NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Langit New York terlihat cerah dari balik dinding kaca kantor lantai tertinggi itu.

Namun suasana di dalam ruangan… dingin dan menekan.

Ethan Cross berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap monitor lokasi konstruksi hotel bintang lima yang terlihat.

Asistennya, Noah, berdiri kaku di belakang dengan tablet di tangan.

“Tuan,” ucap Noah hati-hati,

“pembangunan di sektor timur dihentikan sementara.”

Tangan Ethan yang sedang memegang gelas kopi berhenti.

“Ulangi.”

“Tim kami tidak bisa melanjutkan, Tuan. Ada… gangguan.”

Ethan menoleh perlahan.

Tatapannya tajam, senyum santainya menghilang sepenuhnya.

“Gangguan seperti apa yang membuat proyek senilai ratusan juta dolar berhenti?”

Noah menelan ludah.

“Sekelompok orang bersenjata muncul di lokasi. Mereka mengaku… pemilik wilayah.”

Ethan terkekeh pendek.

“Pemilik wilayah?”

Ia berjalan mendekat, menyandarkan pinggul ke meja.

“Ini Amerika, bukan pasar gelap pinggiran.”

“Mereka mafia kecil, Tuan,” lanjut Noah.

“Kelompok lokal. Tidak terima ada pembangunan hotel besar di area itu.”

“Dan?” tanya Ethan datar.

“Mereka meminta… uang perlindungan.”

Ruangan itu hening. Detik berikutnya

BRAK.

Gelas kopi di tangan Ethan hancur menghantam dinding kaca.

“Noah,” ucapnya pelan namun berbahaya,

“tidak ada siapa pun yang memungut pajak dari wilayahku.”

Noah menunduk.

“Mereka mengancam akan terus mengganggu alat berat dan pekerja jika permintaan mereka tidak dipenuhi.”

Ethan tersenyum tipis.

Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya tahu ada yang akan berakhir buruk.

“Aku tidak membangun hotel untuk dihentikan oleh sekelompok tikus,” ucap Ethan tenang.

“Proyek ini harus selesai tepat waktu. Tanpa drama.”

Ia berjalan kembali ke jendela.

“Jika aku menuruti mereka hari ini,” lanjutnya,

“besok akan ada sepuluh kelompok lain datang dengan tangan terbuka.”

Noah mengangguk.

“Perintah Anda, Tuan?”

Ethan menoleh, matanya gelap.

“Bersihkan.”

Satu kata.

Namun beratnya seperti vonis mati.

“Tanpa suara.

Tanpa kekacauan publik.

Dan pastikan mereka tidak pernah kembali ke area konstruksi.”

Noah menarik napas.

“Dimengerti, Tuan.”

Sebelum Noah pergi, Ethan menambahkan dengan suara datar

“Jika satu jam lagi alat berat belum bergerak…

aku akan turun tangan sendiri.”

Asisten itu membeku sesaat, lalu mengangguk cepat.

“Tidak akan terjadi, Tuan.”

Noah keluar dari ruangan.

Ethan kembali menatap proyeknya dari ketinggian, merapikan manset jasnya.

“Tidak ada yang menghalangi jalanku,” gumamnya.

“Terutama kelompok kecil yang lupa tempatnya.”

Di luar sana, mesin konstruksi kembali menyala perlahan.

Dan jauh dari sorotan publik sebuah mafia kecil baru saja menandatangani akhir mereka sendiri.

* * * *

Pintu kantor terbuka tanpa banyak formalitas.

Marcus masuk dengan jas rapi, map tipis di tangan.

Namun langkahnya melambat begitu ia melihat ekspresi Ethan.

Ethan berdiri di dekat jendela, rahangnya mengeras, mata gelap bukan wajah pria yang baru selesai rapat biasa.

“Wooo,” ujar Marcus pelan.

“Ekspresi seperti itu biasanya berarti seseorang akan bangkrut… atau hilang.”

Ethan mendengus.

“Tenang saja. Bukan kau.”

Marcus mendekat, meletakkan map di meja.

“Apa yang terjadi?”

“Gangguan kecil,” jawab Ethan santai terlalu santai.

“Tapi cukup membuatku kesal.”

Marcus mengangkat alis.

“Hanya gangguan kecil mana mungkin seorang Ethan Cross tidak bisa menghadapi nya bukan”

Ethan tersenyum miring.

“Ck. tentu saja, mereka hanya mafia kecil yang lupa diri.”

Marcus bersandar di meja, nada suaranya profesional.

“Kalau begitu, biarkan aku urus.

Kita tuntut mereka. Gangguan proyek, intimidasi, kerugian finansial.

Sebutkan angkanya, aku bisa membuat mereka membayar sampai generasi berikutnya.”

Ethan terkekeh, menoleh ke arahnya.

“Berurusan dengan hukum itu lama, Marcus.”

Marcus menyeringai tipis.

“Itu karena kau selalu ingin hasil instan.”

“Kau salah,” Ethan meluruskan manset jasnya.

“Aku ingin hasil bersih.”

Marcus terdiam sesaat. Ia mengenal nada itu.

“Kita punya hukum sendiri,” lanjut Ethan sambil tersenyum ringan.

“Hukum yang tidak butuh hakim… dan tidak memberi kesempatan banding.”

Marcus menghela napas kecil, setengah pasrah.

“Ya, tentu saja,” gumamnya.

“Aku lupa bicara dengan siapa.”

Ia menatap Ethan lebih serius.

“Tapi jangan sampai berantakan.

Aku tidak mau membersihkan kekacauan yang terlalu mencolok.”

Ethan menepuk bahu Marcus singkat.

“Tenang. Ini rapi.”

Marcus tersenyum kecil.

“Empat miliarder, satu pengacara internasional… dan tetap memilih jalan gelap.”

Ethan menoleh ke luar jendela, melihat alat berat mulai bergerak kembali.

“Dunia ini berjalan karena uang dan ketakutan,” katanya pelan.

“Dan mereka baru saja menabrak wilayah yang salah.”

Marcus merapikan jasnya, bersiap pergi.

“Kalau begitu,” ucapnya,

“aku akan tetap siaga. Kalau tiba-tiba kau butuh ‘rencana cadangan legal’.”

Ethan tertawa ringan.

“Aku tahu harus ke siapa.”

Marcus melangkah keluar. Dan di balik kaca kantor megah itu,

sebuah keputusan sudah dibuat

tanpa pengadilan, tanpa palu hakim.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!