Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Tingkah Istri
Ravindra berdiri di samping tempat tidur dengan membuka laci. Ravindra melihat lembaran kertas yang terlipat dan kemudian mengambil kertas tersebut dengan membacanya.
Kalimat yang dikatakan Aluna sama persis dengan tulisan tangan tersebut.
"Aurora?" tanya Ravindra pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya, wanita yang hanya terlihat di bagian sebelah wajahnya.
"Benar, bukankah sangat indah. Aku ingin melihatnya berduaan dengan kamu," jawab wanita dengan wajah yang tidak terlihat jelas.
"Apa melihat Aurora merupakan hal yang sangat langka?" tanya Ravindra.
"Sudah pasti dan juga hanya ada di negara-negara tertentu," jawab wanita itu.
Krekkk.
Suara pintu kamar mandi terdengar membuat Ravindra menyimpan kembali kertas itu.
"Awas saja jika sekali lagi kamu berani menyentuh barang-barang yang ada di kamarku," tegas Ravindra kembali memberi ancaman kepada istrinya.
"Aku akan membuatmu tidur di luar!" tegas Ravindra.
"Iya-iya," sahut Aluna.
Ravindra tidak berkata-kata lagi dan kemudian memasuki kamar mandi dengan melewati Aluna membuat Aluna melihat kepergian suaminya
"Wajahnya tiba-tiba saja menjadi murung, benarkah merupakan tulisan dari seorang wanita. Jangan-jangan ada mantan yang tidak bisa dilupakan, sudahlah untuk apa juga aku memikirkan masa lalunya, sekarang aku Harus berpikir bagaimana caranya agar perjalanan bisnis diadakan di Kanada," gumam Aluna tampak semangat.
****
Perusahaan
Aluna pagi-pagi seperti ini terlihat begitu semangat, Aluna benar-benar melakukan beribu cara agar sampai pada perjalanan bisnis di tempat negara yang dia inginkan terwujud.
Aluna gadis yang sangat pintar dan merayu serta membujuk orang adalah keahlian nomor satu yang dia miliki.
Lihatlah seperti saat ini bagaimana dia memohon mohon mengeluarkan semua teori yang dia miliki agar semua keinginanmu terwujud. Aluna bahkan tidak peduli jika orang-orang yang diajaknya bicara jelas-jelas derajatnya di perusahaan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya.
Dirga berdiri di depan ruangannya memperhatikan istrinya itu dengan geleng-geleng kepala, seperti apa yang dilakukan Aluna kepadanya menghalangi jalan dengan memohon dan memperlihatkan wajah kasihan.
"Dia benar-benar melakukannya?" Ravindra tidak menyangka jika tantangan yang diberikan benar-benar dilakukan Aluna.
"Aku pikir dia wanita yang memiliki gengsi sangat tinggi, tetapi ternyata dugaanku salah, dia bisa melakukan hal itu. Jika bisa memohon kepada orang lain, lalu kenapa sampai detik ini dia tidak bisa memohon kepadaku untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan," batin Ravindra.
Wajah tampan itu sepertinya mengharapkan sesuatu hal yang mustahil yang dilakukan istrinya, Ravindra mungkin memiliki keinginan untuk Aluna agar membicarakan kembali bagaimana permasalahan yang terjadi dalam masa lalu, karena sampai saat ini mereka berdua tidak pernah membahas hal itu.
Ravindra mendengarkan semua Alasan istrinya meninggalkan pernikahan dari orang lain. Aluna jika tidak pernah meminta maaf secara langsung, mengakui kesalahan dan mungkin saja Ravindra menginginkan hal yang paling tidak bisa dilakukan istrinya
"Woy!" Ravindra kaget di tengah lamunannya saat bahunya tepuk.
Ternyata Egar yang merangkul bahwa temannya itu.
"Bola matamu hampir saja jatuh ke lantai, yang serius melihat istrimu seperti itu, kenapa baru menyadari bahwa dia sangat menggemaskan dan terlebih lagi begitu cantik?" tebak Egar menatap sahabatnya itu penuh dengan selidik.
"Jangan sembarangan menduga-duga. Aku menikah dengannya karena termakan omonganmu," ucap Ravindra.
"Sudahlah Ravindra, kamu terima saja takdir yang sudah ditentukan kepada kamu. Aluna wanita yang baik dan lihatlah bagaimana dia bekerja keras hanya karena ingin terbang ke Kanada. Kamu seharusnya bersyukur memiliki istri seperti itu," ucap Egar.
Ravindra tidak menanggapi dan langsung berlalu dari hadapan sahabatnya itu.
"Hey, aku belum selesai bicara! Huhhh memang dasar, main pergi-pergi aja," ucap Egar geleng-geleng kepala.
Egar kembali tertuju pandangannya kepada istri temannya, senyum di wajahnya seperti memiliki rencana, Egar kemudian langsung menghampiri Aluna dengan menghalang jalannya membuat Aluna mengerutkan dahi.
"Kamu belum meminta tanda tanganku?" ucap Egar dengan menadahkan tangannya.
"Memang kamu ada urusan dengan perusahaan ini. Aku hanya membutuhkan tanda tangan orang-orang yang berkaitan dengan urusanku!" tegas Aluna.
Egar menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan kemudian mengeluarkan id card di lehernya yang sengaja tidak dipasangnya kepada Aluna.
Mata Aluna melotot ketika membaca nama lengkap Egar dengan jabatan yang cukup tinggi di perusahaan itu.
"Manager perjalanan!" ucapnya.
"Bukankah tanda tanganku wajib lebih penting dibandingkan yang lain, Aluna aku merupakan tingkatan di bawah atasan kamu," ucap Egar.
"Hmmm, kalau begitu silakan tanda tangan," ucap Aluna.
Egar mengambil dokumen tersebut.
"Jadi kamu ingin perjalanan bisnis dibatalkan di Jepang dan diganti di Kanada?" tanya Egar membuat Aluna mengganggukan kepala.
"Apa alasannya?" tanya Egar.
"Perusahaan belakangan ini banyak sekali melakukan kerjasama di Kanada. Aku sudah melihat daftarnya dan tidak ada salahnya ditutup di akhir tahun untuk langsung terjun ke Kanada agar mendapatkan pengalaman yang jauh lebih banyak," jawabnya.
"Bisa meminta alasan lebih spesifik atau berhubungan dengan urusan pribadi?" tanya Egar.
"Maksud kamu?" tanya Aluna.
"Hmmmm, mungkin saja ada keinginan pribadi secara khusus." tanya Egar.
"Tidak ada! ini memang benar-benar hanya demi perusahaan. Jadi mohon untuk menandatangani secepatnya," jawab Aluna.
"Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan tanda tanganku," ucap Egar membuat Aluna mengerutkan dahi.
"Apa aku harus melakukan syarat?" tanya Aluna.
Egar sepertinya ingin bermain-main dengan istri sahabatnya itu dan apalagi Egar bisa melihat bahwa sejak tadi Ravindra sahabatnya yang duduk di meja kerjanya ternyata memperhatikan mereka dari jendela-jendela kaca.
Wajah Ravindra memang terlihat begitu penasaran tentang pembicaraan sang istri dengan temannya.
"Aluna kamu harus mentraktirku makan siang dan aku akan mendatanginya," ucap Egar memberi syarat dengan mendekatkan wajahnya pada Aluna.
Aluna tampak berpikir dengan apa yang dikatakan Egar.
"Hmmmm, ya sudah kalau tidak mau dan makan tidak mendapatkan persetujuan dariku, maka perjalanan ini tidak akan berhasil meski mendapatkan persetujuan dari Ravindra," ucap Egar dengan mengangkat kedua bahunya dan kemudian berlalu dari hadapan Aluna.
"He tunggu!" Aluna kemudian menahan Egar dengan menghalangi langkah Egar.
"Baiklah, aku akan mentraktir kamu makan siang, tetapi awas ya jika kamu sampai berbohong dan aku paling tidak suka jika ada yang berbohong kepadaku!" tegas Aluna membuat Egar mendengus.
"Pantas saja kamu berjodoh dengan Ravindra, kalian berdua memang sama-sama tidak ingin dibohongi, tetapi tanpa kalian sadari sama- sama membohongi hati masing-masing," ucap Egar membuat Aluna mengerutkan dahi tidak mengerti dengan pernyataan pria dihadapannya itu.
Egar tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Aluna.
"Apa yang mereka bicarakan?" batin Ravindra dengan penasaran.
Bersambung.....