Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mommy Daddy Cerai
...Bianca Dira Aqueena...
...Theodore Bima Aldion...
...Sagara Putra Mahameru...
Suara kecupan begitu nyaring terdengar di kamar yang hening itu. Bian tak mampu berpikir, ia berada di alam benak yang asing, yang membuatnya serasa melayang. Bibirnya beradu dengan liarnya, menikmatinya. Setelah beberapa saat, Theo mulai menginginkan lebih.
Bibirnya mulai turun ke dagu dan mencumbu leher sang pacar. Tangan Bian meremas selimut yang didudukinya di tempat tidur itu, semakin tegang.
"Jangan dimerahin, Yang," pesan Bianca dengan suara yang manja sambil menikmati sensasi yang Theo timbulkan.
Theo seakan tak mendengar, ia malah tak mengindahkan pesan pacarnya itu. Malah dihisapnya kuat beberapa titik di leher putih Bian.
"Sayang!" tegur Bian sedikit mendorong Theo.
"Abis aku gemes, Sayang. Tenang nanti kita cari cara biar bekasnya gak kelihatan." Theo menenangkan. "Lanjut?"
Bian mengangguk malu-malu, membuat Theo tersenyum puas. Tangannya mulai menyentuh kedua benda kenyal di dada sang pacar, sedangkan lidahnya sibuk kembali memberikan kegelian pada leher Bian.
"Oh... sayang... pelan..." racau Bian.
Bukannya pelan, kedua tangan Theo malah meremas gemas kedua bulatan itu. Theo sudah sangat tak tahan. Ia pun membuka satu persatu kancing kemeja Bian.
"Aku kangen sama mereka," ujar Theo dengan nafas tersengal.
Kata-kata Theo sukses membuat pipi Bian semakin merona. Ini bukan kali pertama Theo melihat benda pribadinya itu meskipun tidak secara polos. Kedua bulatan itu kini nampak meskipun masih terbalut bra kuning yang Bian kenakan.
"Hari ini kuning?" tanya Theo gemas.
Bian sudah tak tahu semerah apa wajahnya. Ia semakin gugup dan gugup seraya dengan tatapan Theo yang tak lepas dari kedua bulatan itu. Dadanya mulai kembang kempis dengan cepat.
Tapi saat sudah di tahap ini, entah bagaimana selalu saja tiba-tiba muncul sesuatu dalam pikiran Bian yang melarangnya untuk melangkah lebih jauh.
“Jangan!” Bian menghentikan tangan Theo yang sedang menelusup masuk ke salah satu bulatan itu. Theo sudah sangat gemas ingin mengeluarkannya dan melihat pemandangan bulatan kecoklatan yang selama ini selalu gagal dilihatnya dari benda pribadi Bian.
Wajah Theo kecewa. “Lagi? Yang, ini udah berapa kali?” Theo bergeser dari Bianca dengan wajah kecewa bercampur kesal.
“Aku belum siap, Yang,” ungkap Bian merasa bersalah karena wajah sang pacar menjadi muram. Ia mulai mengancingkan lagi seluruh kemeja seragamnya.
“Aku pengen kita melangkah ke sana, Yang,” rajuk Theo. “Aku pengen sentuh kamu.” Theo raup kedua pipi Bian dan menciumnya lagi.
Kali ini ciuman Theo tak lembut seperti sebelumnya. Ia menahan tengkuk Bian agar tetap berada dalam kendalinya. Ciumannya pun turun kembali ke lehernya. Dihisapnya leher yang tertutup rambut panjang dan hitam milik Bianca itu dengan lebih beringas dari sebelumnya.
“Theo, nanti ada bekasnya!” jerit Bian seraya mendorong Theo menjauh. Ia berjalan menuju kaca di dekat lemari. “Tuh ‘kan, mana banyak banget merahnya ini, Yang!”
Theo malah kembali menyingkap rambut Bian dan menghisapnya lagi di titik yang lain.
“Yang,” tolak Bian. Ia mendorong kembali Theo menjauh darinya.
“Kamu kenapa sih gak mau?!” Theo akhirnya tak bisa membendung emosinya.
“Soalnya nanti ada bekasnya. Kalau orang lain lihat gimana?” Bian merasa bersalah karena Theo kini nampak marah. “Kalau mommy sama daddy lihat gimana? Aku bukannya gak mau, Yang.”
Theo menghela nafasnya. “Udahlah, gak usah dibahas. Sekarang aku anter kamu pulang.”
“Pulang? Sekarang?” tanya Bian kecewa.
“Iyalah. Mau ngapain lagi emang di sini? Kamunya juga gak mau ngapa-ngapain,” gerutu Theo. Ia meraih tas Bian dan keluar dari kamar.
“Tapi…” Bian menghentikan ucapannya karena Theo sudah ada di luar kamar dan terus berjalan ke arah pintu keluar. Mau tidak mau Bian pun mengekor Theo.
“Mau ke mana lo, Bi?” tanya Dinda. Ia berada di ruang tamu bersama dengan pacarnya, Luis.
“Pulang,” jawab Bian dengan wajah ditekuk, kemudian ia berjalan kembali ke arah pintu keluar.
“Kenapa? Lo berantem sama Theo?” tanya Dinda lagi agak berteriak karena Bian terus pergi tanpa menghiraukan salah satu sahabatnya itu.
“Paling Bian nolak lagi buat ‘itu’ sama si Theo,” celetuk Luis.
***
Motor besar berwarna biru milik Theo sudah berada di depan rumah Bian. Bian yang duduk di belakang pun turun dan menyerahkan helmnya pada sang pacar.
“Aku langsung ya,” ujar Theo agak ketus.
“Kamu gak akan masuk dulu?” tanya Bian masih merasa bersalah.
“Gak kayaknya. Aku langsung pulang aja. Aku sekarang ya.”
Motor biru itu pun sudah meninggalkan Bian tanpa menunggu sahutan dari gadis cantik dan manis itu.
Bian pun masuk ke dalam gerbang rumah dan melihat dua mobil milik kedua orang tuanya sudah ada di carport. “Mommy sama Daddy udah pulang jam segini? Tumben banget.” Bian melihat jam di layar smart watch yang melingkar di tangannya.
“Mom, Dad!” panggil Bian saat sudah berada di dalam rumah.
Muncul seorang wanita yang masih begitu cantik dan fashionable meskipun usianya sudah empat puluh tahunan. Begitu juga seorang pria berkacamata dengan jenggot tipis di sekeliling bibir dan dagunya muncul dari lantai dua.
"Hey, udah pulang, Baby?" sapa Diana, sang ibu dari Bian. Ia mencium pipi sang putri.
"Udah," jawab Bianca ketus.
"Kenapa bete gitu sih, Nak?" Radit segera memeluk sang putri dan mengecup puncak kepalanya.
"Gak apa-apa," sahut Bian lagi. Ia melangkah menuju sofa dan menjatuhkan dirinya di sana.
"Kamu abis ketemu sama Theo?" tanya Diana dengan nada menginterogasi. Kedua matanya tertuju pada leher sang putri.
Sontak Bian segera duduk tegak dan menutupi lehernya dengan kerah kemeja seragam yang sedang digunakannya. 'Mampus. Gue lupa sama merah-merahnya,' gerutu Bianca.
"Daddy gak masalah kamu punya pacar. Tapi jangan sampai seperti itu, Nak. Kamu harus jaga diri dengan baik," nasehat Radit dengan tenangnya. Ia duduk di hadapan Bian.
Mendengar nada bicara sang ayah yang tak menunjukkan nada marah sama sekali, Bian seketika lega. "Bian gak ngapa-ngapain kok, Dad. Cuma sampai sini gak lebih." Bian menyentuh lehernya dengan harap-harap cemas.
"Beneran? Mommy gak percaya. Kamu pasti udah lebih dari ini?" tanya Diana dengan tangan melipat di dada tak sepenuhnya percaya pada sang putri.
"Beneran, Mom. Masa Mommy gak percaya sama Bian," ujar Bian kecewa.
"Di, aku percaya sama anak kita. Dia bisa jaga diri," bujuk Radit kembali dengan nada tenangnya.
Bian menatap sang ayah dengan penuh rasa terima kasih. Ayahnya memang selalu bisa membuat keadaan terkendali. Ia juga selalu memberikan kepercayaan kepada Bian bahkan sejak Bian kecil. Maka walaupun anak tunggal, Bian bisa menjadi anak yang mandiri.
"Okay, okay, aku lagi gak pengen debat." Diana bergabung duduk dengan sang suami menghadap ke arah Bian yang duduk di seberang mereka.
"Maaf ya, Mom, Dad. Bian janji gak akan keulang lagi," cicit Bian.
"Gak apa-apa, Nak." Radit menenangkan. "Untuk ke depannya, kamu harus jaga diri lebih baik lagi ya. Daddy tahu Theo anak yang baik. Tapi dia tetap seorang laki-laki. Daddy tahu bagaimana rasanya menjadi seorang laki-laki dan juga memiliki pacar secantik anak Daddy ini. Dia pasti gemas sama kamu. Tapi ini belum saatnya, Nak. Jadi kamu harus bisa jaga batasan kamu ya."
"Okay, Daddy. Daddy bisa percaya sama Bian. Bian gak akan kecewain Daddy dan Mommy," tekad Bian.
"Good, kalau gitu kamu harus jaga terus kepercayaan Mommy dan Daddy ya. Walaupun..." Diana melirik ke arah sang suami sekilas. "Mungkin mulai sekarang hanya salah satu dari kami yang bakal lebih banyak ketemu sama kamu dan ngawasin kamu."
Dahi Bian mengerut seketika. "Maksud Mommy?"
Radit mengambil nafasnya dalam-dalam. Ia raih tangan sang putri dan menatapnya lekat. "Daddy tahu ini akan terdengar kacau dan menyedihkan buat kamu. Tapi Daddy yakin kamu akan paham nanti kenapa Daddy dan Mommy mengambil langkah ini."
"Apa yang lagi Daddy omongin sih? Bian gak paham."
Diana meraih tangan Bian yang lain. "Baby, mulai hari ini, Mommy dan Daddy sudah resmi bercerai."
...Dinda dan Luis...