Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan
THE ETERNALLY:our home
Happy reading...
...Melangkah bersama, selamanya....
.......
........
.........
...⭐🎻🎻⭐...
Arka menghampiri Bundanya yang sedang sibuk memasak di dapur, "Bundaa, ada yang bisa Arka bantu?" tanyanya terdengar sangat lembut.
Bunda Aisyah membalikan badannya, menatap sang putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang, "Nggak sayang, kamu duduk aja, ini bunda udah hampir selesai."
"Bunda kok masak banyak banget?" tanyanya yang melihat begitu banyak makanan tersaji di mejanya makan.
Bunda Aisyah tersadar baru saja melupakan sesuatu yang penting, "Astaghfirullah, Bunda lupa, kamu telfon temen-temen kamu suruh dateng ke sini ya, kita sarapan bareng."
Dengan semangat Arka langsung menelfon keempat inti Arderos yang lainnya untuk berkunjung ke rumahnya. Tak perlu membutuhkan waktu lama, panggilan grup itu di angkat oleh ke empatnya. Arka langsung todo point menjelaskan permintaan bundanya, dan mereka langsung meng iyakan ajakan tersebut.
"Udah bunda, lagi otw."
Bunda Aisyah mengangguk lalu melanjutkan kembali acara memasaknya, sedangkan Arka dia sudah duduk anteng melihat Tv yang sedang menayangkan dua makhluk laut bikini bottom berwarna kuning dan merah muda.
Tokk...tokk
"Arka buka pintunya," perintah bundanya sedikit berteriak dari dapur.
"Iya bun," balasnya lalu melangkah membukakan pintu.
"Makan gratisan lagi azekk," seru Jaya langsung nyelonong meninggalkan sang pemilik rumah yang masih berdiri di depan pintu.
"Kaga sopan Lo, tamu main nyelonong aja," kata Arka dengan tangan di pinggang menatap Jaya garang.
Jaya mendekat lalu mencubit pipi Arka, "Arka yang manis, kan bunda sendiri yang minta kalo kita di suruh anggep rumah ini kayak rumah kita sendiri." ujar Jaya dengan penjelasan yang menurut Arka sangat menyebalkan.
"Ehh, anak-anak Bunda udah sampe. Ayo masuk, kenapa nggak di suruh masuk si Ar," Bunda Aisyah berkata dengan tutur katanya yang sangat lembut, membuat hati keempat pemuda tampan itu menghangat.
"Assalamualaikum Bunda."
"Wa'alaikumssalam." balasnya
Satu persatu dari mereka mencium tangan Bunda Aisyah, tak lupa Bunda Aisyah juga mengelus kepala anak anak yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
Arka tersenyum menunjukan gigi rapinya, "Hehe, Ayo masuk, masuk."
Mereka berempat berjalan mengikuti Arka, meski bukan pertama kalinya ke rumah ini. Mereka tetap menghargai penghuni rumahnya.
"Makasih Bunda, kan Satya jadi enak hehe." kata Satya tak tau diri, dia menatap berbagai makanan menggugah selera di depan matanya.
Bunda Aisyah tersenyum, "Ayo, biar Bunda ambilin." Bunda Aisyah mengambil satu persatu piring mereka, tak terlalu banyak bertanya karena dia sudah tau makanan mana yang menjadi favorit keempat pemuda itu di tambah satu putarannya.
"Makasih bunda," ucap Astra, dia menatap piringnya dengan ekspresi yang rumit.
Bunda Aisyah menatap keempat anaknya yang lain, mereka hanya menatap makanan itu. Dengan pikiran yang entah kemana, "Kenapa di lihat in aja nasinya? Kalian nggak suka ya? yaudah sini biar Bunda ganti aja."
Mereka berempat langsung menyuapkan makanan ke mulut dengan segera, " Nggak bwunda ini ewnak bwangwt," kata Astra dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Bunda Aisyah terkekeh melihat kelakuan putra putranya, "Pelan pelan makanya, nanti keselek loh,"
Mereka menikmati makanan itu dengan kepala yang tertunduk, Astra, Bumi, Satya, dan Jaya. Mereka tak seberuntung Arka yang orangtuanya peduli dengan mereka.
Tenggorokan Astra terasa semakin tercekat, mengingat mamanya yang tak pernah memasak untuknya. Jangankan memasak menyapanya saja jarang. Matanya mengabur, dengan air mata yang hampir jatuh.
Bunda Aisyah yang melihat itu mengambil alih piring Astra dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang, "Kamu anak yang kuat," katanya dengan yakin.
Tak hanya Astra tapi keempat pemuda lainnya juga mendapat jatah suapan dari Bunda Aisyah, Arka yang melihat pemandangan itu tak iri sama sekali. Dia tahu betul sebagian dari mereka tak seberuntung dirinya yang mempunyai Bunda Aisyah, meski hanya hidup berdua,l dengan sang Bunda, namun kasih sayang nya begitu besar untuk Arka.
...⭐♡♡⭐...
"Gimana rencana kita?" tanya seseorang dengan wajah yang sebagian di tutupi oleh kain hitam.
Sedangkan seseorang yang dia tanyai duduk dengan santai dengan tangan yang masih di perban, "Sesuai rencana," Katanya.
"Lalu bagaimana dengan..."
"Dia pasti akan bahagia, jika gue lakuin ini," ucapnya memotong perkataan lawan bicaranya, membuat dia menghela nafas.
...⭐🎻🎻⭐...
"Di sana pacar, di sini pacar, di mana mana pacarku ada," Satya bernyanyi dengan nada riang sepanjang lorong SMAAB.
"Tobat, bang tobat," seru Arka dari belakang.
Satya menengokkan kepalanya ke belakang, "Syirik aja lu cil, makanya cari pacar sana."
"Sekarang waktunya belajar, bukan mikirin pacar." Katanya sok bijak.
Jaya meraup wajah baby face Arka, "sok bijak lo cil, di cekokin rumus sama Bumi aja dah mau nangess." Ejek nya.
Arka mengerucutkan bibirnya, lalu bersembunyi di balik tubuh Astra. "Tra..." Gumamnya hampir menangis.
Astra menatap tajam mereka berdua yang sedang menertawakan Arka, "hehe, m-maap bos," ujar mereka berdua kaku.
Bumi melerai perdebatan kecil mereka, "Udah, sana masuk."
Mereka berempat meninggalkan Bumi yang memang kelasnya ada di arah yang berbeda.
Kelas 11 IPS 5, yang tadinya ramai kini menjadi hening saat Astra dan teman temannya masuk kelas itu.
"Hai neng Vio yang cantik, secantik kupu-kupu," kata Satya mulai mengeluarkan jurus menggombal nya.
Vio tersenyum menanggapi ucapan Satya, "Haii juga kalian."
"Pegangin-pegangin gue, rasanya gue mau pingsan liat senyumannya neng Vio," kata Satya lebay memegangi dadanya.
Vio menggeleng tak habis pikir dengan tingkah pemuda di depannya ini, selalu ada saja tingkahnya setiap hari.
"Astra, nanti temenin aku ke gramedia ya," pintanya, jika mang Udin tak sakit mungkin dia tak akan meminta bantuan Astra. Tadi pagi dia berangkat dengan Abangnya, karena memang kebetulan sedang libur beberapa hari.
Astra hanya mengangguk untuk menanggapi permintaan Vio.
...⭐♡♡⭐...
"Kalian duluan aja, gue mau anter Vio," kata Astra saat sampai di parkiran SMAAB.
"Siap boss, yang lama aja hehe," ceplos Satya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Astra.
"Bum titip adek gue," katanya sebelum pergi dari sana bersamaan Vio di boncengan nya.
Bumi menganggukkan kepalanya, "Aman."
Di atas motor jantung Vio memompa lebih cepat dari biasanya, entah dari kapan rasa ini muncul. Jujur saja ini sedikit membuatnya tak nyaman. Tangannya melingkar di perut Astra, serta jaket yang bertengger di paha nya adalah jaket pemuda itu.
Nyaman, itulah yang dirasakan Vio. Sejak awal bertemu dengan teman kakanya ini, dia sudah merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Apakah sekarang dia menyukai Astra?, Pemuda minim ekspresi dan penuh teka teki dalam hidupnya?. Entahlah dirinya masih bingung.
Karena terlalu banyak melamun, Vio tak menyadari jika mereka sudah sampai di gramedia. "Vi, udah sampe," ucapnya saat Vio tak kunjung turun dari motornya.
Vio yang baru tersadar merutuki sifatnya barusan, "E-eh, soryy," katanya dengan buru buru turun dari motor Astra.
Mereka berdua berjalan bersama memasuki gramedia, banyak pasang mata yang menatap mereka.
"Bjirr, cakep banget tu cowokk."
"Ceweknya cantik, cowoknya apalagi."
"Beruntung banget yang jadi anaknya nanti."
Beberapa gumaman para pengunjung Gramedia yang bisa Vio dengar, membuat jantungnya terasa hampir meledak.
"E-emm, aku kesana dulu ya," pamitnya, lalu pergi dari sana untuk mencari buku yang ia inginkan.
Sedangkan Astra menuju tempat duduk yang berada di bagian paling pojok, aroma khas buku buku menyeruak memenuhi gramedia. Membuat siapapun akan merasakan kenyamanan saat berada di sana.
Vio menyusuri setiap rak buku, mencari buku yang akan dia baca, selain beberapa buku pelajaran, dia juga sedang mencari beberapa novel yang akan dia baca.
"Ck. Tinggi banget si," gerutunya kesal karena buku incarannya berada di rak yang cukup tinggi untuk dia jangkau.
Happ..
Seseorang yang lebih tinggi darinya mengambil buku itu, membuat Vio membalikan badannya kaget. Hampir saja dia terjengkang karena kaget, untung refleks pemuda itu cukup baik dengan menahan pinggang Vio.
"A-astra," gugupnya, baru kali dia berada di posisi yang sangat dekat dengan pemuda tampan itu.
Jantung Vio benar-benar berpacu lebih kencang dari yang tadi, rahang tegas, bulu mata lentik, hidung mancung serta bibir tipis menghiasai wajah tampan Astra. Sungguh ciptaan tuhan yang nyaris sempurna.
"Ekhem," suara Astra barusan langsung menyadarkan Vio.
"S-sory," gugupnya dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Udah selesai?"
"U-udah kok, aku bayar dulu sebentar," ucapnya lalu pergi dengan buru buru ke meja kasir.
...⭐🎻TBC🎻⭐...
...Haii, haiii, apa kabar kalian?...
...Ekhemm, kira kira Astra bakal suka sama Vio nggak yahh?...
...Ayo tebak" hehe, jangan lupa vote ya guyss🤗....
...Jangan lupa bahagia kalian★...