NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Magenta berjalan lebih dulu, melangkah ringan seolah dunia memainkan simfoni kemenangan. Entahlah kemenangan jenis apa, mungkin kebersamaan mereka di mobil tadi menjadi memori indah yang membekas di benaknya. Kartu kamar hotel menari-nari di genggamannya, tidak sabar ingin merebahkan diri setelah seharian menahan pegal.

Sementara di belakangnya, Cyan menyusul dengan wajah sekusut awan mendung. Langkahnya bertolak belakang, seolah hatinya mengumpat sesuatu yang sulit terucap.

Tok, tok, tok!

"APA?” Cyan mengerutkan alis. “Kita cuma dapet ... satu kamar? YANG BENER AJA!”

“Bukan ‘cuma’, tapi ‘hanya’. Bedanya apa? Aku juga gak tau soalnya cuma ngasal nyeletuk aja,” balas Magenta kembali asbun, asal bunyi.

“MAGENTA!”

“Kebetulan bukan salahku, Syan. Admin kantor yang salah input.”

Magenta mengangkat ponsel, membaca pesan.

“Lihat nih. ‘Maaf, sistem membaca kalian sebagai duo presentasi intens dan direkomendasikan untuk satu kamar demi menjaga efisiensi’. Mampus gak, tuh?”

“KITA ITU BUKAN DUO. Kita kan bukan ... bukan apa-apa!” gertak Cyan hampir kehabisan kata-kata.

“Iya sih, tapi kayaknya sistem kantor mendeteksi kalo chemistry kita sudah klop gitu. Cucok meong,” kata Magenta yang membuat Cyan bergidik ngeri. Merinding sebadan-badan.

“Ini bukan saatnya ngelawak, Genta!”

Magenta tertawa pendek, lalu menyodorkan kartu kamar.

“Nggak perlu heboh gitu. Ayo, masuk dulu. Kita bahas di dalam.”

Begitu pintu kamar terbuka, Cyan masuk sembari mengutarakan kekesalannya. Sementara Magenta menutup pintu perlahan, lalu bersandar santai seolah tidak ada dosa.

“Syan, ya ampun. Kita sekamar cuma semalam. Biasa aja,” katanya santai, seolah bukan hal baru yang dibesar-besarkan.

“Biasa apanya?! Kamu cowok, aku cewek! GAK BISA DIANGGAP BIASA DOANG, GENTA!” teriak Cyan yang mulutnya langsung dibekap oleh tangan Magenta.

“Cuih, bau naga tanganmu!”

“HAHAHA. Anjir? Syan, kamu udah bisa ngelawak juga?” tanya Magenta setelah tertawa terbahak-bahak. Cyan enggan menanggapi, kembali mengembalikan topik utama perdebatan mereka malam ini.

“Kamu paham gak sih soal tadi? Ini gak biasa banget, Genta. Demi apa pun!”

“Iya, emang gak biasa, terus mau gimana?”

“Nah, makanya itu.”

“Tapi boleh dong belajar terbiasa?”

Cyan langsung menoleh cepat. “Belajar apa?!”

Magenta menarik koper masuk, meletakkannya, lalu berkata dengan wajah menggoda.

“Belajar tinggal bareng. Itung-itung persiapan. Kan aku calon suamimu.”

“CALON APA?! MAGENTA! JAGA UCAPANMU, YA!”

“Calon suamimu, Syan. Calon suami. Apa perkataan aku kurang jelas?” balas Magenta menyentuh dadanya sendiri.

“GENTA! Ini bukan bagian dari kontrak pura-pura kita!”

“Tapi kita lagi latihan.”

“LATIHAN APA?!”

“Latihan masa depan? Who knows? Gak ada yang tau ‘kan masa depan gimana. Kali aja kita beneran nikah kedepannya. Kalau kita jodoh gimana? Udah lah Syan, idup itu mah jangan dibikin pusing.”

“Sialan! Aku sumpahin kamu tidur di parkiran!” Refleks Cyan melempar bantal ke arah lelaki itu.

Magenta menangkis bantal sambil tertawa keras. “Syan, santai aja. Gak akan terjadi apa-apa. Aku cowok baik-baik, kok.”

“KAMU GAK BAIK-BAIK! DARI MANA LETAK BAIK-BAIKNYA ITU?”

“Tapi sumpah aku bakal jadi suami yang baik buat kamu.”

“STOP! JANGAN BAWA-BAWA KATA SUAMI!” teriak Cyan merinding.

“Oke, oke. Maaf. Mudah-mudahan malaikat nyatet.”

“Argh, Ya Tuhan ....”

***

Kamar itu sebenarnya cukup luas dan hangat dengan dua kasur rapi didempet. Deretan lampu kuning remang-remang dan jendela besar memperlihatkan kota Bandung yang berkabut. Ya, sudah cukup, lumayan jadi tempat istirahat mereka saat ini.

Namun, sayangnya, Cyan tidak sempat mengagumi keindahannya. Akibat lelah dan rasa kantuk yang kuat, gadis itu langsung menunjuk kasur.

“Genta, pisahin kasurnya.”

Magenta tersenyum meledek, “terus setelah itu taro mana? Toilet? Jangan aneh-aneh Syan. Aku nggak mau di denda hotel.”

Cyan sedikit memijit pelipisnya. Tubuhnya menolak satu kasur dengan pria nyebelin itu. Kebayang harus denger celotehan Magenta yang bikin idupnya tambah pusing tiga kali lipat. Tapi bener juga kata Magenta, kasur itu memang luas dan ada dua, tapi divan kasur hanya satu, kalau di pisah harus taro dimana?

“Oke. Kamu di sebelah sana, aku di sebelah sini. Jarak minimal satu meter.”

“Tentu, tapi boleh kutanya sesuatu?”

“Apa lagi?!”

“Siapa yang ukur jaraknya?”

“Gak usah ribet. Kalau kamu ribut lagi, aku pindah tidur di lobby.” Cyan memicingkan mata.

“Jangan gitu, nanti resepsionisnya iri.”

Cyan mengambil bantal dan memukulkan ke bahunya. “MAGENTA! Fokus!”

“Oke-oke, kita bagi zona. Kamu kutaruh di area perdamaian. Aku di area perang,” balas Magenta menahan tawa.

“Kenapa aku di area perdamaian?”

“Soalnya kamu butuh kedamaian biar gak marah-marah mulu.”

“AKU NGGAK—”

“Syan, ssst! Stop marah-marah, ya. Bahkan ketika aku diem, kamu juga marah. Aku heran tau, jujur.”

Cyan terdiam.

Sialan.

Benar juga.

Ia mendengus, memalingkan wajah. “Terserah.”

Cyan sudah naik ke tempat tidur, memeluk selimut seperti memeluk harga diri. Sedangkan Magenta masih sibuk mengatur AC di dinding.

“Kamu mau dingin atau hangat?” tanya Magenta tidak menoleh ke arah gadis itu.

“Dingin.” Jawaban Cyan cepat.

“Berapa? 19? 20?”

“17.”

“Syan, kamu kalau mau cosplay jadi pinguin Antartika, mending ke sana aja langsung. Aku gak mau masuk berita ditemukan mati kedinginan.”

“Aku gak bisa tidur kalo panas,” kilah Cyan santai.

Magenta mendesah pelan. “Aku gak bisa tidur kalo beku.”

“Terus?”

“Kita cari tengah.”

“17.”

“Itu tengah?”

“18.”

“Syan.”

“19.”

“Syan!”

“Genta!”

Keduanya terdiam lalu saling tatap.

“19,5?” Magenta menawarkan.

“Jangan manja. 19 aja. Beda tipis doang.”

“Oke, 19.”

“Bagus.”

“Kalo besok aku bangun jadi es batu, kamu tanggung jawab.”

“Tanggung jawab matamu.”

“HAHAHA!”

Perdebatan itu pun usai ketika keduanya sama-sama berbaring santai. Ketika Cyan mulai tertidur, ia merasa selimutnya ditarik. Sontak saja ia membuka mata lebar, memelotot lebih tepatnya.

“MAGENTA!”

“Aku cuma mau bagian pinggirnya!” protes Magenta dari kasur sebelah. “Selimutku bolong!”

“BUKAN MASALAH AKU!”

“Syan, kamu tidur kayak gulungan sushi. Semua kain kamu pake buat bungkus diri sendiri!”

“Kalau kamu kedinginan, salah sendiri AC-nya di-set dingin.”

“Kamu yang minta 19!”

“Sembilan belas itu normal!”

“Normal di Antartika!”

“MAGENTA!”

“SYAN!”

Selimut mereka tertarik kiri-kanan seperti bendera perang.

Cyan menarik. Magenta menarik. Cyan melotot mengancam, sedangkan Magenta malah menyungging senyum tak takut.

Kemudian Cyan tiba-tiba berdiri, menggenggam ujung selimut sekuat tenaga. Ayolah, mereka seperti anak kecil berebut sebuah permen langka.

Magenta mendengkus tidak terima. Ia ikut berdiri, merapatkan kedua kakinya, lalu menarik selimut dengan tenaga tidak kalah kuatnya.

Tarikan demi tarikan membuat kain itu bergoyang. Cyan menarik sekuat mungkin, wajahnya bahkan memerah padam. Namun, Magenta membalas lebih keras. Hingga ....

Bruk!

Cyan kehilangan titik keseimbangam. Sebelum ia sadar, ia jatuh ke sisi Magenta. Magenta ikut terdorong, memegang pinggang Cyan agar tidak jatuh ke lantai.

Dan, yak, tentu aja sesuai harapan netizen. Bibir mereka bertemu, bertaut sempurna. Tidak sekadar menyentuh sekilas, tapi menempel penuh cukup lama. Lumayan membuat jantung keduanya mogok sepersekian detik.

Napas hangat itu menyambut keduanya, melayang-layang di awan lepas, menikmati betapa lembutnya bibir masing-masing. Sial sekali, Magenta seolah memanfaatkan situasi. Ia menikmati, memejamkan mata, lalu tak terasa tangannya menarik pinggul Cyan agar jarak mereka semakin dekat.

Kini keduanya bertukar posisi dengan Magenta berguling ke atasnya. Cyan yang jomblo akut dari bayi baru sadar betapa manisnya ciuman pertama kali itu, terlebih Magenta terlalu memaksa agar semakin dalam. Perlahan, lidahnya terjulur, mencari sesuatu di dalam sana. Sesekali ia mengisap lidah Cyan, membuat gadis itu meremang.

“A-aku gak bisa napas,” bisik Cyan melepas pagutannya sebentar. Magenta terkekeh, ia sebenarnya tidak peduli. Pria itu memilih pura-pura tuli karena sejujurnya ia menyukai ketidaksengajaan ini.

“Sorry Bu Bos, aku ulangi lagi biar lebih mantep.”

“GEN ...!”

Belum sempat Cyan melanjutkan, bibirnya kembali diisap kuat oleh Magenta. Seolah nggak memberi celah, Cyan hanya bisa pasrah karena semakin lama, ia bodohnya malah semakin menikmati juga. Dasar kampret, hatinya luluh karena cara Magenta begitu lembut. Ia tidak merasa dipaksa, tapi untuk ngaku kalau dia juga suka itu nggak mungkin terjadi, karena dia gengsi. Dibalik penyangkalan itu tetep aja getaran perasaan aneh bikin hatinya semaput.

Perlahan Cyan mencoba mendorong badan pria bogel yang cuma 10cm diatasnya tapi tetep gagal. Magenta terus menahan, membuat Cyan tetap terbaring di kasur tanpa melepas ciuman itu. Kedua mata mereka terpejam sempurna, masing-masing mencoba mencerna apa yang terjadi sebenarnya.

“Genta,” panggil Cyan. Magenta membuka mata, memastikan Cyan baik-baik saja.

“Kenapa? Jangan bilang kamu kehabisan napas lagi?” tanya Magenta menaikkan sebelah alisnya.

“Ng-nggak, bukan itu. Perbuatan kita ini… salah. Eh, itu maksudku... aku.... Genta… ini dosa…,” kalimat barusan cuma terdengar kayak cicitan tikus yang pelan banget bahkan kalah sama berisiknya AC jadul hotel berukuran 2PK yang kayak adu mesin.

“Tenang aja, relax dulu. Gak usah bingung.” Senyum Magenta terlalu sok polos tapi detak jantung Cyan sudah cukup menjadi jawaban. Ia sempat menghindar, tetapi dengan cepat ditangkap lagi oleh pria itu. Mau lari ke mana? Sedangkan hanya ada mereka berdua.

“Gen, jangan. Aku belom pernah ciuman..”

“Syan, kepalang tanggung. Kalo nggak dilanjutin rasanya kentang banget sumpah.”

“Lanjut? Kamu gila?!”

Kedua tangan Cyan dikunci di atas kepalanya, ia tak bisa berbuat banyak saat ini. Magenta kembali menciumi, kini lebih intens dan dalam, menjelajahi lebih lama. Ah, manis sekali, Magenta sendiri bingung bagaimana cara mendeskprisikan rasa itu. Mencoba bibir amatir milik atasannya yang kaku. Walaupun ia yakin setelah adegan ini berakhir nyawanya akan dalam bahaya, mengingat atasan yang seperti singa lapar itu kalau udah marah.

“Hm? Sebelum kamu mulai mukul aku, aku duluan yang gerak. Gimana?”

“GENTA!”

“Sshhhh, jangan teriak gitu, Syan. Kalau orang lain denger terus ngiranya kita lagi berbuat aneh gimana tuh?”

“Ini cuma modus kamu! Bukan praktek pacaran! Lagian kita kan nggak mungkin bakal ciuman depan orang tuaku, Gen,” ucap Cyan.

“Aku yakin ilmu ini bisa berguna kok, sekarang atau nanti.”

“GENTA!”

Magenta mencium lagi, kali ini tidak begitu lama, cukup tiga kali kecupan singkat di permukaan bibir lalu dilepaskan. Ia membiarkan Cyan berpikir tentang apa yang terjadi di antara mereka. Hingga detik demi detik berlalu, Cyan dan Magenta baru sadar dan mematung kayak tugu selamat datang.

Cyan membeku, tubuh Magenta juga kaku. Napas Magenta terhenti sesaat. Hanya hujan di luar yang masih bergerak dan napas mereka yang bersahutan. Jantung Cyan berdetak kacau di dada. Posisinya saat ini masih dibawah tubuh Magenta.

Magenta mengangkat alisnya jahil, sedikit senyum smirk timbul. Dan pada detik keempat, yang terasa seperti sepuluh menit, Cyan akhirnya tersentak sadar. Ia mendorong Magenta dengan terlalu cepat dan kasar.

“A-aku i-itu kecelakaan! Itu kecelakaan besar! Dan kamu juga ngapain sih!” ucap Cyan terbata, tremor seketika.

“Iya deh, itu kecelakaan.”

“Tolong jangan senyum!”

“Aku gak senyum.”

“Kamu SENYUM!”

“Aku shock loh.”

“Shock apanya? Kamu membalas!”

“Balas? Apanya, Syan? Aku cuma nyium kamu balik aja.”

“JANGAN DIBAHAS!”

Magenta menatap lurus matanya, sangat dalam dan bermakna. Hal itu justru membuat Cyan semakin gerah. Suhu AC sedingin Antartika pun tidak berefek padanya saat ini. Ia mulai berkeringat dingin.

“Aku shock karena kamu lembut.”

Cyan menutup wajah dengan bantal. “MAGENTA! STOP!”

“Oke, oke. Gak usah panik. Bibir kamu masih utuh di situ. Aku juga nggak narik kuat-kuat kok.”

“Gila! Aku bakal tidur di LANTAI ya?!”

“Jangan, kamu nanti masuk angin, Syan.”

“Peduli apa aku?! Sana. Jaga jarak. Shuuh!”

“Yakin?”

“Yakin lah. Kamu itu ngeri banget, Genta. Aku takut.”

“Takut apa nagih?” Magenta cengengesan.

“DIAM KAMU, GENTA!”

“Ya ampun istriku galak banget heung.”

“GENTA!”

“Iya ... iyadeeeeh,” balasnya pasrah.

Menit demi menit setelahnya, keduanya cenderung diam, canggung dan gelisah. Bayangan kejadian tidak disengaja itu selalu berputar di pikiran Cyan.

Cyan memeluk selimut terlalu erat. “Lain kali jangan dekat-dekat.”

“Yang narik selimut duluan kan kamu?”

“ITU BEDA!”

“Syan\~”

“Apa lagi?!”

“Napas kamu tadi wangi banget loh.”

Cyan melempar bantal ke wajahnya lagi, entah sudah berapa banyak Magenta menangkis lemparan itu.

“MAGENTA!”

1
Anisa Saja
malu-malu meong nih
IR Windy
magenta makin seneng gak tuh dibilangin kek gitu
IR Windy
si raka emng peka bgt smpe hal2 kecil
IR Windy
hayoloo.. alya sampe neting gitu
IR Windy
okeee cyan mulai jinak nih kayaknya
IR Windy
kesempatan dlm kesempitan itu mh wkwk
IR Windy
kapan mreka gk brantem wkwk
IR Windy
si genta mah emg nyari kesempetn aja, jd gk cuma bantu
IR Windy
bantet gak tuh wkwk fiks kalo gaada magenta bakal sepi sih hidup cyan
IR Windy
magenta ngeselin poll ya
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Rain (angg_rainy): Awalnya🙈 balas budi aja lama2
total 1 replies
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!