NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSEMBUNYIAN — ANTARA HIDUP DAN MATI

Mobil Leo melaju tanpa lampu, membelah jalan gelap seperti bayangan yang menolak dilihat dunia.

Hujan mulai mereda, menyisakan kabut tipis yang menggantung rendah. Ban berhenti di balik pintu baja tersembunyi di balik gudang tua yang tampak seperti bangunan terbengkalai. Tak ada tanda kehidupan. Tak ada cahaya.

Namun ketika pintu besi terbuka perlahan, lorong bawah tanah menyala redup.

Leo mengangkat tubuh Elisabet dengan kedua tangannya. Tubuh itu terasa terlalu ringan—pertanda betapa banyak darah telah meninggalkannya. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak stabil.

“Stay with me, Elisabet… just hold on,” bisik Leo dengan suara pecah.

Ia membaringkan Elisabet di atas ranjang medis darurat.

Dalam hitungan detik, beberapa orang berpakaian alat medis lengkap masuk cepat. Masker, sarung tangan, lampu operasi portabel dinyalakan. Suasana berubah menjadi ruang operasi darurat.

“Tekanan darah turun!”

“Pulse lemah!”

“Siapkan transfusi!”

Gunting memotong pakaian Elisabet. Darah mengalir di seprai putih.

Salah satu tenaga medis menatap layar monitor dengan wajah tegang.

“Nona Elisabet kehilangan terlalu banyak darah,” katanya serius.

“Peluru bersarang di bahu dan perut. Kondisinya critical.”

Leo berdiri kaku di sudut ruangan, rahangnya mengeras, tangan terkepal sampai urat menonjol.

“Selamatkan dia,” katanya rendah, penuh tekanan.

“Whatever it takes.”

Para medis mulai bekerja.

Pisau bedah berkilat. Darah dibersihkan. Peluru dikeluarkan perlahan. Jahitan dilakukan dengan tangan cepat dan presisi. Mesin monitor berbunyi ritmis namun tidak stabil.

Waktu terasa berjalan lambat.

Setiap detik terasa seperti satu jam.

JEJAK PALSU

Setelah memastikan tim medis bekerja penuh, Leo meninggalkan ruangan.

Wajahnya berubah dingin—mode lama kembali aktif.

Ia kembali ke lokasi kecelakaan.

Asap masih mengepul. Bau bensin dan logam terbakar memenuhi udara. Api sudah mulai padam, menyisakan rangka mobil hangus.

Leo membuka bagasi mobilnya.

Di dalamnya—sebuah jasad terbakar parah, sulit dikenali. Wajahnya rusak, tubuhnya nyaris tak berbentuk. Identifikasi visual hampir mustahil.

Dengan gerakan cepat dan terlatih, Leo menempatkan jasad itu di dekat puing kendaraan, mengatur posisi seolah korban terlempar saat ledakan.

Ia menyebarkan serpihan barang pribadi—potongan kain, sepatu, serpihan tas—semua agar terlihat convincing.

“Perfect,” gumamnya pelan.

Ia memastikan tidak ada kamera, tidak ada saksi.

Setelah semuanya tampak alami, Leo pergi sebelum fajar benar-benar naik.

...----------------...

Tak lama kemudian, suara kendaraan mendekat.

Lampu-lampu menyapu area jurang.

Marceliina datang bersama anak buahnya.

Mereka menyisir lokasi, menuruni lereng dengan senter, mencari sisa jasad.

“Di sini!” teriak salah satu anak buah.

Sebuah tubuh hangus tergeletak di antara bebatuan.

Marceliina mendekat perlahan. Tumit sepatunya menginjak tanah basah. Ia menatap jasad itu lama, matanya menyipit lalu tersenyum.

Senyum puas. Menang.

“Akhirnya,” gumamnya.

“Dulu kau lolos dari kematian… kami mencarimu bertahun-tahun dan tak pernah menemukanmu. Tapi tiba-tiba kau muncul lagi.”

Ia berjongkok, menatap wajah yang tak lagi bisa dikenali.

“Pilihan bodoh, Elisabet. You should never come back.”

Suaranya berubah tajam.

“Kau seharusnya mati bersama ayahmu yang bodoh itu… yang memberikan sembilan puluh persen warisan padamu. Padaku? Hanya sepuluh persen.”

Ia tertawa pendek, penuh racun.

“Tidak masuk akal.”

Ia berdiri, membalikkan badan.

“Kuburkan semuanya. Pastikan tidak ada sisa.”

Marceliina melangkah pergi dengan langkah ringan, yakin kemenangan telah berada di tangannya.

Game over, pikirnya.

PENYESALAN SEORANG PENJAGA

Di saat yang sama, Leo menerima pesan di ponselnya.

STATUS: ELISABET — CRITICAL.

Langkahnya terhenti.

Wajahnya menegang. Matanya memerah, bukan karena marah—melainkan rasa bersalah yang menghantam keras.

Ia berbalik cepat menuju ruang medis.

Pintu terbuka.

Elisabet terbaring pucat, dipenuhi perban, selang infus terpasang di kedua lengannya. Monitor berdetak pelan.

Leo berdiri di sisi ranjang.

Tubuh besar itu perlahan merunduk.

“Nona…” suaranya bergetar.

“Maafkan aku. Aku gagal menjagamu… lagi.”

Tangannya yang kasar menyentuh sisi ranjang, ragu menyentuh tubuh Elisabet.

“Padahal ayahmu… Tuan Jonatan Santoso… sudah memberi perintah padaku.”

Napasnya tertahan.

“‘Lindungi putri kecilku… apa pun yang terjadi.’”

Satu tetes air mata jatuh di lantai.

Leo duduk di kursi di samping ranjang, tidak bergerak.

Ia menekan tombol interkom.

“Lockdown area,” perintahnya dingin.

“Perketat keamanan. No one moves. Tidak ada yang keluar masuk tanpa izinku.”

“Siap, Boss.”

Leo menatap Elisabet lama.

“Bangunlah, Nona,” bisiknya.

“Perang ini belum selesai.”

Lampu ruang medis redup.

Di balik dinding baja itu, waktu menunggu dengan napas tertahan.

BATAM — DI ANTARA PELURU, LAUT, DAN NAMA YANG DICINTAI

Angin laut menghantam wajah Armand seperti cambukan dingin.

Asap mesiu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau karat pelabuhan dan air asin yang menusuk hidung. Lampu-lampu dermaga berkedip samar, menciptakan bayangan panjang di aspal basah. Di kejauhan, sirene melolong seperti binatang terluka.

Armand berlari.

Langkahnya berat. Setiap hentakan kaki mengirimkan rasa nyeri dari paha hingga tulang rusuk. Darah hangat mengalir dari balik jaketnya, menetes membentuk garis merah di tanah.

Di tangan kirinya, ia menggenggam tas kecil kedap air.

Isinya bukan emas. Bukan uang.

Isinya kebenaran.

Potongan data yang bisa meruntuhkan pejabat, jaringan kriminal, proyek gelap, dan organisasi bayangan yang selama ini bersembunyi di balik nama pembangunan dan keamanan.

Namun baru seperempat.

Sisanya telah ia pecah, sembunyikan, dan kunci dengan jalur yang hanya ia pahami.

Kalau ia mati, dunia tidak akan langsung bersih.

Tapi setidaknya… racun ini tidak jatuh ke tangan yang salah.

“Ke arah pelabuhan! Jangan biarkan dia keluar zona!” teriak seseorang dari belakang.

DOR!

DOR!

Peluru menghantam kontainer di samping kepala Armand. Serpihan besi beterbangan, menyayat pipinya. Ia tidak menjerit. Ia hanya menggertakkan gigi dan melompat ke balik bayangan.

Napasnya tersengal.

Setiap tarikan udara terasa seperti menghirup kaca pecah.

Ia menekan luka di perutnya. Darah merembes di sela jarinya.

Tubuhnya mulai melemah.

Tapi pikirannya justru melayang jauh.

Elisabet.

Wajah istrinya muncul di benaknya tatapan keras kepala itu, cara ia selalu menahan emosi tapi tidak pernah menyerah, senyum kecil yang hanya muncul saat bersama anak-anak.

Sejak bandara, mereka tidak berani saling menghubungi.

Satu sinyal bisa berarti kematian.

Satu pesan bisa menjadi umpan.

Namun tiba-tiba, dada Armand terasa nyeri bukan karena luka.

Seperti ada tali yang menarik jantungnya.

Firasat.

Buruk.

“Aku harap kau aman, sayang…” bisiknya lirih sambil kembali berlari.

Peluru kembali berdesing melewati telinganya.

Ia melompat, berguling, hampir jatuh lalu berdiri lagi dengan napas patah-patah.

Namun langkahnya terhenti mendadak.

Di depan tebing.

Di bawah laut gelap bergejolak, ombak menghantam batu seperti gigi raksasa yang lapar.

Angin bertiup lebih kencang.

Dingin.

Sunyi.

Kecuali suara langkah di belakangnya.

Mereka muncul dari segala arah.

Belasan pria bersenjata, membentuk lingkaran kematian. Lampu senter dan titik laser merah menempel di dada dan wajah Armand.

Satu peluru lagi menghantam bahunya.

Ia terhuyung, hampir jatuh berlutut.

Namun ia memaksa tubuhnya tetap berdiri.

Lalu seseorang melangkah keluar dari kerumunan.

Langkahnya santai. Senyumnya familiar.

Terlalu familiar.

“Sudah lama, Ketua.”

Suara itu membuat rahang Armand mengeras.

“Damar.”

Nama itu keluar seperti racun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!