NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—23

Didalam perjalanan ke arah markas, Aris menatap Bumantara yang ada di samping nya yang saat ini sedang memejamkan mata.

"Dari mana kamu tau semua ini, Buma?"

Bumantara membuka matanya pelan. "Dari seseorang," jawab nya singkat sembari menatap Aris dengan senyuman tipis.

Aris menghela napas panjang, jika Bumantara sudah berbicara seperti itu maka dia tidak bisa mencari tau nya lagi, meski penasaran nya sudah mencapai limit.

Bumantara kembali acuh tak acuh, ia menjadi teringat tentang kejadian pagi tadi.

Di markas saat melepas kan pria cungkring, Ares memberikan informasi untuk Bumantara.

"Er mendapat kan hasil penyelidikan tentang rangga dan anggota nya, tuan."

Ares menjulurkan sebuah tablet yang berisi informasi.

Bumantara membaca informasi itu dengan teliti, sesekali ia mengerutkan kening, "Ikuti pergerakan mereka berdua, selama menunggu kesiapan Aris dalam membalaskan dendam nya. Dan... biarkan Axel kembali bekerja dengan otak nya dalam mencari musuh."

Bumantara memberikan benda itu untuk Ares yang menengadahkan tangan dan mengangguk, lalu Bumantara pergi meninggal kan markas — tujuan nya hanya satu yaitu Arumi, perempuan yang seperti magnet berjalan, selalu menarik nya untuk mendekat di karena rindu yang juga sering menguasai hati dan pikiran nya.

Sejauh mobil melaju, akhirnya perjalanan mereka menuju kearah markas sampai, mobil itu terparkir dengan benar.

Bumantara menatap Axel dan Kenzo yang sedang menggotong tubuh Rangga yang terikat, membawanya ke kedalam ruangan penyiksa.

Terdengar helaan napas Aris yang panjang, Bumantara kembali memutarkan pandangan nya kearah pria di sebelah nya sedang mencoba menyalakan api untuk sepucuk rokok yang akan dia hisap.

Rambut Aris yang berantakan sudah terbukti sebagai pertanda bahwa pria itu sedang mengalami patah hati, meski di sembunyi kan dengan wajah yang datar.

"Gue rasa pekerjaan ini sudah cukup untuk malam ini." kata 'gue' seperti keakraban yang di berikan Bumantara sebagai teman, bukan pekerja seperti tuan dan bawahan. Dan itu sering di lakukan karena kondisi.

Aris menatap Bumantara lalu menganggu. "Lo benar. Kita malam ini butuh istirahat."

Aris tersenyum kecil, menepuk pundak Bumantara pelan. "Gue masuk dulu, seperti malam ini gue akan tidur di lantai atas saja," imbuh Aris sambil menunjukkan arah lantai dua tempat markas yang biasa jarang mereka tempati untuk bermalam, namun malam ini dia ingin di sini.

"Hmmm."

Bumantara menatap kepergian Aris sejenak, sebelum kembali menjalankan mobilnya.

Malam ini ia ingin kembali pulang kerumah Arumi — karena rindu yang tidak bisa ia tahan kan, bahkan jika bisa, ia ingin menghabiskan malam yang indah bersama Arumi.

Aneh nya dalam perjalanan kearah kontrakan Arumi, Bumantara menemukan satu hal yang membuat ia harus mengeraskan rahang nya, hanya untuk menahan emosi, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang terletak di parkiran cafe.

Menatap sosok yang membuat marah dan yang ingin ia hajar, namun harus ia tahan.

"Cocok sekali di jadikan target selanjutnya," gumamnya seraya kembali menjalankan mobilnya setelah berhasil menguasai emosi di dalam hati yang berkobar.

Gang kontrakan Arumi sudah terlihat, mobil Bumantara melaju hingga masuk gang lalu berhenti di depan halaman pelataran kontrakan Arumi.

Bumantara mencoba menghubungi Sean yang sekali dering langsung di angkat, dia menatap datar pintu kontrakan Arumi dengan jari tangan nya mengetuk-ngetuk steering wheel mobil nya.

"Cari tau tentang wanita itu..."

Pembicaraan itu terus berlanjut hingga berhenti saat ketukan di kaca mobil nya terdengar, ia mengalihkan pandangan nya dari kontrakan Arumi ke samping nya, dan mendapati seorang perempuan berpakaian seksi sedang mengetuk pintu mobil nya bahkan dengan sesekali mencoba mengintip dari kaca gelap itu.

"Lakukan seperti biasa, Sean," kata Bumantara sebelum mengakhiri panggilan nya, lalu membuka handle pintu mobil itu.

Tatapan Bumantara dan perempuan itu bertemu, ia mengerutkan kening saat perempuan itu berdiri dengan mematung bahkan mulut nya terbuka lebar.

"Tampan sekali," gumam perempuan itu yang masih bisa di dengar Bumantara karena keheningan malam yang sunyi.

Bumantara menghela napas panjang, lalu tak memperdulikan perempuan itu, ia kembali memasukan setengah badannya ke dalam mobil untuk mengambil barang yang sudah ia belikan dalam perjalanan.

Bumantara menutup pintu mobil nya dan kembali melihat perempuan itu yang masih mematung dengan tatapan terpesonanya. Ia tidak memperdulikan itu hingga saat kaki nya ingin melangkah kearah kontrakan Arumi harus terhenti karena sosok yang sedang ia rindukan berdiri di teras kontrakan nya dengan tatapan yang dingin.

Bumantara tersenyum saat tatapan mereka berdua bertemu, namun Arumi tak menyambut senyuman nya, membuat hati Bumantara bertanya-tanya, "Ada apa, dan kenapa?"

Arumi yang mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan kontrakan nya, dengan cepat bangun dari rebahan nya.

Ia mengintip dari balik kaca jendela, menunggu sosok dari dalam mobil itu ke luar, namun lima menit berlalu pintu itu belum juga terbuka, sehingga membuat Arumi merasa bingung.

Lalu tatapan nya mengarah kearah Elena yang baru pulang dari pekerjaan malam nya, bahkan Elena mengetuk pintu mobil itu yang Arumi tebak mobil Bumantara.

Dan ternyata benar selang beberapa menit, pintu mobil itu terbuka, pria tinggi nan tampan itu keluar dengan gaya yang seakan menebar pesonanya, itu yang ada di penglihatan mata Arumi.

Entah kenapa Arumi tidak suka saat melihat Bumantara dan Elena saling tatap-tatapan, perasaan tak nyaman di hati dan rasa panas yang menjalar membuat Arumi dengan cepat membuka pintu kontrakan nya, keluar, seraya melipat kedua tangan nya di atas perut — bahkan tatapan nya menjadi datar menatap kearah kedua manusia yang berbeda jenis kelamin itu.

Arumi mendengus kesal saat Bumantara memberi nya senyuman — seakan-akan senyuman itu sedang mengejek nya.

"Hei... selamat malam."

Arumi memutar bola matanya, saat Bumantara sudah berdiri di depan nya, bahkan wangi maskulin di tubuh Bumantara menguar hingga membuat Arumi ingin menghirup semua wangi itu.

"Arumi! Kamu kenal laki-laki ini?" pertanyaan mendadak di dekat telinga nya membuat Arumi tersentak, ia menoleh ke arah Elena yang sudah berdiri di sebelah nya — sejak kapan perempuan berpakaian seksi ini ada di sebelahnya?

"Arumi," Elena menyenggol lengan Arumi pelan, saat tak mendapat kan jawaban nya.

Arumi berdeham, kembali menatap Bumantara yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan nya dari Arumi.

"Bisa tinggal kan kami, nona," kata Bumantara, yang sedang mencoba mengusir perempuan pengganggu itu, bahkan tatapan nya tidak berpindah tempat dari Arumi nya.

Elena tersentak sambil mengelus dadanya, suara berat nan seksi itu membuat detak jantung nya berkerja tiga kali lipat, dia sedari tadi seperti di sihir akan ketampanan pria yang terlihat muda itu.

"Arumi, boleh aku masuk." Bumantara tidak menunggu jawaban dari Arumi, namun langsung masuk begitu saja melewati Arumi dengan tangan nya yang sempat mengelus jari Arumi.

Arumi tersentak, menengok dengan cepat kearah belakang nya, ia melihat pria itu masuk begitu saja kedalam kontrakan nya.

"Arumi, jadi laki-laki muda itu pria mu."

Arumi kembali menatap Elena yang masih menatap kearah hilang nya tubuh Bumantara dari balik pintu kecoklatan itu.

Arumi bingung ingin menjawab apa, hingga ia hanya mengangguk sekilas, tidak mungkin ia bilang tidak di saat Bumantara masuk ke kontrakan nya begitu saja.

"Aku kira kamu masih bersama Mas Dipta itu," kata Elena lagi.

Arumi menggeleng,"Bukannya aku pernah bilang. Bahwa aku udah enggak ada hubungan lagi sama Dipta."

——

——

Bersambung...

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!