"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Bekal Siang Untuk Suami
Jarum jam di dinding dapur menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh pagi. Matahari mulai meninggi, mengirimkan hawa panas yang menyengat, namun di dapur minimalis milik Akbar, kesibukan justru sedang memuncak.
Hannah Humaira sedang berperang dengan wajan dan spatula. Keringat sebesar biji jagung menetes di pelipisnya, membasahi anak rambut di balik jilbab instan abunya.
"Jangan sampai gosong, jangan sampai keasinan," gumam Hannah seperti mantra, tangannya cekatan membolak-balik cumi asin di wajan.
Sejak Akbar berangkat kerja tadi pagi, Hannah merasa memiliki misi besar. Ia ingin membuktikan ucapannya saat sarapan tadi: bahwa ia bisa berguna. Ia tidak ingin hanya menjadi "pajangan" di rumah ini. Maka, setelah membereskan kamar dan mencuci pakaian, Hannah nekat membuka kulkas dan memutuskan untuk memasak menu makan siang spesial.
Pilihannya jatuh pada Cumi Asin Cabe Ijo dan Tumis Buncis Daging Cincang. Masakan rumahan yang sederhana, tapi Hannah ingat Umi pernah bilang kalau laki-laki biasanya rindu masakan rumah di tengah kesibukan kantor.
Pukul sebelas tepat, masakan matang. Aroma pedas gurih memenuhi dapur, membuat perut Hannah berkeruyuk bangga. Ia menata nasi hangat dan lauk-pauk itu ke dalam kotak makan susun (bento box) berwarna biru dongker milik Akbar yang ia temukan di lemari.
"Sempurna," bisik Hannah sambil menutup kotak itu.
Namun, keraguan tiba-tiba menyergap. Apa Mas Akbar mau makan ini? Apa dia nggak malu dikirimi bekal sama istrinya yang masih bocah ini?
Hannah menggelengkan kepala, mengusir pikiran negatif itu. Bismillah. Niatnya baik. Ia pun bergegas mandi, berganti pakaian dengan gamis berwarna mocca yang sopan, memoles bedak tipis, lalu memesan ojek online.
Tujuannya satu: Kantor Konstruksi Hasyim Group.
Gedung kantor tempat Akbar bekerja ternyata cukup megah. Bangunan tiga lantai dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari. Hannah berdiri di lobi dengan perasaan kerdil. Di sekelilingnya, orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian kerja formal rok span, kemeja licin, sepatu pantofel mengkilap, dan lanyard tergantung di leher.
Sementara Hannah? Ia hanya mengenakan gamis sederhana dan jilbab lebar, menenteng paper bag berisi bekal makan siang. Ia merasa seperti anak sekolah yang tersasar di dunia orang dewasa.
Hannah memberanikan diri mendekati meja resepsionis. Seorang wanita cantik dengan riasan flawless sedang mengetik di komputer.
"Permisi, Mbak..." sapa Hannah pelan.
Wanita itu mendongak, menatap Hannah dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai yang membuat nyali Hannah menciut. "Ya? Ada yang bisa dibantu, Dek? Mau antar paket atau proposal?"
Hannah meremas tali paper bag-nya. Dek? Apa aku kelihatan sekecil itu?
"Anu... saya mau bertemu Pak Muhammad Akbar. Apa beliau ada?"
Resepsionis itu mengerutkan kening. "Pak Akbar sedang ada meeting. Adik sudah buat janji? Beliau sibuk sekali hari ini."
"Belum... tapi saya..." Hannah ragu. Haruskah ia bilang ia istrinya? Lidahnya terasa kelu. Rasanya aneh mengaku sebagai istri di saat ia sendiri masih merasa seperti anak kecil. "Saya keluarganya. Mau antar makan siang."
"Oh, keluarga," nada suara resepsionis itu sedikit melunak, meski masih skeptis. "Sebentar saya telepon sekretaris beliau."
Wanita itu mengangkat gagang telepon, berbicara sebentar, lalu menutupnya kembali.
"Mbak Sekretaris bilang Pak Akbar masih di dalam ruangan, tapi Adik disuruh naik saja ke lantai dua. Ruangan paling ujung kanan."
"Terima kasih, Mbak," Hannah buru-buru melangkah menuju lift, ingin segera kabur dari tatapan orang-orang lobi.
Di lantai dua, suasananya lebih hening dan dingin. AC sentral berdengung halus. Karpet tebal meredam langkah kaki Hannah. Saat ia sampai di depan pintu kayu jati bertuliskan "Direktur Utama - Muhammad Akbar", jantungnya berdegup kencang lagi.
Hannah mengetuk pintu pelan. Tok. Tok.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam. Suara Akbar. Tapi nadanya berbeda tegas, dingin, dan berwibawa.
Hannah membuka pintu perlahan.
Di balik meja kerja besar yang penuh tumpukan kertas itu, Akbar sedang duduk menghadap laptop, keningnya berkerut dalam. Ia sedang menelepon seseorang dengan headset terpasang.
"Saya tidak mau tahu, material harus sampai sore ini atau kontrak kita batal!" ucap Akbar tegas pada lawan bicaranya di telepon.
Hannah terpaku di ambang pintu. Ia belum pernah melihat sisi Akbar yang ini. Sisi sang pemimpin yang tegas dan sedikit mengintimidasi. Rasanya ia ingin balik kanan dan pulang saja.
Akbar yang menyadari pintu terbuka, menoleh dengan tatapan tajam, siap menegur siapa pun yang mengganggunya. Namun, saat matanya menangkap sosok mungil bergamis mocca di pintu, tatapan tajam itu lenyap seketika.
Mata Akbar membelalak. Ia buru-buru menyudahi teleponnya. "Nanti saya hubungi lagi."
Akbar melepas headset-nya dan langsung berdiri. "Hannah?"
"Assalamu... assalamualaikum, Mas," cicit Hannah, masih berdiri di dekat pintu. "Maaf Hannah ganggu. Tadi... tadi Hannah cuma mau antar ini."
Akbar berjalan memutari meja kerjanya, langkahnya lebar menghampiri Hannah. Wajah tegangnya tadi kini berganti dengan ekspresi kaget bercampur... senang?
"Wa’alaikumsalam," jawab Akbar lembut. Ia berdiri di hadapan Hannah, menatap istrinya seolah memastikan ini bukan ilusi. "Kamu ke sini sendiri? Naik apa? Kenapa nggak telepon Mas dulu?"
"Naik ojek, Mas. Hannah nggak mau ganggu Mas kerja kalau telepon," jawab Hannah polos. Ia menyodorkan paper bag di tangannya. "Ini... Hannah masakin makan siang. Takutnya Mas belum makan."
Akbar menerima bungkusan itu. Ia menatap paper bag itu, lalu menatap wajah Hannah yang sedikit berkeringat. Ada rasa hangat yang menjalar di dada Akbar. Seumur hidupnya bekerja di sini, ia terbiasa makan siang nasi kotak katering atau mi instan di kantin. Tidak pernah ada yang datang khusus membawakannya bekal.
"Masya Allah..." Akbar tersenyum, kali ini senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya. "Padahal Mas baru saja mau pesan makanan online. Kamu penyelamat Mas."
"Beneran, Mas? Bukan karena kasihan?"
"Demi Allah, Dek," Akbar terkekeh. "Ayo duduk di sofa."
Akbar mengajak Hannah duduk di sofa tamu yang ada di sudut ruang kerjanya. Ia membuka kotak bekal itu. Aroma cumi asin cabe ijo langsung memenuhi ruangan ber-AC itu, mengalahkan bau pengharum ruangan lavender.
"Wah, cumi asin," mata Akbar berbinar. "Kamu tahu dari mana Mas suka ini?"
"Ngarang aja sih, Mas. Soalnya di kulkas adanya itu," jawab Hannah jujur, membuat Akbar tertawa lepas. Tawa yang jarang terdengar di kantor ini.
Akbar langsung menyendok nasi dan lauknya. Ia makan dengan lahap. Bukan basa-basi, ia benar-benar terlihat menikmatinya.
Hannah memperhatikan suaminya makan dengan perasaan lega yang luar biasa. Ketakutannya tentang rasa masakan, tentang penampilan dirinya yang "kebanting" dengan karyawan kantor, perlahan sirna melihat betapa sederhananya cara Akbar menghargai usahanya.
"Enak, Mas?"
"Enak banget. Pedasnya pas," puji Akbar dengan mulut penuh. Ia kemudian menatap Hannah. "Kamu sudah makan?"
Hannah menggeleng. "Belum. Tadi buru-buru ke sini."
Akbar meletakkan sendoknya. Wajahnya berubah sedikit serius. "Lain kali, kalau mau antar bekal, pastikan kamu juga sudah makan. Atau..." Akbar mengambil sendok baru dari laci mejanya (ia selalu punya stok alat makan).
"Kita makan berdua," putus Akbar. Ia menyodorkan kotak bekal itu ke tengah. "Mas nggak akan habiskan ini sendiri. Porsinya banyak. Ayo, aak."
Hannah terbelalak. "Eh? Nggak usah Mas, Hannah malu."
"Sama suami sendiri kok malu. Ayo, buka mulutnya," paksa Akbar lembut tapi gigih.
Dengan pipi merona merah seperti kepiting rebus, Hannah akhirnya membuka mulut, menerima suapan dari suaminya.
Di ruangan direktur yang dingin dan formal itu, di antara tumpukan dokumen proyek dan dering telepon yang sesekali diabaikan, tercipta sebuah momen hangat yang sederhana.
Akbar, pria 28 tahun yang gila kerja, kini sedang berbagi sepiring nasi cumi asin dengan istri kecilnya yang baru belajar memasak. Bagi Akbar, rasa cumi asin itu mungkin biasa saja jika dibeli di warung. Tapi karena tangan Hannah yang memasaknya, dan perjuangan gadis itu menembus panas matahari demi mengantarnya, rasanya menjadi makanan paling mewah di dunia.
"Terima kasih ya, Humaira," ucap Akbar tiba-tiba, menggunakan nama tengah Hannah untuk pertama kalinya dengan nada sangat lembut.
Hannah menunduk, menyembunyikan senyumnya. "Sama-sama, Mas Akbar."