Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Hasil Tes yang Menghancurkan
Aku menghabiskan seminggu terakhir di sebuah rumah petak sempit di pinggiran kota. Uang tabungan pribadiku yang tak seberapa mulai menipis, tapi anehnya, harga diriku terasa jauh lebih penuh daripada saat aku masih tinggal di mansion Dirgantara yang megah itu. Namun, ketenangan yang kupaksakan itu hancur berantakan saat sebuah pesan masuk dari Mas Fikar. Bukan kata maaf yang kuterima, melainkan sebuah dokumen PDF dengan pesan singkat yang dingin: "Hasil tes DNA prenatal sudah keluar. Aku ingin kamu melihatnya sebelum aku mengambil keputusan besar."
Tanganku gemetar hebat saat mengunduh file tersebut. Di sudut hati kecilku yang paling naif, aku masih saja berdoa pada sebuah keajaiban. Aku berharap ini semua hanya tipu daya Clara yang licik, bahwa Mas Fikar tidak pernah benar-benar mengkhianatiku sejauh itu. Namun, saat dokumen itu terbuka, mataku terpaku pada baris kesimpulan di bagian bawah yang seolah mencemooh harapanku.
Probability of Paternity: 99.9%.
Duniaku terasa berputar hebat. Aku ambruk begitu saja ke lantai semen yang dingin, ponselku terlepas dari genggaman dan terlempar ke sudut ruangan. Jadi, semuanya nyata. Malam mabuk yang selalu ia sebut sebagai ketidaksengajaan itu telah membuahkan nyawa. Ada bagian dari diri Mas Fikar yang kini tumbuh di rahim wanita lain, wanita yang paling membenciku di dunia ini.
Rasa mual yang amat sangat menghantam dadaku. Aku berlari ke kamar mandi kecil yang pengap dan memuntahkan seluruh isi perutku hingga yang tersisa hanya cairan bening yang pahit. Aku menangis hingga suaraku habis, hingga tenggorokanku terasa seperti terbakar api. Bagaimana mungkin dia memintaku untuk tetap tinggal? Bagaimana mungkin dia menyematkan cincin di jariku sementara ia tahu ada tanggung jawab sebesar ini yang ia tanam di luar sana?
Tiba-tiba, pintu rumah petakku digedor dengan keras. Aku menghapus air mata dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa martabatku, lalu membukanya. Mas Fikar berdiri di sana. Penampilannya jauh lebih hancur dari terakhir kali kami bertemu. Matanya cekung dan merah, bajunya kusut masai, dan aroma alkohol tercium tipis dari tubuhnya.
"Kamu sudah lihat?" tanyanya dengan suara serak yang hampir pecah.
"Pergi, Mas," jawabku datar. Aku tidak ingin lagi berteriak. Aku terlalu lelah, terlalu hampa untuk sekadar marah.
"Kiki, aku tidak tahu harus bagaimana," ia mencoba merangsek masuk, namun aku menahan pintu dengan bahuku sekuat tenaga. "Ibu sudah tahu. Ibu sangat bahagia. Dia bahkan sudah menyiapkan kamar bayi di rumah. Dia menekanku untuk segera menceraikanmu agar Clara bisa menempati posisinya. Tapi aku tidak mencintai dia, Kiki! Aku mencintaimu!"
Aku tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat mengerikan di telingaku sendiri. "Kamu mencintaiku, tapi kamu memberikan cucu pada ibumu melalui rahim wanita lain? Kamu mencintaiku, tapi kamu membiarkan aku menjadi bahan tertawaan dunia? Cinta macam apa itu, Mas?"
"Aku akan memberikan uang pada Clara, aku akan membiayai anak itu sampai besar, tapi aku tidak akan menikahinya. Tolong, tetaplah bersamaku. Kita bisa melewati ini semua," ia memohon, air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar dan tak terurus.
"Melewati ini? Bagaimana caranya?" Aku menatapnya dengan pandangan kosong, merasa seolah pria di depanku ini adalah orang asing. "Setiap kali aku melihat wajahmu, aku akan teringat anak itu. Setiap kali kamu pulang terlambat, aku akan berpikir kamu sedang bersama mereka. Pernikahan kita sudah menjadi neraka, Mas. Dan aku tidak ingin terbakar lebih lama lagi di dalamnya."
"Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu, Kiki! Kontrak itu... kontrak itu adalah kesalahan terbesar karena membuatku terlambat menyadari perasaanku. Jangan hukum aku sekejam ini," ia jatuh berlutut di depanku, memeluk kakiku erat seperti pria yang sedang sekarat dan memohon satu embusan napas lagi.
Aku menatap puncak kepalanya dengan rasa iba yang bercampur dengan rasa muak yang getir. "Dulu, aku bertahan karena aku pikir kamu adalah rumahku. Sekarang aku sadar, rumah itu sudah runtuh sejak malam kamu bersama Clara. Kamu bukan lagi suamiku, Mas. Kamu adalah ayah dari anak wanita lain. Dan tempatmu bukan di sini, di kaki wanita yang sudah kamu hancurkan, tapi di samping bayi yang akan lahir itu."
Aku melepaskan pelukannya dengan paksa dan menutup pintu rapat-rapat. Aku memutar kunci, lalu bersandar di balik pintu sambil menutup telingaku rapat-rapat karena Mas Fikar mulai berteriak dan memukul-mukul pintu dari luar dengan kalap.
"Kiki! Buka! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku seperti ini!"
Suara pukulannya perlahan melemah, berubah menjadi isakan yang memilukan di balik kayu pintu. Di dalam kegelapan rumah petak itu, aku meringkuk seperti janin di lantai. Hasil tes itu bukan hanya membuktikan siapa ayah dari bayi Clara, tapi juga membuktikan bahwa harapan apa pun yang tersisa untuk pernikahanku telah mati total. Hari ini, aku bukan hanya kehilangan suami, aku kehilangan kepercayaanku pada keadilan hidup.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.