauhkan aku darinya agar kau bisa melancarkan aksimu tanpa gangguan di klinikmu."
Pukul empat sore, suasana di klinik pribadi Adrian terasa sunyi dan dingin, sangat kontras dengan keramaian kampus. Valerie melangkah masuk dengan jantung yang berdegup kencang. Ia bisa mencium aroma disinfektan yang tajam, aroma yang kini terasa mengancam.
"Dokter Adrian sudah menunggu di ruang pemeriksaan dalam, Nona Valerie," ucap seorang perawat dengan wajah datar, menuntun Valerie ke sebuah ruangan kedap suara yang terletak di pojok lorong.
Di dalam ruangan, Adrian berdiri membelakangi pintu, sedang menyiapkan sebuah alat suntik. Ia mengenakan jas putih dokternya, tampak seperti sosok pahlawan medis, namun di mata Valerie, ia terlihat seperti algojo.
"Duduklah, Erie," ucap Adrian lembut, namun matanya yang dingin tidak menunjukkan kehangatan sedikit pun. "Arsen bilang kau sangat tertekan karena Revan. Sebagai kakakmu, aku harus memastikan kondisi mentalmu baik-baik saja."
Valerie duduk di kursi pemeriksaan, jemarinya mencengkeram tasnya erat-erat, menyentuh jam tangan pemberian Bimo. "Aku hanya butuh dokumen yang dijanjikan Arsen, Kak. Aku ingin lepas dari perwalian Mas Revan."
Adrian terkekeh pelan, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Valerie berdiri. "Dokumen itu sedang diproses. Tapi sebelum itu, aku perlu melakukan observasi kecil. Kau tampak gelisah, bicaramu melantur, dan kau terlihat paranoid. Itu tanda-tanda depresi berat atau mungkin... psikosis awal akibat trauma pernikahan paksa itu."
Adrian mendekat dengan jarum suntik di tangannya. "Ini hanya obat penenang ringan, Erie. Agar kau bisa istirahat. Setelah kau tertidur, aku akan menandatangani diagnosis yang menyatakan kau tidak cakap secara hukum untuk mengurus asetmu sendiri. Dengan begitu, Kakek tidak akan punya pilihan selain memindahkan hak perwalianmu... kepadaku."
Valerie tersentak, ia mencoba berdiri. "Kau gila, Kak! Kau ingin mengurungku di RSJ demi harta?"
"Bukan mengurung, Erie. Hanya 'merawatmu' sampai semua aset itu berpindah tangan dengan aman," desis Adrian, tangannya yang kuat mencengkeram bahu Valerie, memaksanya kembali duduk.