NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Ide yang Menyakitkan

Pagi setelah badai itu datang dengan suasana yang canggung. Matahari yang cerah di luar sana seolah mengejek kesuraman yang menyelimuti meja makan keluarga Fandy. Biasanya, pagi adalah waktu paling riuh; Syauqi yang sibuk mencari kaos kaki, Syabila yang mengulang hafalan surah untuk sekolah, dan Fandy yang menyesap kopi sambil memuji masakan Nida. Namun hari ini, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti suara dentang lonceng kematian yang diredam. Fandy duduk dengan kaku, matanya merah menunjukkan ia tak tidur semalaman, sementara Nida hanya mengaduk-aduk buburnya tanpa niat untuk menelan.

"Mas, hari ini ada rapat koordinasi di kantor?" Nida mencoba memecah keheningan, suaranya parau, mencoba mencari jejak normalitas di tengah reruntuhan hati mereka.

Fandy tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit hentakan. "Aku sudah bilang, aku cuti. Aku akan membawamu ke rumah sakit lain untuk second opinion. Aku tidak percaya dengan satu hasil laboratorium saja," jawabnya tanpa menatap mata Nida. Nada bicaranya dingin, sebuah benteng pertahanan yang ia bangun untuk menahan rasa sakit dan amarah yang masih meluap-luap.

"Mas, hasil itu sudah divalidasi oleh tiga dokter berbeda," Nida menyahut lirih, mencoba membawa Fandy kembali ke bumi kenyataan yang pahit. "Kita tidak punya banyak waktu untuk menyangkal. Kita harus mulai menata apa yang akan terjadi setelah aku... tidak ada."

Fandy mendadak berdiri, membuat kursi makannya berderit nyaring. Syabila dan Syauqi yang sedang memakai sepatu di dekat pintu masuk langsung menoleh dengan wajah ketakutan. "Cukup, Nida! Berhenti bicara seolah-olah kamu sudah memesan liang lahatmu sendiri! Berhenti bicara tentang pengganti, tentang istri baru, seolah pernikahan kita ini hanya kontrak kerja yang bisa dialihkan!"

Nida terdiam, hatinya seperti diiris sembilu melihat kemarahan Fandy, namun ia tahu ia harus tetap teguh. "Ini bukan soal menggantikan posisiku di hatimu, Mas. Ini soal memastikan ada tangan yang akan membelai Syauqi saat dia demam, ada telinga yang akan mendengar curhatan Syabila saat dia menghadapi masa pubernya. Kamu tidak akan bisa melakukan itu semua sendirian dengan jadwal kantormu yang padat."

Sebelum Fandy sempat membalas, bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan masuklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor yang tampak terlalu berlebihan untuk waktu sepagi itu. Di belakangnya, mengekor seorang wanita muda dengan gaun modis yang membalut tubuh rampingnya. Ibu Fandy, Mama Rosa, datang bersama Anita Sasmira.

"Nida! Ya ampun, Mama dengar dari Fandy kamu sakit maag parah? Kok masih pucat begini?" Mama Rosa masuk tanpa permisi, suaranya memenuhi ruangan. Ia langsung duduk di meja makan, sementara Anita berdiri di sampingnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Iya, Tante. Aku dengar Kak Nida drop lagi ya? Makanya aku ajak Mama ke sini, biar bisa bantu-bantu lihat kondisi rumah," ujar Anita dengan nada manis yang dibuat-buat. Matanya berkeliling ke penjuru ruang makan, seolah sedang menginspeksi aset yang mungkin sebentar lagi akan kehilangan tuannya.

Fandy tampak tidak nyaman dengan kehadiran mereka. "Mama, Nida hanya butuh istirahat. Tidak perlu repot-repot datang pagi-pagi begini."

Mama Rosa mendengus. "Repot bagaimana? Kamu itu CEO, Fandy. Kamu sibuk urus proyek triliunan. Nida sakit, rumah berantakan, anak-anak tidak ada yang urus. Anita ini kebetulan sedang luang, dia bisa bantu mengantar Syabila sekolah atau menemani Nida ke dokter."

Nida merasakan mual yang bukan berasal dari penyakitnya, melainkan dari sandiwara yang sedang berlangsung di depannya. Ia melihat bagaimana Anita mencoba mendekati Syauqi, namun bocah itu justru menjauh dan memilih bersembunyi di belakang kursi Nida. Anita tampak mendelik kesal sekejap sebelum kembali memasang wajah prihatin.

"Nida, kamu jangan terlalu keras bekerja di penerbitan itu. Lihat hasilnya, kamu jadi kurus begini," Mama Rosa melanjutkan, nadanya terdengar seperti perhatian namun isinya adalah kritikan. "Perempuan itu tugas utamanya menjaga rumah. Kalau sudah begini, kan Fandy juga yang susah."

Nida menarik napas dalam. Ia menatap Anita, lalu beralih ke suaminya. Inilah ketakutan terbesarnya yang mulai mengambil wujud nyata. Jika ia tidak segera bertindak, Mama Rosa akan dengan mudah mendorong Anita masuk ke dalam kehidupan Fandy saat pertahanan pria itu runtuh karena duka. Anita bukan sekadar ingin menjadi istri, dia ingin menjadi ratu di istana yang telah Nida bangun dengan susah payah. Nida tahu, Anita memiliki gaya hidup mewah yang seringkali menabrak prinsip-prinsip kesederhanaan yang ia ajarkan pada anak-anaknya.

"Terima kasih atas perhatiannya, Ma. Tapi Nida sudah punya rencana sendiri," ucap Nida dengan suara yang mulai stabil. Ia menatap Fandy dengan pandangan penuh permohonan, seolah berkata: Lihatlah, Mas. Inilah yang akan terjadi jika aku tidak mencarikanmu seseorang yang tepat.

Setelah Mama Rosa dan Anita pulang—setelah Anita sempat meninggalkan parfumnya yang menyengat di ruang tamu—Fandy dan Nida kembali terkurung dalam kesunyian. Fandy tampak gusar. Ia menyadari apa yang coba dilakukan ibunya, namun ia terlalu lelah untuk berdebat.

"Mas, kamu lihat sendiri kan?" Nida memulai lagi saat mereka hanya berdua di ruang tengah. "Mama ingin kamu bersama Anita. Dan kamu tahu betul Anita bukan orang yang tepat untuk membesarkan anak-anak kita secara islami. Dia hanya peduli pada statusmu."

Fandy mengacak rambutnya frustrasi. "Lalu apa maumu, Nida? Kamu mau aku setuju dengan idemu yang menyakitkan itu? Kamu mau aku mulai berkencan dengan wanita-wanita pilihannmu saat kamu masih bernapas di sampingku? Kamu ingin aku menjadi pengkhianat?"

"Ini bukan pengkhianatan, Mas. Ini adalah wasiat hidup. Aku ingin kita menyeleksi calon itu bersama. Aku ingin melihat dengan mataku sendiri bahwa wanita itu bisa mencintai anak-anak kita. Jika aku sudah melihatnya, aku bisa pergi dengan tenang. Aku bisa menghadap Allah tanpa beban karena meninggalkan harta titipan-Nya di tangan yang salah."

Ide itu terasa seperti duri yang semakin dalam menusuk jantung Fandy. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Nida adalah sebuah penolakan terhadap cinta mereka yang telah bertahan selama lima belas tahun. Fandy tidak mengerti bagaimana seorang istri bisa begitu tenang merencanakan pernikahan suaminya dengan wanita lain.

"Kamu terlalu logis, Nida. Kamu memperlakukan cinta kita seperti naskah buku yang bisa kamu edit sesukamu!" Fandy berdiri, air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku mencintaimu, bukan karena kamu ibu dari anak-anakku, tapi karena kamu adalah jiwaku. Kamu minta aku mencari ibu untuk mereka? Baiklah, aku bisa cari pengasuh. Tapi jangan minta aku mencari istri. Karena tempat itu sudah terkunci, dan kuncinya akan aku bawa ke liang lahat bersamamu."

Nida bangkit, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk panggulnya. Ia memeluk Fandy dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung suaminya yang kokoh. "Tapi surga butuh penjaga di dunia, Mas. Syabila akan menjadi wanita, dia butuh teladan. Syauqi butuh doa ibu yang tulus setiap sujudnya. Kalau bukan aku, harus ada orang lain yang melakukan itu untuk mereka. Kumohon, Mas... jangan biarkan egomu mengalahkan masa depan iman anak-anak kita."

Fandy terdiam. Pelukan Nida terasa sangat dingin, sebuah pengingat bahwa raga itu perlahan sedang memudar. Di kejauhan, ia mendengar suara tawa anak-anaknya yang kembali dari sekolah. Suara itu adalah pengingat bahwa hidup memang harus terus berjalan, meski matahari di hatinya sedang bersiap untuk terbenam selamanya.

"Beri aku waktu, Nida," bisik Fandy akhirnya, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menyerah pada takdir yang paling kejam.

Nida melepaskan pelukannya. Ia tahu, ia telah memenangkan satu pertempuran kecil, namun perang yang sesungguhnya—perang melawan rasa cemburunya sendiri dan perang melawan maut—baru saja dimulai. Ide yang menyakitkan itu kini telah ditanam, dan Nida akan memastikannya tumbuh menjadi sebuah perlindungan, meski ia harus menyiraminya dengan air mata setiap hari. Malam itu, untuk pertama kalinya, Nida mulai menulis sebuah daftar di buku catatan kecilnya. Bukan daftar rencana promosi buku, melainkan daftar kriteria bagi wanita yang akan mengambil alih surganya di bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!