NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rena

Renata berbinar menatapi hasil jerih payahnya kali ini. Donat yang masih belum hilang uap panasnya itu, sekilas tak memiliki kejanggalan apapun.

Di kala ia mencicipinya, persis sebagaimana rasa donat pada umumnya. Senyumnya tersungging puas.

"Bagaimana?" tanya Bagas memastikan.

"Hmm ... biasa saja? Coba kamu cicip deh."

Bagas ikut mengambil potongan sisa dari tangan Renata. Ikut mencicipinya. Tak ada yang salah dengan rasanya.

"Memang seperti ini rasanya."

"Berarti aku berhasil?" Renata masih tak percaya.

"Begitulah. Tinggal berikan sentuhan terakhir saja."

Renata segera mengambil bahan yang diperlukan dengan lebih antusias. Ia mengoleskan mentega di atasnya, menaburkan meses coklat untuk beberapa buah, lalu memarutkan keju untuk sisanya.

Meski tak begitu rapi, perasaan bahagia ketika makanan itu siap santap menghangatkan hatinya. Ia semakin tak sabar untuk melihat ekspresi kedua adiknya.

"Aku panggil adikku dulu ya."

Bagas mengangguk pelan. Renata bergegas mencari adiknya. Ia kembali mendapati keduanya di dalam kamarnya. Ia menyuruh keduanya untuk ke ruang tengah. Mereka pun menurut. Berlari dengan semangat.

Renata kembali ke dapur. Mengambil buatan tangannya. Berangkat untuk menyuguhkan senampan donat yang tersuguh hangat.

Kedua adiknya meraung kegirangan saat menyantapnya. Renata membusungkan dadanya puas. Bagas yang melihat interaksi mereka, tersenyum cerah.

Renata mengambil beberapa donat, meletakkannya dalam piring terpisah. Berjalan mendekati Bagas. Menyodorkan piring itu padanya.

"Ayo kamu juga makan."

"Aku tidak usah. Tak apa."

"Kamu sengaja bilang begitu untuk menyindirku 'kan?" Terka Renata.

Bagas yang terkejut dengan terkaannya, segera membantah,

"Ah... oh, maksudku bukan begitu."

"Aku mengerti perasaanmu. Cuma aku ingin bilang jika kamu menolaknya karena kasihan, aku akan sangat marah."

Bagas terkejut dengan kalimatnya. Ia menjadi bingung harus merespon seperti apa.

"Kita makan di kamarku saja yuk!" ajaknya.

Bagas menjatuhkan alisnya penuh. Menatap heran gadis yang berlalu di hadapannya itu. Helaan nafas mengiringi langkahnya sebelum akhirnya mengikutinya. Sampai pada sebuah ruangan.

Dengan isyarat sebelah tangan, Renata mempersilakan Bagas untuk masuk. Sebuah ruang tidur yang memiliki pernak-pernik yang unik.

Beberapa barisan topi, gelang dan kalung dengan beraneka ragam warna dan macamnya.

Bagas berpikir jika Renata memiliki koleksi semacam itu, antara ia memang suka berpenampilan eksentrik atau memang ia suka mengumpulkan barang-barang mencolok seperti yang ia lihat.

Renata mengunci pintu. Ia cabut kunci dari lubangnya. Lalu meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di tengah ruangan. Juga mendaratkan dirinya di lantai. Kembali menggunakan isyarat tangannya. Bagas pun duduk di seberangnya.

"Kenapa harus dikunci?" tanya Bagas keheranan.

"Jaga-jaga saja supaya adikku tidak masuk."

Memangnya harus sampai sejauh itu?

Pertanyaan itu hanya bersarang dalam benaknya. Bagas merasa tidak akan ada yang aneh jika hanya menghabiskan makanan bersama.

"Ayo dimakan." suruhnya sembari mendorong nampan ke arahnya.

Bagas mengambil satu buah, menggigitnya perlahan. Meski masih banyak hal yang bisa ia komentari, sensasi yang menyebar di mulutnya masih bisa ia nikmati.

"Sebenarnya aku penasaran. Kamu itu masih punya ginofobia atau tidak sih?"

Makanan yang barusan digigit, mendadak tertelan. Membuatnya menyangkut di tenggorokan untuk sesaat. Ketika ia memukul-mukul dadanya, barulah tenggorokannya bisa menelannya.

HAH!?

"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti." sahut Bagas terbata-bata.

"Aku heran kenapa kamu tidak takut saat melihatku? Apa karena aku terlalu jelek di matamu? Atau kamu tidak menganggapku sebagai perempuan? Jadi yang mana?"

"T-takut!? Jangan mengada-ada deh. Mana mungkin aku takut denganmu. Memangnya kamu hantu apa?"

"Sudahlah, Gas, kamu tidak perlu mengelak lagi. Aku tahu semuanya tentang kamu."

HAH!? Bagaimana bisa?

Bagas tidak bisa menahan laju keringat dinginnya. Ia benar-benar tak mengerti mengapa gadis itu bisa tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

Mau dipikir berapa kali pun, ia tidak mengerti di mana asal sumber informasinya.

"S-siapa yang mengelak? Aku memang tidak mengerti apa maksudmu."

"Kalau benar begitu, bagaimana kalau kita taruhan saja?"

"Taruhan?"

"Iya, kalau 'anu'mu bisa 'berdiri', maka aku tidak akan mengungkit masalah ini lagi, bagaimana?"

Kenapa dia bisa tahu sampai sejauh itu!?

Bagas sangat kelimpungan. Tsunami informasi yang datang tiba-tiba, benar-benar membuat otaknya kesulitan memproses.

"Bagaimana? Berani tidak? Kalau perlu, aku bantu deh." imbuhnya lagi.

"A-apa donat sudah membuatmu gila?"

Renata menghela nafas panjang. Lelaki itu tetap bersikeras mengelak meski sudah dipojokkan.

"Kalau begitu, tunggu di sini."

Renata berdiri. Berjalan menuju kursi yang berada di depan meja rias miliknya. Ia duduk di sana, adu tatap dengan pantulan dirinya.

Bagas terheran-heran. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dari seorang gadis sama sekali.

Ia berpikir kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk kabur. Namun, sebelum sempat berdiri, ia teringat kalau pintunya terkunci dari dalam. Kuncinya pun tak terlihat di manapun.

Belum selesai dengan kebingungannya, Renata telah kembali duduk di tempatnya semula.

"Bagaimana? Sekarang kamu ingat aku 'kan?" tanyanya.

Bagas menoleh ke arah gadis itu. Matanya melebar penuh. Wujud gadis di hadapannya tak akan pernah bisa ia lupakan.

Sosok berponi lurus itu berhasil membuatnya terkesima dan gadis itu adalah gadis pertama yang bisa ia lihat setelah bertahun-tahun lamanya.

Meski saat itu, ia hanya melihat fotonya. Bertemu pun hanya sebatas berbincang. Namun, ia tidak merasa salah lihat.

Setelah tertegun beberapa saat, barulah ia sadar kalau ia pernah memberitahu rahasianya dengan gadis itu. Wujud itu seolah sudah menjelaskan mengapa ia paham sekali dengan rahasianya.

"Jadi selama ini!?"

"Iya, aku adalah Rena."

Bagas mengangkat kepalanya. Menatapi langit-langit. Kosong. Terlalu banyak yang terjadi, membuat otaknya berhenti memproses informasi lagi.

"Aku juga orang yang naik ke panggung saat drama kemarin."

Ia tidak bisa lagi memahami apa yang sedang terjadi. Semuanya begitu cepat dan sulit dipercaya.

"Tapi, kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku melakukannya hanya demi diriku sendiri. Bukan demi siapa-siapa."

Bagas menurunkan pandangannya lalu mengerjap cepat. Pikirannya menemukan sebuah fakta yang tiba-tiba saja terlintas.

Jika Rena adalah sisi lain dari Renata, itu artinya ia adalah seorang wanita panggilan. Seorang gadis kelas tiga SMA yang sudah berkecimpung dalam dunia gelap. Ia merasa fakta itu semakin sulit untuk diterima.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tenang saja, aku tidak akan menyebarkan rahasiamu itu. Toh kamu punya rahasiaku juga."

"Bukan itu masalahnya."

Bagas tidak khawatir akan rahasianya. Kalau gadis itu ingin, seharusnya ia bisa menyebarkannya sebelum ia mengungkap jati dirinya.

Yang menjadi sumber keheranannya adalah mengapa seorang gadis baik seperti dirinya yang malah melakukan pekerjaan kotor itu?

Kenyataannya emang ia belum mengenal gadis itu seutuhnya; memang selama ini ia hanya sedikit berinteraksi dengannya.

Namun, ia sama sekali tidak bisa terima kalau seseorang seperti dirinya harus berakhir di dalam jurang gelap itu.

"Kenapa kamu memberitahuku soal dirimu?"

"Mungkin akan terdengar aneh, tapi sebenarnya aku merasa kita ini mirip."

"Mirip? Di mananya?"

"Entahlah. Perasaanku bilang begitu."

Penjelasannya sungguh tak memberikan apa-apa. Yang ada, Bagas semakin bingung akan semua yang sudah terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!