Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Meminta pertanggungjawaban
Intan harus menyembunyikan rasa sakit hati atas pertanyaan yang lontarkan oleh Aldy. Dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Aldy , Intan beranggapan bahwa Aldy telah menganggapnya sebagai pelacur yang sering melayani laki- laki hidung belang. Padahal waktu itu Intan sudah menjelaskan padanya jika dia hanya bekerja sebagai waiters saja. Dia tidak pernah membuka jasa menjual diri.
Hal itupun dibuktikan oleh Intan dengan tidak mau menerima uang dari Aldy saat itu. Karena bagi Intan jika dia menerima uang dari Aldy, itu sama artinya dia telah menjual tubuhnya pada Aldy.
Namun rupanya Aldy masih belum sepenuhnya percaya pada Intan. Dia masih beranggapan Intan sama seperti waiters yang lain. Selain mengantarkan pesanan pelanggan mereka juga bersedia jika pelanggan tersebut ingin melampiaskan hasrat padanya.
''Intan sudah bilang sama mas Aldy waktu itu kan, kalau Intan tidak pernah melakukan hal itu selain dengan mas Aldy. Di sana Intan hanya bekerja sebagai waiters, tidak lebih dari itu..." ucap Intan.
''Maaf Intan saya hanya..."
"Jadi mas Aldy tidak percaya sama Intan...? Mas Aldy tidak mau mengakui bayi dalam perut Intan sebagai anak mas Aldy...?'' tanya Intan dengan mata berkaca- kaca.
"Bu..bukan Intan bukan begitu. Ini terlalu mendadak dan saya benar- benar kaget Intan. Tolong kasih saya waktu..." jawab Aldy.
"Mas.. Waktu itu mas Aldy memberikan kartu nama pada Intan kan. Dan mas Aldy bilang jika terjadi apa- apa pada Intan, Intan diminta untuk menghubungi mas Aldy. Sekarang Intan hamil. Tentu saja Intan langsung menghubungi mas Aldy sesuai dengan apa yang mas Aldy minta..." sahut Intan.
"Ingat mas.. Malam itu kita melakukannya lebih dari satu kali. Jadi wajar saja jika Intan hamil...." sambung Intan.
"Dan asal mas Aldy tahu, kalau Intan bekerja sebagai seorang p*lacur, Intan nggak akan mungkin hamil mas. Karena orang yang berprofesi sebagai p*lacur tentu saja sudah siap untuk memakai alat kontrasepsi untuk jaga- jaga supaya tidak hamil..."
"Sedangkan Intan tidak memakai pengaman apapun karena memang Intan tidak ada niat untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Dan mas Aldy harus ingat, malam itu, mas Aldy yang mamaksa Intan untuk melakukan hal itu. Karena saat itu mas Aldy tidak bisa mengendalikan diri akibat pengaruh obat per"ngsang..." Intan menjelaskan panjang lebar kepada Aldy.
Aldy pun terdiam. Iya, sebenarnya apa yang dikatakan oleh Intan masuk akal. Malam itu Aldy ingat betul bagaimana reaksi Intan saat dia memaksanya untuk melampiaskan hasrat yang sudah tidak bisa dikendalikan kepada Intan. Bahkan Intan sempat menangis ketakutan walaupun pada akhirnya Intan dibuat tidak berdaya oleh Aldy.
Kalau Intan seorang wanita penghibur pasti ketika ada di posisi itu, dia tidak akan menolaknya, bahkan mungkin Intan akan melayani Aldy dengan sepenuh hati dan akan meminta bayaran padanya. Sedangkan Intan tidak melakukan hal itu.
"Intan...Saya percaya sama kamu... Tapi saya tidak bisa memutuskan semua ini sendiri. Saya harus bicara dengan kedua orang tua saya dulu. Saya harap kamu mengerti ya. Saya akan mengabarimu jika sudah bicara dengan kedua orang tuaku..." ucap Aldy.
"Tapi mas Aldy nggak akan bohong kan...? Mas Aldy mau bertanggung jawab. Ini anak mas Aldy..." sahut Intan sambil memegang perutnya yang masih rata dengan air mata yang keluar membasahi kedua pipinya.
"Iya Intan... iya... saya akan bertanggung jawab. Tapi kamu harus bersabar, saya perlu bicara sama orang tua saya..." jawab Aldy sambil menatap wajah Intan.
"Lalu... Kalau orang tua mas Aldy tidak memperbolehkan mas Aldy tanggung jawab bagaimana...?'' Intan nampak cemas.
Iya, bagaimana pun juga perbuatan Aldy dan Intan adalah perbuatan dosa. Orang tua mana pun pasti akan marah jika mendengar anaknya berzina apa lagi sampai menghamili anak orang. Intan tidak bisa membayangkan jika orang tua Aldy akan marah dan melarang Aldy tanggung jawab apa lagi mengingat Intan bekerja di tempat hiburan malam. Orang tua mana yang rela anaknya menikahi perempuan seperti Intan.
"Intan... Sekarang kamu pulang dulu ya, nanti aku kabarin kamu lagi..." ucap Aldy.
Intan terdiam beberapa saat. Iya, tentu saja Intan takut kalau Aldy akan membohonginya dan tidak akan bertanggung jawab. Lalu apa yang akan Intan lakukan ke depannya. Dia pasti akan menjadi gunjingan oleh para tetangga karen hamil tanpa suami. Sebelum dia hamil pun para tetangganya sering membicarakannya karena bekerja di tempat hiburan malam.
Dan jika mereka tahu Intan hamil tanpa suami pasti suara gunjingan mereka akan lebih keras lagi.
"Intan... Percayalah, saya akan bertanggung jawab..." ucap Aldy menggenggam tangan Intan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
"Aldy... dari mana saja sih kamu, umi sama abi nungguin kamu dari tadi...?'' tanya umi Fatimah ibunda Aldy.
Aldy yang baru pulang menemui Intan terlihat lesu kemudian duduk di sofa ruang tengah bersama dengan kedua orang tuanya yaitu umi Fatimah dan abi Abdul.
"Kamu dari mana nak...? Kok kelihatannya lesu begitu...? Apa kamu sakit...?'' umi Fatimah mengusap lengan Aldy.
"Nggak Mi... Aldy hanya capek saja tadi abis ketemu teman..." jawab Aldy menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa.
Sedangkan pak Abdul hanya melirik sekilas pada sang putra kemudian kembali fokus pada koran yang sedang dia baca.
"Aldy... Ada yang ingin umi dan abi sampaikan sama kamu..." ucap umi Fatimah sambil tersenyum menatap putra kesayangannya.
"Ada apa umi...?'' tanya Aldy menoleh ke arah umi dan abinya secara bergantian.
Umi Fatimah kembali tersenyum, kemudian menoleh ke arah sang suami yang masih saja fokus membaca koran.
"Bi... Sudah sana abi yang bicara sama Aldy..." ujar umi Fatimah pada sang suami.
"Umi saja yang ngomong..." sahut abi Abdul sambil membenarkan kaca mata bacanya yang melorot.
Umi Fatimah menghela nafas, kemudian dia kembali menatap Aldy.
''Begini Aldy... Kemarin umi dan abi ketemu sama teman abi,pak Rusdi dan bu Wanti. Kamu ingat kan Aldy...? Itu lho yang anak perempuannya kuliah di Mesir..." ucap umi Fatimah.
"Iya... Kenapa Mi...?'' sahut Aldy.
Iya, tentu saja Aldy kenal dengan pak Rusdi dan bu Wanti. Mereka beberapa kali datang ke rumah untuk bersilaturahmi.
"Anak mereka Aisyah yang kuliah di Mesir sudah lulus dan sudah pulang satu minggu yang lalu. Kamu masih ingat kan sama Aisyah, dulu dia pernah main ke sini..." ucap umi Fatimah.
"Iya, Aldy ingat..." jawab Aldy yang sedikit kurang tertarik dengan apa yang disampaikan oleh umi.
Iya, tentu saja Aldy tahu arah pembicaraan uminya itu. Pasti dia bermaksud menjodohkan Aisyah dengannya.
''Umi sama abi berencana untuk menjodohkan kamu dengan Aisyah. Gimana kalau besok kita mengundang mereka makan siang di sini, biar kamu sama Aisyah bisa saling mengenal lebih dekat...?'' tanya umi Fatimah.
Aldy terdiam. Apa yang diucapkan oleh umi tentu saja membuat Aldy bertambah pusing. Karena Aldy tahu, jika dia menolak untuk dijodohkan, umi pasti akan marah, mengingat Umi sudah berkali- kali mencarikan calon istri untuknya, namun selalu dia tolak dengan alasan belum ingin berumah tangga karena merasa belum mapan.
Apa lagi sekarang Aldy sedang pusing terkait dengan masalah yang sedang dia hadapi bersama dengan Intan. Sebenarnya Aldy ingin segera membicarakan masalah itu kepada abi dan uminya, namun dia takut mereka syok.
"Umi... tolong jangan membahas tentang jodoh dulu. Kan Aldy sudah bilang, Aldy belum mapan. Cicilan mobil dan rumah Aldy belum lunas. Masih dua tahun lagi. Aldy khawatir jika Aldy menikah dalam waktu dekat, istri Aldy tidak puas dengan gaji Aldy yang harus dipotong cicilan. Takutnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari...." jawab Aldy.
"Ya ampun Aldy... ngapain sih kamu mikirin soal itu. Justru kalau kamu menikah, Alloh akan menambah rejeki kamu dan istrimu. Jadi kamu jangan khawatir soal itu. Rejeki itu akan selalu ada Aldy..." sahut umi Fatimah.
"Tapi Mi...
"Aldy... Sudah berkali- kali lho umi menjodohkan kamu dengan beberapa perempuan. Tapi kamu selalu menolaknya dengan alasan yang tidak jelas. Ingat umur dong Aldy. Wulan saja adik kamu sudah punya anak dua. Masa kamu sebagai kakaknya malah belum ingin menikah sih, nanti kamu diomongin lho sama orang kalau kamu laki- laki tidak normal..." ucap umi Fatimah.
"Umi...kok umi bicaranya seperti itu sih...? Kalau Aldy memang belum siap menikah ya sudah, tidak perlu dimaksa. Mungkin dia ingin mencari calon sendiri, tidak ingin dijodohkan..." sahut abi Abdul sambil melipat koran lalu meletakkannya di atas meja.
"Sekarang ini bukan jamannya dijodoh- jodohan. Biarkan Aldy memilih jodohnya sendiri umi..." sambung abi Abdul lalu meminum kopi yang disediakan di atas meja.
"Ih abi ini bagaimana, kita mau nunggu sampai kapan, abi...!'' umi Fatimah nampak kesal.
"Ya sampai Aldy siap..." jawab abi Abdul dengan santai.
Umi Fatimah pun mendengus kesal. Lalu menoleh ke arah Aldy yang nampak seperti sedang banyak masalah karena wajahnya terlihat kusut. Iya, umi Fatimah memang beberapa hari belakangan ini melihat sikap Aldy yang tidak seperti biasa. Dia terlihat sering diam dan melamun.
"Aldy... Kamu ini kenapa sih, umi perhatikan akhir- akhir ini sering melamun. Apa kamu lagi ada masalah di tempat kerja...?'' tanya umi Fatimah.
Aldy menghela nafas.Dia terlihat gelisah antara ingin memberitahu umi dan abi atas apa yang sedang dia hadapi atau akan menyimpan masalahnya sendiri.Namun Aldy sendiri tidak sanggup memikul masalah yang sedang dia hadapi.
Aldi pun menata hatinya dan bersiap untuk bicara pada kedua orang tuannya jika dia sedang punya masalah besar.
"Umi... Abi..." ucap Aldy sedikit ragu.
"Ada apa nak...? Apa ada yang ingin kamu sampaikan...?" tanya abi Abdul.
"Abi... Umi...maafkan Aldy..." ucap Aldy dengan wajah penuh rasa bersalah.
Abi Abdul dan umi Fatimah saling pandang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aldy. Iya ,tentu saja dalam hati mereka bertanya- tanya apa sebenarnya yang terjadi pada Aldy sehingga dia merasa bersalah.
"Kenapa kamu minta maaf...? Memangnya kamu punya salah apa Aldy...? Kalau kamu memang tidak mau untuk dijodohkan dan ingin mencari jodoh sendiri, abi tidak akan memaksamu nak. Kamu punya hak untuk memilih perempuan yang ingin kamu nikahi..." tanya abi Abdul yang memang lebih bijaksana dalam menanggapi pilihan anak- anaknya.
Berbeda dengan umi Fatimah yang sering kali marah jika anak- anaknya tidak menuruti apa kemauannya.
Aldy tidak langsung menjawab pertanyaan abi Abdul dan hanya menunduk sambil memejamkan matanya.
"Aldy... kamu ini kenapa sih...? Kalau kamu tidak mau dijodohkan dengan Aisyah, ya sudah, umi juga tidak akan memaksa kamu. Tapi secepatnya kamu harus mencari calon istri. Abi sama umi sudah tua, ingin cepat melihat kamu menikah dan punya anak seperti abang dan adik kamu..." sahut umi Fatimah yang sebenarnya kesal karena Aldy tidak mau dijodohkan dengan Aisyah.
"Umi...abi...hik..hik..." Aldy tiba- tiba bersimpuh di kaki abi dan uminya kemudian menangis tersedu- sedu.
Umi Fatimah dan Abi Abdul tentu saja heran melihat sikap Aldy yang aneh. Tidak seperti biasanya Aldy sampai bersimpuh apalagi menangis ketika dia menolak perjodohan.
"Aldy... Sudah... Jangan menangis. Kalau kamu memang belum ingin menikah, ya sudah tidak apa- apa..." abi Abdul mengusap punggung Aldy. Sementara Aldy justru semakin terisak.
" Bukan itu abi... Umi... Hik...hik..." sahut Aldy sambil memegang kaki abi dan umi.
"Maafkan Aldy, umi... Abi... Aldy telah melakukan kesalahan yang sangat besar.. Aldy telah melakukan dosa besar umi ... Abi... Hik..hik..." sambung Aldy terus menangis.
Abi Abdul dan Umi Fatimah tentu saja bertambah bingung dan penasaran apa dosa besar yang Aldy maksud.
"Aldy...kamu jangan membuat umi dan abi bingung... Cepat katakan... Kamu melakukan dosa apa...?" tanya Umi Fatimah yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putranya itu.
Sambil menangis Aldy menceritakan pada kedua orang tuanya bahwa dia telah menghamili Intan. Iya, Aldy menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutup- tutupi. Dari mulai Aldy yang diajak ke diskotik oleh Angga dan Dandy, hingga menghabiskan malam bersama dengan Intan, dan akhirnya Intan memberitahunya bahwa dia hamil dan meminta pertanggung jawaban padanya.
"Astagfirulloh... Astagfirulloh... Apa ini Ya Alloh... Kenapa bisa seperti ini...? Kenapa anakku bisa melakukan dosa seperti itu... hik...hik...saya sudah mendidik anak- anakku dengan baik, tapi kenapa dia berbuat seprti itu ya Alloh...hik..hik..." umi Fatimah menangis, syok mendengar pengakuan Aldy.
Sedangkan abi Abdul terdiam dengan dada naik turun menahan gejolak emosi dalam dadanya. Perasaannya benar- benar campur aduk antara marah, kecewa dan sedih.
Tentu saja abi Abdul dan umi Fatimah tidak menyangka bahwa Aldy akan melakukan kebodohan itu. Padahal dari ketiga anak mereka, Aldy lah yang paling rajin ibadahnya dibanding Dirga sang kakak dan Wulan adiknya.
Ditambah lagi Aldy dulu adalah lulusan pesantren. Tentu saja abi dan uminya tidak menyangka jika anaknya itu bisa terjerumus dalam perbuatan yang dilarang oleh agama.
"Dasar anak bodoh...!!''
"Plakk...plakk..." Abi Abdul menampar kedua pipi Aldy.
"Apa kamu sudah tidak waras...! Bisa- bisanya kamu mendatangi tempat maksiat dan berbuat zina di sana...!! Apa kamu tidak ingat sama abi dan umi saat kamu melakukan perbuatan hina itu Aldy...!!'' abi Abdul begitu murka.
Bersambung....