NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Langkah yang terlambat (Pov Dio)

Pagi itu, cahaya matahari masuk dari celah jendela dan jatuh langsung ke lantai kamar Dio.

Ruangan itu masih sama seperti biasanya—penuh poster pemain basket di dinding, komik berserakan di meja, dan jaket yang tergantung asal di sandaran kursi. Berantakan, tapi terasa hidup. Hangat. Seperti mencerminkan dirinya sendiri.

Namun pagi ini… ada yang berbeda.

Dio sudah bangun lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada adegan berguling malas di kasur. Tidak ada kebiasaan menatap langit-langit sambil menunda bangun. Begitu mata terbuka, tubuhnya langsung bergerak.

Ia duduk, mengusap wajah sebentar, lalu berdiri.

Langsung bersiap.

Langkahnya ringan, cepat, seolah ada energi yang mendorongnya sejak pertama membuka mata.

Hari itu terasa berbeda.

Ada harapan yang diam-diam mengisi dadanya.

Dan entah kenapa… membuatnya tidak ingin berlama-lama di tempat tidur.

Di depan lemari kecilnya, Dio mengambil seragam sekolah dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya.

Kemeja putih itu ia kenakan, lalu dirapikan berkali-kali. Kerahnya diluruskan. Kancing dicek ulang. Lengan ditarik sedikit agar jatuh pas di pergelangan tangan. Bahkan bagian bawah yang biasanya ia biarkan sedikit kusut, pagi itu ia masukkan dengan rapi ke dalam celana.

Ia berdiri di depan cermin.

Menyisir rambutnya pelan, lalu berhenti. Merasa kurang rapi. Disisir lagi.

Tatapannya menilai pantulan dirinya sendiri.

Bukan karena ingin terlihat paling keren.

Tapi… pantas.

Tangannya sempat terhenti di meja kecil dekat tempat tidur. Sebuah botol parfum yang jarang ia sentuh berdiri di sana. Biasanya ia tidak peduli soal wangi—cukup mandi, selesai.

Namun pagi itu, ia mengambilnya.

Satu semprotan tipis.

Tidak berlebihan.

Cukup untuk membuatnya merasa lebih siap.

Ia kembali menatap cermin.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ada rasa gugup yang sulit ia sembunyikan… tapi di baliknya, ada senyum kecil yang muncul tanpa sadar.

Hari ini hari keputusan.

Jawaban Rahmalia.

Semalaman ia membayangkan momen itu—bertemu di sekolah, Rahmalia menatapnya, lalu berkata iya.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat pagi itu terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.

Dio mendorong Vespa klasiknya keluar dari halaman rumah.

Mesinnya dinyalakan, suara khasnya langsung terdengar—halus, bergetar pelan, seperti menyapa pagi yang masih segar. Ia menaiki jok, merapikan tas di punggung, lalu melajukan motornya perlahan ke jalan.

Udara pagi menyambut.

Angin tipis menerpa wajahnya, membuat pikirannya terasa lebih ringan dari biasanya. Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa orang baru mulai beraktivitas, kendaraan lalu-lalang tanpa tergesa.

Dio melaju santai.

Tidak ngebut.

Tidak juga terlalu pelan.

Sesekali sudut bibirnya terangkat sendiri, tanpa sadar. Bukan karena sesuatu yang lucu… tapi karena hatinya memang sedang ringan.

Penuh harap.

Pagi itu terasa berbeda.

Perjalanan ini terasa berbeda.

Seolah bukan sekadar berangkat ke sekolah seperti hari-hari lain.

Tapi… menuju seseorang.

Menuju satu jawaban yang sejak semalam terus ia tunggu.

...----------------...

Gerbang sekolah sudah terbuka ketika Dio tiba.

Ia memarkir Vespanya dengan cepat, lalu berjalan masuk ke area sekolah tanpa berhenti seperti biasanya. Tidak ada mampir ke kantin. Tidak juga nongkrong dulu di lapangan.

Langkahnya langsung lurus ke koridor.

Beberapa siswa menoleh, sedikit heran melihat Dio datang sepagi ini.

Dan di tengah langkah cepatnya, ia berpapasan dengan Siva.

Siva yang sedang membawa map OSIS langsung berhenti.

Alisnya terangkat.

“Tumben lo nggak telat,” celetuknya spontan.

Dio tidak menanggapi candaan itu.

Ia langsung bertanya, tanpa basa-basi.

“Ica di mana?”

Siva sempat kaget dengan nada serius itu. Ia menunjuk ke arah ujung koridor.

“Di meja OSIS. Dari tadi di sana.”

Belum selesai kalimatnya, Dio sudah lebih dulu bergerak.

“Thanks.”

Hanya satu kata.

Ia langsung berjalan cepat meninggalkan Siva, langkahnya mantap menuju arah yang disebutkan—tanpa menoleh lagi, tanpa menambah obrolan.

Dari ujung koridor, sebelum sampai ke meja OSIS, Dio melihat seseorang duduk di bangku panjang dekat dinding.

Gina.

Ia mengenal siluet itu dengan mudah. Rambutnya yang selalu diikat rapi seperti biasa, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang. Tas berada di pangkuannya, kedua tangannya menggenggamnya tanpa sadar. Posisi duduknya sedikit menunduk, bahunya terlihat lebih tegang dari biasanya.

Dio memperlambat langkahnya.

Ia sempat berpikir untuk menyapa dulu. Mungkin sekadar, “Pagi,” seperti biasa. Atau bertanya kenapa duduk sendirian.

Namun sebelum ia benar-benar mendekat, Gina lebih dulu berdiri.

Gerakannya cepat. Terlalu cepat.

Seolah ia ingin pergi dari sana secepat mungkin.

Dio belum sempat memanggil namanya ketika—

Bruk.

Tubuh mereka bertabrakan.

Tas Gina hampir terlepas dari bahunya. Dio refleks menahan sedikit agar ia tidak kehilangan keseimbangan.

“Eh—”

Kalimat itu terhenti di bibir Dio.

Karena saat Gina mendongak, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Matanya tidak fokus.

Tatapannya kosong, tapi bukan kosong biasa—lebih seperti seseorang yang baru saja menahan sesuatu yang berat.

Sedih.

Dan… kecewa.

Dio mengerutkan kening.

“Ada apa, Gin?”

Nada suaranya spontan, bukan bercanda seperti biasanya.

Namun Gina tidak menjawab.

Tidak ada senyum tipis. Tidak ada balasan singkat.

Ia hanya menggeleng pelan.

Sekilas saja.

Lalu melangkah melewati Dio begitu saja.

Tanpa kata.

Tanpa penjelasan.

Langkahnya cepat, hampir seperti melarikan diri.

Dio tetap berdiri di tempatnya beberapa detik.

Bingung.

Ada yang tidak beres.

Dan ia baru saja datang di tengah sesuatu yang belum ia pahami.

Dio masih berdiri beberapa detik di tempatnya.

Langkah Gina yang menjauh terasa janggal. Ekspresi di wajahnya tadi… bukan wajah seseorang yang hanya terburu-buru.

Perlahan, Dio menoleh.

Mengikuti arah tatapan Gina sebelum mereka bertabrakan.

Di ujung koridor, dekat meja OSIS—

Rahmalia.

Dan di depannya…

Azmi.

Mereka berdiri berhadapan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa percakapan itu bukan sekadar basa-basi. Rahmalia tidak sedang menulis lagi. Tangannya berhenti di atas buku. Wajahnya serius. Azmi berdiri tenang, fokus hanya padanya.

Untuk sesaat, suara koridor seperti meredup.

Tawa siswa, langkah kaki, pintu kelas yang dibuka—semuanya terasa jauh.

Dio menatap pemandangan itu tanpa berkedip.

Harapan yang sejak pagi ia bawa… mulai terasa goyah.

Bukan runtuh.

Belum.

Tapi ada sesuatu di dadanya yang perlahan terasa tidak nyaman.

Seolah ia baru sadar—

ia mungkin tidak datang secepat yang ia kira.

Dio menarik napas pelan.

Lalu melangkah mendekat.

Ia memaksakan langkahnya tetap santai. Tidak terburu. Tidak terlihat terganggu. Seolah ia hanya lewat dan kebetulan menemukan mereka di sana.

Azmi menoleh lebih dulu ketika Dio sudah cukup dekat. Wajahnya tetap tenang, bahkan sedikit tersenyum tipis.

Rahmalia menyadari kehadiran Dio beberapa detik kemudian. Tatapannya berubah—ada ragu di sana. Seperti seseorang yang tahu ia harus mengatakan sesuatu.

Dio berhenti di depan mereka.

Berusaha terdengar biasa.

“Ada apa?”

Nada suaranya ringan. Tidak menuntut. Tidak menekan.

Rahmalia saling melirik sebentar dengan Azmi. Azmi terlihat santai, tangannya masuk ke saku, seperti sudah selesai dengan urusannya.

Rahmalia menarik napas kecil.

“Aku… jadinya duet sama Azmi.”

Kalimat itu keluar pelan.

Rahmalia menunduk sedikit, lalu menambahkan cepat, seolah takut disalahpahami.

“Maaf ya, Yo… aku pikir Gina pengin duet sama kamu.”

Tidak ada ragu di nada suaranya.

Ia tidak sedang menebak.

Ia benar-benar percaya itu.

“Dia udah bilang… dia udah punya orang. Dan aku tahu maksudnya kamu.”

Rahmalia menunduk sedikit.

“Jadi aku pikir… lebih baik aku sama Azmi aja.”

Kalimat itu terdengar tulus.

Rahmalia benar-benar merasa sedang menjaga perasaan sahabatnya.

Dio tidak langsung menjawab.

Di kepalanya, potongan-potongan kecil mulai tersambung.

Wajah Gina tadi.

Tatapan kosongnya.

Cara ia pergi tanpa bicara.

Lalu kata-kata Rahmalia barusan.

Gina ingin duet dengannya.

Rahmalia memilih Azmi karena itu.

Dan sekarang…

Rahmalia sudah menerima.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dio menyadari satu hal—

ini kesalahpahaman.

Gina tidak terlihat seperti seseorang yang baru mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sebaliknya.

Dan Rahmalia jelas salah mengartikan sesuatu.

Namun semuanya sudah terlanjur berjalan.

Rahmalia sudah menerima.

Azmi sudah berdiri di sana.

Dan Dio… datang terlambat.

Ia mengangkat wajahnya pelan.

Lalu tersenyum.

Senyum yang cukup lebar untuk terlihat tulus.

“Oh… gitu,” katanya ringan.

Mengangguk kecil.

“Ya udah. Nggak apa-apa.”

Ia bahkan menepuk bahu Azmi singkat, seolah benar-benar baik-baik saja.

“Semoga lancar ya latihannya.”

Kalimat itu keluar mulus.

Tidak ada nada kecewa.

Tidak ada protes.

Padahal di dalam dadanya, sesuatu terasa jatuh perlahan.

Bukan sakit yang menghantam keras.

Lebih seperti harapan yang dilepas diam-diam.

Sedikit kecewa.

Sedikit kosong.

Tapi Dio tidak ingin membuat siapa pun merasa bersalah.

Tidak Rahmalia.

Tidak Azmi.

Tidak juga Gina.

Ia selalu seperti itu.

Lebih memilih menahan… daripada merusak sesuatu yang sudah berjalan.

Dio tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya melangkah mundur.

“Oke… gue duluan, ya,” ucapnya singkat.

Nada suaranya ringan, seperti percakapan biasa—seolah tidak ada yang berubah.

Ia mengangguk kecil pada Azmi dan Rahmalia, lalu berbalik.

Memberi ruang… membiarkan mereka berdua tetap di sana.

Langkahnya tidak tergesa. Tidak juga berat. Ia berjalan seperti biasa, melewati koridor yang masih ramai oleh suara tawa dan obrolan pagi.

Hari masih cerah.

Bel masuk belum berbunyi.

Semua orang menjalani pagi seperti biasanya.

Hanya saja… tidak untuk Dio.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang pelan-pelan berubah.

Bukan ledakan.

Bukan patah yang dramatis.

Lebih seperti harapan yang dilepas diam-diam, tanpa suara.

Ia tidak marah.

Tidak menyalahkan siapa pun.

Ia hanya merasa… terlambat satu langkah.

Dan untuk pertama kalinya, Dio memilih tidak mengejar.

Ia membiarkan pagi itu berjalan.

Dan membiarkan sesuatu yang semalam ia jaga dengan penuh harap… perlahan ia lepaskan sendiri.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!