"Dia cinta pertamaku, dan aku ingin berjuang untuk mendapatkannya"
Irena, gadis berkacamata yang sebelumnya bahkan tidak mempunya teman pria, namun tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria tampan bernama Andreas. Pertama kali merasakan jatuh cinta, membuat dia antusias untuk bisa mendapatkan hati pria itu. Meski tidak jarang perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Andreas. Bahkan pria itu seolah tidak menganggap kehadirannya.
"Sebaiknya kau berhenti berjuang dengan perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, semuanya hanya sia-sia"
Berbagai macam penolakan Irena bisa pahami, dia tidak menyerah begitu saja. Namun, ketika Andreas sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintainya, karena ada perempuan lain yang dicintainya. Maka saat itu semua harapan runtuh tanpa jejak, semua perjuangan sia-sia. Dan Irena mulai mundur, mengasingkan diri dan mencoba melupakan cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Natasha
Sebuah berkas ada di tangannya, menunjukan semua foto dan informasi lainnya. Seorang pria berlutut penuh darah dan memar di sekitar wajah dan tubuhnya. Menunduk memohon ampun dari pria yang saat ini duduk di depannya. Tatapan pria itu terlihat tajam, bahkan tidak menunjukan sebuah rasa kasihan sedikitpun. Dingin, tegas, dan penuh dengan amarah yang bisa menghancurkan sekitarnya.
"Tuan, saya mohon maafkan saya. Jangan bunuh saya Tuan" Rintihan itu sama sekali tidak membuatnya peduli. Dia masih fokus pada berkas di tangannya.
"Jadi, kau yang sengaja menyembunyikan kebenaran ini karena kau mendukung kebohongan yang dilakukan wanita itu!" Suara Andreas rendah, namun cukup membuat lawan bicara semakin merasa merinding. Ruangan gelap ini terasa senyap sepi yang menakutkan.
Andreas melempar berkas di tanganya hingga berhamburan di atas lantai yang penuh bekas darah dari pria yang hampir tidak berdaya sekarang. Beberapa foto berserak di lantai, berserta informasi yang ada.
Pintu ruangan terbuka, Bayu dan Byan masuk dengan langkah pelan, melihat beberapa bercak darah di atas lantai, membuat keduanya merinding. Lalu menatap pada Andreas yang duduk tenang dengan wajah yang dingin. Sementara seorang pria bersimpuh di atas lantai tak berdaya.
"Kau tidak membunuhnya 'kan?" tanya Byan dengan bergidik ngeri melihat wajah pria itu yang sudah tidak berbentuk lagi, penuh memar dan luka.
Bayu mengambil selembar kertas di atas lantai. Membacanya dan dia cukup terkejut dengan informasi yang ada disana. Mungkin selama ini memang Bayu yang paling curiga pada kehadiran Natasha itu, tapi tidak sama sekali tidak tahu tentang kebenaran yang sebenarnya. Namun, rasa curiganya itu bukan tak berdasar, melihat sikap Natasha yang benar-benar berbeda jauh dari Natasha yang dulu dia kenal. Hingga ternyata sebuah kenyataan terungkap, jika dia bukanlah Natasha.
"Jadi, dia adalah Naysila, kembaran Natasha yang berpisah sejak kecil. Naysila ini pergi ikut tinggal Ibunya di Luar Negeri. Dan kepergian Natasha waktu itu adalah untuk menemui mereka?" tanya Bayu seolah tidak percaya ada kenyataan seperti ini.
Andreas mengangguk kecil, tatapannya masih begitu tajam pada pria di depannya saat ini. "Dan dia yang menutupi kebenarannya dariku! Entah apa yang diberikan wanita itu sampai membuatnya berbohong seperti ini"
Byan dan Bayu beralih menatap pria yang sudah tidak berbentuk lagi. Keadaannya benar-benar mengkhawatirkan. Keduanya bergidik ngeri saat melihatnya.
"Lalu Natasha yang asli?" tanya Byan.
Andreas menghela napas pelan, tatapan matanya berubah sendu. Bahkan seseorang yang dia percaya untuk mencari tahu keberadaan Natasha, berani berbohong padanya. Seolah memang tidak ada lagi yang bisa di percaya di dunia ini.
"Jasadnya sudah ditemukan dua hari setelah kecelakaan, meski tidak dalam keadaan yang utuh. Dan dia juga wanita sialan itu menyembunyikan semuanya, mengubur jasad Natasha disana, dan wanita itu mengambil cincin pertunangan kita dari jasad Natasha"
Suara terdengar rendah dan parau saat menceritakan hal itu. Membuat Bayu segera menghampirinya, menepuk bahunya untuk menguatkan. Bayu tahu bagaimana Andreas selalu terlihat dingin dan seolah tidak punya perasaan, tapi hatinya lebih rapuh dari siapapun. Sejak dia kecil sudah ditinggalkan oleh Ibunya yang sampai saat ini entah dimana berada. Ayahnya yang selalu menganggap cinta hanya karena uang, hingga ketika dia jatuh cinta pada Natasha sekalipun, dia tidak bisa menerimanya. Ayahnya menganggap semua wanita hanya akan mencintainya karena adanya uang dan kekayaan.
"Semuanya sudah berakhir sekarang, Reas. Kau hanya perlu mengambil tindakan atas yang mereka berdua lakukan"
Andreas menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Dia berdiri dari duduknya, menoleh pada bayu. "Kau bantu urus pria ini, Bay. Aku akan pergi menemui wanita sialan itu"
"Aku ikut denganmu" Byan langsung mengikuti Andreas, di saat keadaan sedang rapuh seperti ini, maka Andreas tidak bisa hanya pergi sendirian.
Di dalam Apartemen, entah kenapa Naysila sudah merasa begitu gelisah tanpa sebab. Bahkan beberapa kali mengacak rambutnya sendiri karena rasa gelisah yang tidak tahu darimana asalnya.
Ketika pintu Apartemen terbuka, Naysila langsung menoleh saat melihat Andreas dan Byan yang datang, dia mencoba tersenyum. Meski rasa gelisah di hatinya semakin besar saat melihat wajah pria itu.
"Andreas, ada apa kamu datang kesini? Tumben sekali"
Naysila berdiri dan langsung menghampiri Andreas, ketika dia ingin memegang lengan pria itu, langsung di tepis kasar oleh Andreas. Tatapannya yang dingin dan tajam, membuat Naysila mundur satu langkah. Menyadari ada hal yang tidak baik-baik saja. Tatapan Andreas yang begitu tajam, bahkan pria itu yang berjalan mendekat padanya dengan tatapan dingin bercampur amarah.
Plak... Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi mulus itu hingga memerah. Naysila terkejut dengan itu, dia memegang pipinya yang terasa panas sekarang. Menatap Andreas dengan takut. Ketika pria itu terus melangkah mendekat padanya, Naysila pun terus melangkah mundur dengan wajah takut. Sampai dia tersudut di sofa dan jatuh terduduk disana.
"Naysila, bagaimana berpura-pura menjadi Natasha? Apa begitu senang mempermainkanku?" ucap Andreas, dia mencengkram dagu gadis itu dengan kuat.
Mata Naysila langsung terbelalak, terkejut saat mendengar ucapan Andreas barusan. "An-andreas, a-aku bisa jelaskan semuanya"
Plak... Satu tamparan di sisi pipi yang lain mendarat begitu keras. Hingga sekarang kedua pipi Naysila memerah. "Kau pikir aku akan terus percaya padamu yang terus membodohiku!!"
Andreas beralih menjambak rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak. Sudah tidak ada lagi rasa kasihan pada orang yang sudah membohonginya. "Tunggu waktunya kau hancur dalam genggamanku! Aku tidak akan membiarkan siapapun pembohong lolos begitu saja"
Air mata Naysila mengalir, namun sama sekali tidak dipedulikan. Bahkan jika dia menangis menjerit histeris sekalipun, Andreas sudah tidak akan pernah peduli lagi pada orang yang membohonginya. Dengan tarikan paksa Andreas mengambil cincin pertunangannya dengan Natasha dari jari Naysila. Membuat wanita itu menjerit kesakitan. Namun, Andreas tidak peduli. Jarinya memerah dan sedikit lecet karena tarikan paksa melepaskan cincin itu.
"Andreas, sakit... Hiks.."
"Sakit? Haha.. Aku tidak peduli!"
Andreas berbalik dan melangkah pergi, melewati Byan yang sejak tadi hanya berdiri menyaksikan. Byan melangkah ke arah Naysila yang masih meringis kesakitan, lalu tersenyum mengerikan.
"Kau pikir dia akan sebaik itu hingga membiarkanmu lolos setelah membohonginya? Haha.. Kau hanya bermimpi"
Byan berbalik dan meninggalkan Naysila yang terpuruk dengan tangisan yang pecah. Melihat jarinya yang terluka dan pipinya yang masih terasa panas. Bahkan Naysila juga melihat beberapa helai rambut yang terjatuh akibat jambakan kuat Andreas.
*
Mereka berjalan melewati koridor Apartemen, menuju lfit. "Byan, sebarkan berita tentang berakhirnya hubunganku. Biarkan saja itu menjadi nama Natasha terlebih dahulu, jika nanti perempuan itu berbuat ulah, kita bongkar semuanya. Jangan terlalu mengejutkan publik dulu untuk saat ini"
"Baiklah, aku mengerti"
Keduanya masuk ke dalam lift dan segera pergi dari Gedung Apartemen itu. Andreas menghembuskan napas panjang, cukup lelah dengan apa yang sudah terjadi.
Berapa orang lagi yang akan mempermainkanku? Tidak cukupkah Ibuku sendiri yang mempermainkanku?
Bersambung
kan papa Andreas seorang diri pasti Irena
menerima dengan senang hati wanita tulus biasanya mau melakukan hal baik
tujuan nya baik pasti akan selalu di sayang
banyak orang,,,ga sabar papa Andreas gendong cucu menjaga nya dan teriak Irena anak mu nagis minta susu ,,, bagaimana bahagia nya papa Andreas ,,,ibu ayah di kelilingi banyak orang baik'
akan kelain hati ❤️🌹🌹😂😂sweet banget si bikin n baper unyu unyu
seolah mengakui bahwa Ak lah ibu nya ,,,
ibu yang seperti apa ,,, tidak seperti keluarga calon mertua putramu hidupnya sederhana tidak punya harta berlimpah hanya cukup buat makan dan hidup sehari-hari tetapi sangat menyayangi putra dan putrinya hingga putramu selalu merebes matanya ketika melihat calon mertuanya menasehati anak anak nya dengan lemah lembut ,,,
ak sudah mak 😂jadi ngalah deh buat yang masih jomblo 😁
untung ga pingsan,,, aduh itulah para tuan tua sultan kalau sudah BUCIN mana ad yang bisa menggangu nya bisa senyap sekejap
sare,,,Tuhan tidak tidur,,sudah kehilangan pekerjaan mana menanggung adek atau orang tua atau cicilan dan di tambah tidak bisa bekerja di kantor manapun di beklis
pada mimpi' apa semalam lihat Yumna istri Bos Gavin mantan suaminya kan jahat sekarang nasibnya di hotel prodeo,,,👍😁
apa Irena yang jadi istri Andreas bukalah Ak,,saya cewek gitu merasakan tidak yang
suka ngagosip