Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan dalam Sunyi
Langit di atas Hutan Kabut Hitam mulai memucat ketika Qiu Liong akhirnya keluar dari gua.
Kabut masih menggantung rendah, namun cahaya fajar perlahan menembus pepohonan. Dunia terasa tenang terlalu tenang seolah tidak pernah ada pertarungan, jeritan, atau hampir-hancurnya tubuhnya beberapa saat lalu.
Ia menurunkan kedua murid itu di bawah pohon besar, menyandarkan mereka dengan hati-hati. Salah satu mulai sadar, napasnya masih lemah namun stabil. Yang lain batuk pelan, membuka mata dengan pandangan kosong.
“Kita… masih hidup?” bisiknya lirih.
Qiu Liong mengangguk.
Hanya itu.
Tak ada pidato heroik. Tak ada senyum bangga.
Ia sendiri duduk bersandar pada batang pohon, menutup mata sesaat.
Tubuhnya masih terasa nyeri, seperti baru saja dihancurkan lalu dipaksa menyatu kembali. Namun di balik rasa sakit itu, ada ketenangan aneh yang mengendap di dadanya.
Kehampaan itu… tidak bergerak.
Tidak berdenyut liar.
Ia hanya ada.
Sunyi.
Dalam.
Seperti danau gelap tanpa riak.
Untuk pertama kalinya sejak menerima Inti Kekosongan, Qiu Liong tidak merasa takut padanya.
Ia juga tidak merasa tergoda untuk menggunakannya.
Ia hanya… merasakannya.
“Apa ini yang kau maksud dengan mengendalikannya?” tanyanya dalam hati.
Tak ada jawaban langsung.
Hanya kesunyian yang terasa sedikit… lebih hangat.
Qiu Liong menarik napas panjang.
Dulu, setiap kali ia gagal mengalirkan qi, ia akan merasa frustrasi. Marah pada tubuhnya. Marah pada takdirnya.
Namun sekarang
ia merasakan setiap aliran kecil di dalam dirinya dengan jelas.
Bukan qi yang deras.
Bukan kekuatan yang meledak-ledak.
Melainkan ruang.
Ruang yang ia miliki di dalam dirinya.
Ruang untuk tumbuh.
Ruang untuk berubah.
Kedua murid itu mulai bisa berdiri dengan bantuannya. Mereka memandang Qiu Liong dengan ekspresi yang sulit ia baca campuran syok, rasa terima kasih, dan kebingungan.
“Kau yang… menyelamatkan kami?” salah satu bertanya pelan.
Ia mengangguk lagi.
“Kau sendirian?”
“Ya.”
Mereka saling berpandangan, seolah sulit mempercayai.
Qiu Liong tahu apa yang ada di pikiran mereka.
Murid luar.
Akar spiritual retak.
Pecundang sekte.
Mustahil.
Namun ia tidak menjelaskan.
Tidak membanggakan diri.
Tidak pula menyangkal.
Aneh.
Jika ini terjadi beberapa hari lalu, mungkin ia akan haus pengakuan. Ingin melihat wajah-wajah tak percaya itu berubah menjadi kagum.
Kini
ia tidak terlalu peduli.
Perasaan itu membuatnya terdiam.
“Apakah aku mulai kehilangan sesuatu…?” gumamnya dalam hati.
Ia mengingat kata-kata suara itu.
Emosi akan terkikis.
Namun saat ia menatap kedua murid yang masih gemetar itu, ia merasakan sesuatu yang lembut di dalam dadanya.
Bukan kehampaan.
Bukan dingin.
Melainkan kepedulian.
Ia masih peduli.
Dan itu cukup.
Perjalanan kembali ke sekte berlangsung lambat, namun tanpa gangguan berarti. Kabut perlahan menipis seiring matahari naik lebih tinggi.
Setiap langkah terasa seperti jarak yang memisahkannya dari dirinya yang lama.
Dari Qiu Liong si pecundang.
Dari Qiu Liong yang selalu menunduk.
Saat gerbang sekte akhirnya terlihat di kejauhan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena takut.
Bukan karena gugup.
Melainkan karena ia tahu
mulai hari ini, semuanya akan berubah.
Namun kebangkitan itu tidak disertai sorak-sorai.
Tidak ada ledakan cahaya.
Tidak ada deklarasi besar.
Kebangkitannya terjadi dalam sunyi.
Di dalam gua gelap.
Di antara rasa sakit dan hampir-hancurnya tubuh.
Dan kini, saat angin pagi menyentuh wajahnya, Qiu Liong menyadari
kebangkitan sejati bukan tentang menunjukkan kekuatan kepada dunia.
Melainkan tentang berdiri kembali,
meski tubuhmu hampir hancur,
dan memilih untuk terus melangkah.
Dalam sunyi,
tanpa perlu diakui siapa pun.
Dan untuk pertama kalinya,
ia melangkah menuju gerbang sekte
bukan sebagai pecundang
melainkan sebagai seseorang yang telah bangkit.
jangan bikin kecewa ya🙏💪