Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Kehamilan Carol yang ganjil.
Matahari bersinar cerah setelah hujan turun hampir disepanjang malam. Seolah hendak mengurai kabut sisa air hujan semalam.
Carol menggeliat di bawah selimut. Tubuhnya terasa berat karena sebuah tangan menimpa perutnya. Seketika tubuh Carol menegang. Refleks dia menyingkap selimut. Benar saja pakaiannya tidak utuh lagi melekat di tubuhnya.
Seketika kejadian semalam melintas di pupil matanya. Astaga! Apa yang telah terjadi semalam. Apakah kami telah melakukannya? Beliak Carol panik. Ditatapnya Zach yang masih tertidur di sampingnya. Dengkuran halusnya seperti deru palu godam menghantam dadanya.
Carol berbalik, memunggungi Zach. Tentu saja garakan kasarnya itu membuat Zach terjaga. Matanya terasa silau karena cahaya matahari yang merembes lewat celah ventilasi.
Zach tersadar kalau dia tidak memakai kemeja. Spontan terduduk dan melihat Carol yang masih bergelung di bawah selimut. Punggung Carol berguncang. Terdengar isak lirih. Zach mengingat kejadian semalam. Dimana dia telah menyatu dengan Carol. Apakah Carol menyesali semuanya?
"Carol?" sebut Zach pelan. Menyentuh bahu Carol yang membelakanginya. "Maafkan aku." ucapnya seraya mengusap rambutnya hingga berantakan. Carol diam tidak merespon.
Diam-diam Zach bangkit dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Carol mendengar suara air dari kamar mandi. Buru-buru dia menghempaskan selimut. Mengenakan pakaiannya. Entah bagaiamana dia akan berhadapan dengan Zach. Dia sangat malu sekali.
Ah, andai saja mimpi buruk itu tidak datang. Tentunya dia dan Zach tidak akan tidur satu kamar. Dan kejadian itu tidak akan terjadi. Entah bagaimana nanti Zach menilainya. Walaupun mereka sudah resmi menikah. Tapi pernikahan itu terjadi hanya karena paksaan ibunya.
'Ah, Mama. Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah mama sudah berubah seperti yang lain. Aku merindukanmu Mama.' desis hati Carol semakin sedih.
Zach keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Carol sudah bangun.
"Aku akan keluar, mencari Om John." ucap Zach kaku. Entah kenapa seolah ada jarak membatasi mereka. Bukan amarah, tapi sesuatu yang sulit untuk diungkapkannya. Terlebih sikap Carol juga yang seolah menghindarinya.
Carol diam saja. Setelah Zach keluar, Carol masuk ke kamar mandi.
Zach mengetuk pintu kamar John. Tidak berapa lama John membukakan pintu. Zach masuk. Dan melihat foto yang berserak di atas tempat tidur.
"Ada apa Om?" Zach melihat lingkaran hitam di mata John. Dia curiga kalau John tidak tidur sepanjang malam.
"Om, tidak bisa tidur. Om dapat informasi dari seseorang kalau sekte yang Om cari sudah berada di kota ini. Bahkan mereka barusan melakukan ritual persembahan."
"Maksud Om, apa?" Zach rada bingung mendengar ucapan John. Niatnya tadi menjumpai John untuk menceritakan apa yang telah terjadi dengannya semalam dengan Carol, jadi urung.
"Bukankah Om pernah cerita. Kalau kota ini menjadi target sekte sesat? Sebuah komunitas yang menjadikan kota ini sebagi basis mereka, untuk mencari darah tumbal? Ternyata semua itu bukan rekaan Om saja. Semua yang diperingatkan dalam mimpi Om, satu persatu mulai terlihat."
"Sekte aliran sesat Eye Black sudah menguasai kota ini penduduknya sudah direkrut jadi anggota."
"Om tau darimana?" Seru Zach merinding. Saat dia memeriksa beberapa lembar foto yang terserak di atas tempat tidur. Di tangannya sebuah foto seorang anak dan Ibu tengah terbaring di atas meja altar.
Apakah foto ini ada hubungannya dengan Om John? Sekelebat ingatan Zach melayang ke kisah yang pernah diceritakan John.
"Om ...." desis Zach serak. "A-apakah yang di dalam foto ini ...." John mengangguk cepat. Sebelum Zach menyelesaikan ucapannya. John sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan Zach. Zach menelan salivanya yang terasa pahit. Bahkan lututnya gemetar. Tubuhnya sedikit oleng.
Zach tidak menyangka kalau cerita tragis John sedemikian mengerikannya. Ini adalah mimpi buruk yang akan dikenang selamanya. Dan bertahun-tahun sudah menghantui pria paruh baya di hadapannya.
"Kita tidak jadi pergi melanjutkan perjalanan. Katakan pada Carol kita akan tinggal untuk sementara waktu." John melirik ke arah Zach. Sesuatu nampak berubah dalam dirinya. Zach mungkin belum menyadarinya. Zach terlihat lebih tua dari usianya.
"Apa sesuatu telah terjadi?" desis John lirih.
"Maksud Om?" Zach memandang refleks pada John.
John menarik nafas panjang. " Antara kamu dan Carol. Om merasakan itu."
Seketika wajah Zach berubah . Antara merah dan pucat, silih berganti. "E-gh, maaf Om, tapi Om tau darimana?" Zach mendadak salah tingkah.
"Separuh dari nyawamu mungkin sudah kamu serahkan. Tubuhmu berubah, Zach. Kamu tampak lebih tua dalam semalam." Zach tersentak! Spontan dia mencari bayang dirinya dalam cermin.
Astaga! Zach tercekat. Apa yang diucapkan John benar. Dia tampak lebih tua beberapa tahun dari usianya. Kok bisa begini? Apakah kejadian semalam yang telah mengubah dirinya. Sehingga membuatnya berubah sedrastis itu. Atau memang perubahan itu sudah terjadi sejak ulah Pak Edward?
"A-aku ternyata bukan diriku yang dulu Om? Kejadian itu telah mengubah diriku?"
"Aaaaakh ....!" teriakan dari kamar sebelah mengejutkan John dan Zach.
"Om, itu suara Carol!" tanpa ba bi bu, Zach melesat ke kamar sebelah. Tubuh Zach menegang seperti patung. Melihat keadaan Carol seperti dirinya juga berubah. Carol tampak seperti berumur dua puluh lima tahun. Dan yang paling membuat Zach shock. Perut Carol terlihat membuncit. Dia terlihat sedang hamil lima bulan.
"Ca-carol?" Zach berjalan perlahan menghampiri Carol yang juga terlihat lebih shock.
"Zach? A-apa yang terjadi dengan tubuhku. Kenapa aku bisa seperti ini?" teriak Carol histeris. Zach memeluk Carol berusaha menenangkannya.
"Maafkan aku. Semua ini salahku." Zach mengusap punggung Carol.
"Kalian sudah ditakdirkan untuk mengalami semua ini, Carol. Mungkin kalianlah yang terpilih untuk menjawab semua kekacauan ini." ucap John setelah melihat keadaan Carol. Dia juga cukup shock. Entah kekuatan apa yang membuat Carol dan Zach berubah dalam semalam.
Tidak masuk logika. Namun, dengan cara apa mencari jawabnya? Kota ini sudah kacau. Dan akan lebih kacau lagi mungkin nanti. Apakah kehamilan Carol yang tidak wajar akan memberi jawaban dari masalah yang terjadi?
"Aku belum siap menjadi seorang Ibu. Terlebih dalam suasana kacau seperti ini. Om, lakukan sesuatu padaku. Aku takut kalau anak yang kukandung ini bukan anak manusia!" sendat Carol terguncang.
"Carol, apapun yang terjadi dia adalah anak kita. Kita tidak tau apa sebenarnya yang akan terjadi. Tapi aku mohon, jangan merencanakan sesuatu hal yang buruk padanya."
"Benar Carol. Kita jalani saja dulu semua ini. Mungkin Tuhan sedang merencanakan sesuatu padamu. Aku keluar dulu. Sepertinya kamu butuh nutrisi yang banyak. Supaya kamu lebih kuat."
Kepada Zach, John berbisik. "Kamu awasi Carol, aku mencari makanan dulu. Sepertinya bayi itu memakannya dari dalam." bisik John saat melihat keadaan Carol semakin kurus dan lemah. Dalam tempo singkat.
Zach membaringkan tubuh Carol di atas tempat tidur. Dia cukup terguncang melihat keadaan Carol. Tapi dia berusaha tenang dan kuat. Karena bagaimanapun semua ini adalah ulahnya. Zach tidak menyangka kalau perbuatannya yang menginginkan Carol, akan mengubah mereka seperti ini.***