Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kekesalan Arga
Arga membanting pintu Pajero Sport-nya dengan kasar. Suara dentuman itu menggema di dalam area parkir valet yang semi-tertutup, menarik perhatian beberapa petugas yang langsung memalingkan wajah saat melihat ekspresi Arga yang seperti banteng mengamuk.
Di dalam kabin mobil yang segera terasa dingin karena AC yang disetel maksimal, Arga menghempaskan tubuhnya ke kursi pengemudi. Maya di sebelahnya sedang sibuk memeriksa struk belanjaannya dengan teliti, seolah takut ada satu sen pun yang terlewat.
"Gila... sepuluh juta," gumam Maya, matanya tidak lepas dari kertas struk. "Kamu yakin bakal ganti lho ya, Ga? Ini limit aku buat sebulan. Kalau nggak diganti, aku nggak bisa belanja apa-apa lagi."
"Iya, May! Iya! Berapa kali aku harus bilang?!" bentak Arga, kehilangan kesabarannya. "Aku ganti! Besok! Lusa! Kapan pun! Yang penting diem dulu bisa nggak?!"
Maya tersentak, menoleh dengan tatapan tersinggung. "Kok kamu nyentak aku sih? Yang nolongin kamu siapa tadi? Aku kan? Harusnya makasih, bukan marah-marah!"
Arga tidak menjawab. Dia sedang sibuk dengan ponselnya. Jari-jarinya dengan cepat mencari kontak Nadinta, menekan tombol panggil dengan agresif.
Tut... Tut...
Panggilan tersambung, tapi tidak diangkat.
"Angkat, sialan!" desis Arga.
Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Arga melempar ponselnya ke dasbor dengan frustrasi. "Sial! Dia matiin hp!"
"Siapa sih?" tanya Maya, mulai penasaran melihat kepanikan Arga yang tidak wajar. "Nelpon orang kok malah marah-marah?"
Arga menoleh pada Maya dengan tatapan tajam. Dia ingin sekali berteriak bahwa semua uang Maya barusan dipakai untuk membelikan baju-baju mahal Nadinta. Bahwa Nadinta baru saja "merampok" mereka berdua di siang bolong.
Tapi dia tidak bisa.
Jika dia mengaku, Maya akan tahu bahwa Arga tidak punya uang. Maya akan tahu bahwa Arga membelikan Nadinta baju jutaan rupiah sementara dia meminjam uang Maya.
Itu akan menjadi kiamat bagi hubungannya dengan Maya.
"Bukan siapa-siapa," jawab Arga, suaranya dipaksakan tenang. "Klien proyek Lumina Green. Dia minta meeting tapi nggak dijadwalin dulu."
Kebohongan yang lemah, tapi cukup untuk Maya yang tidak terlalu peduli pada nasib Nadinta.
"Oh," jawab singkat Maya, tampak tak peduli.
Sore harinya, pukul 17.00 WIB.
Setelah berhasil memulangkan Maya dengan berbagai alasan (termasuk pura-pura sakit perut), Arga memacu mobilnya seperti orang kesetanan menuju apartemen Nadinta di Jakarta Barat.
Sepanjang jalan, otaknya menyusun skenario. Dia akan marah. Dia akan menuntut Nadinta mengganti uang itu cash saat itu juga. Dia akan bilang bahwa dia meminjam uang kantor yang harus dikembalikan sore ini juga.
Arga sampai di lobi apartemen. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan, lalu berlari masuk. Dia menekan tombol lift dengan tidak sabar.
Lantai 18.
Arga berjalan cepat di koridor, langkah kakinya berdebum di lantai karpet. Dia sampai di depan pintu unit 1808.
Dia menekan bel. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Dia mencoba memasukkan kode passcode pintu.
Tit-tit-tit-tit.
AKSES DITOLAK.
Mata Arga melotot. Dia mencoba lagi.
AKSES DITOLAK.
"Sialan!" Arga memukul pintu dengan kepalan tangannya. "Dia ganti password!"
Arga mengeluarkan ponselnya, menelepon Nadinta lagi. Masih tidak aktif.
"Nadinta! Buka! Aku tahu kamu di dalam!" teriak Arga, tidak peduli pada tetangga. "Jangan main-main sama aku! Balikin duit aku!"
Hening. Tidak ada suara dari dalam.
Arga menempelkan telinganya ke pintu. Sunyi.
"Apa dia belum pulang?" pikir Arga. "Tapi dia kan naik taksi dari tadi siang? Harusnya udah sampe."
Arga mundur selangkah, berkacak pinggang. Dia frustrasi. Dia lapar. Dan dia punya hutang 10 juta ke aplikasi pinjol plus 10 juta ke Maya yang harus dia pikirkan cara bayarnya.
Dia memutuskan untuk menunggu. Dia duduk di lantai koridor, bersandar di dinding di samping pintu Nadinta. Dia akan menunggu sampai wanita itu pulang, atau keluar.
Lima belas menit kemudian.
Di ujung lorong, pintu lift berdenting terbuka.
Nadinta melangkah keluar dengan santai. Dia masih mengenakan dress putih yang sama, namun sekarang dia menambahkan cardigan rajut di bahunya. Di tangannya, dia membawa segelas iced coffee dari kafe di lobi bawah.
Dia baru saja menghabiskan waktu dua jam makan bersama Mahendra lalu mampir sejenak di kafe favoritnya untuk memenuhi asupan kafein.
Langkahnya terhenti saat dia melihat pemandangan di depan unitnya.
Arga sedang duduk melosoh di lantai, kepalanya tertunduk di antara lutut, terlihat seperti anak hilang yang diusir dari rumah. Pemandangan yang sangat kontras dengan gaya sok kayanya di mal tadi siang.
Nadinta tersenyum tipis.
"Kasihan sekali," batinnya.
Nadinta tidak langsung menghampiri. Dia mundur perlahan, bersembunyi di balik pilar besar di dekat akses tangga darurat.
Dari posisi itu, dia bisa mengintip Arga tanpa terlihat.
Nadinta mengeluarkan ponselnya, membuka kamera. Dia mengarahkan lensa ke arah Arga yang sedang menyedihkan itu.
Cekrek. (Mode silent).
Foto itu sempurna. Arga yang "sukses" kini duduk di lantai koridor apartemen, menunggu belas kasihan.
Nadinta melihat Arga mengangkat kepalanya, lalu memukul-mukul pintu lagi dengan lemah.
"Nadin... Sialan ..." rintihan Arga terdengar samar.
Nadinta menahan tawa. Dia mengambil sedotan kopinya, menyesapnya perlahan sambil menikmati pertunjukan itu.
Tiba-tiba, seorang ibu-ibu tetangga unit sebelah Nadinta keluar untuk membuang sampah. Ibu itu kaget melihat Arga.
"Mas? Mas Arga ya?" tanya ibu itu curiga. "Ngapain duduk di situ? Nadin belum pulang?"
Arga langsung berdiri, mencoba terlihat berwibawa. "Eh, Bu Rini. Iya nih, Nadin belum pulang. Kunci saya ketinggalan."
"Oh... kasihan. Nadin tadi saya liat kok di lobi bawah, lagi ngopi. Mas nggak liat?"
Mata Arga membelalak. "Di lobi? Kapan?"
"Barusan. Setengah jam lalu mungkin?"
Wajah Arga memerah. Dia merasa dipermainkan.
"Makasih, Bu," Arga langsung berlari menuju lift, menekan tombol dengan ganas.
Nadinta melihat itu. Dia tahu dia punya waktu sekitar 3 menit sebelum Arga sampai di lobi, menyadari dia tidak ada, dan kembali naik lagi.
Begitu pintu lift tertutup membawa Arga turun, Nadinta keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan cepat menuju unitnya, memasukkan kode password baru, dan masuk ke dalam.
Dia mengunci pintu, memasang rantai pengaman, dan mengintip dari lubang peephole.
Lima menit kemudian, Arga kembali. Napasnya ngos-ngosan, wajahnya merah padam karena marah. Dia baru saja dikerjai bolak-balik.
Arga menekan bel lagi.
Nadinta diam saja di dalam. Dia menyalakan musik jazz pelan di speaker bluetooth-nya, lalu duduk di sofa sambil menikmati kopinya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arga.
Arga: DIN! AKU TAHU KAMU DI DALAM! TETANGGA LIAT KAMU PULANG! BUKA ATAU AKU DOBRAK!
Nadinta tersenyum. Dia mengetik balasan dengan santai.
Nadinta: Makasih, ya, Mas. Aku seneng banget hari ini🩷
Di luar pintu, Arga membaca pesan itu. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu menjadi lemas.
Arga menendang pintu pelan sekali lagi, lalu berbalik pergi dengan langkah gontai.
Nadinta melihat punggung Arga menjauh lewat peephole.
Permainan kucing-kucingan ini dimenangkan telak oleh sang kucing. Dan tikus itu pulang dengan perut lapar dan kantong kosong.
Marahlah, Mas. Marahlah lebih keras.