Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Bagaimana Felicia bisa mabuk seperti ini?!" tanya Arion tak percaya. Tatapannya mengarah pada istrinya yang terlihat kacau. Bibirnya terus meracau tak jelas.
Aluna dan Daniel bingung bagaimana harus menjelaskan. Ini di luar dari rencananya dan Felicia.
Jika saja Felicia tak salah minum, pasti ini tidak akan terjadi.
"Ini salahku. Jika Aku tidak menaruh minuman anggur kedalam wadah itu, pasti Felicia tidak akan salah minum," ucap Daniel menunjuk ke arah tempat minum yang biasa digunakan untuk air sirup.
Arion hanya menghela napas sebelum akhirnya menghampiri sang istri dan membawanya pulang.
"Bagaimana ini, Ken?" Aluna merasa cemas.
"Bagaimana apanya?" Daniel tak mengerti.
"Aku takut jika Felicia akan membocorkan rencanaku dan Dia nanti. Semua pasti akan gagal jika Arion mengetahui rencana kita."
Daniel mengerutkan keningnya. Rencana apa?
"Rencana apa yang kau bicarakan, sayang?" tanya Daniel.
Aluna tersenyum manis menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa, Sayang." Aluna berusaha menutupinya.
Setelah berpamitan pada Aluna dan Daniel, Arion pun beranjak pulang.
---
Sepanjang perjalanan, Felicia terus meracau. Arion sampai geleng-geleng kepala melihat sang istri.
Hingga mobil sampai di rumah mereka pun, Felicia tak berhenti meracau. Arion memapah Felicia keluar dari mobil dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Siapa Kau? Kenapa wajahmu mirip sekali dengan Suamiku hem?" Felicia menusuk-nusuk pipi Arion dengan telunjuknya. Arion hanya diam tak menanggapi.
"Kenapa Kau diam saja? Aku punya sebuah rahasia untuk membuat suamiku jatuh cinta padaku." Felicia berkata pelan. "Tapi Kau jangan katakan pada Suamiku. Aku akan memberitahumu," lanjut Felicia lagi.
Arion mengerutkan keningnya. Entah mengapa, dia merasa tertarik dengan apa yang akan di katakan istri mabuknya itu.
"Ku beri tahu padamu." Felicia mendekatkan bibirnya ke telinga Arion. "Aku dan Aluna telah merencanakan sesuatu untuk membuatmu jatuh cinta padaku." Felicia tertawa kecil setelah mengatakan hal itu. Arion semakin penasaran .
"Apa yang Kau rencanakan pada suamimu? Katakanlah!" titah Arion. Namun Felicia malah tertawa menanggapinya.
"Apa Kau sungguh-sungguh ingin tahu? Tapi pasti nanti Kau akan mengatakannya pada suamiku. Aku tidak akan mengatakannya." Felicia melepaskan diri dari Arion dan berjalan sempoyongan.
Secepat kilat, Arion langsung menarik pinggang Felicia dan membuat wajah mereka begitu dekat. Felicia terdiam setelahnya. Menatap wajah tampan di depannya dengan tatapan kagum.
Keduanya saling menatap dalam diam.
"Apa Kau seorang pangeran?" tanya Felicia tiba-tiba. Gadis itu tertawa kecil kemudian ke mode mabuknya. "Kau tampan sekali. Jika saja Aku tidak mencintai suamiku, pasti Aku akan mengejarmu," lanjut Felicia terkekeh.
"Jangan mengujiku! Katakan apa rencanamu tadi!" desak Arion.
"Hemm... Jadi Kau ingin tahu? Baiklah, akan ku katakan." Felicia berbisik pelan.
"Aku dan Aluna telah membayar seorang pria untuk membuatmu cemburu." Felicia kembali tertawa.
Arion menyunggingkan senyum. "Dasar rubah licik!"
Arion segera membawa Felicia ke kamarnya. Melepaskan sepatu sang istri dan menyelimutinya.
Felicia langsung memejamkan matanya. Mencari posisi tidur yang membuatnya nyaman.
"Arion, jika suatu hari Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama. Aku akan menyerah dan mengikhlaskan mu untuk bahagia dengan gadis yang Kau cintai," gumam Felicia sebelum akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Ucapan terakhir Felicia membuat Arion menatap istrinya penuh arti. Ada sebuah gejolak aneh yang muncul dalam hatinya saat ini.
Arion segera keluar dari kamar Felicia menuju ke kamarnya sendiri.
---
Keesokan paginya.
Felicia membuka matanya. Kepalanya terasa pening. Dia teringat kemarin dia meminum air sirup di rumah Aluna dan membuat kepalanya menjadi berputar-putar.
Gadis itu melihat ke sekitar dan mendapati dirinya sudah berada di kamarnya sendiri. Kilasan ingatan ketika Arion membawanya pulang sedikit dalam ingatan.
Tiba-tiba Felicia teringat akan rencana yang ia susun bersama Aluna. Gadis itu langsung bergegas kedalam bathroom, membersihkan diri untuk memulai rencananya.
Sementara di lantai bawah, Arion berusaha menyiapkan sarapan pagi karena Felicia belum juga terbangun. Untungnya hari ini adalah hari liburnya, jadi Arion tak mempermasalahkannya.
Dalam aktivitasnya, Arion mendengar bel pintu berbunyi. Dia segera bergegas menuju ke pintu depan untuk membukanya.
"Cintia?" Ken terkejut melihat Cintia datang ke rumahnya.
"Aku datang untuk menyerahkan berkas yang kemarin belum sempat Kau tandatangani. Aku membutuhkan tandatangan mu sesegera mungkin untuk proyek baru kita. Aku juga membuatkanmu sarapan pagi kesukaanmu," ucap Cintia. Dia memperlihatkan kotak makan yang Ia bawa.
Mau tak mau, Arion mempersilahkan Cintia masuk.
"Mana berkas yang harus ku tandatangani?" Arion meminta berkas yang Cintia bahwa.
Cintia memberikan berkas itu dan langsung Arion tandatangani. Sementara itu, Felicia mulai turun ke bawah dan mencari di mana suaminya saat ini.
Namun, Felicia tak mendapati suaminya di meja makan ataupun di dapur. Yang ada, di sana hanya ada bahan masakan yang belum selesai di masak.
Felicia langsung menepuk keningnya sendiri karena pasti saat ini suaminya sedang kelaparan. "Oh tidak! Aku kesiangan."
Felicia mulai mencari-cari Arion ke semua sudut rumah. Hingga akhirnya Felicia pun menemukan suaminya berada di ruang tamu, dengan seseorang yang membuat Felicia kesal seketika.
"Suamiku, Kau berada di sini? Aku mencarimu kemana-mana." Felicia langsung menghampiri Arion. Duduk di sampingnya dan bergelayut manja di lengan Arion.
"Kak Cintia datang? Kenapa Kau tidak memberitahuku, Sayang?" tanya Felicia dengan manjanya. Cintia tak suka melihatnya.
Arion tak menjawab dan masih terfokus menyelesaikan tandatangannya. Hingga akhirnya dia selesai dan langsung menyerahkan berkas itu kepada Cintia.
"Aku membuat makanan kesukaanmu, Arion. Kau belum sarapan bukan? Aku akan menyiapkan untukmu." Cintia berdiri dan hendak melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Tidak bisa! Selera suamiku sudah berubah. Jadi Kak Cintia bisa membawa makanan itu kembali." Felicia berusaha menolaknya dan tersenyum manis.
"Benarkah begitu, Arion?" tanya Cintia berusaha menekan kekesalannya.
Arion menatap Felicia sejenak. "Pagi ini Kau bangun kesiangan. Aku sudah sangat kelaparan menunggumu. Jadi, tidak ada salahnya jika kita menerima makanan yang Kak Cintia bawa," ucap Arion membuat Felicia membola.
Arion mulai berdiri dan berjalan mempersilahkan Cintia ke meja makan.
"Arion, Kau benar-benar tidak bisa di ajak bekerjasama! Aku tahu pasti Cintia merasa menang saat ini." gumam Felicia kesal. Dia segera mengikuti suaminya dan Cintia yang sudah lebih dulu ke meja makan.
Namun bel pintu kembali berbunyi, membuat Felicia menghentikan langkahnya dan membuka pintu.
Gadis itu mengerutkan keningnya ketika melihat sosok pria di depannya itu. "Kau siapa?"
Pria itu tersenyum. "Aku adalah adik sepupu Kak Aluna. Dia mengirimku dalam rencana kalian."
Felicia menatap pria itu dari bawah samping ke ujung rambut. Dari postur tubuh pria di depannya memang sangat menawan. Pria tampan yang pas untuk rencananya.
"Siapa namamu dan berapa umurmu?" tanya Felicia.
Pria itu tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. "Aku Zack dan Aku masih remaja. Masih 18 tahun. Tapi Kak Felicia jangan khawatir. Aku sudah berpengalaman untuk adegan yang sangat romantis. Itu pasti akan membuat suami Kak Felicia cemburu nanti," katanya membuat Felicia terkejut. Matanya membola tak percaya. Bisa-bisanya Aluna memilih seorang remaja untuk masuk dalam rencananya. Yah, walaupun perawakan Zack terlihat seperti pria dewasa, tapi menurut Felicia itu tetap tidak etis.
"Yasudah, sekarang mainkan peranmu! Mumpung di dalam ada ulat bulu di sekitar suamiku. Kita lihat apakah nanti suamiku akan terpancing olehmu." Felicia akhirnya menyetujuinya walaupun dia sedikit ragu.
Merekapun masuk dan menyusul Arion dan juga Cintia ke meja makan.
---