"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Rahasia di Balik Hilangnya Eros
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, SUV hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah vila kayu yang tersembunyi di lereng bukit. Suasananya sangat tenang, jauh dari kebisingan kota dan bayang-bayang Arkan. Elena terbangun saat merasakan usapan lembut di pipinya.
"Kita sudah sampai, El," bisik Eros.
Elena turun dari mobil, menghirup udara pegunungan yang segar. Di sana, di teras vila, berdiri seorang pria tua yang tampak jauh lebih segar dari terakhir kali Elena mendengar suaranya di telepon.
"Ayah!" Elena berlari sekencang mungkin, menabrak pelukan Ayahnya yang hangat. Mereka berdua menangis sesenggukan, melepaskan segala beban yang menghimpit dada selama beberapa bulan terakhir.
"Maafin Ayah, Nak... Ayah nggak tahu kamu menderita seperti itu," ucap Ayah sambil mengelus rambut Elena.
"Enggak, Yah. Yang penting sekarang kita sudah bersama," jawab Elena.
Setelah suasana sedikit tenang dan Ayah Elena sudah beristirahat di dalam kamar, Elena menemui Eros di balkon luar. Pria itu sedang berdiri menatap lembah, memegang sebuah foto lama yang sudah kusam di tangannya.
"Eros," panggil Elena. "Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Selama lima tahun ini... kamu ke mana saja? Kenapa kamu baru muncul sekarang setelah aku terperosok begitu dalam?"
Eros terdiam cukup lama. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum berbalik menatap Elena. Matanya tidak lagi setajam saat ia menatap Arkan; kali ini ada kerentanan di sana.
"Lima tahun lalu, setelah aku meninggalkan desa untuk mencari modal buat melamar kamu, aku dijebak, El," Eros memulai ceritanya dengan suara yang berat. "Aku pikir aku bekerja di perusahaan logistik biasa di luar negeri. Ternyata, itu adalah kedok untuk organisasi perdagangan senjata ilegal."
Elena menutup mulutnya dengan tangan. "Ya Tuhan..."
"Aku tidak punya pilihan. Jika aku lari, mereka akan membunuhmu dan ayahmu di desa. Jadi aku bertahan. Aku merangkak dari bawah, menghabisi orang-orang yang mencoba menghentikanku, sampai akhirnya aku bisa mengambil alih organisasi itu dari dalam. Aku menjadi monster agar aku punya kekuatan untuk melindungimu dari monster lain seperti Arkan."
Eros mendekat, memegang kedua bahu Elena. "Tapi ada satu hal yang terus menghantuiku. Arkan... dia bukan sekadar kebetulan menemukan kamu. Lima tahun lalu, Arkan adalah salah satu investor kecil di organisasi lama itu. Dia tahu tentang kamu dariku, El."
Jantung Elena seolah berhenti berdetak. "Maksudmu?"
"Dulu, saat aku masih naif, aku sering menceritakan tentang gadis tercantik di desaku. Aku menunjukkan fotomu pada rekan-rekanku karena aku bangga memilikimu. Arkan melihatnya. Dia terobsesi. Dia sengaja menarik investasinya dan pulang ke Indonesia lebih dulu untuk mencarimu saat aku sedang dikurung di penjara bawah tanah di Rusia."
Eros menunduk, wajahnya penuh penyesalan. "Utang ayahmu... orang yang meminjamkan uang pada rentenir itu awalnya adalah perusahaan cangkang milikku yang disabotase oleh Arkan. Dia menggunakan asetku untuk menjebak keluargamu. Jadi secara tidak langsung, kekuatanku-lah yang digunakan Arkan untuk menghancurkanmu. Itu sebabnya aku merasa sangat berdosa, El."
Elena terpaku. Jadi, selama ini penderitaannya bukan sekadar nasib buruk, melainkan hasil dari obsesi gila Arkan yang bermula dari cinta Eros. Rasa sakitnya terasa dua kali lipat sekarang.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanya Elena, suaranya bergetar.
"Karena aku takut," Eros mengakui dengan jujur. "Aku takut kalau kamu tahu bahwa akulah alasan Arkan menemukanmu, kamu akan membenciku sama seperti kamu membenci dia. Aku takut kamu tidak mau lagi melihat wajahku."
Elena menatap Eros. Pria di depannya ini telah melakukan hal-hal mengerikan untuk bisa kembali padanya. Dia berlumuran darah, dia memimpin organisasi gelap, tapi di matanya, Elena masih melihat pemuda yang dulu membawakannya bunga liar di tepi sungai.
"Aku tidak membenci kamu, Eros," bisik Elena, melangkah maju dan memeluk pinggang Eros. "Aku membenci keadaan ini. Tapi aku tidak bisa membencimu karena kamu adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup di rumah Arkan."
Eros membalas pelukan itu dengan erat, seolah-olah dia tidak akan pernah melepaskan Elena lagi. Namun, di tengah keintiman itu, sebuah suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari dalam vila.
Salah satu anak buah Eros muncul dengan wajah tegang. "Tuan, maaf mengganggu. Ada laporan dari unit pemantau di kota."
Eros melepaskan pelukannya, kembali ke mode pemimpin yang dingin. "Ada apa?"
"Arkan... dia tidak berada di rumah sakit jiwa atau kantor polisi seperti yang kita rencanakan. Saat dalam perjalanan pemindahan, iring-iringan mobilnya diserang oleh kelompok tak dikenal. Arkan... dia berhasil kabur, Tuan."
Elena merasa kakinya lemas. Mimpi buruk itu belum berakhir.
Eros mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Siapa yang membantunya? Dia sudah tidak punya uang!"
"Laporannya menyebutkan bahwa penyerang menggunakan senjata dengan logo 'The Viper'. Itu organisasi lawan kita, Tuan. Sepertinya mereka ingin menggunakan Arkan sebagai pion untuk memancing Anda keluar."
Eros menoleh ke arah Elena, matanya kini berkilat penuh ancaman. "Dia benar-benar ingin mati dengan cara yang menyakitkan. El, masuklah ke dalam. Jangan keluar tanpa penjagaan. Perang ini... baru saja naik ke level yang berbeda."
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya