Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTAMA KALI MENYEMBUHKAN
Empat minggu telah berlalu sejak Evan menemukan ruangan rahasia Kakek Darmo. Setiap hari setelah sekolah, ia langsung berlari ke rumah leluhurnya – terkadang menyusuri jalan sawah yang masih basah atau mengambil jalan pintas melalui kebun jagung yang tinggi – untuk menghabiskan waktu belajar bersama Kakek Darmo. Mereka menghabiskan sebagian waktu di bawah pohon beringin, mengamati dan mempraktikkan dasar-dasar gerakan beladiri yang diajarkan dengan sangat sabar oleh leluhurnya. Sisanya mereka habiskan di ruangan rahasia itu, mempelajari setiap buku kuno dengan cermat, mengenal nama dan khasiat setiap tanaman, serta cara mengolahnya menjadi ramuan yang efektif.
Kakek Darmo telah mengajarkan Evan cara mengumpulkan bahan obat dengan benar – hanya mengambil bagian tanaman yang diperlukan tanpa merusak tanaman itu sendiri, selalu mengucapkan terima kasih kepada alam sebelum dan sesudah mengambilnya, dan hanya mengumpulkan di waktu yang tepat sesuai dengan fase bulan dan kondisi cuaca. Evan juga belajar cara mengeringkan daun dan akar dengan benar agar khasiatnya tetap terjaga, cara menyimpannya dalam wadah yang sesuai, dan cara membuat ramuan dalam berbagai bentuk – mulai dari teh hangat, ramuan yang harus diminum hangat, hingga salep yang digunakan untuk mengolesi bagian tubuh yang sakit.
Pada suatu sore hari, ketika matahari mulai menyebarkan warna jingga ke langit kampung, Evan sedang membantu Kakek Darmo mengeringkan daun sirih merah dan kunyit di teras rumah ketika mereka mendengar suara tangisan yang jelas terdengar dari arah rumah Pak Jono – tetangga mereka yang tinggal tiga rumah jauhnya. Segera setelah itu, Mbok Siti – istri Pak Jono – berlari ke arah rumah Kakek Darmo dengan wajah yang penuh kesusahan, kakinya yang tergesa-gesa membuatnya hampir terjatuh di jalan tanah yang berlubang akibat hujan kemarin.
"Pak Darmo, tolong dong..." teriak Mbok Siti dengan suara yang bergetar, menangis sambil menutupi mulutnya dengan tangan. "Jono sakit parah – dia sudah tiga hari tidak bisa bangun dari tempat tidur, badan nya panas sekali dan terus muntah-muntah. Saya sudah memanggil bidan dari desa sebelah tapi tidak ada perubahan sama sekali. Tolong bantu saya, Pak Darmo..."
Kakek Darmo berdiri dengan cepat, mengambil tas kayu kecil yang selalu ia gunakan untuk membawa alat dan bahan obat darurat. "Tenang saja Mbok Siti," ujarnya dengan suara yang menenangkan. "Kita segera pergi melihatnya. Evan, ambilkan botol air hangat dan bungkus daun sirih merah yang sudah kering itu ya cucu."
Evan segera menjalankan perintah leluhurnya, mengambil apa yang diminta dan mengikutinya dengan cepat ke rumah Pak Jono. Saat mereka memasuki rumah sederhana yang terbuat dari bambu dan genteng, mereka langsung merasakan suasana yang suram. Pak Jono terbaring tak berdaya di atas tikar yang diletakkan di lantai rumah, wajahnya kemerahan akibat demam tinggi, napasnya tersengal-sengal, dan kadang-kadang mengeluarkan suara rengekan yang menyakitkan hati.
Kakek Darmo mendekati tempat tidur Pak Jono dengan hati-hati, menyentuh dahinya dengan telapak tangannya untuk merasakan suhu tubuhnya, kemudian memeriksa lidahnya dan bagian tubuh lainnya yang mungkin menunjukkan gejala penyakit tertentu. Evan berdiri di belakang Kakek Darmo, memperhatikan setiap gerakan leluhurnya dengan seksama, mencoba mengingat apa yang telah diajarkan tentang cara memeriksa kondisi pasien.
"Sakit perut dan muntah terus menerus, demam tinggi, dan badan terasa sangat lemah," bisik Kakek Darmo sambil merenung. Ia melihat ke arah Mbok Siti yang sedang menanti dengan penuh harapan. "Sudah berapa lama Pak Jono makan makanan yang tidak biasa atau minum air dari sumber yang berbeda?"
Mbok Siti menggelengkan kepalanya dengan bingung. "Kemarin kami pergi ke pasar desa untuk membeli barang kebutuhan, dan Jono membeli tahu bulat yang dijual di pinggir jalan. Setelah itu dia juga minum air dari sumur umum di pasar karena merasa sangat haus. Saya merasa tidak enak dengan itu tapi dia tidak mau mendengarkan..."
Kakek Darmo mengangguk perlahan, sudah tahu kemungkinan penyebab penyakit yang menyerang Pak Jono. "Dia terkena keracunan makanan dan mungkin juga infeksi dari air yang tidak bersih," ujarnya dengan tegas. "Kita harus segera memberikan ramuan agar keracunan bisa keluar dari tubuhnya dan demamnya bisa turun."
Ia berbalik menghadap Evan dengan tatapan yang penuh harapan. "Evan, kamu sudah belajar tentang ramuan untuk mengatasi keracunan makanan dan demam tinggi kan? Apa saja bahan yang diperlukan?"
Evan merasa hati nya berdebar kencang – ini adalah kesempatan pertama bagi dia untuk menerapkan apa yang telah dia pelajari selama ini. Ia mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, kemudian menjawab dengan suara yang jelas meskipun sedikit gemetar. "Daun sirih merah untuk membersihkan racun dari dalam tubuh, akar kunyit untuk menurunkan demam dan mengurangi peradangan, sedikit madu untuk menambah energi dan membantu proses penyembuhan, dan air kelapa muda untuk menggantikan cairan yang hilang akibat muntah."
"Benar sekali, cucu," ucap Kakek Darmo dengan senyum bangga. "Sekarang, kamu akan membantu saya membuat ramuan tersebut. Ini akan menjadi kesempatan pertama kamu untuk menyembuhkan orang lain. Ingat apa yang sudah saya ajarkan – hati harus tenang, pikiran harus fokus, dan setiap langkah harus dilakukan dengan penuh rasa cinta dan perhatian."
Mereka segera bekerja sama – Kakek Darmo mengambil akar kunyit yang sudah disiapkan dan mulai menguleknya dengan cobek dan ulekan kayu, sementara Evan membersihkan daun sirih merah dan memotongnya menjadi potongan kecil sesuai dengan cara yang diajarkan. Mereka menggunakan air panas dari kompor tanah yang ada di rumah Pak Jono untuk membuat ramuan tersebut, menambahkan madu yang dibawa Mbok Siti dan sedikit air kelapa muda yang baru diambil dari pohon kelapa di halaman depan rumah.
Saat ramuan sedang dibuat, aroma khas dari daun sirih merah dan kunyit memenuhi seluruh ruangan, menggantikan aroma tubuh yang tidak sedap akibat demam tinggi Pak Jono. Evan memperhatikan setiap gerakan Kakek Darmo dengan seksama – bagaimana ia mengontrol kekuatan ketika mengulek bahan-bahan tersebut, bagaimana ia menambahkan setiap bahan dengan takaran yang tepat, dan bagaimana ia mengaduk ramuan tersebut dengan ritme tertentu yang seolah ada hubungannya dengan proses penyembuhan itu sendiri.
Setelah ramuan siap dan sedikit dingin agar tidak terlalu panas ketika diminum, Kakek Darmo memberikan sinyal kepada Evan untuk membantu memberikannya kepada Pak Jono. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap stabil, Evan membantu mengangkat badan Pak Jono sedikit agar ia bisa minum ramuan dengan lebih mudah. Mbok Siti membantu menyangga tubuh suaminya sambil menangis dengan harapan yang baru muncul di matanya.
Pak Jono minum ramuan tersebut dengan susah payah, terkadang muntah sebagian namun sebagian besar berhasil masuk ke dalam tubuhnya. Setelah itu, Kakek Darmo menginstruksikan Evan untuk membuat kompres dingin dari daun sirih merah yang direndam dalam air dingin untuk ditempelkan pada dahi dan ketiak Pak Jono untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya. Evan melakukan semua itu dengan sangat hati-hati, mengingat setiap kata yang diajarkan Kakek Darmo tentang pentingnya memberikan perawatan dengan penuh kasih sayang dan penghormatan terhadap orang yang sedang sakit.
Setelah semua selesai, Kakek Darmo memberikan instruksi kepada Mbok Siti tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya – memberikan air kelapa muda secara teratur, menjaga ruangan tetap sejuk dan berventilasi baik, dan mengamati kondisi Pak Jono dengan cermat. Ia juga memberikan beberapa ramuan yang sudah dibuat sebelumnya agar bisa diberikan jika kondisi Pak Jono belum membaik dalam waktu beberapa jam.
"Sekarang kita harus meninggalkan mereka agar Pak Jono bisa beristirahat dengan tenang," ujar Kakek Darmo kepada Evan ketika mereka keluar dari rumah Pak Jono. "Proses penyembuhan butuh waktu, cucu. Kita tidak bisa mengharapkan orang sakit sembuh dalam sekejap mata. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan bantuan yang terbaik dan mempercayai bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menyembuhkan tubuh yang sakit."
Namun, ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Kakek Darmo, Mbok Siti berlari mengejar mereka dengan wajah yang sudah tidak lagi penuh kesusahan melainkan harapan yang jelas terlihat. "Pak Darmo! Evan! Tadi setelah kalian pergi, Jono sudah bisa muntah dengan lebih banyak dan sekarang dia sudah bisa membuka mata nya! Dia bilang merasa sedikit lebih baik dan ingin minum lagi ramuan yang kalian berikan!"
Kakek Darmo dan Evan saling melihat dengan senyum bangga. Evan merasa sesuatu yang luar biasa di dalam dirinya – bukan rasa sombong atau bangga akan diri sendiri, melainkan rasa lega dan bahagia yang mendalam karena bisa membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan. Ia merasa bahwa semua yang telah dia pelajari selama ini mulai memiliki makna yang lebih dalam, bahwa ilmu yang diwariskan leluhurnya bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan.
Pada malam hari itu, setelah Evan kembali ke rumahnya dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya, ia kembali ke rumah Kakek Darmo. Ia menemukan leluhurnya sedang duduk di bawah pohon beringin, melihat ke arah langit yang sudah mulai penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang.
"Bagaimana rasanya, cucu?" tanya Kakek Darmo tanpa melihat ke arah Evan. "Rasanya ketika kamu bisa membantu menyembuhkan orang lain?"
Evan duduk di sisi Kakek Darmo, melihat ke arah langit yang indah itu. "Sangat berbeda dengan apa pun yang pernah saya rasakan sebelumnya, Kakek. Saya merasa seperti ada energi yang mengalir dari dalam diri saya ke dalam tubuh Pak Jono ketika saya memberikannya ramuan. Seolah saya bisa merasakan kesakitannya dan berharap dengan segenap hati agar dia segera sembuh."
Kakek Darmo tersenyum lembut, kemudian menepuk bahu Evan dengan tangan yang penuh kasih sayang. "Itu adalah tanda bahwa kamu memiliki hati yang benar untuk menjadi penyembuh, cucu. Banyak orang bisa belajar ilmu pengobatan secara teknis, namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain dan ingin membantu mereka dengan segenap hati. Itulah yang membuat seorang penyembuh benar-benar hebat – bukan hanya karena ilmu yang dia miliki, namun karena cinta dan perhatian yang dia berikan kepada orang yang dia bantu."
Ia berdiri perlahan dan mengajak Evan untuk berjalan ke arah kebun belakang rumahnya. Di sana, di bawah sinar bulan yang terang, Kakek Darmo menunjukkan kepada Evan berbagai jenis tanaman obat yang tumbuh di sana – dari jahe, kunyit, temu putih, hingga tanaman yang lebih langka seperti temu lawak dan pegagan.
"Mulai dari hari ini," ujar Kakek Darmo dengan suara yang penuh tekad, "kamu akan belajar tidak hanya tentang cara mengobati penyakit yang sudah ada melainkan juga tentang cara mencegah penyakit terjadi. Kita akan belajar tentang pentingnya pola makan yang sehat, kebersihan diri dan lingkungan, serta hubungan yang harmonis dengan alam sekitar kita. Karena yang terbaik dari semua bentuk pengobatan adalah mencegah penyakit sebelum ia datang."
Evan mengangguk dengan penuh semangat, melihat ke arah kebun yang penuh dengan tanaman obat itu seolah melihat dunia baru yang terbuka di depannya. Ia sudah tidak lagi hanya seorang anak muda yang penasaran dengan ilmu leluhurnya – ia mulai merasa bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan ilmu itu, untuk menggunakan nya untuk membantu orang lain dan menjaga kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Pada hari berikutnya, ketika Evan datang ke rumah Pak Jono bersama Kakek Darmo untuk memeriksa kondisinya lagi, mereka menemukan Pak Jono sudah bisa duduk dan bahkan sedikit bisa berjalan. Wajahnya sudah tidak lagi kemerahan akibat demam, dan matanya sudah kembali bersinar dengan harapan.
"Terima kasih banyak, Pak Darmo... terima kasih Evan," ujar Pak Jono dengan suara yang masih lemah namun jelas terdengar. "Jika bukan karena bantuan kalian berdua, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga saya. Ramuan yang kalian berikan benar-benar bekerja seperti sihir."
Kakek Darmo menggelengkan kepalanya dengan senyum lembut. "Ini bukan sihir, Pak Jono. Ini adalah ilmu yang telah diwariskan dari leluhur kita selama berabad-abad – ilmu yang berasal dari alam dan diberikan kepada kita untuk digunakan dengan baik. Dan Evan di sini akan menjadi penerus ilmu itu, siap untuk membantu siapapun yang membutuhkan bantuan."
Evan merasa wajahnya sedikit memerah karena pujian yang diberikan Pak Jono, namun dia juga merasa bangga dan semakin yakin dengan jalan yang akan dia tempuh. Di bawah naungan pohon beringin yang sama tempat dia pertama kali melihat leluhurnya berlatih beladiri, dan dengan pengetahuan tentang ilmu pengobatan yang baru saja dia terapkan untuk pertama kalinya, Evan merasa bahwa dirinya sudah siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan – siap untuk menerima warisan leluhurnya dengan penuh rasa tanggung jawab dan siap untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat sekitarnya.
Di kejauhan, matahari mulai terbit lagi, menyebarkan sinar cahaya yang hangat ke seluruh kampung Cibuntu. Dan seperti sinar matahari yang memberikan kehidupan bagi semua makhluk di bumi, Evan merasa bahwa ilmu yang dia pelajari akan memberikan harapan dan kehidupan baru bagi mereka yang sedang dalam kesusahan – sebuah harapan yang akan terus menyala terang seperti lilin yang tidak pernah padam oleh angin, menerangi jalan bagi mereka yang sedang dalam kegelapan kesakitan dan ketidakpastian.