Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pesta Topeng
Lampu gantung kristal di ballroom kediaman Gubernur Astinapura berpijar dengan cahaya yang terlalu menyilaukan, seolah-olah kemewahan itu sengaja dipasang untuk membutakan mata siapa pun yang mencari kebenaran. Udara di dalam ruangan luas itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal yang tumpang tindih, namun bagi Nayara, bau itu tetap tidak bisa menutupi aroma busuk anyir yang samar—sebuah residu energi gelap yang ia kenali sejak serangan di dalam lift menara beberapa waktu lalu.
Nayara melangkah perlahan di samping Arkananta. Gaun malamnya yang elegan menyembunyikan sapu tangan kasar dari panti asuhan yang ia selipkan di balik lipatan kain. Di balik sarung tangan sutranya, ia menggenggam tasbih kayu yang butirannya kini terasa kusam dan memudar pucat. Topeng porselen putih yang ia kenakan terasa dingin menempel di kulit, memberikan sensasi sesak yang aneh, seolah topeng itu adalah bagian dari kulit wajah yang mulai membeku.
"Pertahankan posisi lengan Anda pada saya, Nayara. Di koordinat ini, setiap ekspresi keramahan adalah instrumen agresi yang terselubung," bisik Arkananta. Suaranya rendah, bergetar dengan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh istrinya.
Arkan mengenakan topeng perak yang menutupi separuh wajahnya, namun itu tidak bisa menyembunyikan rahangnya yang mengeras. Sumsum tulangnya masih berdenyut panas, sisa dari proses absorbsi energi kelabu yang ia lakukan di kamar mereka untuk melindungi batin Nayara dari sisa trauma hinaan iparnya.
"Saya mendeteksi eksistensi mereka, Arkan. Bukan hanya subjek fisik, namun proyeksi entitas gelap yang melekat pada otoritas mereka," jawab Nayara lirih. Penglihatan batinnya yang mulai aktif menangkap bayangan hitam ghaib yang menari-nari di sela kerumunan elit politik.
"Itu adalah manipulasi proyeksi dari Kyai Hitam. Targetnya adalah destabilisasi mental agar martabat Anda mengalami degradasi di ruang publik," Arkan mempererat cengkeramannya pada jemari Nayara. "Ingat, Anda memegang status sebagai istri Arkananta. Anda dilarang melakukan devaluasi diri di hadapan bayangan."
Langkah mereka terhenti ketika sekelompok wanita sosialita dengan topeng bulu-bulu mendekat. Di tengah mereka berdiri Kireina, mengenakan gaun merah darah yang tampak kontras dengan kesunyian Nayara. Kireina memegang segelas minuman berwarna kuning keemasan, namun Mata Kebenaran Nayara melihat cairan itu memancarkan uap hitam yang tipis—racun ringan yang dirancang untuk merusak pita suara.
"Ah, permaisuri High Tower akhirnya muncul. Aku dengar diagnosa medis dari dewan keluarga sangat mengecewakan, ya? Sungguh malang, sebuah vas bunga yang indah tapi tidak bisa menampung benih," cicit salah satu wanita di samping Kireina, disusul tawa halus yang terdengar seperti gesekan logam.
Nayara merasakan resonansi Shared Scar bergejolak. Di sampingnya, Arkan tiba-tiba menarik napas manual yang berat. Arkan merasakan sensasi plastik panas yang mencekik lehernya, sebuah transfer rasa sesak dari apa yang dirasakan Nayara saat ini.
"Objek dengan nilai historis tinggi tetap mempertahankan valuasinya, Nyonya. Dibandingkan unit piala plastik yang dapat diakuisisi secara masal di bursa suvenir politik," balas Nayara. Suaranya tenang, tanpa getaran emosi, sebuah manifestasi martabat sunyi yang membuat tawa para wanita itu terhenti seketika.
Denting Gelas dan Racun Ghaib
Kireina melangkah maju, menyodorkan gelas yang dibawanya kepada Nayara. "Jangan terlalu tegang, Nayara. Ini adalah pesta perayaan. Minumlah ini untuk merayakan... kesunyian di masa depanmu."
Nayara menatap gelas itu. Ia bisa mencium aroma arsenik yang samar bercampur dengan bau bunga bakung. Di bahu Kireina, ia melihat bayangan monster ghaib dengan kuku panjang yang mencoba menyentuh lehernya. Penderitaan batin Nayara memuncak, namun ia tidak mundur. Ia mengambil gelas itu dengan gerakan yang sangat anggun.
"Arkan, terdeteksi sensasi termal membakar pada area laring saya," bisik Nayara melalui ikatan batin mereka.
Arkananta merasakan sensasi panas yang sama di tenggorokannya. Ia tahu jika Nayara meminum itu, martabat mereka akan hancur malam ini. Arkan menatap Kireina dengan mata mendingin, seolah-olah topeng peraknya bisa memancarkan hawa membunuh.
"Istri saya hanya mengonsumsi apa yang melalui prosedur penuangan tangan saya sendiri, Kireina. Simpan simulasi keramahan Anda untuk Erlangga yang sedang melakukan observasi dari sudut tersebut," ucap Arkan sembari mengambil gelas itu dari tangan Nayara.
"Kau terlalu protektif, Arkan. Apa kau takut istrimu akan mengatakan sesuatu yang memalukan jika lidahnya sedikit tersentuh minuman ini?" Kireina tersenyum sinis di balik topengnya.
Arkan tidak menjawab. Ia memutar gelas itu perlahan, lalu dengan gerakan yang tampak tidak sengaja, ia membiarkan sedikit cairan itu tumpah ke lantai marmer. Seketika, marmer yang terkena cairan itu berubah warna menjadi kusam—sebuah bukti kimiawi dari racun yang disamarkan.
"Lantai ini menunjukkan resistensi terhadap pemberian Anda, Kireina. Secara logis, jangan mengharapkan istri saya melakukan penerimaan," Arkan meletakkan gelas itu kembali ke atas nampan pelayan yang lewat dengan denting yang tajam.
Nayara mengembuskan napas perlahan. Ia meremas sapu tangan Terra di balik gaunnya, mencari tekstur kasar yang bisa mengingatkannya pada kemurnian panti asuhan di tengah kemunafikan ballroom ini. Ia melihat Erlangga berjalan mendekat dengan topeng emas, diikuti oleh beberapa ajudan yang membawa dokumen-dokumen fisik.
"Pemandangan yang luar biasa. Sang Komandan dan istrinya yang... bermasalah," Erlangga bersuara dengan nada yang sangat ramah namun penuh dengan ancaman tersembunyi. "Arkan, kita perlu melakukan diskusi strategis mengenai posisi istri Anda dalam struktur yayasan Empire. Para donatur mulai mempertanyakan legitimasi suksesi."
"Legitimasi tidak dikonstruksi di atas dokumen medis fabrikasi yang didistribusikan melalui kurir gelap pada sepertiga malam, Erlangga. Saya telah mengidentifikasi subjek yang mendanai peretasan database rumah sakit tersebut," Arkan melangkah satu tindak lebih maju, menekan aura keberadaan Erlangga.
"Tuduhan berat, Arkan. Tapi di dunia politik, persepsi adalah kenyataan. Dan saat ini, persepsi publik adalah istrimu hanyalah beban bagi kariermu," Erlangga menatap Nayara lewat celah topeng emasnya. "Bagaimana rasanya, Nayara? Menjadi variabel penyebab destruksi pria yang kau cintai?"
Nayara mendongak. Ia tidak menangis. Meskipun batinnya menjerit karena rasa bersalah yang terus dipicu oleh musuh-musuhnya, ia menampilkan wajah yang tidak terbaca. Rahangnya mengunci rapat, otot pipinya berkedut samar—sebuah tanda bahwa martabat sunyi sedang bekerja di tingkat maksimal.
"Destruksi hanya terjadi pada struktur dengan fondasi material pasir. Pasangan saya berdiri di atas integritas tulang besi, Tuan Erlangga. Dan saya adalah instrumen jangkar yang menjamin ia tidak akan mengalami hanyutan oleh fluktuasi ombak murahan seperti Anda," jawab Nayara dengan nada bicara yang pendek dan menyerang.
Arkan merasakan kebanggaan yang menyakitkan di dadanya. Resonansi antara mereka menguat, menciptakan semacam perisai energi yang membuat bayangan monster ghaib di sekitar mereka perlahan mundur. Namun, di sudut ruangan, ia melihat Kyai Hitam sedang memegang sebuah boneka kecil dengan jarum perak—sebuah serangan fisik langsung sedang disiapkan untuk menjatuhkan Nayara di tengah dansa.
Dansa di Atas Bara
Musik orkestra berganti menjadi melodi wals yang lambat namun memiliki ritme yang menekan, seolah detak jantung setiap tamu di ruangan itu dipaksa mengikuti irama yang sama. Arkananta mengulurkan tangannya, sebuah ajakan yang lebih terasa seperti perintah perlindungan di tengah medan perang. Nayara menyambutnya, membiarkan jemarinya yang terbungkus sutra bersentuhan dengan telapak tangan Arkan yang terasa panas membara.
"Lakukan sinkronisasi pergerakan dengan saya, Nayara. Pertahankan fokus visual pada mata saya. Jika terdeteksi anomali bayangan, lakukan visualisasi aroma melati panti kita," bisik Arkan saat mereka mulai berputar di tengah lantai dansa.
Begitu mereka bergerak, Nayara merasakan sensasi jarum yang menusuk sumsum tulang belakangnya. Di sudut mata, ia melihat Kyai Hitam mulai memutar jarum perak pada boneka yang ia pegang. Serangan itu tidak mengarah pada fisik Nayara, melainkan pada saraf keseimbangannya. Dunia di sekitar Nayara mendadak miring, dan lampu kristal di atas mereka tampak bergoyang seperti pendulum yang siap jatuh.
"Arkan... terdeteksi instabilitas pada lantai ini, identik dengan gelombang," gumam Nayara, napasnya mulai tertahan ritmis.
Arkan merasakan Shared Scar bekerja seketika. Lututnya sendiri mendadak terasa lemas, dan visi di matanya sempat mengabur menjadi abu-abu. Namun, ia justru mempererat pelukannya pada pinggang Nayara. Ia menggunakan teknik absorbsi tingkat tinggi, menarik paksa sensasi pusing dan mual dari tubuh Nayara ke dalam tulang besinya sendiri.
"Pertahankan posisi tegak, Nayara. Martabat Anda adalah satu-satunya dinding proteksi tersisa antara kita dan destruksi publik malam ini," geram Arkan, suaranya parau karena menahan beban ghaib yang menghimpit paru-parunya.
Para tamu di pinggir lantai dansa mulai berbisik-bisik. Kireina dan Elena berdiri berdampingan, menunggu momen di mana Nayara akan tumbang dan mempermalukan nama keluarga besar mereka. Di mata para elit itu, Nayara hanyalah objek yang sedang diuji ketahanannya.
"Lihat betapa pucatnya dia di balik topeng itu. Dia pasti sedang menanggung kutukan rahimnya," cibir Elena, suaranya sengaja dikeraskan agar terjangkau oleh telinga para menteri yang berdiri di dekatnya.
Nayara mendengar setiap kata itu. Rasa panas menjalar di lehernya, sebuah reaksi fisik terhadap penghinaan publik. Namun, sapu tangan Terra di balik gaunnya seolah mengirimkan gelombang kehangatan yang kontras dengan dinginnya sutra High Tower. Ia mengingat wajah Ibu Fatimah dan Mang Asep—orang-orang yang mengajarkannya bahwa harga diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak darah biru di nadinya.
"Anda memproses input audio tersebut, Arkan? Target mereka adalah kejatuhan kita," ucap Nayara, kini dengan suara yang lebih stabil. Mata Kebenarannya mulai menembus topeng-topeng porselen di hadapannya, melihat ketakutan yang tersembunyi di balik kesombongan para pencemooh itu.
"Mereka tidak akan mendapatkan pencapaian tersebut," jawab Arkan. "Bayu telah berada di posisi belakang Kyai Hitam. Dalam interval hitungan ketiga, serangan ini akan mengalami pembalikan arus."
Tepat saat musik mencapai puncaknya, Arkan melakukan putaran cepat yang memukau. Di saat yang sama, Kyai Hitam di sudut ruangan mendadak terbatuk hebat, memuntahkan cairan hitam ke atas nampan minumannya sendiri. Jarum perak di tangannya patah menjadi dua. Serangan ghaib itu terputus, dan keseimbangan di lantai dansa kembali pulih seketika.
Nayara berdiri tegak sempurna saat musik berhenti. Ia melepaskan tangan Arkan dengan keanggunan seorang permaisuri yang baru saja memenangkan pertempuran tanpa mengeluarkan satu pun pedang. Ia menatap Kireina dan Elena dengan tatapan dingin yang membuat kedua wanita itu membuang muka.
"Simulasi pesta yang menarik, Nyonya Elena. Namun, sepertinya densitas topeng di sini tidak cukup untuk melakukan kompresi terhadap aroma pengkhianatan dari verbal Anda," ucap Nayara sembari melangkah melewati mereka.
Arkan mengikuti di belakangnya, jas hitamnya berkibar seperti sayap pelindung. Ia merasakan rasa monster ghaib di ruangan itu perlahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang penuh dengan rasa segan dari para tamu. Erlangga hanya bisa berdiri kaku, melihat bagaimana pasangan yang ia anggap "bermasalah" itu justru menguasai panggung dengan martabat yang tak tersentuh.
"Lakukan prosedur pulang sekarang, Arkan. Saya perlu melakukan dekontaminasi tangan saya dari residu parfum palsu ini," bisik Nayara saat mereka mencapai pintu keluar ballroom.
"Kita kembali ke kediaman. Namun pahamilah, Nayara, mulai periode besok, seluruh Astinapura akan menyadari bahwa permaisuri saya bukan sekadar pendamping. Anda adalah ancaman strategis terbesar bagi mereka," Arkan membukakan pintu mobil untuk istrinya, rahangnya kini sedikit melonggar meski matanya tetap waspada.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam Astinapura, Nayara akhirnya mengeluarkan sapu tangan Terra-nya. Ia menggenggam kain kasar itu erat-erat. Air matanya tidak jatuh kali ini. Ia merasa tasbih di balik sarung tangannya bergetar halus, sebuah tanda bahwa meskipun retak, kekuatannya belum benar-benar habis. Namun, ia tahu, kemenangan di pesta ini akan memicu reaksi yang lebih keras dari Nyonya Besar. Penjara yang lebih dingin dari labirin sedang disiapkan untuk mereka.