Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 28
Malam di Desa Wushan terasa jauh lebih panjang dan sunyi bagi Raja Yan Liao. Di dalam kamar penginapan yang hanya diterangi oleh nyala lilin yang temaram dan sesekali berdansa ditiup angin malam, sang Raja duduk termenung di tepi ranjang yang keras. Di sampingnya, Permaisuri Bai Ling Yin setia mendampingi, jemarinya yang halus sesekali merapikan jubah sang suami yang tampak kusut, seiring dengan benak Yan Liao yang terus tertuju pada sosok mendiang Pendekar Lu Zhin Ji.
Rasa bersalah itu menghimpit dadanya seberat gunung. Sepuluh tahun ia menikmati kedamaian takhta, namun baru sekarang ia mengetahui identitas asli sang pahlawan yang telah menukar nyawa demi keselamatan kerajaan.
"Bagaimana aku bisa memberikan penghargaan yang pantas untuknya, Permaisuri?" tanya Yan Liao dengan suara rendah yang bergetar oleh emosi. "Dia telah tiada, menyatu dengan tanah ini tanpa pernah meminta imbalan. Memberikan gelar anumerta saja terasa sangat kering dan hambar jika dibandingkan dengan penderitaan yang harus ditanggung keluarganya selama satu dekade ini. Namun, perjalanan kita menuju Kota Chuwei terlalu mendadak. Aku bahkan tidak membawa piagam emas atau tanda kehormatan resmi dari istana."
Bai Ling Yin menggenggam tangan suaminya dengan erat, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia miliki. "Penghargaan yang paling tulus tidak selalu datang dalam bentuk benda atau kertas berstempel, Paduka. Benda bisa lapuk dan emas bisa dicuri. Berikanlah sesuatu yang menjamin masa depan garis keturunannya secara permanen. Itulah cara terbaik untuk menghormati seorang pendekar yang telah memberikan nyawanya demi keberlangsungan takhta Anda."
Yan Liao terdiam. Ia memutar otak hingga larut malam, menimbang setiap risiko dan konsekuensi politik yang mungkin timbul. Hingga akhirnya, matanya berkilat tajam saat ia menemukan sebuah keputusan besar yang ia anggap paling adil bagi keluarga Lu, sekaligus sebuah strategi brilian untuk stabilitas hubungan kerajaan dengan faksi pendekar rimba persilatan.
Keesokan harinya, suasana di penginapan Desa Wushan mendadak sibuk dan tegang. Namun, sebuah kejutan besar terjadi ketika sosok tua dengan wibawa yang luar biasa melangkah memasuki ruang utama. Ia adalah Lu Dong, sang Pemimpin Perguruan Bukit Hijau sekaligus kakek dari Lu Ying. Meskipun usianya sudah menyentuh tujuh puluh tahun, langkah kakinya masih terasa sangat mantap. Setiap injakan kakinya di lantai kayu seolah mengirimkan getaran tenaga dalam yang murni, ciri khas seorang Pendekar Tingkat Guru yang memiliki fondasi energi yang sangat matang.
Menariknya, meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa Raja Yan Liao berada di ruangan tersebut, Lu Dong tidak langsung menghadap sang penguasa. Pandangannya lurus, tujuannya hanya satu: ia datang untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Dewi Kematian, sang penyelamat yang setahun lalu telah mencegah kepunahan keluarga besarnya dari serangan musuh misterius.
Mengetahui bahwa Lu Dong datang khusus mencarinya, Cao Yi segera bertindak. Di dalam kamarnya, ia melepaskan aura manusianya sepenuhnya. Dalam sekejap, kornea matanya berubah menjadi merah darah yang menyala mengerikan, dan kabut hitam yang membawa hawa dingin mulai menyelimuti sosoknya yang ramping. Saat ia turun menapaki tangga kayu penginapan, suasana seolah membeku; bahkan debu yang beterbangan pun tampak berhenti di udara karena tekanan aura yang luar biasa.
Begitu sosok Dewi Kematian terlihat di ujung tangga, Lu Dong, yang merupakan seorang pendekar tingkat tinggi yang disegani, langsung menangkupkan tangan dan membungkuk sangat dalam hingga tubuhnya hampir sejajar dengan lantai.
"Hamba, Lu Dong, pemimpin Perguruan Bukit Hijau, memberikan hormat yang setinggi tingginya kepada sang Dewi. Tanpa bantuan Anda setahun lalu, nisan di desa ini pasti akan bertambah berkali kali lipat. Nyawa keluarga kami adalah hutang yang tidak akan pernah lunas kepada Anda," ucap Lu Dong dengan nada penuh ketulusan.
Pemandangan ini sungguh ironis dan menjadi tamparan halus bagi otoritas kerajaan. Di hadapan Lu Dong, Raja Yan Liao berdiri dengan pakaian agungnya, namun Lu Dong sama sekali tidak memberikan gestur hormat yang sama. Bagi Lu Dong dan orang orang di Bukit Hijau, Raja adalah simbol pemerintahan yang jauh dan sering kali melupakan rakyat di perbatasan, sementara Dewi Kematian adalah simbol keadilan nyata yang hadir di saat maut menjemput.
Sikap kaku dan dingin Lu Dong mulai mencair hanya setelah Cao Yi, dalam wujud Dewi Kematian, berbicara dengan suara yang bergema dan mengguncang batin siapa pun yang mendengarnya.
"Tetua Lu, bangkitlah. Ketahuilah bahwa Raja di hadapanmu ini bukanlah orang yang tidak tahu budi. Selama sepuluh tahun, ia mencari pahlawan tanpa namanya tanpa hasil karena sumpah rahasia yang dijaga ketat oleh putramu sendiri. Jangan biarkan dendam atau kekecewaan membutakanmu dari niat tulus yang ia bawa hari ini ke Desa Wushan."
Mendengar penjelasan dari sosok yang ia dewakan itu, Lu Dong akhirnya menoleh ke arah Yan Liao dengan tatapan yang sedikit melunak. Ia tersadar bahwa putranya, Lu Zhin Ji, memang tipe pria yang sangat keras kepala dan tidak ingin keluarganya terseret dalam pusaran intrik istana yang kotor, sehingga merahasiakan identitas setelah menolong Raja adalah pilihan pribadi yang sangat dipegang teguh oleh sang putra hingga ajal menjemput.
Melihat celah diplomasi itu terbuka, Raja Yan Liao segera melangkah maju. Dengan suara yang lantang, penuh wibawa, dan tanpa keraguan sedikit pun, ia mengumumkan keputusannya yang mengejutkan semua orang.
“Demi menghormati jasa kepahlawanan Pendekar Lu Zhin Ji yang luar biasa bagi Kerajaan Liungyi, aku, Raja Yan Liao, secara resmi mengumumkan penghargaan tertinggi bagi keluarganya!” Yan Liao menarik napas dalam, memantapkan suaranya agar terdengar ke seluruh penjuru penginapan. “Aku memutuskan untuk meminang Lu Ying, putri dari pahlawan kami, untuk menjadi Selir Utama kerajaan. Ia tidak hanya akan menjadi pendampingku, tetapi juga akan memegang kunci otoritas tertinggi atas para selir lainnya jika nanti istana telah terisi. Kedudukannya akan berada tepat di bawah Permaisuri sebagai pemimpin urusan dalam istana. Namun untuk saat ini, Nona Lu Ying adalah selir pertamaku, pemegang kehormatan keluarga Lu di jantung kerajaan!”
Keheningan total seketika menyelimuti ruangan. Lu Ying membelalakkan mata, wajahnya yang cantik berubah pucat lalu memerah seketika. Jantungnya berdegup kencang antara rasa terkejut, bingung, dan beban tanggung jawab yang tiba tiba jatuh ke pundaknya. Lu Dong sendiri terpaku di tempatnya berdiri, tidak menyangka bahwa cucunya akan diangkat ke posisi yang begitu tinggi dalam hierarki kerajaan, sebuah posisi yang secara otomatis mengangkat derajat seluruh Perguruan Bukit Hijau menjadi sekte yang dilindungi langsung oleh takhta.
Bahkan Cao Yi, yang masih berada dalam wujud Dewi Kematian yang dingin dan tak tersentuh, tanpa sadar sedikit melirik ke arah kakak angkatnya itu. Di balik tatapan matanya yang merah darah, ia mengirimkan transmisi suara atau gumaman batin yang sangat kecil yang hanya bisa didengar oleh telinga batin sang Raja.
“Dasar hidung belang... alasan saja bilang ingin membalas jasa kepahlawanan Pendekar Lu yang gugur! Kenapa tidak bilang dengan jujur saja kalau kamu memang terpikat sejak pertama kali melihat kecantikan Nona Lu Ying dan ingin memiliki selir yang bisa bela diri?”
Yan Liao hanya bisa berdehem kecil secara formal, berusaha tetap terlihat serius dan berwibawa meski ia tahu adik angkatnya itu sedang menyindir dan menelanjangi motif pribadinya habis habisan melalui batin. Namun bagi Yan Liao, ini adalah langkah politik sekaligus pribadi yang sempurna; ia mendapatkan pengikut setia dari kalangan pendekar tangguh, sekaligus memastikan masa depan keluarga Lu berada di puncak kemuliaan yang tak tergoyahkan.