Angel mencintai Malvin dengan sepenuh hati. Sampai dia menghabiskan waktunya hanya untuk mendapatkan perhatian Malvin. Dia bahkan memaksa orang tuanya untuk menjodohkan mereka. Pernikahan yang dia impikan bisa berakhir bahagia nyatanya berakhir tragis.
Dia terbunuh di tangan Malvin dan sepupunya sendiri. Arwah nya keluar dari tubuh nya. Rahasia - rahasia yang tidak di ketahui perlahan terungkap. Bahkan dia melihat seseorang yang mencintainya dengan tulus padahal dulu dia menghina pria itu demi seorang Malvin.
---------
"Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu! Aku bersumpah jika aku akan membalas mereka semua. " --- Langit Al Ghassal.
"Jika aku di berikan kesempatan kedua, aku berjanji akan mencintaimu." --- Angelina Chloe Dominic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azam Dan Khadijah
Suasana siang menjelang sore itu tampak ramai oleh para remaja siswa/siswi yang baru saja menyelesaikan study nya di SMA Dominic. Semua berbondong-bondong untuk pergi menggunakan kendaraan masing - masing. Di sisi itu Dania berdiri dengan wajah di tekuk. Bagaimana tidak! Dia sudah tidak memiliki kendaraan lagi setelah Mobil mewah milik nya di curi entah pada siapa.
Malvin yang mengatakan akan membelikan nya mobil taunya sama sekali tidak berguna. Kemaren mereka sempat pergi ke Showroom mobil untuk membeli mobil namun saat pembayaran kartu milik Malvin tidak bisa di gunakan. Rupanya Gaza memblokir semua kartu milik Malvin karena beberapa bulan terakhir pengeluaran nya di atas wajar. Bahkan satu hari Malvin bisa menghabiskan Puluhan Milyar entah uang itu di gunakan untuk apa.
Malvin sempat memberontak dan marah tapi Gaza tidak mengubah keputusan nya. Alena? Wanita itu setuju dengan keputusan Suaminya karena menurutnya semakin hari Malvin semakin sulit di kendalikan.
"Dania, " panggil Naura dari belakang. " Beberapa hari ini kita perhatikan kamu nggak bawa mobil, mobil kamu kemana?"
Dania kelabakan, mustahil dia bilang mobil nya di curi. Dan meskipun di curi sebagai putri keluarga Dominic mustahil cuma punya satu mobil. Semua teman - teman nya pasti akan curiga.
"Itu.. A-aku, " Saat tidak ada jawaban muncul sebuah harapan datang. Dari jauh dia melihat Azam yang baru keluar. "Aku lagi males nyetir mobil. Lagian kan ada Kak Azam yang punya mobil. " Mendengar nama itu wajah Namira langsung berbinar. Apa lagi matanya juga melirik ke arah Azam. Ini adalah kesempatan baginya.
"Ya udah yuk.. Kebetulan pagi tadi Gue di antara supir, jadi bisa dong nebeng. Lagian kan rumah kita searah. " Namira nyelonong menarik tangan Dania membuat Dania menjadi panik. Teman yang lain hanya diam saling pandang. Tak mungkin mereka ikuti karena mereka bawa mobil masing-masing.
"Kak Azam.. " Azam yang berniat masuk ke dalam mobil tertahan saat seseorang memanggil nya. Dia berbalik dan menatap dingin dua gadis yang menghampiri nya. Meski usia mereka sama tapi sahabat Dania yang menganggap Azam Kakak kembar Dania menghormati nya dengan memanggil menggunakan sebuat KAK.
"Kebetulan banget nih.. Aku boleh nebeng nggak? Tadi pagi aku di antar supir, lagian kan rumah kita searah.. Iya kan, Dan?" Namira menyenggol lengan Dania meminta persetujuan. Dania tampak kikuk bingung dengan pikiran nya sendiri tapi akhirnya dia terpaksa harus sandiwara.
Dengan lancang nya Dania merangkul lengan Azam seolah memang mereka sangat akrab. "Iya Kak.. Nggak papa ya Namira ikut mobil sini, lagian kan rumah nya satu arah jadi nggak perlu putar balik. " Namira mengangguk puas, wajah nya tampak berbinar. Berbeda dengan Dania yang mengalami serangan jantung takut melihat wajah dingin Azam. Apa lagi dia tau jika keluarga Dominic tidak pernah menyukai nya karena menganggap nya dan keluarganya selalu memanfaatkan Angel.
Azam melirik lengan nya yang di rangkul. Dia menatap dingin pada sepupu yang tidak di anggap nya itu. "Lepas." Suaranya pelan tapi mampu menusuk lawan nya. Reflek Dania melepaskan tangan itu dengan canggung.
"Aku bukan supir pribadi.. Kalo kalian mau pulang, pulang sendiri! Nggak mungkin kan anak orang kaya nggak punya uang buat bayar taxi." Kata itu terdengar biasa tetapi mampu membuat kedua wanita itu terdiam.
"Kak Azam kok gitu sih, lagian aku ini sahabat nya Dania, Adek Kak Azam loh. Masa Kak Azam tega banget sih. " Namira pura-pura merajuk, dia masih berharap jika Azam mengizinkan nya untuk ikut.
Belum sempat Azam menjawab, suara lain sudah lebih dulu menyela. "Nggak papa kalo Kak Azam sibuk.. Aku lupa kalo hari ini Kak Azam harus ke perusahaan." Dania menyela cepat, dia tidak mau rahasianya terbongkar.
"Perusahaan?
"Iya perusahaan, Kak Azam itu sesekali pergi ke perusahaan buat bantu Papa. "
"Oh ya ampun, calon Suami masa depan ku memang yang terbaik.. Masih muda tapi sudah menerima tanggung jawab besar. " Azam mengangkat satu alis sambil menggosok telinga nya. Apa dia bilang? Suami masa depan? Huweekkk. Ingin muntah rasanya.
Azam ingin membalas namun suara lain lebih dulu menghentikan nya. "Tumben pada ngumpul kaya Ibu - Ibu arisan.. Mana di parkiran lagi, " Semua menoleh, tubuh Azam langsung menegak. Bukan karena kedatangan Angel tapi ada dua orang wanita yang berdiri di samping nya. Cantika dan.. Khadijah.
"Kebetulan Kak Azam belum pulang! Aku mau minta tolong dong, bisa nggak antarkan Khadijah pulang. Soal nya dia dapet kabar kalo supir nya harus ke bengkel karena mobil bocor. " Mata Khadijah langsung membelalak. Tadi Angel bilang dia ingin menawari Khadijah tumpangan, sekarang kenapa malah di oper ke Azam. Sementara Cantika menahan senyum nya melihat wajah merah sahabat nya.
"Bener banget tuh.. Tolong anterin temen aku ya Kak?" Khadijah langsung mendelik tajam menatap Cantika.
"Gimana kalo aku pulang bareng kamu saja." Solusi Khadijah, Cantikan langsung menggeleng.
"Pulang bareng gimana sih, rumah aku aja ada di gang sebelah sekolah. Cuma jalan kaki 10 menit sampe. " Jawab Cantika tanpa dosa.
"Boleh ya Kak..
"Nggak boleh, " Sergah Namira tiba-tiba, wajah nya memerah karena kesal dan marah melihat Khadijah. Khadijah yang di tatap tajam hanya mampu menundukkan kepalanya. "Kak Azam mau nganterin gue pulang, "
Angel bersedekap di dada, sama sekali tidak goyah. "Oh ya.. Tapi tadi gue denger kaya ada penolakan dan rengekan deh.. Apa kuping gue salah?"
Namira reflek memalingkan wajah yang merasa malu tapi dia tetap tidak mau terintimidasi. "Pokok nya Kak Azam cuma boleh nganterin gue doang." Dania diam seribu bahasa mendapatkan lirik tajam dari Namira seolah meminta bantuan padanya.
Angel mendesah pelan, Kakak nya di kasih kesempatan malah bengong kaya orang cengok. Kalo nggak sekarang kapan lagi coba. Sebuah ide muncul di kepalanya. " Ya udah, Khadijah! Gimana kalo kamu di anter sama Kak Bram aja.. Tadi kan dia nawarin kamu pulang bareng." Mata Azam reflek melotot tidak Terima. Dia tau siapa Bram, anak IPS 3 yang sudah lama mengejar - ngejar Khadijah.
Tangan Azam terkepal dan spontan berteriak. "NGGAK BOLEH, " Semua terkejut, Angel memekik merasa menang dalam hati. "Ayo! Aku anterin kamu pulang!" Tanpa sadar Azam menarik masuk Khadijah ke kursi samping kemudi setelah itu Azam masuk ke kursi kemudi. Menyalakan mobil dan pergi meninggalkan halaman sekolah. Semua yang ada disana hanya terbengong.
"Kok gue di tinggalin?" Namira menghentak - hentakkan kakinya kesal. "Dania! Dari tadi kok Lo diem aja sih, tuh Kakak Lo malah pergi kan?" Dania meringis melihat sahabat nya kesal seperti itu. Saat tatapan matanya bertemu dengan Angel wajah nya kembali mengeras.
Angel lewat dengan santai dan berdiri di depan dua sahabat itu. "Kalo di tolak ya Terima aja! Cewek punya harga diri dikit dong bos.. "
•
•
•
BERSAMBUNG