Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 - percikan pertama
Pagi di Sekte Batu Awan terasa berbeda.
Kabut tipis bergulung di atas lapangan latihan, menutupi tanah basah dan batu tua. Burung-burung belum bernyanyi. Angin dingin menggesek wajah murid luar yang sudah bangun, tapi satu figur tetap berjalan tenang di tengah kabut: Qing Lin.
Ia membawa pedang kayu dan kapak kecil, seperti biasa. Tubuhnya sedikit lebih tegar, langkahnya lebih mantap. Tidak ada aura bersinar, tidak ada energi terlihat. Hanya seorang pemuda polos, yang dunia Sekte Batu Awan anggap “tidak akan tumbuh”.
Namun Sutra Darah Sunyi di dalam dirinya mulai berbicara lebih keras.
“Pelan… tapi pasti,” gumamnya, menekan denyutan dalam tubuhnya.
Qing Lin duduk di atas batu yang basah oleh embun, menarik napas panjang, menutup mata, dan memusatkan perhatian. Malam-malam sebelumnya ia sudah menguji batasnya, menahan aliran Sutra Darah Sunyi, menyerap energi dari ancaman dan makhluk iblis. Kini, saatnya mencoba memadatkan inti pertama dalam tubuhnya.
Sutra Darah Sunyi berdenyut di dalam, perlahan, seperti aliran darah yang menyesuaikan ritme jantung.
Qing Lin mengatur napasnya: tarik, tahan, hembuskan.
Tarik… Qi tipis di tubuhnya mulai terkumpul.
Tahan… energi halus menyebar ke seluruh anggota tubuh, mengisi celah yang sebelumnya kosong.
Hembuskan… Sutra Darah Sunyi merespons, perlahan memadat, membentuk inti kecil di dalam dada, nyaris tak terlihat oleh mata manusia biasa.
Tubuhnya bergetar lembut, sensasi hangat namun berat mengalir melalui tulang dan ototnya. Ini adalah pertumbuhan pertama yang nyata—tidak dramatis, tidak memancarkan cahaya, tapi terasa lebih nyata daripada apapun sebelumnya.
Qing Lin membuka mata. Tangannya gemetar sedikit, namun senyumnya tipis.
“Ini… pertama kalinya tubuhku… merasa berbeda.”
Ia bangkit. Kapak di tangan terasa lebih ringan, langkahnya lebih mantap, dan luka-luka kecil dari hari-hari sebelumnya terasa sembuh sempurna.
Di sisi lain lapangan, murid luar lain mulai memperhatikannya.
Beberapa masih menatap dengan rasa iri. Beberapa lain menatap dengan ketakutan samar. Tidak ada yang bisa memahami apa yang baru saja terjadi, tapi mereka merasakan perubahan halus dalam gerakannya—sedikit lebih cepat, sedikit lebih kuat, sedikit lebih stabil.
Seorang murid dalam tingkat rendah, Zhao Ming, muncul di tepi lapangan. Matanya menyorot tajam.
“Ini… apa?” gumamnya. Pedangnya masih tergantung santai di pinggang, namun aura Qing Lin membuatnya sedikit gelisah. “Ia… berbeda dari sebelumnya…”
Qing Lin sendiri tetap diam. Ia tidak ingin menarik perhatian. Ia hanya ingin menyelesaikan latihan paginya, menyesuaikan diri dengan energi baru dalam tubuhnya.
Di Aula Batu Tengah, penatua Gu Yan menerima laporan dari Liang He.
“Zona Labirin Batu—murid luar Qing Lin keluar lebih cepat dari perkiraan, tanpa luka serius. Beberapa murid luar lain mencoba menantangnya, namun tidak ada pertarungan serius. Tubuhnya tampak lebih tangguh.”
Gu Yan mengerutkan kening. “Lebih tangguh?”
Ia menutup mata sejenak. Dengan teknik pengamatan tingkat tinggi, ia bisa merasakan gumpalan Qi padat yang belum pernah muncul di murid luar tanpa akar spiritual.
“Jika dibiarkan,” gumamnya pelan, “ia akan menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan.”
Penatua Shen di sampingnya mengangguk. “Namun untuk saat ini, tidak ada tanda bahaya langsung. Ia masih polos, tidak ada niat menyerang.”
Gu Yan menatap gulungan catatan. Ia mencatat dengan tinta merah. “Pantau terus. Ini… awal.”
Kembali ke Qing Lin.
Malam harinya, ia duduk di atas batu besar di tepi jurang kecil dekat Sekte. Kabut menutupi sebagian tanah dan batu, memberikan rasa sunyi yang sempurna untuk meditasi.
Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan inti Sutra Darah Sunyi yang baru terbentuk. Denyutannya lembut tapi nyata, menyalurkan energi ke seluruh tubuh. Otot-otot terasa lebih padat, sendi lebih lentur, dan refleksnya terasa lebih tajam.
“Aku… merasa berbeda,” gumamnya pelan. “Tapi aku… tidak ingin melangkah terlalu jauh.”
Ini adalah inti pertama. Dalam sistem kultivasi Sekte Batu Awan, level resmi ditentukan oleh kemampuan menyerap, mengatur, dan memadatkan Qi dalam tubuh.
Level Dasar – Qi Tipis: energi mengalir, tidak stabil, mudah tercerai.
Level Awal – Inti Qi: energi mulai memadat, bisa meningkatkan kemampuan fisik, refleks, dan daya tahan.
Level Menengah dan seterusnya: energi padat, bisa digunakan untuk teknik spesial, serangan, atau pertahanan.
Qing Lin baru saja mencapai batas pertama Level Dasar menuju Level Awal, namun caranya berbeda. Tidak ada aura bersinar. Tidak ada cahaya biru atau hijau. Hanya tubuhnya yang terasa… lebih nyata.
Keesokan harinya, murid luar yang sebelumnya mengejeknya mulai menghindari Qing Lin. Beberapa mencoba berbicara, tapi ia tetap diam, menunduk, atau berjalan ke arahnya tanpa sengaja.
Sutra Darah Sunyi dalam tubuhnya menyerap energi halus dari ketegangan lawan, tidak menyakiti, hanya menyesuaikan diri. Ini adalah pertumbuhan pasif, namun nyata.
Di lapangan latihan, murid dalam tingkat awal mulai memperhatikannya. Zhao Ming yang dulu agresif kini menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada ketakutan samar, ada rasa penasaran, dan yang paling jelas—respek yang tidak diinginkan.
Qing Lin sendiri tetap polos. Ia tidak peduli pada pujian atau takut. Satu-satunya fokusnya adalah mengendalikan Sutra Darah Sunyi, memastikan energi tidak keluar tanpa izin, dan tetap menjaga prinsipnya: tidak menyerang tanpa alasan.
Malam berikutnya, di Aula Batu Tengah, penatua Gu Yan dan Shen berdiskusi.
“Qi tipis itu… sudah padat,” kata Gu Yan. “Levelnya harus dicatat resmi. Ini… pertama kalinya dalam sejarah sekte kita, murid luar tanpa akar spiritual mencapai ini.”
Shen menatapnya serius. “Ia masih polos. Itu berbahaya. Jika ia tersakiti atau terprovokasi, potensi energi itu bisa meledak.”
Gu Yan mengangguk. “Pantau terus. Jangan biarkan ia melangkah terlalu jauh sebelum waktunya. Namun juga… jangan menghalanginya sepenuhnya. Kita perlu tahu batasnya.”
Qing Lin, di kamarnya, duduk bersila. Tangannya di atas lutut, mata tertutup, napas stabil. Sutra Darah Sunyi berdenyut, menyebar ke seluruh tubuhnya.
Ia menatap inti dalam hatinya, merasakan garis pertama yang terbentuk.
“Aku… baru memulai,” bisiknya. “Pelan… tapi pasti. Tanpa membunuh, tanpa menyerang… hanya bertahan.”
Dalam keheningan malam, Sutra Darah Sunyi berdenyut. Tidak lagi tipis. Tidak lagi hanya mengikuti napas. Ia mulai memandu tubuhnya, memberikan rasa, batas, dan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ada.
Qing Lin tersenyum tipis, tidak sombong. Ia masih polos. Ia masih ingin hidup sederhana.
Namun dunia telah memperhatikannya. Murid luar mulai takut, murid dalam mulai waspada, dan penatua… mulai menghitungnya sebagai variabel baru dalam sistem Sekte Batu Awan.