Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kamar Darma Paramitha
"Kakek!" Anindita berlari dan langsung memeluk kakeknya yang baru saja duduk di meja kerjanya, sedang membaca dokumen-dokumen investigasi tentang kematian Aditya.
Darma langsung menyingkirkan dokumen-dokumen itu—tidak ingin Anindita melihat—dan memeluk cucunya yang menangis.
"Dita, cucu Kakek... ada apa, sayang?" Suara Darma penuh kekhawatiran, tangannya mengusap punggung kecil Anindita.
Tapi Anindita hanya diam, memeluk kakeknya lebih erat, menangis di dada kakeknya tanpa suara.
Darma sudah tahu. Dia sudah cukup lama hidup untuk mengerti pola ini. "Kamu dan Vyan bertengkar?"
Anindita tidak menjawab, tapi tubuhnya yang bergetar lebih keras adalah jawaban.
Darma menghela nafas, mengangkat cucunya dan mendudukkannya di pangkuannya—seperti saat Anindita masih sangat kecil, saat dia masih bisa menangis dengan bebas di pelukan kakek tanpa khawatir terlihat lemah.
"Coba kamu ceritakan kepada Kakek, cucuku."
Dan dengan suara terputus-putus karena isak tangis, Anindita menceritakan semuanya. Tentang Vyan yang bilang dia harus menjauh dari Kak Zaverio. Tentang Vyan yang menuduh keluarga Kusuma berbahaya. Tentang bagaimana dia marah dan berteriak pada sahabat terbaiknya untuk pertama kalinya.
Darma mendengarkan dengan wajah yang semakin serius.
Vyan mendengar sesuatu. Sesuatu yang membuatnya takut. Anak itu berusaha melindungi Anindita dengan caranya sendiri.
Tapi apa yang dia dengar?
"Dita, cucu Kakek," panggil Darma lembut setelah Anindita selesai bercerita. "Apa kamu mau mendengarkan Kakek, sayang?"
"Tentu saja, Kek," Anindita mengusap hidungnya yang meler. "Aku selalu mendengarkan Kakek."
Darma menatap dalam mata cucunya—mata yang masih polos, masih percaya pada kebaikan dunia.
Aku harus melindungi kepolosan itu. Apapun yang terjadi.
"Mulai sekarang," kata Darma dengan nada yang sangat serius, "kamu tidak boleh keluar rumah sendirian. Kalau kamu mau keluar, harus ada pengawal bersamamu. Minimal lima orang."
Anindita menatap kakeknya dengan mata membulat. "Kenapa, Kek?"
"Dan satu lagi," lanjut Darma, mengabaikan pertanyaan. "Mulai besok, kamu akan homeschooling. Tidak ke sekolah lagi."
"TAPI KENAPA, KEK?!" Anindita berteriak, panik. "Apa terjadi sesuatu yang buruk? Tolong jelaskan kepada Dita!"
Darma menatap cucunya dengan tatapan yang sangat sedih. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada anak berusia 6 tahun bahwa ada orang yang mungkin ingin menyakitinya? Bahwa keluarga mereka punya musuh. Musuh 37 tahun yang lalu dan identitas yang tidak diketahui sampai sekarang.
"Belum saatnya kamu tahu, cucuku," bisik Darma, memeluk Anindita lagi. "Tapi saat kamu berusia 17 tahun nanti, Kakek akan memberitahu semuanya. Semua rahasia keluarga kita."
Dia menarik diri sedikit, menatap mata Anindita dengan serius. "Tapi sekarang, berjanjilah kepada Kakek. Janji yang sangat penting."
"Janji apa, Kek?"
"Sebesar apapun masalah yang terjadi di masa depan," kata Darma pelan tapi tegas, "tetaplah bersahabat dengan Vyan. Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan persahabatan kalian. Karena dia... dia adalah satu-satunya orang yang akan selalu melindungimu, bahkan ketika Kakek sudah tidak ada."
Anindita menatap kakeknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku dan Vyan memang sahabat selamanya, Kek. Kenapa Kakek bicara seolah kami akan berpisah?"
Darma hanya memeluk cucunya erat—begitu erat sampai Anindita sedikit kesulitan bernafas.
"Kakek takut..." bisiknya, suaranya bergetar. "Kakek sangat takut, Dita. Kakek sudah kehilangan terlalu banyak orang yang Kakek cintai. Dan kalau sampai sesuatu terjadi padamu..."
Dia tidak melanjutkan. Tidak bisa melanjutkan.
Anindita tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia merasakan ketakutan kakeknya. Jadi dia memeluk kakeknya balik, sekuat yang tangannya kecilnya bisa.
"Dita tidak akan kemana-mana, Kek," bisiknya. "Dita akan selalu bersama Kakek."
...****************...
Di Luar Kamar - Koridor
Zaverio berdiri kaku di luar pintu, mendengar setiap kata percakapan itu.
Tangannya terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, darah mulai menetes tapi dia tidak merasakannya.
Vyan mendengar sesuatu. Sesuatu tentang keluarga Kusuma.
Apakah itu tentang Kakek Darwan? Atau tentang yang lain?
Dan yang paling penting—siapa yang bicara? Siapa yang merencanakan sesuatu yang buruk?
Dia harus tahu. Dia harus menyelidiki.
Dengan langkah diam-diam, Zaverio berjalan menjauh dari kamar Darma, turun tangga, keluar dari mansion.
Pak Hadi sudah menunggunya di mobil.
"Tuan Muda, kembali ke kediaman Kusuma?" tanya Pak Hadi.
"Ya," jawab Zaverio, masuk ke mobil. "Dan Pak Hadi... mulai sekarang, kita harus lebih waspada. Ada ancaman yang mendekat. Ancaman yang bahkan aku tidak tahu dari mana asalnya."
Pak Hadi menatap Tuan Mudanya lewat kaca spion—anak berusia 11 tahun yang bicara seperti jenderal perang.
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan tingkatkan keamanan."
Saat mobil meluncur keluar dari area mansion Paramitha, Zaverio menatap keluar jendela dengan pikiran yang berputar kencang.
Di kehidupan sebelumnya, saat usia ini, aku tidak pernah dapat ancaman apapun. Karena aku tidak peduli pada siapapun. Aku hidup sendirian, dingin, tidak punya teman, tidak punya orang yang aku sayangi selain Mama yang sudah meninggal.
Tapi sekarang berbeda. Aku peduli pada Anindita. Aku melindunginya. Dan karena itu... aku menjadi target.
"Just like you took everything from me."
Siapa yang aku ambil segalanya? Kapan?
Dan kenapa sekarang mereka muncul?
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sama—nomor yang mengirim ancaman sebelumnya.
Dengan tangan gemetar, Zaverio membuka pesan itu.
"Enjoying your last peaceful days with Anindita? Don't worry. I won't kill her yet. I want you to watch her suffer first. I want you to feel the same pain my mother felt. The same helplessness. The same despair. And when you're broken completely... only then will I take her away. Forever."
Zaverio menatap pesan itu dengan mata yang perlahan berubah—dari ketakutan menjadi kemarahan yang membara.
Siapapun kau... apapun dendammu... aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Anindita.
Dia mengetik balasan dengan jari yang gemetar karena amarah:
"Kau salah pilih target. Kalau kau ingin balas dendam padaku, hadapi aku langsung. Jangan libatkan orang tidak bersalah. Berani bertemu denganku? Atau kau hanya pengecut yang bersembunyi di balik ancaman anonymous?"
Send.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk:
"Oh, I'll meet you. Soon. Very soon. And when I do... you'll wish you never been born, Zaverio Kusuma."
...****************...
Kediaman Syailendra - Waktu yang Bersamaan
Vyan duduk di tangga depan mansion Syailendra, kepala tertunduk, air matanya masih mengalir.
Arman Syailendra berdiri di hadapan putranya, wajahnya keras tapi ada rasa kasihan di matanya.
"Vyan," panggilnya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Kamu harus kembali ke ruang latihan. Pelatihanmu sebagai penerus Syailendra harus berlanjut. Tidak ada waktu untuk bersedih."
Vyan mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan mata yang memerah. "Tapi Papa... Dita marah padaku. Dia bilang tidak mau bicara denganku lagi—"
"Maka kau harus lebih kuat," potong Arman tegas. "Kalau kau ingin melindungi Anindita, kau harus kuat. Kau harus jadi pemimpin Syailendra yang ditakuti semua orang. Agar tidak ada yang berani menyentuhnya."
Vyan terdiam. Papa benar. Kalau dia lemah, dia tidak bisa melindungi siapapun.
"Tapi aku harus minta maaf dulu pada Dita," kata Vyan dengan suara kecil.
Arman menghela nafas. Dia berlutut di hadapan putranya, tangannya mengusap kepala Vyan dengan lembut.
"Nanti, Vyan. Setelah upacara penobatanmu selesai. Setelah kau resmi menjadi pewaris Syailendra. Baru kau bisa memberitahu Anindita tentang apa yang kau dengar. Baru kau bisa melindunginya dengan kekuatan penuh keluarga Syailendra."
Vyan mengangguk lemah. "Baik, Papa."
Tapi sebelum dia berdiri, dia berbalik—menatap mansion Paramitha yang terlihat dari kejauhan.
"Dita..." bisiknya pelan. "Aku harus melanjutkan pelatihan ku dulu. Jaga dirimu baik-baik. Aku... aku akan kembali. Dan aku akan melindungimu. Aku janji."
...****************...
Di Dalam Kamar Anindita - Waktu yang Bersamaan
Anindita berdiri di jendela kamarnya yang menghadap ke gerbang depan, melihat mobil Arman membawa Vyan pergi.
Hatinya sakit. Dia ingin berlari keluar, ingin memeluk Vyan, ingin minta maaf karena berteriak padanya.
Tapi gengsinya terlalu tinggi. Dia masih marah. Masih terluka karena Vyan menuduh orang-orang yang dia percaya.
"Vyan bodoh," bisiknya, air mata mengalir di pipinya. "Kenapa kamu harus bilang hal buruk tentang Kak Zaverio? Kenapa kamu harus buat aku bingung?"
Dia memeluk boneka Sisi erat, menatap Kediaman Syailendra yang terlihat dengan pencahayaan yang remang-remang. Dia berharap bisa melihat wajah sahabatnya, tapi dia tidak menemukannya.
"Aku janji, Vyan," bisiknya pada angin. "Kalau kamu minta maaf... aku akan maafin kamu. Karena kamu sahabat terbaikku. Selamanya."
Yang tidak dia ketahui—yang tidak siapapun ketahui—adalah bahwa keputusan kecil hari ini, pertengkaran kecil antara dua sahabat ini, akan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.
Karena di luar sana, di kegelapan yang mereka tidak lihat, ancaman sedang berkumpul.
Musuh yang sudah menunggu 37 tahun.
Dan sekarang, akhirnya, mereka mulai bergerak.