Zivanya Aurelia Wardana (20) pergaulan bebas membuatnya mengalami mimpi terburuk dalam hidup. Menjadi ibu diusia yang masih begitu muda
Amarah Keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal itu bisa dicegah oleh seorang dokter tampan bernama Zionathan (24)
Ziva memberontak, memberi syarat pada Zio untuk mencarikan ayah bagi bayinya, menggantikan sang kekasih yang pergi entah kemana
Tak disangka jika Zionathan menjadikan dirinya sendiri sebagai ayah untuk bayi itu sekaligus suami untuk Zivanya
Bagaimana pernikahan atas dasar tanggung jawab itu dapat bertahan? dan bagaimana Zio bertindak saat ayah kandung bayi itu datang dan meminta Zivanya serta anaknya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Mengejutkan
Plak
Satu tamparan keras Jefry berikan pada putri kesayangannya, selama dua puluh tahun, ini adalah kali pertama pria lima puluh tahun itu melayangkan telapak tangannya pada sang putri
Zivanya meringis, sebelah pipinya terasa begitu perih. Sang ayah sepertinya begitu murka mendengar pengakuannya
"Maafkan Ziva Pah. Ziva, Ziva salah!" Gadis cantik dengan lesung pipi itu bersimpuh dikaki sang ayah, namun rasa kecewa Jefry teramat besar
"Bagaimana bisa Ziva? Bagaimana bisa kamu membuat papa merasa gagal menjadi seorang ayah? Hah?" Jefry berteriak, Zalika dengan lembut mengusap dada suaminya
"Ziva minta maaf!" Gadis cantik itu terisak, ia seperti melihat kekecewaan yang begitu besar di wajah ayah serta ibunya
"Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" Tanya Jefry lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dingin
Gadis cantik itu masih terisak, napasnya tersengal. Dari bibirnya terdengar suara sesenggukan
"Katakan Ziva!"
"Sabar mas! Biar aku yang tanya!" Zalika mencegah suaminya, wanita yang masih sangat cantik diusia empat puluh lima tahun itu mencoba membuat suaminya tenang
"Gimana mas bisa sabar, sayang! Dia hamil dan kita gak tau siapa bapaknya!" Napas Jefry memburu, emosinya memuncak, terlihat dari dadanya yang naik turun
"Iya tapi kamu tenang dulu mas! Biar aku yang bicara sama Ziva!" Zalika bersimpuh, dengan lembut ia menyentuh kedua lengan putrinya itu
"Ziva sayang" Gadis cantik itu mengangkat wajahnya "Katakan siapa yang melakukan ini! Kita akan minta dia bertanggung jawab!"
"Maafin Ziva Mah, Ziva udah bikin Mama sama Papa kecewa!" Suara Ziva masih tersengal
"Kita akan bicarakan hal itu nanti, sekarang kamu beritahu siapa yang bertanggung jawab atas bayi itu?" Tanya Zalika dengan lembutnya
"R-Richie" Ziva tergagap
"Richie?" Ziva mengangguk "Bukannya kamu bilang kalian cuma temen?"
"Ziva bohong!"
Jefry memijat keningnya, sungguh memiliki seorang anak perempuan ternyata sesulit ini
"Sekarang dimana baji___ itu?" Tanya Jefry yang dibalas Ziva dengan berupa gelengan kepala
Melihat itu membuat Jefry menatap bingung "Apa maksud kamu, Ziva?"
"Richie pergi! Dia gak mau tanggung jawab!"
Jefry mengepalkan tangannya, sebagai seorang ayah jelas ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Bagaimana bisa pria itu menghancurkan masa depan putrinya dan pergi
"Kita cari dia sekarang! Kita temui keluarganya!" Jefry memutuskan, bagaimanapun ia tidak akan membiarkan putrinya menanggung malu
"Keluarganya gak ada Pah, mereka semua keluar negeri, Ziva udah kerumahnya!"
Mendengar penuturan sang putri membuat emosi pria lima puluh tahun itu meluap
Brak
Zalika dengan cepat bangkit dan menenangkan suaminya yang menggebrak meja dengan kepalan tangannya
"Breng___"
"Sabar mas! Kita akan cari jalan keluarnya!" Zalika mengelus dada suaminya dengan lembut
"Mereka harus diberi pelajaran, aku akan cari baji__ itu bahkan ke lubang semut sekalipun!"
Jefry memilih untuk meninggalkan ruang keluarga, memilih untuk menenangkan dirinya didalam kamar
Pengakuan sang putri hari ini benar-benar mengguncang pria tampan itu, Zivanya Aurelia Wardana, ia sendiri yang memberikan nama itu pada bayi perempuan yang begitu ia manjakan. Bahkan Ziva memang tumbuh menjadi anak yang manja
Ziva benar-benar menjadi princess di keluarga mereka, bukan hanya Jefry tapi semua orang memanjakan nya
"Mas!" Suara lembut Zalika menyadarkan pria itu dari lamunannya
"Ya sayang!"
"Kita akan hadapi masalah ini sama-sama mas! Bagaimanapun Ziva putri kita. Memangnya kenapa jika Richie tidak mau mengakui bayi itu? Masih ada kita kan?"
Zalika mengusap bahu lebar suaminya itu, pernikahan yang sudah lebih dari dua puluh tahun itu tak pernah mendapatkan cobaan yang berarti
"Mas cuma gak mau keluarga besar kita menjadi omongan orang, Sayang. Entah bagaimana reaksi ayah dan Mama setelah mendengar masalah ini"
Sejenak Zalika berpikir, kedua orang tuanya sudah cukup tua, masalah Zivanya jelas akan membuat keduanya terguncang
"Soal Ayah sama Mama, kita akan jelasin pelan-pelan. Dan untuk omongan orang, kita gak perlu peduli mas! Kita akan menghadapi semuanya!" Ujar Zalika
"Terima kasih sayang! Mas gak tau apa jadinya mas, kalau gak ada kamu!"
Jefry membawa wanita yang amat dicintainya itu kedalam pelukannya, Zalika adalah kekuatan bagi pria setengah baya itu
"Dimana Zavier?" Tanya Jefry
"Entahlah!"
"Dirumah lagi ada masalah sebesar ini, si anak kalong itu malah menghilang" Kesal Jefry, putra sulungnya itu memang tidak betah berdiam diri di rumah
"Sabar mas!"
***
Sementara itu dikamarnya, Ziva tengah merutuki kebodohannya. Dirinya terlalu polos hingga dapat dikelabui oleh pria seperti Richie yang baji___
Dengan sisa-sisa air matanya, gadis cantik itu meraih ponsel dan menghubungi seseorang
"Halo Ann!" Sapa Zivanya pada seseorang diseberang sana
"Halo Ziv? Ada apa? Oh iya gimana sama orang tua lo?" Anna adalah sahabat terbaiknya, wanita itu adalah orang pertama yang mengetahui masalah yang menimpa Ziva si gadis manja
"Papa sama Mama gue kecewa, sekarang gue mau ikutin saran lo!"
"Serius? Lo udah pikirin semuanya baik-baik kan? Ini keputusan yang besar Ziva!" Ujar Anna, ia cukup terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu
"Gue gak ada pilihan lain Ann, Richie gak mau tanggung jawab dan gue gak mau kalau sampe keluarga gue nanggung malu!"
Keputusan yang Ziva ambil sangatlah besar, ia tak tahu apa ini keputusan yang tepat atau salah, baginya bayi ini tidak boleh lahir tanpa seorang ayah
"Yaudah, besok gue anterin lo ketempat aborsi" ucap Anna, mendengar itu Ziva diam, ia usap lembut perut yang masih rata itu
Kehamilan ini jelas membuatnya terguncang, setelah ia mengetahuinya, Ziva langsung menemui kekasihnya. Dan baji__ itu malah menolak untuk bertanggung jawab, bahkan semua keluarganya menghilang
"Besok gue jemput elo ya Ann!"
Setelah sepakat, Ziva memutus sambungan telepon lalu menyimpan benda pipih itu kembali keatas nakas
"Maafkan Mama, tapi kamu memang gak seharusnya ada!" Ziva larut dalam penyesalannya, putri kesayangan keluarga kini memberikan noda terbesar bagi seluruh keluarga
Bayi ini tak seharusnya ada, dia hanya sebuah kesalahan dan Ziva memutuskan untuk membuang kesalahan itu untuk selamanya
***
Pagi-pagi sekali Ziva menjemput sahabatnya Anna di salah satu kos, Anna memang merantau dikota ini dan keduanya berkuliah dikampus yang sama
"Udah siap?" Tanya Anna begitu dirinya masuk kedalam mobil mewah milik Ziva
"Gue harus bisa Ann"
Mobil melaju meninggalkan area kost, perjalanan mereka cukup panjang hari ini
Anna menoleh kearah sahabatnya itu "Kalau lo ragu, masih ada waktu Ziv"
"Gue gak ragu Ann, anak ini memang gak seharusnya ada. Sebelum semuanya jadi lebih kacau, gue harus bertindak!" Ucap Ziva dan Anna hanya mengangguk saja
"Ya udah kalau itu keputusan lo!"