Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Udara seolah membeku, meski uap nasi goreng buatan Bunda masih mengepul hangat. Araluna turun dengan langkah riang, mengenakan seragam kampusnya, namun langkahnya melambat saat melihat Bunda yang biasanya sibuk menyapa dengan senyum manis, kini hanya diam mematung menatap piring di depannya.
"Pagi, Bun..." sapa Luna sambil mencoba memeluk bahu Bunda dari belakang seperti biasanya.
Namun, reaksi Bunda sungguh di luar dugaan. Bunda sedikit menghindar, bangkit dari kursinya dengan gerakan kaku, lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan yang sebenarnya sudah bersih.
Luna tertegun di tempatnya. "Bunda kok pergi? Bunda kenapa? Aku ada salah sama bunda ya?"
Bunda tetap diam. Suara gemericik air wastafel seolah menjadi satu-satunya jawaban. Tidak ada sahutan "Pagi, Sayang" atau "Ayo makan yang banyak". Bunda benar-benar menutup rapat mulutnya, namun punggungnya yang tegang menunjukkan bahwa beliau sedang menahan badai emosi yang luar biasa.
"Bun, aku berang—" Kalimat Luna terputus saat Bunda tiba-tiba mematikan keran dengan sentakan keras dan berjalan melewati Luna tanpa menoleh sedikit pun.
Luna menatap punggung Bunda yang menghilang ke arah dapur belakang dengan perasaan campur aduk. "Kok bunda aneh sih. Kenapa coba!" gerutu Luna pelan, hatinya mulai merasa tidak enak.
Tatapan Maut untuk Sang Singa Kaku
Tak lama kemudian, Arsen turun. Ia tampil rapi dengan kemeja flanelnya, wajahnya tetap kaku seperti biasa, namun matanya langsung mencari keberadaan Luna. Saat Arsen sampai di ruang makan, Bunda kembali masuk untuk mengambil serbet.
Saat melewati Arsen, Bunda berhenti sejenak. Beliau memberikan tatapan seram luar biasa. Itu bukan sekadar tatapan marah, melainkan tatapan yang penuh dengan kekecewaan mendalam, luka, dan peringatan yang sangat tajam. Seolah-olah melalui mata itu, Bunda bicara: "Aku tahu apa yang kamu lakukan pada putriku semalam."
Arsen yang biasanya tak tergoyahkan oleh siapa pun, mendadak membeku. Sifat kakunya berubah menjadi kegelisahan yang nyata. Ia menelan ludah paksa, merasakan aura dingin yang memancar dari Bunda.
"Pagi, Bun," sapa Arsen dengan suara yang sedikit bergetar.
Bunda tidak menjawab. Beliau hanya menatap Arsen selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam, lalu melengos pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Begitu mereka sudah berada di dalam mobil (atau motor) untuk berangkat ke kampus, Luna langsung meledak. Ia tidak bisa lagi menahan rasa herannya.
"Kak, bunda aneh hari ini. Dia nyuekin gue," adu Luna sambil meremas tali tasnya. "Dia nggak mau liat muka gue, nggak mau jawab sapaan gue. Apa karena gue sering pulang malem? Atau karena gue ngerjain Clarissa kemarin?"
Arsen terdiam, jemarinya meremas setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia masih teringat jelas tatapan Bunda tadi—tatapan seorang ibu yang hatinya hancur karena melihat sesuatu yang terlarang.
"Mungkin Bunda cuma lagi capek, Lun," jawab Arsen pendek, mencoba kembali ke mode tenangnya meski dadanya bergemuruh hebat.
"Enggak, Kak! Tadi pas lo lewat, Bunda liatin lo kayak mau nerkam lo idup-idup! Serem banget, gue aja yang liat sampe merinding," lanjut Luna lagi. Ia menoleh ke arah Arsen, matanya mulai berkaca-kaca karena takut. "Jangan-jangan... Bunda tau?"
Mendengar kata-kata itu, Arsen langsung menginjak rem dengan mendadak, membuat tubuh mereka terdorong ke depan.
"Jangan ngomong sembarangan, Araluna!" bentak Arsen, suaranya berat dan penuh kecemasan.
"Ya abisnya kenapa?! Bunda nggak pernah kayak gitu sebelumnya!" suara Luna meninggi, ia mulai terisak kecil. "Gue nggak mau Bunda benci sama gue, Kak. Gue lebih baik dibenci seluruh dunia daripada Bunda yang diem kayak gitu..."
Arsen menarik napas panjang, ia mencoba menenangkan diri. Ia merengkuh bahu Luna, menarik gadis itu ke dalam pelukannya di tengah kesunyian perjalanan mereka. Sifat kakunya seolah runtuh oleh rasa bersalah yang amat sangat.
"Dengerin gue. Apapun yang terjadi, gue yang bakal hadapin Bunda. Kalau emang Bunda tahu, gue yang bakal disalahin, bukan lo. Lo tetep anak kesayangan dia," bisik Arsen, bibirnya mencium pelipis Luna dengan lembut namun penuh ketakutan.
Di dalam kendaraan itu, di sela-sela keberangkatan menuju kampus, mereka menyadari bahwa masa-masa "aman" mereka telah berakhir. Diamnya Bunda adalah ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan Papa Arga. Bunda sedang mengumpulkan kekuatan, dan mereka tahu, cepat atau lambat, rahasia di balik pintu kamar itu akan meledak dan menghancurkan keluarga ini menjadi kepingan tak tersisa.