Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Mahkota yang Berlumuran Ambisi
"Kau benar-benar menghancurkan mereka semua tanpa sisa, Yansya," cetus Seeula saat aku baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Aku melepaskan kancing jas abu-abuku dengan gerakan yang sangat terukur. Aku menatap Seeula yang berdiri di dekat meja makan. Dia tidak lagi mengenakan gaun malam yang mewah, melainkan pakaian santai yang tetap tidak bisa menyembunyikan aura kekuasaan yang baru saja ia warisi. Aku berjalan mendekat, meletakkan kunci mobil di atas permukaan meja yang keras.
"Dunia bisnis tidak menyediakan tempat bagi pecundang yang mencoba bermain api dengan nyawa orang lain, Seeula," balasku dengan nada bicara yang sangat tegas.
Seeula menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal, lalu menyodorkannya kepadaku. "Pria berjas abu-abu di bandara itu... siapa dia sebenarnya? Aku melihat sorot matanya yang sangat menekan bahkan dari kejauhan."
Aku menerima gelas itu, menyesap isinya perlahan untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering setelah pertempuran saraf di landasan pacu. Aku tidak mungkin menceritakan kepadanya tentang konstelasi kekuatan rahasia yang mengontrol stabilitas ekonomi kota ini. Baginya, aku hanyalah suaminya yang jenius dalam strategi investasi. Rahasia tentang reinkarnasiku dan pengetahuanku tentang masa depan harus terkunci rapat di balik tengkorakku.
"Hanya salah satu pemakan bangkai yang mencium bau darah setelah jatuhnya Gautama, Seeula. Mereka selalu muncul saat ada takhta yang kosong," jelasku sambil memberikan senyuman yang paling menenangkan.
"Tapi dia menawarkan kemitraan internasional. Bukankah itu yang kita butuhkan untuk memperkuat Widowati Group?" tanya Seeula dengan nada yang mulai menunjukkan rasa ingin tahu seorang pemimpin.
Aku meletakkan gelas itu kembali dengan suara denting yang cukup keras. "Kemitraan dari orang-orang seperti mereka selalu memiliki harga yang sangat mahal, Seeula. Aku lebih suka kita membangun fondasi sendiri daripada harus berutang budi pada entitas yang tidak memiliki wajah."
Percakapan kami terhenti saat ponsel pribadiku bergetar di saku jas. Aku segera mengambilnya dan melihat nama Rian di layar. Aku memberikan isyarat pada Seeula untuk menunggu sebentar sebelum aku bergeser ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman rumah.
"Ada laporan baru, Rian?" tanyaku dengan suara rendah.
"Yansya, tim audit hukum baru saja menemukan brankas rahasia di ruang bawah tanah kediaman pribadi Pak Hartono. Isinya bukan uang, tapi sertifikat kepemilikan tanah di wilayah pesisir utara yang selama ini dianggap sebagai lahan sengketa pemerintah," lapor Rian dengan nada bicara yang sangat antusias di seberang sana.
Aku menyempitkan mata, memproses informasi tersebut dengan kalkulasi yang sangat cepat. "Wilayah pesisir utara? Itu adalah lokasi pembangunan pelabuhan internasional yang baru saja dibahas di pertemuan asosiasi semalam."
"Tepat sekali, Bos. Hartono dan Gautama ternyata sudah melakukan spekulasi tanah secara masif selama lima tahun terakhir. Jika kita memegang sertifikat ini, kita memiliki kendali mutlak atas akses logistik seluruh kota," tambah Rian.
"Amankan semua dokumen itu. Jangan sampai ada satu pun lembar yang bocor ke publik atau ke tangan kejaksaan sebelum aku memeriksanya sendiri," perintahku dengan otoritas yang mutlak.
Aku menutup telepon dan berbalik kembali menghadap Seeula. Dia tampak sedang memperhatikan ekspresi wajahku dengan penuh selidik. Aku harus memastikan dia tidak mencium adanya konspirasi yang jauh lebih besar di balik kejatuhan pengkhianat perusahaan kita.
"Apa yang dikatakan Rian?" selidik Seeula dengan dahi yang sedikit berkerut.
"Hanya masalah teknis mengenai inventarisasi aset yang ditinggalkan Hartono, Seeula. Besok pagi, aku ingin kau menandatangani surat keputusan untuk melakukan audit total terhadap seluruh departemen logistik," jawabku sambil melangkah mendekat dan memegang kedua pundaknya.
Seeula menatapku cukup lama, seolah sedang mencari kejujuran di balik sorot mataku yang dingin. "Kau selalu selangkah lebih maju, Yansya. Terkadang aku merasa kau sudah tahu apa yang akan terjadi bahkan sebelum orang lain memikirkannya."
Aku tertawa kecil, menutupi getaran di dadaku karena komentarnya yang hampir mengenai sasaran. "Itu disebut sebagai visi bisnis, Seeula. Sekarang, kau harus beristirahat. Besok adalah hari pertamamu sebagai Direktur Utama yang harus menghadapi dewan direksi yang baru."
Setelah mengantar Seeula ke kamarnya, aku kembali ke ruang kerja pribadiku. Aku menyalakan monitor besar yang menampilkan pergerakan pasar modal di seluruh dunia. Angka-angka berwarna hijau dan merah terus berkedip, mencerminkan peperangan modal yang tidak pernah berhenti. Aku duduk di kursi kulitku, memikirkan kartu nama dari pria misterius di bandara tadi.
Aku mengambil kartu nama itu dari saku jasku. Logo perak berbentuk segitiga dengan lingkaran di tengahnya tampak sangat asing namun memiliki desain yang sangat premium. Tidak ada nama orang, hanya ada satu baris nomor telepon satelit dan sebuah kalimat singkat: "Konstelasi tidak pernah tidur."
Aku meletakkan kartu itu di atas meja, tepat di bawah sorot lampu meja yang tajam. Di kehidupan masa depanku, aku ingat ada sebuah organisasi bayangan yang mengendalikan aliran modal di Asia Tenggara, namun mereka seharusnya baru muncul lima tahun dari sekarang. Tindakanku yang terlalu agresif dalam menghancurkan Gautama sepertinya telah mempercepat kemunculan mereka dalam garis waktu ini.
"Kau ingin bermain denganku? Silakan saja," gumamku dalam hati sambil menatap kartu tersebut.
Tiba-tiba, sebuah email masuk ke akun rahasiaku dengan label 'Urgent'. Aku membukanya dan mendapati sebuah lampiran foto dari kamera pengawas di depan kantor pusat Widowati Group yang diambil sepuluh menit yang lalu.
Di dalam foto itu, aku melihat Madam Widowati sedang berdiri di depan gerbang utama dengan penampilan yang sangat lusuh. Dia tidak lagi dikelilingi oleh asisten atau pengawal. Dia tampak sedang mencoba bicara dengan petugas keamanan yang bertugas.
Aku segera menghubungi komandan keamanan gedung melalui jalur interkom. "Siapa yang memberi izin Madam Widowati mendekati gedung itu?" semprotku tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan Yansya, beliau memaksa masuk untuk bertemu dengan Nona Seeula. Beliau bilang memiliki informasi tentang wasiat terakhir Tuan Widowati yang belum pernah dibuka," jawab kepala keamanan dengan suara yang sangat gugup.
Rahangku mengeras seketika. Wanita tua itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. Dia mencoba menggunakan kartu emosional untuk memengaruhi Seeula saat posisinya sudah benar-benar hancur. Aku tidak boleh membiarkan dia merusak stabilitas mental Seeula malam ini.
"Jangan biarkan dia masuk. Katakan padanya bahwa segala urusan hukum harus melalui pengacara saya. Jika dia masih bertahan di sana, serahkan dia pada pihak kepolisian atas tuduhan gangguan ketertiban umum," perintahku dengan nada suara yang sangat dingin.
Aku mematikan interkom dan bersiap untuk keluar rumah kembali. Aku harus menemui Madam Widowati secara pribadi untuk memastikan dia menutup mulutnya selamanya tentang segala hal yang berkaitan dengan masa lalu Seeula. Aku tidak ingin ada satu pun duri yang tertinggal dalam daging kekuasaan yang sedang kubangun.
"Mau ke mana lagi, Yansya? Ini sudah hampir tengah malam," tegur Seeula yang ternyata belum tidur dan sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjaku.
Aku tersentak kecil, namun segera menguasai ekspresi wajahku dengan sempurna. Aku meraih jas yang tadi kulempar di sofa.
"Ada masalah kecil di gudang logistik yang membutuhkan persetujuan fisik saya, Seeula. Kau tidurlah, aku tidak akan lama," dustaku dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
"Kau berbohong, Yansya. Aku tahu tatapan matamu saat kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku," sergah Seeula sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
Dia berjalan mendekati meja kerjaku dan matanya langsung tertuju pada kartu nama misterius dengan logo perak tersebut. Seeula mengambil kartu itu, membolak-baliknya dengan penuh rasa curiga.
"Apa ini? Konstelasi tidak pernah tidur? Yansya, siapa orang-orang ini?" tuntut Seeula dengan nada suara yang mulai meninggi.
Aku mengambil kembali kartu itu dari tangannya dengan gerakan yang sangat cepat namun tetap sopan. "Ini hanya urusan jaringan bisnis internasional yang sedang aku jajaki, Seeula. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Berhenti menganggapku seperti anak kecil yang harus dilindungi dari segala hal! Aku adalah Direktur Utama Widowati Group sekarang, dan aku berhak tahu siapa yang sedang mencoba mendekati perusahaan kita!" teriak Seeula dengan mata yang berkilat penuh amarah.
Aku terdiam, menyadari bahwa Seeula sudah mulai tumbuh menjadi sosok pemimpin yang tidak bisa lagi aku kendalikan sepenuhnya dengan kata-kata manis. Aku menarik napas panjang, menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam.
"Kau ingin tahu siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang bisa membuat perusahaanmu menghilang dari muka bumi dalam semalam jika kau salah melangkah, Seeula," ucapku dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman.
"Lalu kenapa kau berurusan dengan mereka?!" tanya Seeula dengan suara yang mulai pecah karena cemas.
"Karena aku harus memastikan bahwa akulah yang akan menghancurkan mereka sebelum mereka sempat menyentuhmu," jawabku dengan kejujuran yang pahit.
Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak menjadi sangat sunyi. Seeula menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa takut dan rasa syukur yang mendalam. Tepat saat itu, suara ledakan kecil terdengar dari arah halaman depan rumah kami, diikuti oleh suara sirene alarm keamanan yang meraung kencang.
Aku segera menarik Seeula ke belakang punggungku, tanganku secara refleks meraih senjata yang kusembunyikan di bawah meja.
"Tetap di belakangku, Seeula! Jangan bergerak!" perintahku dengan nada yang sangat agresif.
Asap mulai masuk dari celah pintu ruang kerja, dan aku melihat bayangan beberapa orang bergerak cepat di luar jendela balkon. Sepertinya Tuan Gautama bukan satu-satunya orang yang memiliki unit tempur bayangan di kota ini.
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Yansya," suara pria dari bandara tadi menggema melalui pengeras suara di halaman rumah kami.
Aku mengepalkan tangan, menyadari bahwa malam ini mahkota yang baru saja aku daki akan benar-benar diuji dengan api.