Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Diserang kumpulan manusia kera.
"Baiklah, kami akan mencari keberadaan anak dan putri Ibu."
"Tunggu sebentar! Sebenarnya apa yang telah dilakukan anak kami, sehingga kalian mencari mereka?" selidik Bu Rachel tajam. Bu Rachel sangat khawatir akan keselamatan putrinya.
Menyesal dia karena meninggalkan putrinya semalam di rumah sakit. Lalu pagi harinya didatangi pihak rumah sakit kalau putrinya menghilang. Dan siang ini juga ada lagi pihak lain yang mencari putrinya dengan Zach.
Entah kemana putrinya pergi. Ponselnya tidak dapat dihubungi. Dan mereka malah diburu, seolah telah telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
"Putri Ibu sangat berbahaya. Dia telah menyebarkan wabah penyakit. Dan harus segera ditangkap. Sebelum semuanya terlanjur lebih parah. Putri Ibu harus diisolasi."
Tubuh Bu Rachel bergetar. Dia terduduk mendengar ucapan orang asing itu. "Tidak mungkin. Putri saya baik-baik saja. Kalian bohong!" teriak Bu Rachel sangat terpukul.
Hati Ibu mana yang tidak hancur saat putrinya dituduh telah menyebarkan penyakit. Dan sekarang di cari banyak pihak demi keamanan banyak orang. Putrinya dianggap seperti gembong penjahat saja.
Zach, mundur teratur tidak jadi menyelinap masuk rumah. Dia langsung ambil langkah seribu. Tapi sial, kakinya menginjak susunan pot bunga ibunya yang tidak dipakai lagi.
Serentak semua yang di dalam rumah kaget.
"Suara apa itu?" orang asing yang datang menatap curiga.
"Tidak apa-apa. Palingan juga kucing yang menyenggol ember." seru Bu Reya kesal. Sementara jantung Zach berpacu kencang takut ketahuan. Dia bersembunyi di balik rumpun bunga bougenville.
Tapi orang asing itu tidak langsung percaya. Dia bergegas keluar! Menyelidiki halaman. Seekor kucing muncul dari teras samping. Akhirnya dia masuk kembali. Dan saat itulah Zach melompati pagar. Menuju mobil John.
"Om, ayo cepat pergi. Ada yang mencariku dan Carol. Mereka sedang di rumahku." Buru-buru Zach menutup pintu.
"Kamu kenal mereka?"
"Tidak Om. Tapi sepertinya mereka bukan warga sini. Logatnya aneh. Ayo cepat Om, kita segera pergi dari sini!" John menyalakan mesin mobil. Lalu bergerak mundur. Tapi belum sempat mereka berputar, tiba-tiba dua orang menghadang.
"Itu mereka Om. Ayo tancap gas, Om." seru Zach panik.
"Tenang. Ayo pakai topi jaket kalian. Juga masker." Zach dan Carol menurut.
Salah satu dari mereka mengetuk jendela mobil. John menurunkan kaca sedikit.
"Ada apa Pak?"
"Bapak kenal foto ini?" dia mengeluarkan foto dari kantongnya. Foto Carol.
"Tidak Pak. Saya bukan orang sini. Saya kebetulan cuma melintas."
"Siapa yang dibelakang?"
"Mereka anak-anak saya. Kami mau ke rumah sakit. Mereka sedang sakit batuk." terdengar suara batuk dari kursi penumpang bersahut-sahutan. "Maaf Pak kami buru-buru." John melajukan mobilnya meninggalkan kompleks.
Tapi lewat kaca spion John melihat keduanya seperti bersitegang. Lalu berlari menuju mobil mereka.
"Anak-anak, pegangan yang kuat. Kita sepertinya dikejar.!" ucap John langsung menambah kecepatan. Spontan, Zach menoleh ke belakang. Benar saja, sebuah mobil warna hitam mengejar mereka.
"Om, lurus saja, nanti di lampu merah belok kanan." Zach mengarahkan jalan.
"Kamu yakin?"
"Iya, Om kita lewat jalan alternatif saja. Kalau ambil jalan lurus, biasanya sering macet di sana!"
"Oke, siap!" suara decit ban beradu dengan aspal terdengar memilukan telinga. Aksi kejar-kejaran tidak terhindari. John, mengemudikan mobilnya dengan santai. Tidak terlihat gugup sama sekali, meskipun ada musuh mengejar di belakang.
Aksi kejar-kejaran tidak terhindarkan!
Tubuh Zach dan Carol terhempas ke kanan dan ke kiri. mengikuti laju mobil. Zach memeluk Carol yang terlihat panik. John melihatnya lewat kaca spion.
"Om, di perempatan sana belok kiri saja. Menuju lapangan, ada ruko yang terbengkalai kita sembunyi saja disana."
"Kamu yakin kita bisa menghindar?"
"Tidak Zach, belok kanan saja Om. Kita akan terjebak di sana karena jalan buntu. Kalau kita belok kiri, bisa menuju sekolah."
"Ah, iya betul Om!" suara terpecah membuat konsentrasi John pecah.
"Jangan main-main. Siapa kalian yang benar?" gertak John berusaha mengendalikan laju mobil dan fokus ke jalan.
"Belok kiri saja Om. Kalau kanan kita akan terjebak.
"Bummm!"
"Brengsek!" rutuk John saat mobil ditabrak dari belakang. Zach memeluk Carol semakin kuat. Tubuh keduanya terguncang. "Kalian bertahan ya. Pegangan yang kuat!" John menambah kecepatan laju mobil mengikuti petunjuk jalan yang diarahkan Carol.
Saat ini yang perlu adalah menghindar dari kejaran mobil di belakang mereka. Mobil itu sekarang tertinggal jauh. Hingga akhirnya tidak nampak lagi. Ketiganya bernafas lega. Akhirnya lepas dari kejaran mobil misterius itu. Mobil yang dikemudi John berjalan perlahan menuju lokasi sekolah.
"Ini sekolah kalian?" John menatap sekolah yang terbakar. Tidak ada aktivitas belajar mengajar. Kerena hampir sebagian sekolah ludes terbakar.
"Yang mana gedung laboratorium itu?"
Zach menunjuk ke arah utara. John keluar diikuti Zach dan Carol. Ketiganya berjalan menuju puing-puing gedung laboratorium yang terbakar.
Seperti putaran disk yang rusak, John melihat rekaman peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu. Diawali dengan seorang pria yang memakai jas lab menyuntik dirinya dan seorang siswa. Lalu percikan api dan kepulan asap.
Apa yang diceritakan Zach benar adanya. John mengitari sekeliling sekolah dengan pandangannya. Suasana terasa hening. Terlalu hening di tengah kacaunya sisa kebakaran.
Telinga dan hidung John bergerak-gerak. Mengendus sesuatu yang mencurigakan. Zach melihat semua gerakan John. Sehingga dia juga ikutan curiga dan tegang. Sesuatu di dalam gedung, sepertinya puluhan mata tengah mengawasi mereka.
"Ada apa Om?" bisik Zach.
"Tempat ini terlalu sunyi dan hening. Apakah kamu merasakannya?"
"Maksud Om?" baru saja Zach selesai berucap. Dari balik reruntuhan sekolah dan ruangan yang masih utuh, bermunculan satu persatu makhluk yang berjalan seperti manusia. Tapi jalan mereka tidak normal, sedikit membungkuk dan berbulu. Mata mereka bersinar kemerahan!
"Om?" desis Carol bergetar. Melangkah mundur mendekati Zach dan John. Ketiganya saling memunggungi. Karena tegang, Zach dan Carol menunjukkan tanda mulai berubah. Terdengar dengus nafas dan erangan marah. John menoleh kebelakangnya. Terkejut melihat perubahan Zach dan Carol.
Sementara, langkah makhluk itu semakin mendekat. Mengelilingi mereka bertiga.
"Grrrrhhhh!"
Salah satu makhluk menggeram buas. Menyeringai ke arah mereka.
"Siapa mereka Om. Apakah mereka warga disini atau pasukan hewan?" bisik Zach.
"Sepertinya itu warga yang terinfeksi. Hati-hati mereka siap menyerang kita." John memperingatkan.
Benar saja, usai bicara salah satu makhluk itu menerjang ke arah Zach. Kuku-kuku Zach berubah seperti pisau kecil yang siap menyayat siapa saja.
"Apakah kalian sudah siap. Dengar aba-abaku, pada hitungan ketiga. 1 ...2... Tiga!" John bergerak diikuti oleh Zach dan Carol. Ketiganya menyerang mengahadapi keroyokan makhluk primata yang bermunculan semakin banyak. ***