"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Menuntut Kejujuran
Sesuai dugaan Mak Gurun, sesuatu yang buruk pun terjadi pada Narti sesaat setelah dia pergi.
Narti yang semula pingsan akibat pukulan di tengkuknya itu tiba-tiba siuman. Sama seperti sebelumnya, setelah siuman Narti kembali menjerit hingga membuat suami dan anaknya panik.
Jika sebelumnya Narti menjerit tanpa alasan yang jelas, kali ini tidak. Narti menjerit karena sesuatu terjadi pada dirinya.
Awalnya Narti yang mulai siuman itu nampak mengerjapkan mata. Dia meringis karena merasa kepalanya berdenyut sakit.
Saat sedang berusaha bangkit, tiba-tiba Narti merasakan sakit dan panas di wajahnya seperti baru saja dipukul dengan sesuatu. Narti mengira itu karena lebam akibat tamparan yang dia lakukan sebelumnya.
"Ssshhh ... kenapa rasanya sakit dan panas kaya abis diolesi cabe gini sih," keluh Narti.
Makin lama Narti merasa sakit dan panas itu kian menjalar dan merata di seluruh permukaan kulit wajahnya. Karena penasaran, Narti mencoba meraba wajahnya.
Sesaat kemudian Narti nampak mengerutkan keningnya. Dia merasa wajahnya basah dan berlendir. Ada sesuatu juga yang bergerak-gerak di sana. Tanpa membuang waktu Narti segera turun dari tempat tidur lalu bergegas mendekati cermin.
Narti tertegun tak percaya melihat wajahnya tak lagi sama seperti sebelumnya. Wajahnya kini bengkak, merah meradang seperti disengat tawon. Dengan perasaan kacau Narti mencoba mendekatkan wajahnya ke cermin agar bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi. Tapi sesaat kemudia Narti justru mundur menjauhi cermin sambil menjerit sekencang-kencangnya setelah mengetahui apa yang dia alami sama persis dengan yang terjadi pada pocong hitam di tengah sawah tadi.
Suara jeritan Narti menarik perhatian suami dan ketiga anaknya yang sedang berada di ruang tengah. Karena khawatir, mereka pun bergegas menghampiri Narti.
Saat tiba di ambang pintu kamar, suami dan ketiga anak Narti terkejut melihat Narti sedang mengamuk, menjerit sambil membuang semua benda yang ada di meja rias. Anak bungsu Narti bahkan menangis karena takut melihat sang ibu yang bertingkah seperti orang kesurupan itu.
Melihat si bungsu menangis, kesabaran suami Narti pun habis. Dia baru saja berhasil menenangkan sang anak setelah seharian menangis mencari Narti. Tapi kini gara-gara ulah Narti, sang anak kembali menangis.
"Kakak, tolong bawa adik-adikmu dulu ya. Bapak mau ngurus ibu sebentar," pinta suami Narti.
"Iya Pak," sahut anak sulung Narti sambil menggendong si bungsu.
Setelah ketiga anaknya menjauh dari kamar, suami Narti pun masuk ke dalam kamar.
"Kamu kenapa lagi Bu?. Emangnya kamu ga capek ya teriak-teriak terus daritadi. Kamu bisa cerita apa yang kamu rasain tapi ga usah teriak-teriak begitu. Ga enak kan didenger tetangga," omel suami Narti sambil meraih benda-benda yang berserakan di lantai.
Omelan suaminya berhasil membuat Narti menghentikan jeritannya. Perlahan Narti menoleh kearah suaminya. Dia menatap pria yang sedang memunggunginya itu dengan tatapan penyesalan.
"Pak ...," panggil Narti.
Suami Narti menoleh dan terkejut melihat wajah sang istri yang tak berbentuk dan berlumuran darah itu. Pria itu refleks membuang benda di tangannya lalu bergegas menghampiri Narti.
"Astaghfirullah aladziim. Kamu kenapa Bu. Kok mukamu bisa hancur begini?!" tanya suami Narti sambil menatap ngeri kearah wajah istrinya.
"Aku ga tau Pak. Aku ... " ucapan Narti terputus karena sang suami memotong cepat.
"Jangan bohong Bu!. Aku udah panggil Mak Gurun tadi. Dia bilang kamu sedang menjalani karma. Setauku, karma terjadi kalo orang melakukan kejahatan. Sekarang jujur, kejahatan apa yang kamu lakukan sampe kamu harus nanggung karma seberat ini?" tanya suami Narti penuh selidik.
Alih-alih menjawab pertanyaan, Narti justru bersimpuh lalu menangis di hadapan suaminya itu.
"Maafin aku Pak. Aku ngaku salah. Ini pasti hukuman atas perbuatan jahatku," kata Narti di sela tangisnya.
"Apa maksudmu Bu, perbuatan jahat apa yang udah kamu lakukan?. Kalo ngomong yang jelas dan jangan bertele-tele Bu!" pinta suami Narti gusar.
Dengan terbata-bata Narti menceritakan apa yang telah dia lakukan kepada Laras. Juga tentang pocong Ginah yang selalu menghantuinya. Suami Narti tak langsung percaya begitu saja mendengar pengakuan istrinya. Dia merasa cerita itu belum lengkap dan masih ada yang Narti sembunyikan entah tentang apa.
"Kalo kamu dihantui dan diludahi pocongnya Bu Ginah itu wajar karena kamu menyakiti anaknya. Tapi yang aku ga ngerti, kenapa kamu harus mengerjai Laras. Emangnya dia salah apa sama kamu?" tanya suami Narti.
"Itu ... aku ga suka aja sama Laras. Mentang-mentang kerja di kota, dia jadi sombong dan sok cantik," sahut Narti gugup.
Suami Narti menghela nafas panjang mendengar jawaban sang istri.
"Setauku Laras udah lama tinggal di kota, jauh sebelum kita menikah. Kalo itu jadi ukuran untuk disebut sombong, kayanya kok aneh ya. Soal sok cantik, menurutku kamu lebih cantik dari dia. Jadi untuk apa kamu ngirim santet ke dia?" tanya suami Narti.
"Udah lah Pak. Kamu ga perlu tau semuanya. Aku cuma minta kamu maafin aku. Titik," sahut Narti.
Suami Narti tersenyum getir mendengar jawaban Narti. Dia yakin yang Narti lakukan berkaitan dengan Burhan.
Suami Narti memang pernah mendengar gosip tentang istrinya yang menjalin hubungan terlarang dengan Burhan, pria berkeluarga yang masih warga desa itu juga. Dia tak percaya begitu saja. Apalagi setelahnya gosip itu memudar dengan sendirinya. Tapi saat gosip itu memudar, sikap istrinya pun kian berbeda, dingin dan kasar. Bahkan kasih sayang Narti terhadap ketiga anak mereka juga mulai luntur. Tak jarang Narti menunjukkan sikap seolah anak-anak itu adalah beban untuknya.
"Sebenernya aku ga mau ngomong ini. Tapi karena kamu terus mengelak, aku terpaksa sampein apa yang mak Gurun bilang tadi. Katanya, penyakitmu ini ga bisa diobati. Jadi sebelum kamu ga bisa ngomong karena penyakit ini menyerang mulutmu, lebih baik kamu jujur sekarang," kata suami Narti kemudian.
Tentu saja ucapan sang suami membuat Narti panik. Tubuhnya menegang, tatapannya pun nanar. Apalagi sesuatu di wajahnya kini bergerak mendekati bibirnya dan itu membuatnya takut.
"Bu ...," panggil suami Narti dengan sabar.
"Iya iya. Aku emang selingkuh sama mas Burhan Pak. Tapi itu juga gara-gara kamu. Kalo kamu bisa menuhin semua keinginanku, aku ga bakal selingkuh sama dia!" kata Narti dengan suara parau.
Ucapan Narti memancing kemarahan suaminya. Pria itu pun menyangkal ucapan Narti.
"Kamu ga usah mengada-ada untuk membenarkan tingkah busukmu itu Bu. Di desa ini semua orang tau gimana sayangnya aku sama kamu dan anak-anak. Aku bahkan rela melakukan apa pun demi kebahagiaan kalian. Kalo kamu masih merasa kurang, itu salahmu karena kamu ga pernah bersyukur. Sekarang coba sebutkan keinginanmu yang mana yang belum aku penuhi. Ayo sebutkan!" tantang suami Narti.
Narti terdiam. Dalam hati dia mengakui, kesalahan yang dia sebut tadi hanya alasan untuk menjatuhkan wibawa suaminya. Saat sang suami melanjutkan kalimatnya, Narti makin tak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya.
"Aku yakin alasanmu mengirimi Laras guna-guna karena kamu takut dia mengatakan apa yang dia saksikan. Pasti dia ngeliat langsung kamu dan Burhan selingkuh di luar sana. Itu sebabnya kamu mengirim santet yang bikin dia sulit menemukan jodohnya. Atau justru Bu Ginah lah yang mergokin kamu selingkuh sama Burhan. Karena dia kenal sama istri Burhan, kalian takut dia akan memberitahu istrinya itu. Iya kan?!" tanya suami Narti dengan lantang.
Runtuh sudah benteng kebohongan yang Narti bangun. Rasa malu sekaligus takut menyelimuti dirinya. Dia tak menyangka suaminya bisa menebak dengan tepat kejahatan apa yang sesungguhnya telah dia lakukan.
Di saat Narti tersudut oleh fakta yang diungkap suaminya, di saat yang sama rasa sakit yang menjalar menggerogoti wajahnya kian hebat. Apalagi di lantai Narti melihat tetesan darah yang diyakininya berasal dari luka di wajahnya.
Dengan tangan gemetar Narti mencoba menyentuh wajahnya. Dia tampak shock mendapati serpihan daging bercampur darah di telapak tangan yang barusan digunakan untuk menyentuh wajahnya sendiri.
Tanpa suara dan tanpa kata, detik berikutnya Narti pun ambruk ke lantai tanpa sempat menjerit lagi.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya