Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Rencana rahasia
Di tengah diskusi itu tiba-tiba suasana berubah saat terdengar suara ribut-ribut di depan ruangan. Beberapa orang gadis berteriak cukup keras.
Serah yang mendengar suara kegaduhan itu lalu berdiri. Ia segera berjalan keluar ruangan ditemani dengan Edward yang segera menyusul.
"Lady, Helena! Lady Helena kembali!"
Itu adalah suara Cristine yang berteriak di lorong istana memanggil nama Helena beberapa kali.
Serah membuka pintu ruangan dan keluar, bersamaan dengan itu ia dapat melihat Helena yang memang sedang berlari dari kejauhan menuju ke arahnya dengan diikuti beberapa gadis di belakang tengah mengejar dengan wajah panik.
"Hah, kau!?" Helena menunjuk ke arah belakangnya Serah, atau lebih tepatnya kepada Grenseal yang ia kenali. "Aku tau, kau adalah Raja Duncan 'kan?"
Wajah semua orang mendadak tegang. Termasuk Serah yang membeku. Saat ini Grenseal terlalu jelas terlihat, dan tak bisa ditutupi.
"Bu-bukan! Anda salah orang! Saya adalah...." Grenseal pun agak panik. Ia mengedarkan pandangan mata untuk berpikir. "Saya adalah prajurit pribadi Ratu Serah!" Ia reflek mengambil tombak dan perisai milik salah seorang pengawal Regina yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Kau pikir bisa membodohiku?!" Helena bersikeras.
"Nona, tolong jaga sikap anda, ini wilayah pribadi Ratu!" Alexander berusaha menghalangi bersama dengan Mikael.
"Kenapa? Kalian takut?" Helena malah berani menantang. Ia terlihat tak gentar sama sekali dan malah memaksa untuk mendorong kedua pengawal itu.
"Bagaimana ini? Apa aku harus lari?" Grenseal menatap Carles dan Serah sambil bersuara pelan, meminta pendapat.
"Minggir!" Helena akhirnya berhasil menerobos tiga pengawal itu. "Lihat saja, kalau sampai benar kau Raja Duncan, akan aku adukan pada Yang mulia Louis!" Ocehnya dengan semua ancaman.
Namun, ketika ia melewati ketiga pengawal Duncan itu, tangannya ditarik oleh salah satu pengawal Grenseal yang bernama Mikael.
Helena tersentak karena tiba-tiba saja ia ditarik ke belakang dan tanpa sengaja keduanya seperti jadi berpelukan.
"Nona, apa kau tidak bisa melihat, di sana tak ada Raja Duncan, mungkin anda salah lihat."
Pemuda itu menatap Helena dengan begitu intens membuat fokusnya teralih sepenuhnya. Sementara Alexander segera memberi kode agar Grenseal kembali masuk ke dalam dan bersembunyi.
Helena tampaknya agak terbuat dengan ketampanan pria di hadapannya yang menurutnya tak kalah dari Louis. Ah, tapi ketika pikirannya mengingat Raja Mathilda itu, ia tersadar kalau keberadaannya di dekat Serah untuk memata-matainya dan melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Ratu itu selama di Regina.
"Ehem!" Cristine berdeham yang reflek membuat Mikael melepaskan pelukannya dan Helena kembali berdiri tegak. Kemudian ia melirik ke arah belakang Serah.
"Kemana orang tadi?" Tanyanya saat orang yang dilihatnya sudah tak berada di sana.
"Maksud anda, saya, Nona?" Ucap Carles menunjuk dirinya sendiri yang sengaja berdiri di belakang Serah.
"Bukan, bukan kamu! Tapi pemuda tadi yang mirip Raja Duncan! Rambutnya hitam!" Helena langsung menepis.
"Lady, Helena tolong jaga sikapmu," ucap Serah dengan tegas. Ia menggelengkan kepalanya. "Di sini tidak ada siapapun selain kami, tidak ada orang berambut hitam yang mirip Raja Duncan," imbuhnya lagi.
"Tapi aku benar-benar melihatnya...!" Helena tetap memaksa meski sekarang dia hanya berdiri diam dan tak berani bergerak.
"Lady Helena, kau perlu ingat. Ini adalah Kerajaan Regina, bukan Mathilda." Serah melirik tajam ke arah Helena seperti sebuah peringatan. "Di kerajaan ini aku yang memiliki hak dan mengatur semuanya, dan kalau kau melanggar, aku bisa menghukum mu sesuai aturan di Kerajaan ini."
Usai mengatakan hal itu Helena langsung diam. Nyalinya ciut seketika saat mendengar kata 'hukuman' yang membuatnya tertampar saat ini dia berada di kawasan kekuasaan Serah, sebagai Ratu Regina, bukanlah sebagai calon Ratu Mathilda yang harus tunduk dan menahan diri di bawah pengaruh Louis.
"Lady Cristine, bawa dia kembali ke ruangannya dan sebagai hukuman jangan biarkan dia keluar sendiri," ucapnya memberi perintah.
"Baik, Yang mulia!" Cristine pun langsung mengambil sikap. Ia berjalan mendekati Helena dan hanya dengan sekali tatapan tajam, gadis itu menunduk dan mengikuti Cristine untuk kembali ke kamarnya.
"Dia sangat merepotkan," gumam Serah saat melihat Helena sudah berlalu bersama gadis-gadis lain.
"Tapi juga cantik," imbuh Mikael yang senyum-senyum melihat kepergian gadis-gadis itu.
Serah kemudian berdiri di depan pintu ruangan sambil berkata, "Yang mulia dia sudah pergi."
Grenseal yang berada di dalam langsung menghela napas dengan lega. Dengan cepat ia melangkah dari dalam lalu mengucapkan terimakasih pada Serah.
"Sebaiknya anda cepat kembali ke Duncan sekarang, karena aku takut gadis itu nantinya akan berusaha mencari anda," ujar Serah memberikan saran tanpa bermaksud untuk mengusir.
"Ya, kurasa itu yang terbaik, lagipula urusan kami sepertinya sudah jelas di sini," balas Grenseal menerima masukan dari wanita itu.
"Mari, Yang mulia...."
.
.
Serah mengantar kepergian Grenseal berserta para pengikutnya hingga ke gerbang istana tanpa diketahui oleh Helena kali ini.
Di depan gerbang Grenseal kembali mengucapkan terimakasihnya kepada Serah, karena bantuannya sangat berarti dan bisa memperpanjang napas Duncan.
"Kami akan segera melakukan pengecekan pangan, memasok semua bahan, melakukan persiapan dan menempuh perjalanan hingga sampai ke Duncan, yang kemungkinan akan tiba di sana satu minggu lagi," ujar Serah menjelaskan sedikit mengenai persiapannya nanti.
"Setelah sampai di Duncan, saya akan langsung mengirim pasukan untuk mengamankan jalur sebagai antisipasi," balas Grenseal yang juga memiliki rencananya sendiri agar proses perjalanan para prajurit Regina dan yang lain jauh lebih aman.
"Itu jauh lebih baik." Serah mengangguk setuju akan keputusan Raja muda itu. "Kita tidak tau rencana apa yang bisa saja dilakukan oleh Louis 'kan," sambungnya yang tiba-tiba saja berbicara soal Louis. Ia seakan ingin mengingatkan kelicikan Raja Mathilda itu yang bakal melakukan apapun demi ambisi.
"Anda benar, tampaknya kita memang harus waspada terhadapnya dan belum bisa tenang." Grenseal pun seakan tertampar karena sempat mengendorkan kewaspadaannya terhadap Louis karena ia terlalu merasa lega dengan kesepakatan yang telah disetujui oleh Serah, sampai lupa Louis bisa melakukan apapun untuk melemahkan kerajaannya kembali.
"Jangan sampai lengah, Tuan Grenseal. Tetap waspadai sekitar anda."
Kata-kata Serah begitu dingin, tajam dan menusuk seolah ia sudah mengetahui Louis akan melakukan sesuatu untuk merusak rencananya ini.
"Terimakasih atas peringatan anda, kami permisi dulu, Yang mulia." Grenseal tersenyum tipis lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormatnya kepada sang Ratu.
Para pria itu akhirnya menaiki kereta kuda hitam yang sarat akan simbol kekuatan dan pertahanan khas Duncan, lalu meluncur pergi dengan begitu cepat saat keenam kuda itu dipacu dan meninggalkan gerbang istana Regina.
Serah sempat mendapat kereta hitam itu sesaat, lalu ia berbalik menghadap sang penasehat.
"Kirim seseorang untuk menyampaikan pesan pada Kerajaan Velonia dan yang lain, kalau persiapan pengiriman pangan harus segera dilaksanakan, dan berikan peta jalur ketiga itu, kau mengerti?"
"Saya mengerti, Yang mulia dan akan segera melaksanakannya sekarang."
Tanpa banyak menunda waktu, Edward sang penasehat kepercayaannya pun berjalan memasuki istana untuk segera membuat tiga pesan pada masing-masing tiga kerajaan lain yang sudah memberi kesepakatan untuk membantu pasokan pangan itu.
Serah masih berdiri di depan gerbang, tatapannya terarah kepada sang langit yang membentang di atas kerajaannya. Angin lembut berhembus menerbangkan beberapa dedaunan dari dahannya, terjatuh tepat di depan kaki Serah.
Apa semua rencana ini bisa berjalan lancar?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib