Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jie jie Cantik Dan Ling Ling
"Paman tabib bisa membantu." Ujar Zeno memberikan sekantong salep dan pil, tak lupa juga adonan tepung untuk di balurkan ke seluruh tubuh pesakit sedangkan pil dan salep nanti nya akan di bagikan pada warga untuk jaga-jaga di rumah.
Tabib desa pun bingung tapi ia tetap menerima pemberian Zeno, walaupun bentukan nya aneh di mata nya tapi dia berharap obat-obatan itu manjur ketika di gunakan untuk menyembuhkan penyakit aneh itu menurutnya.
.
Saat ini seluruh warga sudah selesai di balurkan adonan tapi walaupun agak perih Ceni berharap usaha nya tak akan sia-sia.
Setidak nya Ceni sudah berusaha daripada hanya berpangku tangan.
.
Hari demi hari berlalu tak terasa sudah seminggu mereka di desa tersebut untuk memastikan kondisi para warga.
Saat ini kondisi seluruh warga yg terkena cacar air sudah berangsur membaik bahkan ada sebagian yg cacar nya sudah mulai mengering dan mereka sangat senang akan hal itu.
Di halaman rumah kepala desa banyak para warga yg berbondong-bondong datang hanya untuk menemui penyelamat mereka sebab saat ini Ceni dan kawan-kawan berniat akan melanjutkan perjalanan mereka kembali karena sudah terlalu lama mereka berada di desa ini.
"Kami mengucapkan terimakasih kepada para nona dan tuan muda, kalau tidak ada kalian entah gimana nasib kami." ujar salah satu warga.
"sama-sama paman, bibi, melihat kalian sudah sembuh kami juga ikut senang dan kami juga berterima kasih kalian semua sudah mau percaya pada kamu." Ucap Ceni membungkuk kan kepala nya sedikit.
"Kalau sewaktu-waktu penyakit itu datang lagi kalian bisa gunakan bahan-bahan dapur seperti biasa untuk menyembuhkan nya." Ucap Zeno.
Hal itu pun di angguki oleh para warga.
Salah satu anak kecil perempuan pun mendekati Ceni.
"Jie jie cantik, terimakasih sudah menyembuhkan ku, aku sudah melihat senyum ibu dan ibu tidak nangis lagi, ini kudapan buatan ibu buat jie jie cantik." Ucap gadis kecil berusia 5 tahun sambil menyerahkan satu kotak kecil yg dianyam sedemikian rupa dan di dalam nya berisi kue-kue.
Ceni pun mensejajarkan tubuh nya di hadapan gadis kecil itu.
"Oh imut nya, kenapa kamu menggemaskan sekali." Ucap Ceni mencubit lembut pipi gemoy gadis kecil itu, kulit putih dengan pipi yg kemerahan apabila terkena matahari.
Ceni yg suka anak kecil itu pun tanpa aba-aba menggendong gadis kecil itu lalu menciumi pipi nya dengan gemas.
Gadis kecil itu pun tertawa karena geli sedangkan para warga pun ikut tertawa melihat hal itu.
"Baiklah jie jie terima kue nya, bilang pada ibu mu jie jie mengucapkan terimakasih juga karena sudah di buatkan kue ini." Ucap Ceni sambil mencolek hidung mungil gadis kecil itu.
"Tapi apakah jie jie cantik akan pergi.?" Ucap gadis kecil itu dengan sendu.
"Iya, jie jie harus pergi karena ada sesuatu yg harus jie jie kerjakan." Ucap Ceni.
"Jie jie jangan lupakan Ling Ling." Ucap gadis kecil itu menyebut nama nya sambil menatap mata Ceni dengan mata bulatnya yg berair.
"Oh nama mu Ling Ling, suatu saat jie jie pasti akan kembali ke sini, Ling Ling harus jadi gadis yg baik dan bijak ya." Ucap Ceni lalu tanpa sepengetahuan siapapun ia mengeluarkan satu gaun cantik untuk Ling Ling.
Ceni pun menurunkan tubuh Ling Ling.
"Taraaaa ini untuk Ling Ling dari jie jie." Ucap Ceni memberikan gaun cantik itu.
Mata Ling Ling pun berbinar melihat hal itu.
"Wah gaun cantik terimakasih jie jie." Ucap Ling Ling melompat-lompat riang sambil memamerkan gaun indah nya.
Dari kejauhan ibu nya Ling Ling pun tersenyum melihat anak semata wayangnya di perlakukan baik oleh penyelamat mereka, semenjak suami nya tiada dia hanya hidup berdua bersama putri kecil nya.
"Ini hadiah dari jie jie, temui lah ibu mu." Ucap Ceni menyelipkan sekantong kecil berupa koin emas di tangan Ling Ling agar tak di ketahui orang lain.
Ling Ling pun mengangguk lalu berlari menuju di mana ibu nya berada, tapi sebelum itu Ling Ling pun membungkuk kan tubuh nya pada Ceni lalu berlari pergi menemui ibu nya.
"Tuan kepala desa, Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kami harus pamit undur diri." Ucap Ceni.
"Baiklah hati-hati di jalan nona, tuan muda." Ucap Para warga begitu pula kepala desa.
Ceni pun menaiki kuda nya tapi sebelum itu Ceni pun tersenyum kepada Ling Ling yg saat ini berada di gendongan ibu nya sambil melambaikan tangan nya, Ling Ling pun menangis tapi tak ayal juga melambaikan tangan nya pada Ceni.
Ketiga pun sudah berlalu pergi dengan menunggangi kuda mereka masing-masing.
Seluruh warga pun melambaikan tangan mengantar kepergian Ceni dan kawan-kawan hingga menghilang dari pandangan mereka.
Setelah cukup jauh mereka berkuda Ceni yg tak sengaja menoleh pada Zeno dan Ying Zu pun terkaget-kaget.
"Oh astaga, hahahahaha, bisa-bisa nya aku baru sadar." Ucap Ceni kaget lalu tertawa terbahak-bahak.
"Nona, tolong lah aku." Ucap Ying Zu yg saat ini kerepotan memegang hadiah-hadiah dari para warga yg berupa sayur dan lain sebagainya itu.
Zeno pun demikian.
"Baiklah-baiklah kita berhenti sejenak." Ucap Ceni yg turun dari kuda nya.
"Zeno kau belum tua sudah pikun." Ucap Ceni berkacak pinggang.
"Memang nya apa salah ku.?" Tanya Zeno bingung.
Ceni pun menatap datar Zeno.
"Cincin penyimpanan mu kemana.?" tanya Ceni.
Zeno pun mengerjapkan mata nya lalu sesaat kemudian ia pun menepuk kening nya sambil cengengesan.
"Oh iya aku lupa." Ucap Zeno menggaruk kening nya yg tidak gatal.
Lalu sekejap mata Zeno pun memasukkan semua buah tangan dari para warga ke dalam cincin penyimpanan nya.
"Huh lega nya, beban berkurang, maafkan aku yg pelupa jabrik." Ucap Zeno mengelus kepala jabrik sang kuda.
"Kau punya cincin penyimpanan Tuan Zeno.?" tanya Ying Zu.
"Tentu saja aku punya, cincin ini sudah ada padaku sudah lama." Ucap Zeno.
"Hem, aku juga pengen punya tapi kata kakek cincin penyimpanan untukku akan di berikan ketika aku sudah berumur 18 tahun." ucap Ying Zu lesu.
"Memang nya umur mu berapa Nona Ying Zu.?" tanya Zeno penasaran.
"17 tahun." Ucap Ying Zu.
"Woah masih remaja beranjak dewasa ya ternyata." Ucap Zeno tersenyum nakal.
Ying Zu pun mendelik melihat Tingkah Zeno yg menakutkan Dimata nya.
"Zen, kau menakuti Ying Zu." Ucap Ceni menjitak kening Zeno.
"Auh, kau sungguh kejam nona Ceni." Ucap Zeno mengelus kening nya.
Ying Zu pun menjulurkan lidah nya meledek Zeno yg di marahi Ceni.
Ceni pun menaiki kuda nya begitu pula Ying Zu.
"Eh eh tunggu aku." Teriak Zeno yg di tinggal Ceni dan Ying Zu.
Lalu Zeno pun menaiki kuda nya hendak menyusul Kedua gadis di depan nya yg sudah menjauh.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪