Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Malaikat berwujud sederhana
Matahari siang bolong di pinggiran kota terasa seperti oven raksasa yang sedang memanggang dosa-dosa penduduk. Bara berjalan di bahu jalan raya yang berdebu, melangkah pasti menuju arah hutan di perbatasan kota, hutan yang katanya terlarang karena angker dan banyak menghilangkan penjelajah.
Penampilan bara sungguh mencolok mata.
Jaket parka tentara kebesaran (dikancing sampai leher meski panas), tas kresek hitam besar di punggung (berisi panci dan terpal), golok berkarat di pinggang, dan kacamata hitam yang salah satu gagangnya patah (dia temukan di tong sampah tadi pagi).
Supir truk dan pengendara motor yang lewat menatapnya ngeri.
"Orang gila dari mana tuh? Jangan-jangan dia bawa bom," mungkin begitu pikir mereka.
Bara tidak peduli. Di kepalanya, dia sedang melakukan Meditasi Berjalan. Setiap langkah adalah latihan pernapasan untuk menguatkan fisik.
"Tinggal 5 kilometer lagi menuju zona hijau," gumam Bara, menyeka keringat yang bercucuran. "Semoga di hutan nanti ada mata air. Aku rindu mandi kembang tujuh rupa."
Tiba-tiba..
CIIIIT! BRAAAKK!
Suara ban berdecit panjang disusul benturan logam yang meremukkan hati terdengar di depan.
Bara berhenti mengunyah permen karet (yang dia temukan di saku jaket bekas itu, masih segel). Sekitar seratus meter di depannya, sebuah Mobil Sport Merah yang sepertinya dikemudikan anak sultan yang kebanyakan gaya, menabrak pembatas jalan beton, lalu mobil itu terpental menghantam sebuah Gerobak Bakso di pinggir jalan.
Asap mengepul. Kuah bakso tumpah ruah membanjiri aspal, bercampur dengan oli dan pecahan kaca.
Dalam sekejap, kerumunan "Zombie Smartphone" terbentuk.
Orang-orang berlarian mendekat, tapi bukannya menolong, mereka malah mengangkat HP tinggi-tinggi.
"Woy! Live IG, woy! Parah nih ancur depannya!"
" Baksonya tumpah gaess kasihan yang jualannya gaess, jangan lupa komen and subscribe!"
Bara menghela napas panjang. "Manusia zaman ini... empatinya sudah diganti algoritma."
Dia sebenarnya malas ikut campur tentang sikap orang-orang ini. Urusan manusia biasa bukan urusan Alkemis Agung.
Tapi dia tidak bisa mengabaikan orang yang sedang dalam musibah, matanya yang jeli melihat sesuatu.
Di balik kemudi mobil sport yang ringsek, seorang pemuda berjas rapi terkulai lemas. Wajahnya pucat pasi. Ada darah segar memancar dari paha kanannya. Arteri Femoralis robek.
"Orang-orang bodoh ini seakan tak peduli, Kalau dibiarkan, dia bisa mati dalam 3 menit kehabisan darah," analisis Bara.
Di sisi lain, si Abang Tukang Bakso tergeletak mengerang memegangi lengannya yang bengkok ke arah yang tidak wajar. Dislokasi bahu. Sakit, tapi tidak mematikan.
Bara memutuskan. Dia butuh pemanasan sebelum masuk hutan.
Dia menerobos kerumunan massa dengan kasar.
"Minggir! Minggir! Ada bom mau meledak!" teriak Bara asal.
Strategi efektif. Kerumunan langsung bubar panik memberinya jalan.
Bara sampai di pintu mobil pengemudi. Pintunya penyok, terkunci. Warga yang tersisa berteriak.
"Eh, orang gila! Jauh-jauh oi hus...hus..kurrrr...kurrr... sini-sini" ini yang gila siapa pikir bara, mereka atau aku.
Bara mengintip ke dalam. Pemuda itu sudah tidak sadar. Darah memancar seperti air mancur mini setiap kali jantungnya memompa.
Bara mengeluarkan golok karatannya.
"AAAA! DIA MAU MBACUK ORANGNYA!" teriak warga histeris. Beberapa bapak-bapak bersiap mau mengeroyok Bara.
"Diam kalian, Kumpulan Monyet Berisik!" hardik Bara dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga bapak-bapak itu mundur ketakutan.
Bara menyelipkan ujung golok ke celah pintu mobil, mencari engselnya, lalu menggunakan prinsip tuas.
KREK!
Pintu mobil terbuka paksa.
Warga saling bisik-bisik mengenai orang gila yang tampak hebat itu.
Setelah itu bara langsung menekan titik di pangkal paha pemuda itu dengan jempolnya. Keras sekali. Dia menekan titik akupunktur Meridian Limpa untuk menghentikan aliran darah.
Darah yang memancar deras itu... berhenti seketika. Seperti keran ditutup.
Warga yang menonton melongo. "Lho? Kok berhenti? Dia apain? Di-jampi-jampi?"
"Tolong!" panggil Bara tanpa menoleh. "Siapa pun yang punya ikat pinggang atau dasi! Bisa pinjam sebentar. Cepat!"
Hening. Tidak ada yang bergerak karena takut pada tampang Bara.
"CEPAT! ATAU GW KEJAR KALIAN PAKAI GOLOK!" bentak Bara.
Seorang bapak-bapak gemetar melepaskan ikat pinggang kulitnya dan melemparkannya ke Bara.
Bara dengan sigap mengikat paha pemuda itu di atas luka (Tourniquet darurat). Ikatan simpul yang sempurna. Pendarahan terkendali. Nyawa selamat, setidaknya sampai di rumah sakit.
Bara beralih ke Abang Tukang Bakso yang masih meraung-raung.
"Sakit, aduuhhh tangan sayaaa..."
Bara berjongkok di depan si Abang. Wajahnya datar, kacamata hitam patahnya merosot sedikit.
"Tahan napas, bentar ya Bang," perintah Bara.
"Hah? Mau diapain? Jangan dipotong tangannya Bang, saya masih butuh buat nyendok bakso!" si Abang panik melihat golok di pinggang Bara.
"Eh..eh..lihat tuh Bang. Ada bidadari lagi kencingin tiang listrik noh," tunjuk Bara ke langit.
Si Abang Bakso refleks menoleh ke atas. "Mana?"
KRAK!
Dengan gerakan cepat dan presisi, Bara menarik lengan si Abang dan memutarnya kembali ke soket bahunya.
"ARGHHH!... Eh?"
Teriakan sakit itu berubah jadi kebingungan. Si Abang menggerakkan tangannya. Nyeri hebat tadi hilang, berganti rasa pegal biasa.
"Eehh kok bisa?" Si Abang menatap Bara takjub.
"Wah... Mas ini dukun tulang ya? Sakti bener!"
Bara berdiri, menepuk-nepuk debu di celana kargonya.
"Dukun kepala mu dikenyot capung " jawabnya singkat.
Di kejauhan, suara sirine ambulans mulai terdengar. Tugasnya selesai. Panggung sandiwara ini akan segera diambil alih oleh paramedis.
Bara melihat sekeliling. Di aspal, berserakan barang-barang dari mobil si orang kaya yang terlempar keluar. Ada kotak tisu, bantal leher, dan... sekotak Cokelat Batangan Mahal.
Bara memungut kotak cokelat itu. Segelnya masih utuh.
"Biaya konsultasi dokter spesialis," gumam Bara.
Dia memasukkan cokelat itu ke saku parkanya.
Saat paramedis turun dan warga mulai sibuk mengerubungi korban lagi, salah satu warga sadar.
"Eh, tadi Mas yang gila itu mana? Yang nyembuhin si Bapak, dan ngasih pertolongan pertama buat korban?
"
"Iya ya? Kok ilang? Padahal mau gw viralin!"
Mereka menoleh ke kanan dan kiri.
Sosok berjaket parka lusuh dengan kresek hitam di punggung itu sudah berjalan jauh, melenggang santai menembus fatamorgana aspal panas, tanpa menoleh sedikit pun.
Di dalam kerumunan, si Abang Bakso masih bengong memandangi tangannya. "Buset... Malaikat jaman now tampilannya gembel kayak gitu ya."
Sementara itu, 500 meter dari lokasi kejadian.
Bara membuka bungkus cokelat emas itu sambil berjalan. Dia menggigit bola cokelat hazelnut itu dengan nikmat.
Kres.
"Hmm... manis," komentar Bara. "Kadar gula tinggi. Bagus untuk Dopamin otak setelah aksi heroik."
Dia mengunyah dengan santai, seolah dia baru saja tidak menyelamatkan dua nyawa manusia. Baginya, menyambung tulang dan menghentikan darah itu semudah mengikat tali sepatu.
"Ah, satu hal yang lupa," Bara berhenti sejenak, menepuk jidatnya. "Harusnya tadi aku minta bakso gratis buat bekal. Dasar bodoh. Fokusku teralihkan oleh cokelat."
Dia mengangkat bahu, lalu melanjutkan perjalanan.
Di depannya, pepohonan mulai rimbun.
Gedung-gedung tinggi kota sudah tertinggal di belakang. Udara mulai terasa sedikit lebih bersih (meski masih bau knalpot).
Hutan Larangan sudah di depan mata.
Laboratorium alamnya telah menunggu. Dan yang lebih penting: Tidak ada manusia, tidak ada mobil sport, tidak ada netizen. Hanya ada dia, nyamuk hutan, dan ilmu pengetahuan.
"Selamat datang di rumah, Bara," ucapnya pada angin sore yang berhembus.