Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi Modal Nekat
Angin pegunungan yang dingin menusuk tulang kargo Genta yang sudah compang-camping. Di sekeliling mereka hanya ada barisan pohon karet yang berdiri kaku seperti tentara yang sedang dihukum jemur. Mobil pick-up Sarah sekarang tak lebih dari sebongkah logam berasap yang menjadi monumen pelarian mereka. Genta menatap sepatu boot-nya yang kini solnya mulai menganga sebuah pengingat bahwa status [NOL ] tidak otomatis memperbaiki nasib finansialnya.
"Jadi, rencana besar kita sekarang adalah jalan kaki sampai Jakarta?" Genta bertanya sambil mencoba mengganjal sol sepatunya dengan karet gelang yang dia temukan di tanah. "Kaki saya ini didesain untuk berdiri di dalam lift yang bergerak, Ki. Bukan untuk mendaki gunung lewati lembah kayak ninja hatori."
"Sabar, Genta. Di depan sana ada desa kecil. Biasanya ada pangkalan ojek atau truk pengangkut hasil bumi," ujar Aki sambil tetap melangkah dengan ritme yang stabil. "Yang penting sekarang adalah bagaimana kita tidak terlihat mencolok. Wajah kita mungkin sudah ada di setiap layar CCTV yang masih berfungsi."
Sarah, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mendengus frustrasi. "Sinyal seluler masih berantakan. Internet cuma bisa buat buka gambar kucing, itu pun butuh waktu lima menit. Tapi ada satu hal yang menarik; pasar gelap digital sedang ramai membicarakan 'Hujan Emas' di Jakarta Barat. Sepertinya sistem distribusi kekayaan benar-benar pecah gara-gara kamu, Genta."
"Hujan emas? Maksudnya orang jadi kaya mendadak?"
"Bukan kaya lagi. Bayangkan orang yang tadinya saldo ATM-nya cuma sepuluh ribu, tiba-tiba berubah jadi sepuluh miliar karena kesalahan database. Tapi di sisi lain, ada miliarder yang tiba-tiba datanya terhapus dan dianggap sebagai pengemis oleh sistem keamanan rumahnya sendiri. Kekacauan total," jelas Sarah.
Setelah berjalan sekitar dua kilometer, mereka sampai di sebuah gubuk kayu yang di depannya terparkir sebuah kendaraan yang membuat mata Genta berbinar: sebuah mobil jeep tua tahun 80-an yang catnya sudah mengelupas tapi mesinnya terlihat masih kokoh. Di samping jeep itu, seorang pria paruh baya dengan topi caping sedang asyik memperbaiki radio butut.
"Itu tiket kita," bisik Genta. "Biar saya yang bicara. Saya punya pengalaman diplomasi dengan orang-orang yang marah karena lift macet."
Genta mendekati pria itu dengan senyum paling ramah yang ia miliki. "Permisi, Pak. Bagus bener jeep-nya. Dijual nggak?"
Pria itu mendongak, menatap Genta dari bawah sampai atas. "Dijual? Ini jantung saya, Mas. Tanpa jeep ini, saya nggak bisa bawa karet ke kota. Lagipula, Mas ini siapa? Kok bajunya kayak habis digebukin massa?"
Genta tertawa canggung. "Oh, ini... tadi kami habis ikut syuting film aksi di hutan sana, Pak. Propertinya meledak beneran, jadi kami terlantar. Namanya juga totalitas."
Aki dan Sarah hanya bisa menepuk jidat di belakang.
"Begini, Pak," Genta melanjutkan, otaknya bekerja cepat. "Radio Bapak itu mati ya? Saya lihat kabel antenanya korsleting karena embun. Saya ini teknisi. Kalau saya benerin radio Bapak sampai bisa dengerin siaran luar negeri, boleh nggak kami sewa jeep-nya sampai ke Bogor?"
Pria itu ragu. "Beneran bisa benerin? Ini radio peninggalan bapak saya. Sudah sepuluh tahun cuma bisa dengerin suara kresek-kresek."
Genta mengambil obeng kecil dari saku celananya. Tanpa bantuan remote yang memang sudah jadi abu Genta mulai membongkar radio itu. Tangannya bergerak lincah. Dia membersihkan kerak tembaga, menyambung kembali sirkuit yang putus, dan mengatur ulang posisi transistornya. Di dalam pikirannya, dia tidak lagi melihat kabel, tapi dia merasakan alur energinya. Sejak bersentuhan dengan The Shifter, Genta merasa insting teknisinya meningkat tajam.
KLIK.
Tiba-tiba, suara musik dangdut yang jernih keluar dari speaker radio tua itu. Pria pemilik gubuk itu melongo. Dia segera memutar-mutar tombol tuning, dan tak lama kemudian terdengar suara penyiar berita dari BBC London.
"Luar biasa! Mas ini dukun elektronik ya?" seru si bapak kegirangan.
"Bukan dukun, Pak. Cuma teknisi lift yang lagi salah jalan," jawab Genta bangga.
Akhirnya, dengan modal memperbaiki radio dan uang seratus ribu yang Genta temukan di sakunya tadi, mereka berhasil meminjam jeep tua itu. Sarah mengambil alih kemudi karena dia yang paling tahu jalan-jalan tikus menuju Jakarta Selatan.
"Genta, tindakanmu tadi... itu murni keahlianmu sendiri," ujar Aki saat mereka mulai melaju di jalanan berbatu. "Status [NOL] milikmu bekerja dengan cara yang unik. Karena kamu tidak punya 'takdir keberuntungan', alam semesta tidak bisa menghalangimu dengan 'kebetulan buruk' saat kamu sedang berusaha. Kamu baru saja menciptakan keberuntunganmu sendiri lewat usaha."
"Rasanya lebih capek daripada pencet tombol Execute, Ki," keluh Genta, tapi ada senyum puas di wajahnya.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Saat mereka memasuki perbatasan Bogor, langit tiba-tiba berubah gelap dengan cepat lebih cepat dari rotasi bumi yang normal. Awan hitam berkumpul membentuk pusaran tepat di atas jalan raya.
"Ada yang tidak beres," Sarah mengerem jeep-nya. "Sistem sedang mencoba melakukan 'Local Quarantine'. Mereka tahu kita bergerak ke arah selatan."
Dari balik awan hitam, muncul tiga buah drone raksasa berbentuk seperti mata manusia dengan lensa merah besar yang berpendar. Drone itu tidak menembak, tapi mereka memancarkan gelombang suara frekuensi rendah yang membuat kaca jeep bergetar hebat.
"Itu 'The Observers'!" teriak Aki. "Mereka tidak akan menyerang fisik, tapi mereka akan mencoba 'Menulis Ulang' persepsi orang-orang di sekitar kita. Lihat!"
Genta melihat ke arah pinggir jalan. Beberapa warga desa yang tadi sedang beraktivitas normal, tiba-tiba berhenti. Mata mereka berubah menjadi putih polos. Mereka serentak menoleh ke arah jeep Genta dengan gerakan kaku.
"Target terdeteksi... Subjek Berbahaya... Hentikan mereka..." suara itu keluar secara kolektif dari mulut warga desa yang terhipnotis oleh sinyal drone.
"Waduh! Sekarang kita jadi musuh publik beneran!" Genta panik saat melihat warga mulai mengambil batu dan kayu, bersiap mengepung jeep mereka.
"Sarah, jangan tabrak mereka! Mereka cuma orang biasa yang dikendalikan!" teriak Genta.
"Aku tahu! Tapi kalau kita nggak lewat, kita bakal dikeroyok satu kecamatan!" Sarah mencoba mencari celah, tapi warga sudah menutup jalan dengan bambu-bambu runcing.
Genta melihat ke arah dashboard jeep tua itu. Di sana ada sebuah pemantik api (lighter) dan botol parfum mobil yang isinya alkohol tinggi. Sebuah ide gila muncul di kepalanya—ide yang sangat teknis.
"Aki, punya kabel sisa di tas?" tanya Genta cepat.
"Ada, buat apa?"
"Saya mau bikin 'Sinyal Balik'! Kalau drone itu pakai frekuensi suara buat kendalikan orang, kita harus bikin suara yang lebih berisik tapi dengan frekuensi yang berlawanan!"
Genta dengan cepat membongkar speaker radio di dashboard jeep. Dia menyambungkan kabel busi mobil langsung ke koil speaker, menciptakan sebuah sirkuit pendek yang terkontrol. Dia meminta Sarah untuk terus menginjak gas dalam posisi gigi netral agar putaran mesin (RPM) tinggi menghasilkan daya listrik maksimal.
"Sarah, injak gasnya! Aki, bantu saya pegang botol parfum ini di depan speaker!"
Saat mesin jeep meraung keras, Genta memicu percikan api di depan speaker yang sudah dimodifikasi. Suara yang dihasilkan bukan lagi suara mesin, melainkan pekikan statis yang sangat nyaring hingga membuat telinga mereka sendiri berdenging. Gelombang suara itu bertabrakan dengan sinyal dari drone di langit.
ZAPPP!
Terjadi distorsi udara di sekitar jeep. Warga yang tadi kaku tiba-tiba memegangi kepala mereka dan sadar kembali. Drone-drone di langit mulai goyah, lensanya berkedip-kedip kacau karena interferensi frekuensi yang dibuat Genta.
"Berhasil! Lari, Sarah!"
Sarah langsung mengoper gigi dan memacu jeep tua itu menerjang barikade bambu. Mereka melesat keluar dari kepungan tepat sebelum drone-drone itu meledak sendiri karena overheat.
"Genta... kamu baru saja melakukan 'Jumper' pada frekuensi kesadaran manusia," ujar Aki dengan nada tak percaya. "Tanpa remote, kamu malah jadi lebih berbahaya."
"Saya cuma nggak mau dipukulin warga, Ki. Itu motivasi paling kuat di dunia," jawab Genta sambil berusaha memasang kembali dashboard yang sudah ia berantakkan.
Saat mereka menjauh dari perbatasan, Genta melihat ke arah cermin spion. Dia melihat kartu nama transparan di sakunya menyala lebih terang. Alamat "Lantai 0" itu kini mengeluarkan titik koordinat GPS yang sangat presisi.
"Tujuan kita tinggal dua puluh kilometer lagi," kata Sarah. "Tapi jangan senang dulu. Lantai Nol itu berada di bawah sebuah mal tua yang kabarnya sudah lama jadi tempat pembuangan 'Glitch' oleh Konsorsium. Di sana, hukum fisika mungkin sudah tidak berlaku lagi."
Genta menghela napas, menatap kunci inggris di pangkuannya. "Lantai 4.5 sudah, panti jompo sudah, selokan sudah. Kalau sekarang harus masuk ke mal hantu, ya sudah. Yang penting jangan ada yang minta saya benerin lift di sana."
Aki tertawa. "Justru itu masalahnya, Genta. Lantai Nol itu kabarnya hanya bisa diakses lewat satu-satunya lift yang sudah rusak selama tiga puluh tahun. Dan kurasa, itu sebabnya 'takdir' memilihmu."
Genta hanya bisa melongo. "Sial. Ternyata ujung-ujungnya saya tetep disuruh kerja bakti benerin lift."
Jeep tua itu terus melaju menembus kabut Bogor, membawa tiga orang pemberontak nasib menuju jantung rahasia dunia yang paling dalam.