Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Gak mungkin, Dokter. Bayiku gak mungkin meninggal... hiks... hik..."
"Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi bayi Anda sudah meninggal sejak dalam kandungan," ucap dokter penuh penyesalan.
Azelva tidak percaya jika bayinya telah tiada, saat persalinan beberapa jam yang lalu, ia bahkan mendengar dengan jelas tangisan putranya. Lalu, kenapa dokter mengatakan jika bayinya sudah meninggal dalam kandungan?
"Dokter, tolong jangan bohong sama saya. Saya mendengar sendiri dia menangis."
Azelva tetap bersikukuh, ia sangat yakin bayinya baik-baik saja. Sampai akhirnya dokter memberikan surat hasil pemeriksaan bayinya pada Azelva. Di sana tercatat dengan jelas, bayi Azelva meninggal dalam kandungan karena mengalami keracunan air ketuban.
"Saya bisa merasakan kesedihan Anda, Nyonya. Maafkan saya. Tapi saya mengatakan yang sebenarnya," ucap sang dokter. "Mungkin yang Nyonya dengar waktu itu tangisan bayi dari kamar sebelah."
Sebenarnya Azelva masih meragukan ucapan dokter itu, Azelva sangat yakin yang ia dengar saat itu adalah tangisan bayinya. Namun, Azelva tidak mempunyai bukti apa-apa.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘪𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴? 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨."
Walaupun Azelva sangat sedih dan terpukul karena kehilangan bayinya. Tapi ini sudah menjadi takdirnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah.
Azelva tidak bisa menahan rasa sesak di hatinya. Ia meraung sambil memeluk erat bayi kecil yang sudah tak bernyawa dalam dekapannya.
"Kenapa kamu harus tinggalin mama, Nak. Mama tidak punya siapa-siapa lagi sekarang."
Azelva terus menangis meratapi nasibnya yang begitu malang. Setelah mengetahui perselingkuhan suaminya, anaknya adalah harapan Azelva satu-satunya. Tapi sekarang, Tuhan pun sudah mengambil putranya dari hidupnya.
Dengan langkah tertatih, Azelva melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Ia harusnya masih dalam pemulihan setelah melakukan persalinan normal beberapa jam yang lalu. Namun Azelva memaksa ingin mengurus pemakaman bayinya sendiri.
Pihak rumah sakit pun tidak bisa memaksa Azelva untuk tetap tinggal. Setelah menandatangani kesepakatan dengan pihak rumah sakit, Azelva akhirnya diijinkan pulang membawa jenazah bayinya.
Ia sudah tidak menangis lagi. Namun, tatapannya kosong, tidak ada lagi semangat hidup dalam diri Azelva. Kepergian sang putra seolah membawa separuh jiwanya pergi.
"Ssshh..."
"Nak, Kamu gak apa-apa?"
Seorang wanita paruh baya tidak sengaja menabrak Azelva. Wanita itu sangat panik dan khawatir karena Azelva nyaris saja terhuyung. Untung saja suami wanita paruh baya itu lebih dulu menahan tubuh Azelva.
"Maaf Tante, saya tidak sengaja," ucap Azelva penuh sesal. Wanita itu sedikit shock, namun tidak menyalahkan wanita paruh baya itu. Azelva sendiri sadar, dirinyalah yang bersalah karena berjalan sambil melamun.
"Tante yang harusnya minta maaf sama Kamu, Nak." Wanita paruh baya itu menatap Azelva penuh sesal, entah kenapa menatap mata sendu Azelva membuatnya tiba-tiba sedih. Hingga tanpa sadar wanita paruh baya itu pun mengusap surai Azelva.
"Aku gak apa-apa, Tante." Azelva tersenyum hangat pada wanita paruh baya itu. Tatapan lembutnya mengingatkan Azelva pada mendiang sang mama. "𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢.
Mengingat mamanya membuat air mata Azelva kembali menetes. Wanita cantik itu pun buru-buru mengusap air matanya. "Maaf Tante, aku buru-buru."
Azelva hendak meninggalkan tempat itu, namun ucapan wanita paruh baya itu berhasil menghentikan langkahnya. "Nak, apa Kamu sedang ada masalah? Mungkin tante bisa bantu."
Azelva merasa hatinya tiba-tiba menghangat. Kehadiran wanita paruh baya itu membuat Azelva sedikit melupakan kesedihannya. Tatapannya, sentuhannya, dan tutur katanya yang lembut, membuat Azelva merasakan sosok sang mama dalam diri wanita paruh baya itu.
"Bayiku baru saja meninggal, Tante." Azelva mengusap pipi bayi yang terpejam dalam dekapannya. Mata Azelva kembali berkaca-kaca.
Wanita paruh baya itu menatap bayi mungil dalam dekapan Azelva. Tanpa diduga, wanita itu tiba-tiba memeluk Azelva. Ia bisa merasakan kesedihan wanita cantik itu. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
"Sabar ya, Nak. Tuhan pasti akan menggantinya suatu hari nanti."
...----------------...
Sementara itu di tempat lain, Zidan dan Venya baru saja kembali setelah melakukan pemeriksaan kandungan. Zidan membawa Venya ke rumah yang selama ini di tempatinya bersama Azelva.
"Mas, apa gak apa-apa Kamu ngajak aku ke sini?Kalau Azel tambah marah, gimana?" Tanya Venya sedikit takut. Pasalnya, Azelva baru saja memergokinya berselingkuh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Azelva jika mengetahui keberadaan dirinya di rumahnya.
"Kamu gak usah pikirin itu. Yang terpenting adalah kesehatan anak kita," ucap Zidan sambil mengusap perut Venya. "Soal Azel, biar mas yang urus."
Sebenarnya Zidan terpaksa membawa Venya ke rumahnya. Zidan tidak bisa membiarkan Venya tinggal sendirian di kontrakannya. Apalagi dengan kondisinya saat ini.
Venya nyaris saja mengalami keguguran. Untung saja Zidan tidak terlambat membawanya ke rumah sakit.
"Baiklah." Venya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah memastikan kenyamanan Venya, Zidan berniat untuk mencari Azelva. Ia ingin memastikan keadaan Azelva. Walau bagaimanapun juga, Azelva adalah istrinya.
"Kalau begitu, Kamu istirahat. Mas mau cari Azel dulu." Zidan mulai beranjak, namun Venya mencekal tangannya.
"Mas, tunggu. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Venya. Wanita itu terlihat sedikit khawatir.
"Katakan!"
Zidan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kembali duduk di samping Venya. Keduanya sama-sama duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Sekarang Azel sudah tahu semuanya. Bagaimana kalau dia minta Kamu pisah sama aku, Mas?"
Venya sangat tahu sifat Azelva. Walaupun Azelva sangat lembut dan baik hati, namun di balik sifatnya itu, Azelva sangat keras kepala. Dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.
Venya sangat takut jika Azelva meminta Zidan untuk meninggalkannya. Venya tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apalagi ada anak kita."
Ucapan Zidan itu tidak sepenuhnya membuat Venya lega. Wanita itu masih merasa khawatir. Walau bagaimanapun juga, Azelva memiliki kekuasaan.
Zidan memeluk tubuh ringkih Venya, wanita yang selama ini selalu menemaninya. Zidan sangat mencintai Venya, walaupun saat ini statusnya sebagai suami Azelva.
Keduanya hampir saja menikah, namun impian keduanya harus gagal karena papanya Azelva meminta Zidan untuk menikahi putrinya. Walaupun begitu, Zidan tidak pernah melepaskan Venya. Keduanya tetap menjalin hubungan di belakang Azelva.
"Tapi Mas, Azel pasti tidak akan tinggal diam." Venya sudah bersahabat dengan Azelva selama bertahun-tahun. Selain keras kepala, Azelva juga selalu nekad melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
"Kamu jangan khawatir, kalau dia berani nyakitin Kamu, Mas gak akan segan-segan menceraikannya."
Venya diam-diam tersenyum smirk dalam dekapan Zidan. Wajahnya terlihat menyeringai puas. Itulah tujuannya.
"Mulai sekarang, Kamu jangan pernah mengkhawatirkan apa pun. Kamu cukup percaya saja sama Mas."
Tanpa keduanya sadari, seseorang berdiri dengan tangan terkepal di balik pintu. Ia mendengar semua percakapan kedua orang itu dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
"𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
bagus pak arjuna gercepdibandingin anaknya
ayo segera kita sambut si regina 👏
ayo Zola cepet cerita jgn byk mikir 🤣