Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28: Bisa Mengangkat 10kg
Pagi itu, Ji-hoon terbangun dengan kepala terasa seperti diisi kapas basah—efek sisa kelelahan psikis dari prestasi seratus jarumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sebuah getaran halus, seperti senar bass yang dipetik sangat pelan, terasa di dasar kesadarannya. Telekinesisnya, yang biasanya hanya muncul saat dipanggil dengan susah payah, kini mengalir tenang di latar belakang, seperti napas kedua.
Dia menguji dengan mengangkat pulpen dari mejanya tanpa menyentuh. Pulpen itu meluncur ke tangannya dengan mulus, tanpa goyangan, tanpa keraguan. Sebelumnya, mengangkat benda sekecil itu saja membutuhkan konsentrasi sadar. Sekarang, rasanya alami. Seperti menggerakkan jari.
*Ini efek dari latihan presisi,* pikirnya, sambil menatap pulpen itu dengan heran. *Aku telah mengasah “otot” psikisku.*
Malamnya, di Taman Batu, Guru Choi tidak langsung memberikan dua ratus butir pasir seperti yang dijanjikan. Sebaliknya, dia membawa sebuah batu pemberat besi dengan pegangan, seperti yang digunakan di gym, dengan angka “10 kg” tercetak di sisinya.
“Sebelum kita meningkat ke jumlah yang lebih banyak, kita perlu mengevaluasi parameter dasarmu,” kata Guru Choi, meletakkan pemberat itu di tanah dengan suara *dum* yang berat. “Angkat ini.”
Ji-hoon mengamati batu besi itu. Besar, padat, tidak simetris. Bukan seperti jarum-jarum yang ringan dan seragam. Ini akan menguji “kekuatan” mentahnya, bukan presisi.
Dia mengambil posisi, mengulurkan tangan. Mencoba merasakan batu itu dengan cara yang telah diajarkan Guru Choi. Memahami massanya, distribusi beratnya, titik keseimbangannya.
*Besi. Padat. Kepadatannya tinggi. Pusat massanya agak ke bawah karena pegangannya.*
Dia meraih keluar dengan jaring psikisnya, membungkus batu itu bukan dengan satu cengkeraman besar, tapi dengan ratusan titik tekanan kecil yang merata—seperti banyak tangan kecil yang bekerja bersama. Konsep “kontrol terbagi” dari latihan jarum diterapkan dengan cara yang berbeda.
Dia menarik.
Batu itu bergoyang, lalu terangkat dari tanah. Perlahan, mantap, naik setinggi pinggangnya.
Ji-hoon menahan napas. Sepuluh kilogram. Dua kali lipat dari rekor sebelumnya yang hanya lima kilogram, itupun dengan susah payah dan tremor yang parah. Sekarang, meski keringat mulai membasahi pelipisnya, batu itu stabil. Dia memutarnya di udara, menggerakkannya maju mundur, naik turun.
“Radiusmu,” perintah Guru Choi. “Jauhkan darimu.”
Ji-hoon menggerakkan batu itu menjauh. Satu meter. Dua meter. Biasanya, di jarak tiga meter, cengkeramannya akan mulai melemah drastis. Tapi sekarang, dia masih bisa merasakan batu itu dengan jelas, seolah-olah masih di dekatnya. Dia mendorongnya lebih jauh.
Tiga meter. Empat meter.
Di lima meter, dia mulai merasakan ketegangan. Seperti karet gelang yang diregangkan hampir sampai titik putus. Tapi dia masih memegang kendali. Batu itu berhenti di jarak tepat lima meter, melayang di atas hamparan kerikil putih.
“Tahan,” kata Guru Choi.
Ji-hoon menahannya. Detik-detik berlalu. Otot-otot psikisnya berteriak, tapi tidak putus. Dia mengatur napas, mendistribusikan beban, mempertahankan ratusan titik tekanan kecil itu.
Setelah satu menit penuh, Guru Choi mengangguk. “Cukup. Turunkan.”
Ji-hoon menurunkan batu itu dengan lembut, menyentuh tanah tanpa suara. Dia terengah-engah, tapi matanya bersinar. *10 kg. Radius 5 meter.* Itu bukan sekadar peningkatan kecil. Itu adalah *breakthrough*.
“Kau tidak hanya meningkatkan kekuatanmu,” komentar Guru Choi, duduk di atas batu besarnya. “Kau meningkatkan *efisiensimu*. Dengan presisi yang kaupelajari dari jarum-jarum itu, kau sekarang bisa menerapkan kekuatan dengan cara yang optimal. Tidak ada energi yang terbuang. Setiap ounce kekuatan psikismu dimanfaatkan sepenuhnya.”
Dia mengambil segenggam kerikil dari tanah. “Ini adalah hukum latihan psikis yang jarang dipahami oleh kebanyakan hunter. Mereka berpikir: latih kekuatan mentah, angkat beban lebih berat, radius akan bertambah dengan sendirinya. Itu salah. Dengan melatih presisi dan kontrol—hal-hal yang tampak tidak terkait dengan kekuatan—kau justru membuka jalan bagi kekuatanmu untuk berkembang dengan sehat, tanpa membebani sistem psikismu secara brutal.”
Ji-hoon mengangguk, mulai mengerti. Ini seperti seorang atlet angkat besi yang pertama-tama melatih bentuk dan teknik yang sempurna dengan beban ringan, baru kemudian meningkatkan bebannya. Teknik yang baik memungkinkan kekuatan yang lebih besar muncul tanpa cedera.
“Jadi… dua ratus butir pasir?” tanya Ji-hoon, siap menerima tantangan berikutnya.
“Tidak,” jawab Guru Choi, mengejutkannya. “Kita akan berhenti sejenak dari latihan jumlah. Sekarang, kita akan bekerja pada *kecepatan transisi*.”
Dia melemparkan tiga batu kecil ke udara, satu demi satu. “Tangkap mereka. Buat mereka berhenti di udara sebelum jatuh, lalu atur mereka membentuk segitiga sama sisi. Lakukan secepat yang kau bisa.”
Ji-hoon mengernyit. Ini berbeda. Ini tentang reaksi, kecepatan pemrosesan, dan kemampuan untuk beralih fokus dengan cepat. Dia bersiap.
Guru Choi melemparkan batu pertama. Ji-hoon dengan mudah menghentikannya di udara. Batu kedua. Dia menangkapnya juga, tetapi batu pertama sedikit goyah. Batu ketiga. Dia berhasil menangkap ketiganya, tapi formasi segitiganya berantakan—jaraknya tidak sama.
“Lagi,” kata Guru Choi, tanpa emosi.
Mereka mengulanginya. Sepuluh kali. Dua puluh kali. Ji-hoon berkeringat, kepalanya mulai berdenyut lagi, tapi dia merasakan peningkatan. Reaksinya semakin cepat. Transisi antara menangkap batu pertama, kedua, dan ketiga semakin mulus. Pada percobaan ke-25, dia bisa menangkap ketiganya dan mengaturnya dalam segitiga sempurna dalam waktu kurang dari tiga detik.
“Bagus,” puji Guru Choi. “Sekarang, kau telah meningkatkan kekuatan dasarmu, radiusmu, dan kecepatan responmu. Tapi masih ada satu komponen yang hilang: *daya tahan*.”
Ji-hoon mengerutkan kening. “Daya tahan?”
“Berapa lama kau bisa mempertahankan telekinesis intensif? Dalam pertempuran nyata di Gate, pertarungan bisa berlangsung berjam-jam. Monster tidak akan memberimu waktu untuk istirahat dan memulihkan kelelahan psikis.” Guru Choi menatapnya. “Mulai besok, latihan kita akan mencakup sesi daya tahan. Kau akan mengangkat dan memanipulasi objek selama periode waktu yang diperpanjang, sambil tetap waspada dan siap bereaksi terhadap gangguan.”
Itu terdengar melelahkan. Tapi Ji-hoon mengangguk, menerima. Setiap aspek perlu dikembangkan.
“Sebelum kita akhiri hari ini,” kata Guru Choi, suaranya lebih rendah, “ada satu hal lagi. Coba rasakan sekelilingmu. Dengan telekinesismu, tapi jangan untuk memanipulasi. Hanya untuk… merasakan.”
Ji-hoon menutup matanya, mengulurkan kesadarannya. Biasanya, dia hanya merasakan objek yang ingin dia kendalikan. Sekarang, dia mencoba merasakan segalanya dalam radius lima meternya. Kerikil di tanah, daun yang berguguran, kelembaban di udara, bahkan aliran udara yang sangat halus.
Dan kemudian, dia merasakannya—sebuah “keberadaan” yang tenang, padat, dan sangat terkendali di sampingnya. *Guru Choi.* Dia bisa merasakan aura psikis sang guru, seperti sebuah matahari kecil yang diredam dengan sempurna, memancarkan kekuatan yang luar biasa tetapi dibungkus dengan tenang.
“Aku bisa… merasakan Anda,” bisik Ji-hoon, membuka matanya.
“Itu adalah *sensing*,” kata Guru Choi. “Keterampilan dasar yang sering diabaikan oleh telekinetik pemula. Jika kau bisa memanipulasi dunia dengan pikiranmu, maka seharusnya kau juga bisa merasakannya. Sensing adalah mata dan telinga bagi telekinesismu. Tanpanya, kau buta.”
Ini adalah penemuan besar bagi Ji-hoon. Selama ini, dia mengandalkan penglihatan biasa untuk targetnya. Tapi dengan sensing, dia bisa “melihat” di balik penghalang, dalam gelap, atau merasakan pendekatan musuh dari belakang.
“Latih sensing-mu setiap hari,” pesan Guru Choi sambil berdiri untuk pergi. “Rasakan ruanganmu sebelum kau membuka mata di pagi hari. Rasakan orang-orang di sekitarmu tanpa menatap mereka. Jadikan itu kebiasaan.”
Malam itu, Ji-hoon kembali ke asramanya dengan langkah ringan meski kelelahan. Pencapaian hari ini luar biasa. 10 kg. Radius 5 meter. Pengenalan sensing. Setiap hari, dia semakin jauh dari “E-rank potential” yang tertulis di catatannya.
Saat berbaring di tempat tidur, dia memejamkan mata dan mencoba sensing. Dia bisa merasakan teman sekamarnya yang sudah tertidur di seberang ruangan, pola napasnya yang teratur. Dia bisa merasakan semut yang merayap di dinding. Bahkan bisa merasakan getaran halus dari mesin pemanas di lantai bawah.
Dunia yang biasa dia lihat dengan mata sekarang terungkap dalam lapisan persepsi yang lebih kaya, lebih langsung. Dia bukan lagi hanya seorang pengamat di dunia ini. Sekarang, dia mulai benar-benar *merasakannya*.
Dan dengan perasaan terkoneksi itu, Ji-hoon tertidur, bermimpi tentang batu-batu yang melayang, jarum-jarum yang menari, dan sebuah kekuatan yang perlahan tapi pasti bangkit dari dalam dirinya—sebuah kekuatan yang dipahami, bukan hanya dimiliki.