NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amanah

TOK TOK TOK

CEKLEK

"Assalamu'alaikum, Umi."

Aya menyembulkan kepalanya di balik pintu, meminta ijin masuk ke kamar orang tuanya. Haura, Umi Aya tengah membereskan kamarnya lalu menoleh ke arah pintu.

"Wa'alaikumsalam. Kenapa Aya?"

Aya melenggang menghampiri Haura dengan senyuman tak biasa karena ada maunya.

"Umi, Aya boleh tidak pagi ini ikut acara reuni kampus?" tanya Aya sambil memilin ujung jilbabnya.

"Jam berapa? Bukannya Umi sudah bilang kita akan kedatangan tamu jam 11 nanti?"

"Tamu? Aya harus ikut juga menemui tamu Umi?"

Ekspresi kecewa seketika menghias wajah Aya kala itu.

"Justru tamu itu mau bertemu denganmu. Lain kali saja ya, Nak. Mereka susah sekali mengatur jadwal bisa ke sini."

"Kenapa mau ketemu Aya? Umi tak berencana menikahkan Aya seperti di drama-drama itu kan?"

Aya seketika panik, jarang-jarang ada tamu khusus menemuinya.

"Nanti kamu lihat dan dengar sendiri ya."

Haura berlalu keluar menyiapkan kudapan di dapur. Aya masih termenung di kamar orangtuanya.

Dering ponsel membuat Aya terkejut. Ia merogoh tas mencari keberadaan ponsel yang terus bergetar dan berbunyi nyaring.

"Assalamu'alaikum Karin. "

"Ya, jadi datang,kan?"

"Di jawab dulu lah salamnya besti. "

Karin terbahak dibalik telpon.

"Wa'alaikumsalam. Jadi datang, kan? Tinggal tunggu kamu nih."

"Maaf ya, aku batal ikut. Mau ada tamu ke rumah, aku harus bantu umi ku. Lain kali ya, aku titip salam buat semua. "

"Yah, padahal belum tentu ada lain kali loh. Ya sudah deh, nanti aku sampaikan salammu. Assalamu'alaikum. "

"Wa'alaikumsalam." Aya menghela nafas dan berlalu ke kamarnya.

"Umi, memangnya yang mau datang siapa sih? Kasih bocoran lah mi, " bujuk Aya sambil membantu Haura menata kue di piring.

"Sahabat Almarhum Aba, waktu masih kerja di perusahaan sawit. Beberapa hari lalu, istri beliau telpon Umi katanya mau silaturahmi ke rumah sekalian kenalan denganmu."

Aya tertegun, sepertinya yang ia khawatirkan akan terjadi.

"Sudah, tenang saja. Cuma mau kenalan biasa kok. Jangan khawatir dulu."

Haura mencoba menenangkan putrinya yang terlihat cemas.

"Yang penting nanti harus jaga sikap, jawab pertanyaan apa adanya, jaga nama baik Aba ya, Nak."

Aya mengangguk kecil.

"Assalamu'alaikum, " teriak seseorang di depan pintu.

"Sepertinya itu Ami Usman, tolong bukakan pintu."

Aya bergegas keluar.

CEKLEK

"Wa'alaikumsalam, Ami."

Aya menyambut tangan pria paruh baya di depannya lalu mencium punggung tangannya.

"Sehat Aya? " tanya Usman ramah.

"Alhamdulillah, sehat Ami. Ayo masuk, Mi. "

Usman mengekor langkah Aya ke dalam rumah, lalu duduk di ruang tengah.

"Bang Usman, sendiri? kak Rahma mana?"

tanya Haura sambil meletakkan secangkir teh di meja kecil samping kursi goyang.

"Rahma ada pesanan kue, jadi tidak bisa ikut. Mau diambil siang nanti katanya."

Haura mengangguk, lalu duduk di kursi lain.

"Jam berapa mereka datang dek?"

"Jam 11, Bang. Mungkin sebentar lagi sampai, " sahut Haura sambil melirik jam di dinding.

"Aya sudah tahu?" bisik Usman.

"Belum semua Haura ceritakan, Bang. Cuma bilang teman almarhum Abanya mau ketemu. Tapi sepertinya dia curiga, karena tidak biasanya menghadapi situasi seperti ini."

"Kamu sudah tahu putranya Jaka yang mana yang akan dikenalkan pada Aya?"

"Iya Bang, yang pertama katanya."

Aya yang sedang berdiri di dekat pintu kamarnya tak sengaja mendengar percakapan umi dan aminya itu, sontak gugup.

Wajahnya kalut, jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena gugup bahagia, tapi lebih karena gugup kesal menahan marah.

Bukan tanpa alasan ia merasa seperti itu. Ia baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan sawit ternama di kotanya.

Aya berusaha keras bisa lolos seleksi penerimaan pegawai di sana, dan menjalani masa magang enam bulan. Sepuluh pemagang yang lolos seleksi, hanya enam orang yang diangkat menjadi pegawai tetap dan salah satunya Aya.

Ia tak mau mengorbankan usaha kerasnya bisa mendapat pekerjaan di perusahaan bergengsi itu.

Di tambah lagi, usia Aya sendiri baru dua puluh empat tahun. Ia masih ingin berlama-lama menikmati kesendirian dan meniti karirnya.

Kalau ia di paksa menikah dengan anak sahabat almarhum Abanya, berarti dia harus mengorbankan semuanya.

"Assalamu'alaikum."

TOKTOKTOK

Ketukan pintu dan teriakan salam, menghentak kesadaran Aya. Ia berjalan keluar kamar menuju pintu depan. Haura dan Usman menyusul di belakang.

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. "

CEKLEK

"Ini Aya ya? " tanya wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu, perkiraan usianya lebih tua 2 tahun dari uminya.

"Iya Bu, Saya Cahaya."

Aya mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai Bu. Mari silahkan masuk, " ajak Haura.

Usman berdiri di pinggir pintu, bersalaman dengan keluarga itu satu persatu.

"Perkenalkan, Saya Usman. Abangnya almarhum Amran, " sapanya.

"Oh abangnya Amran. Saya kira adiknya, terlihat muda sekali," ujar Jaka memuji.

"Perkenalkan, Saya Jaka Pramana. Ini Istri Saya Harum Widya Ningsih, Putra Pertama Saya Rama Adi Pramana."

Harum dan Rama bersalaman dengan Usman dan Haura bergantian.

Saat Rama menyodorkan tangannya pada Aya, Aya menangkup tangannya ke dada.

"Cahaya Insaniah, " ujarnya sopan.

Rama menarik kembali tangannya, "Rama, " sapanya sambil mengangguk kecil.

Tak ada senyuman di wajahnya. Hanya ekspresi canggung --- sedikit tertekan. Nampak bahwa ia terpaksa datang ke rumah sederhana itu.

Aya melihat ekspresi itu, ia mendengus sedikit kesal dan berlalu ke dalam mengambil minuman dan kudapan yang sudah mereka siapkan.

Jaka membuka pembicaraannya menyampaikan alasan mereka berkunjung ke rumah itu.

"Saya merasa punya tanggung jawab menjalankan amanah almarhum Amran saat itu. Masih terngiang di telinga dan memori saya saat ia menitipkan keluarganya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Jadi, Saya bermaksud memenuhi amanah itu dengan menikahkan Rama dengan Aya."

Aya yang sudah curiga dengan kunjungan itu tetap terkejut setelah mendengar langsung. Matanya spontan membola, tubuh sedikit tersentak, mulut terbuka sedikit.

Mereka yang ada di ruang itu juga tak menyangka dengan keterkejutan Aya.

"Menikah? " tanya Aya lirih.

Jaka mengangguk mantap sambil tersenyum. Rama mengaitkan jemarinya sedikit tertunduk, seolah menahan penolakannya.

Harum sedikit melirik pada putranya, berjaga-jaga jika Rama menunjukkan gestur kesal secara berlebihan.

Usman mengangguk-angguk, mencerna perkataan Jaka, tapi ekspresinya serius nampak sedikit cemas.

"Saya secara pribadi menyerahkan keputusan itu pada Aya, Pak. Saya berharap pernikahan ini tidak dipaksakan. Bagaimana pun juga mereka yang akan menjalaninya nanti, " ujar Haura tak kalah cemas.

"Betul Pak Jaka, Saya sepemikiran dengan Haura. Kami mohon kesediaan Pak Jaka dan keluarga memberikan waktu untuk Aya mempertimbangkan permintaan ini, " tambah Usman.

"Baik, Pak Usman, Bu Haura. Kami pasti memberikan kesempatan itu. Yang pasti, Rama sendiri sudah setuju dengan permintaan Kami, tinggal nanti bagaimana keputusan Aya, " sahut Jaka.

"Kalau boleh tahu, sekarang Apa kesibukan Aya? " tanya Harum.

"Saya bekerja di bagian keuangan, PT Utama Karya Bu, baru sebulan diangkat pegawai tetap disana, " jawab Aya berusaha tenang.

"Oh ya? Wah, Saya tidak tahu kalau Aya bekerja di perusahaan kami."

"Aya mendaftar sendiri Pak saat ada seleksi penerimaan pegawai. Saya juga tidak menyangka Aya lolos dan diterima, " ujar Haura bangga.

"Berarti ini pekerjaan pertama Aya?" tanya Harum.

"Tidak Bu, sebelumnya Aya bekerja sampingan di bagian administrasi kampus. Hanya pegawai honorer. Tidak lama, sekitar 6 bulan setelah lulus kuliah."

"Alhamdulillah, Aya di kampus cukup aktif organisasi dan dikenal manajemen kampus Bu, jadi dapat tawaran kerja dari ketua jurusannya."

"Kalau, Rama sendiri apa kegiatannya sekarang? " tanya Usman tak kalah penasaran.

"Saya asisten manajer pemasaran Om di perusahan Papa, baru selesai pasca sarjana satu tahun yang lalu. Jadi, masih merintis karir."

"Biasa Pak Usman, di tentir dulu satu tahun di level bawah supaya siap menggantikan Saya nanti, " tambah Jaka.

Usman mengangguk mengerti.

'Berarti kami sama-sama karyawan di Utama Jaya dong? Aduh, ' batin Aya.

Aya memang tak pernah berurusan langsung dengan bagian marketing. Di tambah lagi dia tergolong junior, jadi pantang baginya neko-neko di tempat Kerja.

Perusahaan Sawit besar itu memiliki ratusan pegawai mana mungkin bisa saling bertemu meski bekerja di perusahaan yang sama. Ditambah lagi gedung marketing berbeda dengan gedung bagian keuangan dan umum.

Setelah berbincang sebentar, akhirnya Jaka dan keluarganya undur diri.

"Aya, boleh minta nomer whatsapp mu? " tanya Rama setengah malas.

"Iya." Aya membuka barcode kontaknya dan di scan Rama.

"Nanti aku hubungi, " ujar Rama.

Aya mengangguk kecil.

Mobil CR-V hitam mereka berlalu dari pandangan, makin jauh tak terlihat. Menyisakan debu pasir yang berterbangan.

"Aya, pikirkan matang-matang ya. Kalau kamu setuju, berarti Aya sudah memenuhi amanat Aba. Tapi kalau keberatan, jangan ragu menyampaikan, " ujar Usman.

Aya mengangguk lagi.

"Aku pamit ya, Dek. Kabari saja kalau memang butuh aku lagi nanti."

"Iya, Bang Usman. Terima kasih. Titip salam buat kak Rahma. "

Usman melambai pada Aya sambil mengendarai motor maticnya, menyusuri jalan bertanah yang bergelombang.

Haura dan Aya beranjak masuk. Saat hendak mengangkat nampan berisi cangkir kosong, terdengar suara notif pesan masuk di ponselnya.

[Aya, ini aku Rama. Setelah sampai nanti, akan ku telpon. Ada hal penting yang harus aku sampaikan.]

^^^[Oke.]^^^

Jawab Aya singkat.

"Laki-laki model Rama pasti sudah punya pacar. Sudah ketebak, Huh! "

Aya melenggang santai mengangkat nampan menuju dapur.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!