Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Malam benar-benar turun ketika mereka masih duduk di tempat yang sama.
Pantai yang tadi berwarna oranye lembut kini berubah menjadi hamparan gelap dengan garis putih ombak yang muncul lalu lenyap, berulang, tanpa tergesa. Angin laut makin dingin, menyusup ke sela-sela pakaian, membawa aroma asin yang lebih tajam.
Cherrin menarik napas panjang.
Ia masih memeluk lututnya, dagu bertumpu di atasnya. Rambutnya kini tidak lagi rapi—helaian-helaian kecil terlepas, bergerak mengikuti angin. Tapi ia tidak peduli.
Zivaniel duduk di sampingnya, sedikit lebih ke belakang, satu tangan bertumpu di pasir, satu lagi tergeletak santai di pahanya. Pandangannya lurus ke laut, tapi pikirannya jelas tidak sesederhana itu.
Sunyi kembali turun.
Bukan sunyi yang canggung.
Lebih seperti sunyi yang sengaja dipelihara.
“Dingin?” tanya Zivaniel akhirnya.
Cherrin menggeleng. “Enggak.”
Itu bohong kecil. Tapi Zivaniel tidak menyinggungnya.
Ia melepas jaket yang tadi dikenakannya, lalu meletakkannya perlahan di bahu Cherrin tanpa berkata apa-apa. Gerakannya sederhana, nyaris otomatis.
Cherrin terdiam.
Ia tidak menolak. Tidak juga mengucapkan terima kasih.
Ia hanya menarik jaket itu sedikit lebih rapat, dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, tubuhnya condong ke arah Zivaniel—sangat sedikit, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat lengan mereka bersentuhan.
Zivaniel merasakannya.
Ia tidak bergerak.
“Aneh ya,” kata Cherrin pelan.
“Apa?”
“Kita jarang ngomong banyak. Tapi aku nggak ngerasa kosong kalau sama kamu.”
Zivaniel tersenyum tipis. “Karena kamu nggak sendirian.”
Cherrin menghembuskan napas kecil. “Kamu tuh selalu bilang hal yang bikin orang berhenti debat.”
“Itu bukan tujuan aku.”
“Terus apa?”
“Biar kamu denger diri kamu sendiri.”
Cherrin menoleh, menatapnya. “Dan kamu?”
Zivaniel menoleh balik. Tatapan mereka bertemu, lalu bertahan.
“Aku udah denger diri aku dari dulu,” jawabnya. “Makanya aku jarang ribut.”
Cherrin mengangguk pelan. “Pantesan.”
Beberapa saat kemudian, Cherrin berdiri, berjalan beberapa langkah ke arah air. Ia melepas sandal, membiarkan kakinya menyentuh pasir yang lebih dingin dan lembap.
Ombak kecil menyentuh ujung kakinya.
Ia tersenyum kecil.
Zivaniel mengawasinya dari belakang, tidak ikut mendekat. Ia tahu, momen seperti itu lebih baik dibiarkan utuh—tanpa gangguan.
Cherrin menoleh. “Kamu nggak nyusul?”
“Di sini aja.”
“Kenapa?”
“Biar kamu punya ruang.”
Cherrin terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia kembali menatap laut, kali ini lebih lama.
“Aku takut,” katanya tiba-tiba.
Zivaniel langsung menegakkan punggungnya. “Kenapa?”
“Karena aku nyaman.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.
“Orang biasanya takut sama yang bikin sakit,” lanjut Cherrin. “Aku malah takut sama yang bikin aku ngerasa… aman.” Cherrin terkekeh kecil.
Zivaniel bangkit, berjalan mendekat, tapi tetap menjaga jarak. Ia berdiri di samping Cherrin, bukan di depannya.
“Aman itu bukan jebakan,” katanya.
“Kadang iya.”
“Kalau sama aku?”
Cherrin menoleh. “Aku belum tahu.”
Zivaniel mengangguk. “Nggak apa-apa.”
Angin kembali berembus lebih kencang.
Dan tepat di sela-sela hening itu—
Ponsel Zivaniel bergetar.
Satu kali.
Ia mengernyit, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. Layar menyala, menampilkan satu nama yang membuat bahunya sedikit menegang.
Kakek.
Cherrin melihat perubahan itu tanpa perlu bertanya.
“Kamu nggak angkat?” tanyanya pelan.
Zivaniel menatap layar beberapa detik terlalu lama.
Lalu ia mengangkat panggilan itu.
“Iya, Kek.”
Suara di seberang tidak terdengar oleh Cherrin, tapi dari cara rahang Zivaniel mengeras, ia tahu ini bukan percakapan ringan.
“Iya… aku lagi di luar.”
Jeda.
“Sekarang?”
Jeda lebih panjang.
Zivaniel menarik napas perlahan. “Aku ngerti.”
Cherrin melangkah satu langkah lebih dekat, mencoba menangkap potongan percakapan dari ekspresi Zivaniel.
“Iya,” lanjut Zivaniel. “Aku pulang.”
Ia mematikan panggilan.
Beberapa detik berlalu.
Hanya suara ombak.
“Kakek nelpon kamu?” tanya Cherrin akhirnya.
Zivaniel mengangguk. “Iya.”
“Kenapa?”
“Dia minta aku pulang sekarang.”
Nada suara Zivaniel datar, tapi Cherrin menangkap sesuatu yang lain di sana—ketegangan yang ditahan.
“Sekarang?” ulang Cherrin.
“Iya.”
Cherrin menatap laut lagi. “Berarti… kita harus pergi.”
Zivaniel tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit yang kini benar-benar gelap, hanya tersisa beberapa bintang yang muncul malu-malu.
“Kalau aku bilang kita bisa nunggu sebentar?” katanya.
Cherrin menoleh cepat. “Kamu serius?”
“Serius.”
“Tapi kakek kamu—”
“Aku tahu.”
Cherrin menggigit bibir bawahnya. Ada konflik kecil di wajahnya—antara ingin bertahan dan tidak ingin merepotkan.
“Aku nggak mau kamu ribut sama keluarga gara-gara aku,” katanya pelan.
Zivaniel menatapnya. “Ini bukan gara-gara kamu.”
“Terus?”
“Ini cuma waktunya aja yang nggak pernah sinkron.”
Cherrin terdiam.
Ia tahu rasanya itu.
“Kita harus pulang, aku nggak mau kamu kena marah sama kakek” katanya akhirnya.
Zivaniel mengangguk. “Iya.”
“Tapi…”
“Tapi apa?”
Cherrin menatap pasir. “Aku pengen duduk sebentar lagi. Emm boleh?”
Zivaniel tersenyum kecil. “Kita duduk lima menit.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka kembali duduk.
Kali ini lebih dekat.
Bahu mereka bersentuhan, dan tidak ada yang menarik diri.
“Niel..” panggil Cherrin pelan.
“Hmm?”
Angin kembali berhembus, lebih dingin. Cherrin merapatkan jaket, dan Zivaniel reflek merapikan bagian bahunya yang miring.
Gerakan kecil.
Tapi penuh makna.
“Aku nggak mau kamu pergi dengan pikiran berat,” kata Cherrin.
Zivaniel menoleh. “Kamu?”
“Aku juga.”
Mereka saling menatap.
Tidak ada kata besar.
Tidak ada janji.
Hanya kesadaran bahwa malam ini bukan akhir, tapi juga bukan awal yang sederhana.
“Kalau aku pulang,” kata Zivaniel pelan, “kamu bakal mikir aku jahat ke kamu?”
Cherrin menggeleng. “Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bilang ‘pulang’. Bukan ‘pergi’.”
Zivaniel terdiam.
Ia tersenyum, kali ini lebih nyata.
“Pintar,” gumamnya.
Cherrin terkekeh kecil. “Aku belajar dari kamu.”
Lima menit berlalu tanpa terasa.
Zivaniel berdiri lebih dulu. “Kita jalan.”
Cherrin ikut berdiri, menepuk pasir dari pakaiannya.
Mereka berjalan kembali ke mobil, langkah mereka seirama, meski tidak saling menggenggam.
Di depan mobil, Zivaniel membuka pintu untuk Cherrin.
“Terima kasih,” kata Cherrin pelan.
Zivaniel mengangguk. “Sama-sama.”
Mesin mobil menyala.
Lampu depan menerangi jalan sempit yang membawa mereka keluar dari pantai itu.
Cherrin menoleh ke belakang sekali lagi, melihat laut yang kini hanya bayangan gelap.
“Kita bakal ke sini lagi kan?” tanyanya.
Zivaniel menatap jalan. “Kalau kamu mau.”
Cherrin tersenyum lebar. “Jelas aku mau.”